‘Dan-Sha-Ri’ [断捨離]

Photo by Lara Jameson on Pexels.com
Photo by zhang kaiyv on Pexels.com

Abstract

Istilah Jepang ‘danshari’ yang bermakna ‘membuang hal yang tak penting,’ merupakan gerakan hidup sederhana yang lepas dari jerat budaya materialistik. Slogannya “Less is More.” Gerakan ini kental dengan semangat budhisme. Bukan hanya dimensi spiritual, ada dimensi psikologis di balik tindakan ‘membuang’ properti material yang menjadi beban fisik. Salah satu beban mental-spiritual yang perlu dievaluasi adalah “obsesi.” Abraham yang kaya raya, ingin agar anak kandungnya menjadi pewaris kekayaannya yang berlimpah. Keinginan yang wajar dan alami. Keinginan alami Abraham itu dapat menjadi obsesi Abraham yang menjeratnya dengan “Jebakan Batman.” Bagaimana Abraham melakukan danshari sesuai imannya agar menang dari jebakan tersebut, akan menjadi studi kasus dalam tulisan yang berdasarkan pada wawasan kristiani ini.

Pendahuluan

Dunia saat ini sangat kental dengan semangat materialisme. Segala sesuatu dinilai dari sisi materi. Budaya materialistik mendorong kecenderungan manusia untuk mengumpulkan banyak materi. Kelimpahan materi yang dibayangkan sebagai sumber kebahagiaan, ternyata dapat menjadi beban fisik, moral, spiritual pemiliknya. Materi yang digadang untuk melayani pemiliknya ternyata berbalik menjadi tuan atas pemiliknya. Keadaan ini memunculkan suatu gerakan yang disebut sebagai ‘danshari.’

Danshari’ merupakan istilah bahasa Jepang yang mengandung tiga karakter huruf kanji ‘断捨離’ dengan maknanya secara berurutan ‘menolak’ (to refuse), ‘membuang (to dispose), dan ‘berpisah’ (to separate). Dhanshari dipopulerkan oleh Fumio Sasaki, seorang tokoh minimalisme Jepang yang paling radikal. Gaya hidup minimalis yang berslogankan “Kurang itu Lebih” (Less is More), diterapkan oleh Fumio Sasaki bukan dengan semata menekankan kepemilikan ‘sedikit properti,’ melainkan bagaimana merasa bahagia dan mensyukuri apa yang dimilikinya. Danshari merupakan gerakan hidup sederhana di tengah budaya materialistik, sehingga kental dengan semangat budhisme.

Ada dimensi psikologis bahkan spiritual, di balik gerakan hidup sederhana tersebut, melalui membuang ‘properti’ yang tidak perlu dan menjadi beban fisik, bersama dengan beban mental yang ada di baliknya. Dengan demikian, danshari dapat menjadi terapi pengobatan bagi kecenderungan manusia untuk mengumpulkan materi secara berlebihan. Sebenarnya, tidak perlu melakukannya secara ekstrim, cukup menganggap sebagai ‘bebenah rumah’ agar dapat meraih keseimbangan yang memerdekakan akal budi (mind) dari ‘kesumpekan’ fisik. (Danshari – Decluttering For A Happier Life – Japana Home).

Pemaknaan danshari sebagai bebenah rumah ditonjolkan dalam tayangan salah satu saluran tv di Jepang. Semangat yang ditonjolkan adalah ‘sangkali/tolak’ (deny), ‘tata’ (dispose), ‘lepas’ (detach). Dengan membuang benda-benda yang tidak penting lagi, yang betebaran di rumahnya, maka pemiliknya akan memiliki ruang, waktu, dan tenaga lebih bagi dirinya sendiri, sehingga hidupnya akan lebih nyaman. Bila perlu, pindah rumah bisa menjadi alternatif pilihan karena rumah tinggal juga dapat dikategorikan sebagai ‘benda.’

Photo by Jonathan Andrew on Pexels.com

Ternyata memutuskan mana benda milik yang tak lagi penting sehingga harus dibuang, tidak selalu mudah dan lancar. Ada berbagai faktor non material yang melekat pada benda-benda tersebut, misal kenangan tertentu, harapan tertentu, relasi tertentu, dsb. Dimensi psikologis yang melekat pada benda-benda tersebut harus diselesaikan dulu secara benar, agar dapat lebih jernih menilai kegunaan benda tersebut saat ini.

Mungkin juga ada pertimbangan yang berdimensikan spiritual atas barang-barang tersebut, misal nilai ‘sakral’ yang diwariskan turun temurun.

Bisa saja benda tersebut bernilai bagi salah satu anggota keluarga, walaupun dinilai sudah tak berguna oleh anggota keluarga lainnya. Tersirat di sini kemungkinan ada tantangan konflik wawasan dunia (worldview) antar anggota keluarga, sehingga butuh keterbukaan komunikasi hati ke hati hingga mencapai kesepakatan bersama.

Photo by SHVETS production on Pexels.com

Kompleksitas proses ‘beberes rumah’ tersebut menyiratkan keberadaan manusia sebagai kesatuan psikosomatik yang bernaturkan individual sekaligus sosial. Kegagalan memahami dan memperlakukan manusia seutuh natur uniknya tersebut, akan mengacaukan danshari.

Natur Konstitusional Manusia

Narasi penciptaan manusia dalam kitab Kejadian, menegaskan manusia memiliki dua unsur yang menyatu, yaitu unsur materi dan unsur non-materi. Ada pihak yang memahami unsur non-materi sebagai hanya satu elemen (pihak dikotomis), namun ada pihak lain yang memahaminya sebagai terdiri dari dua elemen berbeda (pihak trikotomis). Trikotomis memahami manusia sebagai kesatuan tubuh, jiwa, dan roh. Dikotomis memahami manusia sebagai kesatuan tubuh, dan jiwa/roh.

Memang ada pihak yang hanya fokus pada unsur materi dan mengabaikan unsur non-materi (monokotomis), namun berbagai tantangan danshari yang disampaikan di atas lebih memihak pada pandangan kesatuan dua unsur. Dikotomis lebih mewarnai bagian Alkitab Perjanjian Lama karena kental dengan peradaban yahudi. Trikotomis mewarnai bagian Alkitab Perjanjian Baru yang banyak pengaruh budaya helenisnya. Perkembangan psikologi sebagai cabang ilmu yang ada saat ini, menguatkan pemahaman trikotomis sebagai natur konstitusional manusia.

Bagi saya, lebih baik tidak memisahkan jiwa dan roh secara gamblang, namun juga tidak menyamakan sepenuhnya jiwa dengan roh. Saya memandang roh sebagai jiwa yang berkepribadian, sehingga tidak dapat dipisahkan sekaligus disamakan sepenuhnya (Manusia 7 Natur Konstitusional Manusia – YouTube). Unsur non-materi ini pun tidak boleh dipisahkan dengan unsur materi, agar manusia itu menjadi makhluk yang hidup (Kej. 2:7).

Manusia sebagai Kesatuan Psikosomatis tersebut, juga hadir sebagai gambar citra Allah (Imago Dei). Allah yang Esa (Tunggal) sekaligus Tiga (Tri) Pribadi berbeda (Bapa-Putera-Roh Kudus) yang berelasi ‘saling isi’ secara sempurna (perichoresis) dan kekal, hadir sebagai Allah Tritunggal yang menegaskan sifat individu sekaligus sosial Allah (Allah 5 – Allah Tritunggal – YouTube). Keberadaan Allah Tritunggal sebagai patron manusia, secara logis berdampak pada sifat manusia sebagai makhluk individu sekaligus makhluk sosial.

Dengan demikian manusia butuh pemenuhan kebutuhan jasmani, jiwani/rohani, dan relasi. Danshari hanya akan berhasil dengan baik bila kebutuhan pelakunya terpenuhi secara utuh (lihat “COUP” – faithfulONE Ministry dan Ninja Warrior – faithfulONE Ministry). Namun, bagaimana bila kebutuhan tersebut merupakan obsesi bagi pelakunya? Kehidupan Abraham, tokoh penting umat penganut yudaisme, kristiani, dan islam, akan menjadi studi kasus. Studi kasus ini dilandaskan pada narasi dalam Kitab Suci kristiani, yang juga akan dianalisa berdasarkan wawasan kristiani (christian worldview).

‘Obsesi’ Abraham

Abraham, putera Terah dari jalur keturunan Sem putera Nuh (Kej. 10-11), entah mengapa dipilih TUHAN sebagai nenek moyang umatNya. Abraham perlu dipisahkan (‘dikuduskan’) dari ‘dunia lamanya’ (negeri, sanak saudara, orangtua) dan pergi ke ‘dunia baru’ sesuai pimpinan TUHAN. PanggilanNya disertai dengan ‘janji berkat.’

Salah satu janji berkat tersebut adalah keturunan, di mana Abraham yang telah beristerikan Sara, belum memiliki seorang pun keturunan saat dipanggil TUHAN. Perjalanan hidup Abraham juga tetap mengalami suka duka, karena janji berkat Tuhan tidak meniadakan pergumulan hidup yang dibutuhkan umatNya untuk menjadikannya ‘sempurna, utuh, dan tak kekurangan suatu apa pun’ (Yak. 1:2-4).

Berkat materi telah diterima oleh Abraham, dan menjadikannya sangat kaya (Kej. 13:2), namun berkat keturunan belum diterimanya sehingga menggalaukan hati Abraham. Tentu saja sangat logis bila Abraham menginginkan anaknya menjadi ahli warisnya (Kej. 15:2-3). TUHAN dengan tegas menjanjikan anak kandung Abraham sebagai ahli warisnya, bahkan keturunan Abraham dijanjikanNya akan sangat banyak hingga tak terhitung (Kej. 15:4-5).

Photo by Alessio Cesario on Pexels.com

Ditunggu-tunggu selama 10 tahun, ternyata belum juga Sara, isteri Abraham, hamil. Banyak yang memandang aktifitas menunggu sebagai aktifitas yang sangat menyiksa, apalagi jangka waktu penantiannya tidak jelas kapan batas akhirnya. Apabila ada jalan lain yang legal untuk mengatasi masalah yang dihadapi, bukankah suatu kebodohan bila tidak mencobanya. TUHAN sendiri sudah menjanjikannya secara tegas. Mau apa lagi??? Hal inilah yang hinggap dalam pikiran pasutri Abraham-Sara.

Apalagi legalitas ‘jalan lain’ tersebut didukung oleh budaya (legal) saat itu. Budak dipandang sebagai ‘properti’ majikannya, dan budak tidak memiliki hak apapun atas dirinya sendiri maupun atas apa saja yang berkaitan dengan dirinya. Jadi, sah-sah saja bila Sara memberikan Hagar, budaknya, untuk dihamili oleh Abraham, agar anak Hagar tersebut akan secara legal menjadi anaknya Sara.

Photo by Matheus Bertelli on Pexels.com

Teorinya sih begitu, kenyataannya….??? Very BIG Problem…!!! ‘Jalan lain’ inilah yang akan menjadi “Jebakan Batman” bagi Abraham, yang nampaknya terobsesi memiliki anak kandung sebagai ahli warisnya. Saat Abraham menempuh ‘jalan lain’ berdasarkan hikmat manusia, hasilnya adalah jerat duka bagi keturunannya.

Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan TUHAN dan jauhilah kejahatan “

Ams. 3:7 [LAI TB]

Abraham yang dipanggil TUHAN untuk menjadi berkat (Kej. 12:2), telah meninggalkan ‘benih onar’ bagi kedamaian manusia (Kej. 16:12). Abraham gagal memahami prinsip kerja TUHAN yang tidak pernah berubah, dan prinsip apapun yang bertentangan dengan prinsip TUHAN pastilah merupakan kefasikan jahat yang harus ditinggalkan (Yes. 55:7-9). Jangan melakukan pembenaran seperti yang pernah dilakukan oleh pasutri Abraham-Sara di atas!

Narasi penciptaan manusia mencatat bahwa Allah hanya menciptakan seorang Hawa untuk menjadi isteri Adam, dan bahwa suami-isteri tersebut ‘bukan lagi dua, melainkan menjadi satu’ (Kej. 2:24). Abraham telah beristeri saat menerima ‘janji berkat’ TUHAN sehingga janji tersebut berlaku hanya bagi Sara sebagai kesatuan sah suami-isteri dengan Abraham.

Usulan Abraham untuk menjadikan Ismael, puteranya dari Hagar, sebagai ahli warisnya, langsung ditolak Allah (Kej. 17:18-19,21). Padahal saat itu Sara telah mati haid (menopause) dan Abraham telah berusia 99 tahun, usia yang sangat lanjut untuk memiliki seorang anak lagi (Kej. 18:11; 17:24). Setahun kemudian Sara melahirkan seorang putera bagi Abraham, suatu karya mujizat Allah yang dianugerahkan untuk mewujudkan janjiNya (Kej. 18:10; 21:1-5).

Danshari Abraham

Peta jalan hidup (life road map) Abraham terus berlanjut. Abraham perlu diproses untuk lepas dari kemelekatannya dengan anaknya, agar dapat lebih efektif sebagai saluran berkat TUHAN bagi ‘semua kaum di muka bumi’ sebagaimana janji awal TUHAN kepadanya (Kej. 12:3). Abraham perlu melakukan danshari edisi istimewa dan satu-satunya.

Ada beberapa tahap yang dilalui oleh Abraham, yaitu:

  • Tahap 1: Perseteruan ‘wanitanya Abraham’ memunculkan tuntutan isteri sah Abraham kepadanya untuk mengusir ‘wanita lain’ beserta anaknya dari rumah Abraham. Tentu saja tuntutan tersebut menjengkelkan hati Abraham, namun TUHAN mendorongnya untuk melakukan danshari tahap 1 ini (Kej. 21:8-13). Abraham melakukannya.
  • Tahap 2: Tersisa putera Abraham dari Sara sebagai anak tunggal Abraham. Secara alami, wajar bila Abraham mengasihi anak tunggalnya. Allah memakai relasi kasih keduanya sebagai ujian bagi Abraham. Abraham diperintahkan untuk mempersembahkan anak tunggalnya tersebut kepadaNya (Kej. 22:1-2). Budaya pada saat itu memandang sajian anak sebagai korban bagi dewa yang disembahnya, merupakan suatu hal yang biasa, bahkan dipandang sebagai suatu hak istimewa (privilege) yang diberikan oleh sang dewa bagi penyembahnya tersebut. Berbeda dengan ‘jalan lain’ yang diambil untuk punya anak dari seorang budak wanita yang dimiliki isterinya, Abraham ‘melaksanakan’ pengorbanan tersebut BUKAN berdasarkan pembenaran budayawi. Danshari tahap 2 yang akan dilakukan Abraham itu, berdasarkan keyakinan imannya bahwa TUHAN akan menyediakan domba korban bakaran tersebut (Kej. 22:8,13-14), dan TUHAN sanggup membangkitkan orang sekalipun dari antara orang mati (Ibr. 11:17-19). Peristiwa ini menjadi alusi yang merujuk pada ‘Anak Domba Allah’ yang jadi korban di Golgota.
  • Tahap 3: Entah bagaimana, ternyata Abraham memiliki seorang isteri yang lain, yang bernama Ketura yang memberinya keturunan (Kej. 25:1-4). Bahkan dicatat bahwa Abraham juga memiliki gundik-gundik yang memberinya anak-anak (Kej. 25:6), walaupun tidak ada penjelasan memadai atasnya. Sebelum meninggal, Abraham melakukan danshari tahap 3 atas mereka semua, sehingga hanya tersisa Ishak, putera tunggalnya dari Sara, isteri ‘masa mudanya,’ sebagai ahli warisnya. Dengan demikian, Abraham menyelaraskan dirinya dengan prinsip TUHAN berkenaan dengan penerima ‘janji berkat’ TUHAN (Kej. 17:19.21; 25:5).

Dari tahapan danshari di atas, tampak kompleksitas proses yang dialami Abraham sebelum berhasil melakukan danshari-nya. Ada berbagai dimensi yang menghadang. Bukan hanya tantangan dimensi fisik, melainkan juga ada tantangan dimensi mental, dimensi relasi, dimensi psikologis, dan dimensi spiritual yang nyata. Perlu tekad, kematangan kepribadian, dan kedewasaan iman. Terakhir namun terpenting, perlu anugerah topangan kasih TUHAN.

Penutup

Budaya materialistik telah meresap dalam berbagai aspek hidup manusia hingga masa kini. Manusia begitu terobsesi untuk mengumpulkan banyak materi, karena dunia menilai derajat seseorang berdasarkan kekayaan materinya tersebut. Obsesi ini dapat menjadi beban fisik, juga beban psikologis, spiritual, dan relasi. Gerakan gaya hidup sederhana yang di Jepang dikenal sebagai danshari, mencoba melepaskan diri dari jerat materialistik tersebut, agar memperoleh hidup yang lebih bebas dan nyaman. Pelaku danshari mengajak manusia untuk puas dengan apa yang dimilikinya, bahkan membuang benda yang tak lagi diperlukannya.

Peta jalan hidup Abraham yang menjadi contoh kasus, menunjukkan bahwa danshari tidak cukup hanya dikaitkan dengan benda-benda mati. Ada akar yang lebih mendalam, di balik filosofisnya yang tergambar dari makna ketiga huruf kanji danshari sendiri. Standar menilai apa yang tak lagi penting, bukan terletak pada pelaku danshari sendiri. Prinsip kebenaran TUHAN harus menjadi standarnya. Dengan demikian, kecukupan yang ingin dibangun bukan lagi terbatas pada benda saja, melainkan pada keputusan menjadikan ‘TUHAN itu cukup’ baginya. Prinsip TUHAN itu menjadi prinsip hidupnya. Ketentuan TUHAN itu menjadi standar penentu jalan hidupnya. Hal ini hanya dapat diwujudkan dengan melekat seumur hidup pada Yesus Kristus, sang ‘pokok anggur yang benar’ (Yoh. 15:1,4-5).

Bergantung dan taat pada pimpinan TUHAN tidak akan mengecewakan, karena rancanganNya adalah rancangan damai sejahtera untuk hari depan yang penuh harapan (Yer. 29:11). Mari, lekatkanlah hati kita dengan hatiNya (Melekat Dengan HatiMu – YouTube), agar dikaruniai kelimpahan hidup sejati (Yoh. 10:10). Terpujilah TUHAN!

avatar setiadotone

Oleh setiadotone

Buah pertama kristiani dari keluarga konfusianis. Berkarier di berbagai perusahaan 'sekuler' lalu terpanggil sebagai pendidik di universitas (kristen) 'umum.' Berupaya mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan wawasan dunia kristiani terapan, agar membangun profesional kristiani.

2 comments

Tinggalkan Balasan ke Abigail sukini. Batalkan balasan