Holistic Quotient

Photo by Ivan Samkov on Pexels.com

Pendahuluan

Semua manusia ingin sukses, tidak ada yang mau gagal. Semua manusia tidak ada yang ingin tinggal landas, semua mau lepas landas. Kehidupan laksana arena tanding, semua mau jadi pemenang, tiada yang mau jadi pecundang. Pemenang yang sukses lepas landas, dikagumi sebagai manusia super yang masuk kelompok edisi terbatas. Mereka punya kemampuan lebih yang membedakannya dari kategori manusia umum yang biasa-biasa saja. Mungkin para pemenang memang lahir sebagai manusia spesial, sehingga sudah digariskan sebagai pemenang sejak dari lahirnya. Bila demikian, kelompok manusia umum ya tinggal terima nasib saja. Salahkanlah Tuhan yang pilih kasih dan tidak adil. Benarkah demikian?

Tulisan ini coba mengupasnya dari kacamata wawasan kristiani, dengan mengambil salah satu tokoh penting dalam Alkitab sebagai studi kasusnya. Sumber literatur yang juga akan dipakai adalah tulisan Daniel T.S. Shek dan Li Lin, Intrapersonal Competencies and Service Leadership, NUS Libraries Authenticated. (Terima kasih kepada salah satu rekan kristiani berinisial “AM” yang telah membagikan artikel tersebut.)

Intrapersonal

Tidak dapat dipungkiri bahwa “pemenang” memiliki kompetensi unggul. Salah satu kualitas mendasar yang harus dimiliki adalah kecerdasan intrapersonal, yang merujuk pada “suatu model kerja efektif seseorang di mana orang tersebut mampu menggunakannya secara efektif sejalan dengan hasrat, keinginan, harapan, ketakutan, dan keterampilannya.” Sederhananya, kompetensi intrapersonal ini merupakan kemampuan untuk mengenali diri sendiri dan mengelola diri sendiri. Jadi terkait dengan “mawas diri” (self awareness), “tata-kelola diri” (self regulation), dan “motivasi diri” (intrinsic motivation).

Saat ini kompetensi intrapersonal dapat ditinjau dari 4 aspek, yaitu:

Photo by David Cassolato on Pexels.com

IQ (Intelligent Quotient): terkait kemampuan kognisi (akal pikir) manusia, yaitu mengingat, berkata-kata (verbal ability), berhitung, makna/alasan logis (logic reasoning), dan membayangkan ruang maya (virtual spacial perception).

Photo by Andrea Piacquadio on Pexels.com

EQ (Emotional Quotient): salah satu aspek “non intelektual” yang merupakan kemampuan mencermati dan memilah perasaan dan emosi diri sendiri dan orang lain, lalu menggunakannya untuk menuntun pikiran dan tindakannya. EQ mengadung aspek kognisi dan emosi yang mengintegrasikan cakupan luas emosi-emosi.

EQ dapat dibagi dalam 5 ranah (domain), yaitu:

  • Mawas diri (self awareness): mengidentifikasi dan memahami emosi seseorang, serta dampaknya bagi orang lain.
  • Tata-kelola diri (self regulation): mengendalikan emosi-emosi yang impulsif (tak berpikir panjang) dan merusak (detrimental) agar tetap berperilaku rasional (masuk akal sehat).
  • Motivasi (intrinsic motivation): mendorong semangat kerja dan pantang mundur (energic and persistent).
  • Empati (emphaty): mampu memahami cara pandang (perspective) dan merasakan kondisi perasaan (affective state) orang lain.
  • “Gaul” (social skill): terampil membangun dan merawat relasi-relasi sosial.
Photo by u0410u043du043du0430 u0420u044bu0436u043au043eu0432u0430 on Pexels.com

AQ (Adversity Quotient): aspek “non intelektual” lainnya yang berupa pola menanggapi “ketaknyamanan” (adversity) secara tepat, terukur, “tanpa sadar” (unconscious). AQ merupakan kemampuan “tahan banting” (resilience), yang mengungkap proses dinamis adaptasi positif seseorang dalam sikon-sikon ketaknyamanan signifikan.

Jadi, AQ menunjukkan kemampuan seseorang menanggapi krisis secara cepat dan tepat (quickly and constructively). “Tahan banting” (resilience) bukan “ketegaran” (toughness) yang merupakan penekanan emosi saat berhadapan dengan konsekuensi negatif. “Tahan banting” tidak hanya sikap menerima kegagalan atau pun kesialan (misfortune), melainkan juga bangkit lebih kuat daripada sebelumnya, yang penting bagi pengelolaan “kemunduran” (setback).

Photo by Jonas Ferlin on Pexels.com

SQ (Spiritual Quotient): merupakan sistem kepercayaan (belief system) sebagai faktor pelindung yang berkontribusi pada proses membentuk “tahan banting.” Hal ini meliputi makna dan tujuan hidup serta nilai-nilai mendasar, yang akan menuntun seseorang ‘melewati’ ketaknyamanan. SQ meyakini adanya “penyebab yang lebih tinggi” (higher cause) yang mewarnai cara meraih tujuan maupun pemecahan masalah sehari-hari.

Diakui atau pun tidak, manusia punya dorongan dalam dirinya untuk mencari makna dan tujuan hidup bagi dirinya agar dapat berfungsi secara layak (well-being). Dengan demikian, pertumbuhan pribadi lebih penting dibandingkan dengan kenikmatan sesaat. SQ yang baik akan menguatkan kepuasan hidup dalam berbagai ranah kehidupan melalui keoptimisan, serta mengurangi berbagai masalah kejiwaan misalnya kuatir, depresi, terasing (alienation), gagap sosial (social maladjustment), dan hilang kendali.

Ada beberapa catatan penting berkenaan dengan keempat aspek kompetensi intrapersonal tersebut, yaitu:

  • Keempatnya mengindikasikan angka pengukuran relatif, yaitu posisi relatif seseorang dalam populasi masyarakat tertentu.
  • Keempatnya merupakan kompetensi yang dapat dilatih kembangkan.
  • Keempatnya merupakan kesatuan kompetensi intrapersonal yang tak dapat dipisahkan.
  • Keempatnya diperlukan untuk keberhasilan menjalani kehidupan yang kompleks dan tak terhindarkan ada berbagai ketidak-pastian, kemungkinan salah-paham, kegagalan dan kehilangan, serta perubahan yang tak terduga.

Studi Kasus

Alkitab mencatat narasi beberapa tokoh yang mengalami peta perjalanan hidup (life road map) terjungkir-balik. Mulai Adam, Abraham, Yusuf bin Yakub, Musa, Simon Petrus, hingga Saulus Paulus. Bukan berarti tokoh-tokoh lain tidak mengalaminya, namun nama-nama tersebut hanya merupakan contoh yang meneguhkan bahwa kehidupan manusia memang tidak terlepas dari tantangan pergumulan hidup yang signifikan. Dengan demikian, cukup relevan mengambil kisah hidup salah satu tokoh dalam Alkitab sebagai studi kasus tulisan ini. Tokoh yang akan ditinjau adalah Abraham. Bagi umat kristiani, Abraham diakui sebagai “Bapak Orang Beriman” (Rm. 4:11b-12,16; Gal. 3:7). TUHAN juga telah menetapkan Abraham sebagai saluran berkatNya bagi semua kaum manusia (Kej. 12:3).

Janji berkat yang demikian luar biasa “buesaarrr”-nya bagi Abraham, tidak menjadikan hidup Abraham mulus tanpa “pergumulan hidup.” Ada greater good (hal yang lebih baik) di balik adversity yang diijinkan TUHAN terjadi dalam hidup umatNya, demikian juga berlaku bagi Abraham (lihat ‘Dan-Sha-Ri’ [断捨離] – faithfulONE Ministry). Bagian Alkitab yang akan disoroti sebagai studi kasus kompetensi intrapersonal Abraham adalah Kej. 12-14.

  • Aspek IQ:

Kecerdasan intelektual penting bagi seseorang untuk mampu mengenali secara tepat berbagai variasi tantangan lingkungannya dan menanggapinya secara rasional.

  • Tantangan I: meninggalkan negeri dan sanak keluarganya.

Janji berkat TUHAN jelas menggiurkan secara hitung-hitungan (arithmetic ability) bagi Abraham.

  • Tantangan II: pengungsian ke Mesir saat paceklik pangan.

Penyampaian “separuh kebenaran” (Kej. 12:13; 20:12) menjadi strategi Abraham dalam menyelamatkan dirinya sendiri. Saat itu umum berlaku “Hukum Rimba” dan prinsip “the Winner takes it all” (pemenang meraup semuanya). Abraham mengevaluasi sikonnya dan membuat strategi “avoid maximal loss” (hindari kehilangan total) berdasarkan perhitungan intelektualnya (Kej. 12:11-13), dan sukses secara duniawi (Kej. 12:16).

  • Tantangan III: perseteruan dengan Lot

Perpisahan dengan Lot menjadi jalan keluar yang realistik. Agar sukses, Abraham secara persuasif memberi kesempatan bagi Lot untuk memilih daerahnya terlebih dulu (Kej. 13:8-11). Ada semua elemen IQ (memory, verbal and arithmetic ability, logic reasoning, visual-spatial perseption).

  • Tantangan IV: pembebasan Lot

Untuk membebaskan tawanan perang dari persekutuan beberapa raja pemenang perang sebelumnya, butuh strategi militer dan kecakapan perang yang mumpuni. Abraham sukses menggunakan strategi “perang kilat” (blitzkrieg) dengan mengerahkan pasukan elitenya dan mengedepankan faktor kejutan (Kej. 14:14-15).

Dapat dilihat adanya peningkatan IQ Abraham dalam menghadapi tantangan-tantangan itu.

  • Aspek EQ, AQ, dan SQ:
  • Tantangan I:

Abraham telah berusia 75 tahun sehingga secara emosi (EQ) sudah cukup baik. Abraham membawa “kaum”-nya dan keponakannya (Kej. 12:5) agar lebih mampu menghadapi bahaya di luar dirinya (AQ). Abraham juga percaya akan TUHAN sebagai higher cause (SQ) sehingga membangun mezbah bagiNya (Kej. 12:7-8).

TUHAN memulai proses pengudusan kecerdasan “non-intelektual” Abraham melalui memisahkan Abraham dengan “dunia lama”-nya.

  • Tantangan II:

Abraham mawas diri akan posisi lemah dirinya, namun masih bersifat egosentris, sehingga lemah EQ, AQ, dan SQ. Hal ini terjadi karena Abraham hanya mengandalkan kemampuan dirinya sendiri (Yer. 17:5), sehingga terjerat kelicikan hati (Yer. 17:9).

Ada jalan yang disangka lurus, tetapi ujungnya menuju maut”

Ams. 14:12 [LAI TB]

TUHAN mendidik Abraham melalui Firaun yang ditimpa tulah oleh-Nya, agar Abraham belajar untuk melandaskan kebenaran TUHAN dalam pertimbangannya.

  • Tantangan III:

Abraham sudah memiliki EQ yang lebih baik, sehingga mampu meresponi konflik dirinya dengan Lot melalui strategi yang lebih positif, yaitu:

  1. Mawas diri: perebutan “lahan penghidupan” akan membangkitkan perseteruan panas yang merusak akal budi. Abraham tetap tenang dan tidak terprovokasi.
  2. Tata-kelola diri: kemarahan akibat perseteruan akan merusak “kesehatan” diri sendiri dan relasi sosial. Abraham mengelola emosi secara bijak.
  3. Motivasi: ambisi egosentris perlu dilepaskan (let go; Fàng shǒu松手), sehingga tidak mengorbankan orang lain. Abraham tidak keras kepala atau tegar tengkuk.
  4. Empati: posisi Lot sebagai keponakan diperlakukan oleh Abraham sebagai pihak yang lebih utama, diberi kesempatan memilih lokasi terlebih dulu.
  5. “Gaul”: Abraham tetap menjaga hubungan baik kekerabatan dengan Lot.

Abraham tidak berpindah tempat setelah Lot pergi meninggalkannya karena tempatnya adalah di tanah Kanaan yang telah dijanjikan oleh TUHAN sebagai negeri yang akan diberikanNya kepada Abraham (Kej. 12:7; 13:14-15,17). Kembali Abraham dilatih aspek SQ-nya lewat proses membangun percaya dan taat dalam berelasi dengan TUHAN.

SQ ini menjadi modal pelatihan AQ bagi Abraham saat diperintahkan TUHAN untuk menjelajahi negeri Kanaan (Kej. 13:17), yang tentunya tidak terlepas dari duka derita, agar Abraham bertumbuh menjadi pribadi yang “tahan banting” (resilience).

Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.”

1 Kor. 10:13 [LAI TB]
  • Tantangan IV:

Kematangan aspek EQ didemokan dengan memperhitungkan eforia raja-raja pemenang perang beserta semua anggota pasukannya sehingga tidak bersiaga di malam hari. Akibatnya Abraham sukses memenangkan peperangan dengan strategi blitzkrieg-nya. Pemilihan pasukan elite yang terbatas mendukung keberhasilan strategi blitzkrieg, sehingga menunjukkan kematangan aspek AQ.

Aspek EQ dan AQ juga terlihat setelah kemenangan, dengan membebaskan semua tawanan. Abraham telah belajar dari Tantangan II, bahwa siapa pun dapat melakukan kesalahan saat menjadikan dirinya sebagai pusat pertimbangan (egosentris). Pengampunan TUHAN atas kesalahannya di Mesir, memampukan Abraham untuk memperlakukan Lot dengan kasih persaudaraan (Kej. 14: 14,16). Lot tidak dibiarkan menanggung derita karena telah salah pilih dengan membuat pilihan berdasarkan pertimbangan manusiawinya sendiri (Kej. 13:10-12), mengabaikan elemen sosial yang tidak diperkenan TUHAN (Kej. 13:13). Abraham juga menunjukkan kepiawaian gaulnya dengan mengakomodasi keinginan sekutu-sekutunya (Kej. 14:24b,13b).

Aspek SQ dapat dilihat saat Abraham menolak konsep duniawi bahwa “pemenang meraup semuanya” sehingga Abraham menolak tawaran untuk mengambil harta benda pampasan perang. Abraham mengembalikannya kepada raja negeri Sodom, sehingga bebas dari jerat kelicikan hati yang dapat timbul dalam hari raja Sodom tersebut (Kej. 14:22-24a). Sangat mungkin keteguhan Abraham menolak harta “haram” dibangun kembangkan dari sistem kepercayaannya (SQ) bahwa TUHAN merupakan sumber berkat sebagaimana pengalaman Abraham saat mengalami Tantangan II (Kej. 12:2-3a,20). SQ Abraham tersebut juga didemokan saat meresponi berkat imam Melkisedek kepadanya. Abraham mengaminkan bahwa kemenangannya berasal dari TUHAN walau pun dirinya yang berjuang bersama hamba-hambanya.

Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga.”

Mzm. 127:1 [LAI TB]

Penutup

Kompleksitas kehidupan dengan berbagai faktor kejadian yang di luar perkiraan maupun kontrol manusia, meneguhkan pentingnya kompetensi intrapersonal manusia. Kecerdasan intelektual (IQ) sebagai salah satu aspek kompetensi intrapersonal, penting untuk mengefektifkan profesionalitas seseorang, karena pengetahuan dan keterampilan seseorang akan menunjang karyanya. IQ bukan satu-satunya aspek penting yang harus diagung-agungkan bagi kesuksesan seseorang.

Sebagai keberadaan yang berupa kesatuan psikosomatik, aspek non-intelektual dari kompetensi intrapersonal seseorang, sama sekali tidak boleh diabaikan. Kecerdasan emosi (EQ), kecerdasan mental (AQ), maupun kecerdasan spiritual (SQ) perlu dilatih kembangkan bersama dengan kecerdasan intelektual, sehingga terbangun kecerdasan secara holistik. Budaya dan tradisi yang tidak kondusif, misalnya budaya yang kental dengan pengagungan materialistik, atau pun orangtua yang terlalu melindungi anaknya (lihat Ninja Warrior – faithfulONE Ministry), merupakan tantangan signifikan bagi pengembangan kecerdasan holistik tersebut.

Nilai kecerdasan yang dimiliki adalah merupakan posisi relatif seseorang dalam populasi tertentu, dan dapat dilatih-kembangkan tanpa batas maksimal usia tertentu. Memang lebih ideal bila dilatih sejak usia dini, namun saat usia lanjut juga masih mungkin untuk melatihnya, seperti kasus pelatihan Abraham. Peran TUHAN sebagai sumber anugerah, merupakan peran kunci. TUHAN yang mahabaik telah melengkapi setiap orang dengan kecukupan talenta diri yang sesuai dengan kesanggupan masing-masing (Mat. 25:15). Manusia bertanggungjawab melatih-kembangkannya sambil tetap bersandar pada anugerah TUHAN yang mahakuasa. Dengan demikian, manusia dapat mengecap kesejahteraan (well being) bagi dirinya dan sesama. Terpujilah TUHAN yang mahamulia!

avatar setiadotone

Oleh setiadotone

Buah pertama kristiani dari keluarga konfusianis. Berkarier di berbagai perusahaan 'sekuler' lalu terpanggil sebagai pendidik di universitas (kristen) 'umum.' Berupaya mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan wawasan dunia kristiani terapan, agar membangun profesional kristiani.

Tinggalkan komentar