Jebakan “Iman”

Photo by Pixabay on Pexels.com

Undangan pernikahan yang diterima, membuka pintu bagi penerimanya untuk merayakan sukacita bersama mempelai saat itu. Ada penggalan ayat Alkitab yang biasa dituliskan di undangan itu,

Photo by Deesha Chandra on Pexels.com

Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya…” Bagi pasangan pengantin, pesta pernikahan tentu saja merupakan momen manis setelah berpacaran sekian lama. “Akhirnya…, jadi juga kita nih …,” begitu mungkin suara hati pasangan yang berbahagia itu. Mereka rasanya tak sabar menunggu momen indah itu. Jujur saja…, rasa itu juga timbul dalam hatiku saat menjalani pernikahan beberapa puluh tahun lalu.

Bila pernikahan merupakan salah satu momen manis dalam hidup manusia, penderitaan akan mewarnai rasa hati seseorang yang sedang terserang sakit penyakit. Nah…, biasanya kutipan ayat Alkitab yang suka didengungkan saat itu, bunyinya, “oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh…”

Photo by RDNE Stock project on Pexels.com

Memangnya siapa sih yang tidak mau segera sembuh dari sakit penyakit yang dideritanya. Tidak ada manusia normal yang suka menderita, nikmat dengan ketidak-nyamanan yang dirasakan tubuhnya saat sakit. Itu sebabnya, kondisi saat itu ditegaskan dengan kata: “sakit.” Kutipan ayat favorit yang diambil itu, menyiratkan suara hati yang ogah menderita sendiri dan senang bila deritanya diambil alih pihak lain. Wah…, jadi kalau kutipan ayat itu yang diimani, jangan-jangan…, ada kesalahan atas iman yang seperti itu dong.

Untuk menilainya, mau-tak-mau kita harus melihat apa yang tertulis di Alkitab. Ternyata…, dua ayat yang sering dikutip untuk momen berbeda itu, memang tidak lengkap. Ayat yang dipenggal, akan membuka peluang untuk salah menangkap pesan sejatinya. Belum lagi, bila hanya menyoroti satu ayat tertentu saja, besar kemungkinannya untuk salah paham. Itu sebabnya, sering ditekankan untuk tidak melepaskan teks dari kon-teks. Jadi teringat akan kisah pencobaan Yesus Kristus di padang gurun nih.

Salah satu pencobaan itu, dituliskan berupa kisah “adu ayat firman Tuhan.” Iblis, yang selalu menjadi penggoda penyesat, menantang Yesus Kristus untuk membuktikan kebenaran salah satu janji Tuhan, lewat tindakan menantang bahaya maut. Janji perlindungan Tuhan bagi umat-Nya dari bahaya maut, dijadikan alasan pembenaran atas tindakan menantang maut yang ditiupkan Iblis kepada Yesus Kristus. Teks yang dikutip Iblis, memang benar-benar ada dalam kitab suci milik orang-orang yahudi saat itu.

Kemudian Iblis membawa-Nya ke Kota Suci dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah, lalu berkata kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu.”  [Mat. 4:5-6; TB LAI]

Sebab TUHAN ialah tempat perlindunganmu, Yang Mahatinggi telah kaubuat tempat perteduhanmu, malapetaka tidak akan menimpa kamu, dan tulah tidak akan mendekat kepada kemahmu; sebab malaikat-malaikat-Nya akan diperintahkan-Nya kepadamu untuk menjaga engkau di segala jalanmu. Mereka akan menatang engkau di atas tangannya, supaya kakimu jangan terantuk kepada batu[Mzm. 91:9-12; TB LAI]

Bila teks tersebut dilepaskan dari kon-teks-nya, sangat besar kemungkinannya untuk menerima klaim Iblis tersebut sebagai kebenaran firman Tuhan. Namun, bila teks itu dipahami dalam kon-teks-nya, maka jelaslah bila perlindungan yang dijanjikan Tuhan bagi umat-Nya, merupakan perlindungan atas marabahaya yang mengancam dari luar, yang bukan timbul dari tindakan sembrono orang itu sendiri. Prinsip alami dari “hukum tabur-tuai” akan memastikan bahwa tindakan seseorang akan membuatnya menanggung sendiri dampak dari tindakannya itu.

Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya[Gal. 6:7; TB LAI]

Pada waktu itu orang tidak akan berkata lagi: Ayah-ayah makan buah mentah, dan gigi anak-anaknya menjadi ngilu, melainkan: Setiap orang akan mati karena kesalahannya sendiri; setiap manusia yang makan buah mentah, giginya sendiri menjadi ngilu.”  [Yer. 31:29-30; TB LAI]

Dengan demikian, bila seseorang secara serampangan melakukan tindakan menantang maut baginya, maka kecelakaan fatal, bahkan kematian yang menimpanya, merupakan dampak normal dari “hukum tabur-tuai.” Jadi, benar-benar keliru bila kemudian…

Photo by Afrika ufundi on Pexels.com

menyalahkan Tuhan atas derita yang dialami akibat tindakan sembrononya itu. Salah sendiri, kok malah nyalahin Tuhan. Konyol banget dah! Kekonyolan itu disamakan dengan sikap “mencobai Tuhan,” sebagaimana ditegaskan Yesus Kristus atas tipuan Iblis itu. Memang Iblis itu biang pembohong dan pembunuh manusia.

Apa sebabnya kamu tidak mengerti bahasa-Ku? Sebab kamu tidak dapat menangkap firman-Ku. Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta.  [Yoh. 8:43-44; TB LAI]

Realitasnya, dalam kehidupan sosial manusia di dunia ini, “hukum tabur-tuai” seringkali kelihatan tidak berfungsi. Tidak jarang terjadi, pelaku “kejahatan” di dunia ini tidak mengalami derita atas kejahatannya. Malah dapat terjadi, orang lain yang menanggung dampak tidak nyaman dari kejahatan pelaku jahat itu, sedangkan si penjahat sendiri melenggang dengan nyamannya.

Realitas ini memang menjadi misteri hidup bagi umat percaya, seperti yang dilantunkan oleh Asaf dalam Mazmur 73. Biarlah dalam keterbatasan diri sebagai ciptaan, yang pasti tidak mungkin dapat sepenuhnya memahami misteri Sang Pencipta yang tak terbatas, umat percaya dapat terus beriman secara benar lewat mengenal secara benar akan penciptanya.

Bahaya memenggal atau pun melepaskan teks firman Tuhan dari kon-teks-nya, yang merupakan salah satu cara Iblis menipu umat percaya, masih terus mengancam. Bila hal itu diperkuat dengan kegagalan manusia memahami proses keadilan Tuhan, yang acapkali tidak terjadi seketika dalam dimensi waktu dunia (kronos), maka sangat mudah bagi umat percaya untuk terjerat oleh jebakan “iman” dan mencobai Tuhan, Sang Pencipta.

Photo by Tima Miroshnichenko on Pexels.com

Manusia yang sebenarnya rentan atas jebakan ini, sungguh butuh pertolongan Tuhan. Tepatlah bunyi salah satu permohonan dalam “Doa Bapa kami” yang selayaknya dipanjatkan dalam doa umat percaya; “dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat” (Mat. 6:13a). Terpujilah Tuhan, yang maha tahu, maha adil, dan maha baik.

avatar setiadotone

Oleh setiadotone

Buah pertama kristiani dari keluarga konfusianis. Berkarier di berbagai perusahaan 'sekuler' lalu terpanggil sebagai pendidik di universitas (kristen) 'umum.' Berupaya mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan wawasan dunia kristiani terapan, agar membangun profesional kristiani.

2 comments

Tinggalkan Balasan ke Desman Batalkan balasan