PAMER

Photo by Greta Hoffman on Pexels.com
Photo by Enes u00c7elik on Pexels.com

Sudah sekitar sebulan saya tidak menulis satu refleksi. Bukan berarti belum ada ide lho. Masalahnya, saya takut melakukan kesalahan serupa dengan apa yang lagi heboh belakangan ini. Berawal dari kasus kekerasan yang terjadi antara beberapa remaja, berlanjut dengan hebohnya flexing oleh sang pelaku kekerasan. Flexing itu dipahami sebagai pamer kekayaan di media sosial. Biasanya yang dipamerkan itu berupa kekayaan material yang serba mewah.

Bisa berupa rumah mewah, mobil atau motor mewah, pakaian dan aksesoris mewah, pokoknya material-material yang serba wah harganya.

Tentu saja saya tidak memiliki kemewahan itu. Tapi…., apakah tulisan refleksi yang saya unggah di media tertentu, itu bebas pamer? Jangan-jangan…., saya sedang memamerkan “kekayaan intelektual” saya? Ah ngelantur! Sok amat, menganggap refleksi sederhana ini sebagai suatu kekayaan intelektual! Karena tak yakin tulisan refleksi ini dapat dikategorikan seperti itu, saya memberanikan diri menuliskannya. Semoga tidak menjadi kasus cela yang mencelakakan saya atau pun pihak lainnya.

Photo by cottonbro studio on Pexels.com

Sebenarnya, kecenderungan pamer itu tidak terlepas dari rasa bangga yang mencerlangkan eksistensi diri pemamer di antara orang lain. Kebanggaan yang dialami, sangat-sangat memuaskan hati. Padahal…, mungkin saja rasa itu merupakan rasa semu, palsu, kosong, halu, dari pikiran sendiri yang mengada-ada. Boro-boro mengagumi, orang lain yang dipameri itu mungkin malah menertawakan, mencemooh, muak, atas pameran pemamer tersebut.

Memang sih…, bisa saja orang lain iri kepada si pemamer, dan pingin dekat-dekat dengannya. Siapa tahu…, bisa kecipratan mencicipi kekayaan si pemamer. Ngarep gitu loh….

Photo by Vladimir Chake on Pexels.com

Nah…, rasa bangga yang memuaskan hati ini, mendorong banyak orang secara tak sadar menjadi pemamer. Tak jarang kita menemui peristiwa di mana orangtua, terutama ibu-ibu, yang suka mendorong anaknya untuk melakukan sesuatu yang membanggakan di depan orangtua lainnya, bukan? Kalau anak itu memamerkan kebisaannya dan dipuji-puji orang-orang yang melihatnya, wah…….,

bukan cuma si anak yang senang, orangtuanya juga berbunga-bunga hatinya. Jadi gak heran lah, bila kelakuan pamer itu seperti sudah dari sananya dimiliki oleh setiap manusia “normal” di dunia ini.

Ada satu kitab di Alkitab, yang mencatat seolah Tuhan juga hobi pamer. Kitab Ayub mencatat pujian Tuhan kepada Ayub di depan Iblis. Iblis yang nampaknya berkeberatan dengan pujian itu, lalu diberi kesempatan oleh Tuhan untuk membuktikan kebenaran pujian itu. Jadilah drama kehidupan Ayub berlatar-belakang percakapan Tuhan dengan Iblis itu, mengisi kitab Ayub sebagai salah satu kitab dalam Alkitab. Tentu saja, ada pesan penting dalam kitab Ayub di luar narasi percakapan Tuhan dengan Iblis tersebut. Saya tidak berniat mengulasnya di sini, karena bukan itu yang menjadi refleksi saya.

Saya merefleksikan bagian Alkitab lain, yang lebih pas nampaknya dengan drama flexing akhir-akhir ini. Ada banyak raja dari Kerajaan Yehuda, pecahan Kerajaan Israel di bagian selatan, yang dicatat dalam Alkitab. Salah satu di antaranya, yaitu raja Hizkia, yang bakal menjadi tokoh dalam tulisan refleksi ini. Raja Hizkia memiliki sejarah kehidupan menarik. Sebagai anak dan penerus tahta Kerajaan Yehuda dari raja Ahas, Hizkia dikisahkan memiliki relasi yang baik dengan Tuhan.

Bertolak-belakang dengan ayahnya yang melakukan kehidupan melawan Tuhan, Hizkia dicatat melakukan apa yang benar di mata Tuhan. Mungkin saja Hizkia menarik pelajaran penting akan kehancuran Kerajaan Israel, yang digusur Kerajaan Asyur di tahun keenam pemerintahannya. Hizkia menyadari kepunahan kerajaan Israel karena kehidupan mereka yang melawan Tuhan.

Hizkia sendiri mengalami kegentingan ancaman yang sama, setelah sebelumnya merencanakan perlawanan atas penguasaan Kerajaan Asyur pada kerajaannya. Ya, siapa sih yang tahan terus menerus memberi upeti sebagai uang keamanan kepada pihak lain. Apalagi uang keamanan itu sangat besar membebaninya. Hizkia sampai harus menguras seluruh isi kantongnya, baik dari kas istana mau pun kekayaan Bait Allah.

Sayangnya, Hizkia salah kalkulasi. Hizkia sempat merencanakan bekerjasama dengan Kerajaan Mesir untuk membebaskan kerajaannya dari penindasan Kerajaan Asyur. Sebagai adidaya waktu itu, tentu saja Asyur mengejek Mesir yang dipandangnya sebagai kekuatan yang sudah letoy. Bahkan kekeliruan Hizkia menyebabkan Tuhan juga diejek oleh Asyur.

Menyadari kekeliruannya, maka Hizkia yang sudah kepepet, mau-tak-mau berharap kepada Tuhan untuk membebaskan Kerajaan Yehuda dari ancaman Asyur tersebut. Tuhan menjanjikan pembebasan-Nya karena menghukum Asyur atas ejekannya kepada-Nya, bukan karena besarnya iman Hizkia kepada-Nya.

Walaupun Hizkia berharap pertolongan Tuhan, namun bukankah awalnya Hizkia tidak mengakui Tuhan itu adalah Tuhannya, tetapi menyatakan itu Tuhannya nabi Yesaya bin Amos. Kebangetan dah…! Syukurlah pada akhirnya Hizkia mengakui Tuhan sebagai Tuhannya dan Tuhan bangsanya, sehingga dapat mengalami pertolongan pembebasan Tuhan bagi kerajaannya.

Pengalaman Hizkia ini berlanjut dengan pengalaman berikut yang lebih spektakular. Hizkia yang telah divonis akan segera meninggal karena sakit keras, dijanjikan Tuhan diperpanjang umurnya. Hizkia masih tidak percaya kepada Tuhan, sehingga minta tanda berupa pemunduran waktu.

Photo by Chris F on Pexels.com

Tanda tersebut divisualisasikan lewat mundurnya bayang-bayang penunjuk waktu saat itu. Bayangkan! Jam digital dunia yang jadi standar waktu dunia, mundur sendiri angkanya!

Lalu jam tersebut kembali bergerak maju dari titik awal baru, dengan tak merubah apapun kondisi yang ada, selain terjadinya kesembuhan total Hizkia!

Sontak saja mujizat kesembuhan Hizkia menjadi berita viral yang nge-hype di mana-mana. Sampai-sampai raja Kerajaan Babel mengutus utusan khusus untuk mengunjungi Hizkia. Di sini lah awal tragedi bagi Kerajaan Yehuda. Hizkia yang merasa dihargai karena dikunjungi tamu dari jauh, tentu saja sangat senang. Tidak puas dengan memamerkan kesembuhannya, Hizkia pamer kekayaan secara habis-habisan.

Hizkia bersukacita atas kedatangan mereka, lalu diperlihatkannyalah kepada mereka segenap gedung harta bendanya, emas dan perak, rempah-rempah dan minyak yang berharga, gedung persenjataannya dan segala yang terdapat dalam perbendaharaannya. Tidak ada barang yang tidak diperlihatkan Hizkia kepada mereka di istananya dan di seluruh daerah kekuasaannya.  [2 Raj. 20:13; TB LAI]

Dalam hal inilah manusia, termasuk saya, gampang terjeblos ke lubang jebakan kesombongan. Semua perolehan yang dimiliki, biasanya dianggap sebagai hasil usahanya sendiri. Lupa bahwa keberhasilan seseorang itu terjadi karena berkat Tuhan bagi orang percaya.

Ia berpaut kepada TUHAN, tidak menyimpang daripada mengikuti Dia dan ia berpegang pada perintah-perintah TUHAN yang telah diperintahkan-Nya kepada Musa. Maka TUHAN menyertai dia; ke mana pun juga ia pergi berperang, ia beruntung.  [2 Raj. 18:6-7a; TB LAI]

Lho, lalu bagaimana dengan kesuksesan limpah orang-orang yang jahat dan tidak percaya Tuhan? Mereka juga hidup senang, sehat, bahagia, selamat sentosa, seperti yang dikeluhkan oleh Ayub.

Mengapa orang fasik tetap hidup, menjadi tua, bahkan menjadi bertambah-tambah kuat?  [Ayb. 21:7; TB LAI]

Bahkan tidak jarang, mereka lebih makmur dan nyaman dibandingkan dengan orang-orang yang takut akan Tuhan! Realitas demikian itu benar-benar ada dan nyata, bahkan sempat dikeluhkan oleh Salomo dalam kitab Pengkhotbah yang ditulisnya. Walaupun demikian, Salomo tetap menutup kitab Pengkhotbah dengan pesan untuk mentaati dan takut akan Tuhan.

Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan berpeganglah pafa perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang. Karena Allah akan membawa setiap perbuatan ke pengadilan yang berlaku atas segala sesuatu yang tersebunyi, entah itu baik, entah itu jahat.  [Pkh. 12:13-14; TB LAI]

Peringatan Salomo itu seringkali disepelekan, karena seolah orang-orang jahat tidak menanggung akibat buruk atas kejahatan mereka. Demikianlah mereka makin nge-gas pol dalam melakukan kejahatannya. Realitas ini bahkan sempat menggalaukan Asaf, dan nyaris membuatnya patah arang, pahit hati. Ternyata ada realitas lain yang disembunyikan Tuhan, bagi orang-orang yang terus berlaku licik tersebut.

Sesungguhnya di tempat-tempat licin Kautaruh mereka, Kaujatuhkan mereka sehingga hancur. Betapa binasa mereka dalam sekejab mata, lenyap, habis oleh karena kedahsyatan!  [Mzm. 73:18-19; TB LAI]Kautempatkan mereka di jalan yang licin, dan Kaubiarkan mereka jatuh binasa. Dalam sekejab mata mereka hancur, amat dahsyatlah kesudahan mereka.  [Mzm. 73:18-19; BIMK LAI]
(versi Terjemahan Baru dan versi Bahasa Indonesia Masa Kini)

Peringatan akan adanya pengadilan Tuhan, dapat menjadi petunjuk bagi kita untuk tidak memamerkan kekayaan kita, apalagi bila hal itu diperoleh secara licik dan haram. Peringatan tersebut sekaligus juga dapat menjadi dasar bagi kita untuk “memamerkan” kemuliaan Tuhan melalui warta kesaksian akan karya Tuhan dalam hidup keseharian kita. Hal ini harus dilakukan dengan berhati-hati agar tidak kejeblos dalam lubang jebakan menyombongkan diri sendiri, mengingat pada kenyataannya tidak ada manusia yang layak menyombongkan dirinya sendiri. Bukankah segala kebaikan itu, berasal dari Tuhan saja.

Saudara-saudara yang kukasihi, janganlah sesat! Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran.  [Yak. 1:16-17; TB LAI]Janganlah kalian tertipu, Saudara-saudaraku yang tercinta! Setiap pemberian yang baik dan hadiah yang sempurna datangnya dari surga, diturunkan oleh Allah, Pencipta segala terang di langit. Ialah Allah yang tidak berubah, dan tidak pula menyebabkan kegelapan apa pun.  [Yak. 1:16-17; BIMK LAI]
(versi Terjemahan Baru dan versi Bahasa Indonesia Masa Kini)

Tenang saja…., ada hal yang dapat menjadi objek kebanggaan, yang tidak menyebalkan hati Tuhan, kok.

TUHAN berkata, “Orang arif tak boleh bangga karena kebijaksanaannya, orang kuat karena kekuatannya, dan orang kaya karena kekayaannya. Siapa mau berbangga tentang sesuatu, haruslah berbangga bahwa ia mengenal dan mengerti Aku; bahwa ia tahu Aku mengasihi untuk selama-lamanya dan Aku menegakkan hukum serta keadilan di dunia. Semuanya itu menyenangkan hati-Ku. Aku, TUHAN, yang mengatakan itu.”  [Yer. 9:23-24; BIMK LAI]

Semoga Tuhan, Sang Terang, menolong kita semua untuk tidak salah pamer. Terpujilah Tuhan!

avatar setiadotone

Oleh setiadotone

Buah pertama kristiani dari keluarga konfusianis. Berkarier di berbagai perusahaan 'sekuler' lalu terpanggil sebagai pendidik di universitas (kristen) 'umum.' Berupaya mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan wawasan dunia kristiani terapan, agar membangun profesional kristiani.

2 comments

  1. Saya rasa sifat pamer itu sdh tertanam sejak bayi, misalnya sibayi disuruh memperagaksn apa yg dia bisa, lalu usia balita kadang akan bertingkah didepan orang misalnya me nari2 atau memperagakan tingkah untuk menarik perhatian orang disekitarnya. Nah kalau sdh dewasa sifat pamernya lain lagi entah kekayaan, entah kepandaian jadi yaaaah namanya juga manusia cuma ada yg tahu diri tidak berlebihan maksudnya untuk pamer2 sesuatu ada yg berlebihan bahkan yg gak ada di ada2 in dgn berdusta . Itu pendapat saya pribadi, kalau salah tolong dimaafkan ya?

    Suka

Tinggalkan Balasan ke Hartati Santoso Batalkan balasan