“KEPINGIN”

Photo by Norma Mortenson on Pexels.com

Horay… setelah sekian hari tempatku diguyur hujan berkelanjutan, hari ini cuaca cukup bersahabat. Sebenarnya cuaca demikian itu… pas kalau dibuat olahraga jalan pagi. Tapi, setelah cukup beraktifitas fisik dalam hari-hari sebelumnya, rasanya jadi kepingin nyantai. Enak bukan, bila ada kesempatan untuk “me time” gitu. Salahkah kalau kepingin nyantai di awal minggu yang bercuaca sejuk demikian? Nah… untuk menilainya, rasanya saya perlu bikin refleksi tentang “kepingin,” untuk menemukan damai di hati.

Photo by RODNAE Productions on Pexels.com

Kalau dipikir-pikir, manusia mana sih yang tak pernah kepingin sesuatu. Petapa yang menyendiri di tempat terpencil sekali pun, berkeinginan mendapatkan sesuatu yang mendorongnya melakukan tapa itu, bukan? Misalnya nih, petapa itu kepingin lepas dari “jerat keinginan,” yang diyakininya sebagai sumber derita kalau keinginan itu tak terpenuhi, atau dipaksakan dengan mengorbankan keinginan orang lain. Nah… bukankah tapa menyepi yang dilakukannya itu, didorong oleh hasratnya untuk “tidak berkeinginan” lagi. Bila kemudian dirinya lalu seolah bebas dari mengingini, saat mengantuk dan butuh tidur, apakah tidur itu merupakan kebutuhan tubuh jasmaninya semata, yang bebas dari keinginan? Bila demikian, kayaknya orang itu jadi lebih mirip dengan mesin, bukan lagi jadi manusia.

Photo by Pixabay on Pexels.com

Serem ah…… Jadi……, manusia itu seperti apa sih…., apa yang membedakannya dengan mesin sih? Bisa jadi pertanyaan ini penting lho. Bukankah dunia kini sudah mampu bikin robot android canggih yang makin serupa manusia. Lalu bagaimana saya yakin kalau diri saya bukanlah robot android super dari kebudayaan super canggih yang ada di dunia antah berantah?

Photo by Mikhail Nilov on Pexels.com

Iseng-iseng, saya coba berbincang (chatting) virtual dengan ChatGPT yang lagi happening saat ini. Chat ini dibuat dengan “menyuntikkan” teknologi AI (kecerdasan buatan), yang meniru cara kerja otak manusia. Waktu saya tanyakan tentang manusia, dijawab kalau manusia itu spesies mamalia berkarakteristik unik, yang memiliki secara luar biasa kemampuan-kemampuan kognisi, sosial, dan afeksi, untuk beradaptasi, berkreasi, dan memahami dunia. Kira-kira demikian simpulan jawabannya. Wow… luar biasa bukan. Padahal ini baru versi awal yang bakal dikembang-lanjutkan sehingga akan jadi makin canggih pastinya.

Nah, kalau chat ini dibuat dengan menirukan manusia, lalu manusia sendiri meniru “siapa” ya? Kalau chat ini sudah menimbulkan kekaguman luar biasa bagi kita, lalu bagaimana dengan “sumber” yang menjadi model “pembuatan” manusia? Tentunya hal ini berkait erat dengan apa yang seseorang percayai. Sebagai umat kristiani, saya tentu mempercayai (“imani”) berdasarkan keyakinan kristiani, yang berlandaskan kitab suci kristiani. Saya meyakini bahwa saya, sebagai manusia, dibuat “meniru” Tuhan, Sang Pencipta.

Dengan demikian, untuk dapat mengenal Sang Pencipta, manusia perlu mengenal dirinya sendiri dulu. Trus… bagaimana manusia dapat kenal dirinya? Nampaknya, salah satunya lewat mengetahui potensi diri manusia. Secara alami, manusia itu makhluk yang banyak inginnya. Jadi ingat lagunya serial Doraemon. Kalau begitu, apakah kepingin itu merupakan salah satu potensi penting manusia? Apakah Tuhan itu juga punya potensi kepingin tersebut? Atau jangan-jangan kepingin itu merupakan cacat manusia berdosa, yang membuatnya jauh terpisah dengan Tuhan?

Menyadari ketakterlepasan manusia dengan keinginan, saya amat meyakini bahwa keinginan itu pada keberadaannya sendiri, bukanlah cacat manusia. Bahkan ada bagian kitab suci kristiani yang mencatat adanya “kepinginnya” Tuhan.

Sebab TUHAN telah memilih Sion, mengingininya menjadi tempat kedudukan-Nya: “Inilah tenpat perhentian-Ku selama-lamanya, di sini Aku hendak diam, sebab Aku mengingininya.”  [Mzm. 132:13-14; TB LAI]

Hati raja seperti batang air di dalam tangan TUHAN, dialirkan-Nya ke mana Ia ingini.  [Ams. 21:1; TB LAI]

Kalau begitu, kenapa banyak derita muncul dikarenakan oleh keinginan manusia. Sebenarnya, saat saya berjeda diri merenungkannya sejenak, derita karena keinginan manusia itu dapat ditinjau dalam dua aspek. Aspek pertama, timbul karena kepingin atas apa yang menjadi kepunyaan orang lain.

Photo by Norma Mortenson on Pexels.com

Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apa pun yang dipunyai sesamamu.  [Kel. 20:17; TB LAI]

Jangan mengingini isteri sesamamu, dan jangan menghasratkan rumahnya, atau ladangnya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya, atau keledainya, atau apa pun yang dipunyai sesamamu.  [Ul. 5:21; TB LAI]

Aspek kedua, timbul karena tidak terima oleh kegagalan memuaskan rasa kepinginnya itu. Nampaknya, dirinya telah terobsesi oleh apa pun yang merupakan kepinginannya tersebut.

Kamu mengingini sesuatu, tetapi kamu tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh; kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi. Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa. Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu.  [Yak. 4:2-3; TB LAI]

Photo by nappy on Pexels.com

Kisah tentang Naaman dalam kitab suci kristiani (pada 2 Raj. 5), menarik bagi saya untuk jadi studi kasus. Sebagai seorang panglima perang yang gemilang, Naaman boleh dikatakan diagungkan oleh bangsanya sebagai dewa perang. Wajarlah bila Naaman kemudian menjadi sosok yang sangat percaya diri. Sayangnya, Naaman menderita kusta, penyakit yang saat itu tak tersembuhkan, yang diasosiasikan sebagai simbol kutuk, sehingga menjadi penyakit yang sangat ditakuti dan dihindari orang lain.

Masuk di akal bila Naaman sangat kepingin sembuh dari penyakit kusta itu. Apa pun yang mungkin dapat menyembuhkannya, pasti dikejar dengan bayaran apa pun. Eh… ada masukan cara sembuh dari penyakit itu. Segeralah Naaman menuju tempat domisili penyembuh itu. Tentu saja Naaman tidak pergi dengan tangan kosong. Ada limpah barang berharga saat itu yang dibawanya, untuk jadi tanda balas jasa atas kesembuhannya. Transaksi yang cukup fair dalam pertimbangan manusia. Dalam batasan ini, kepinginan Naaman tidak dapat dinilai salah. Singkat cerita, tibalah Naaman di tujuannya. Di sinilah drama terjadi.

Ternyata cara sembuh yang ditawarkan, menggelitik keangkuhan Naaman yang terbiasa diagungkan orang lain, bahkan oleh rajanya sendiri. Bagusnya, Naaman termasuk orang yang terbuka terhadap argumentasi orang lain yang masuk akal baginya, sekalipun dari pihak bawahan. Apalagi argumentasi itu seolah memberi peluang pemenuhan kepingin sembuhnya yang sangat dirindunya. Naaman pun melakukannya, ho la la… sembuh sepenuhnya lah Naaman dari sakit kustanya.

Dengan sangat gembira, Naaman mempersembahkan semua barang berharga yang dibawanya kepada si penyembuh, tapi… langsung ditolak mentah-mentah. Rupanya Naaman salah sasaran. Penyembuh sejati adalah TUHAN sendiri, orang yang memerantarainya bukanlah penyembuh. Jadi hanya kepada TUHAN lah Naaman selayaknya bersyukur. Penolakan ini mencerahkan batin Naaman, sehingga merubahnya, dari sekadar tahu, berubah menjadi penyembah TUHAN.

Drama berlanjut dengan menyorot pemerantara lain. Nabi Elisa yang memerantarai TUHAN, menolak persembahan Naaman, karena sadar dirinya itu siapa. Gehazi sebagai bujang Elisa, yang acapkali disuruh memerantarai Elisa, lupa diri karena kepingin memiliki barang berharga yang dibawa Naaman itu. Jadinya, Gehazi melakukan penipuan bertahap.

Pertama, Gehazi menipu dirinya sendiri dengan menutupi hasrat salahnya lewat alasan pembenaran yang dibuat-buat. Kedua, Gehazi menipu Naaman dengan hoaks karangan yang manipulatif. Terakhir, kepada Elisa, Gehazi mencoba menutupi tindakannya lewat pengingkaran. Kali ini Gehazi gagal membohongi Elisa, dan menerima konsekuensi tragis bagi dirinya dan semua keturunannya, sebagai bayaran atas capaian ilegal akan hasratnya. Gehazi telah melanggar dua aspek kesalahan di atas.

Studi kasus kisah Naaman ini, menegaskan kepada saya bahwa hasrat manusia bukanlah cacat yang harus dimatikan oleh manusia. Apa yang menjadi obyek hasratnya, bagaimana cara menggapainya, dan apa tujuannya, itulah yang patut diwaspadai dan diuji kelayakannya. Pengakuan keberadaan manusia sebagai “tiruan” Tuhan, menegaskan posisi Tuhan sebagai tolok ukur tunggal bagi hasrat manusia. Jadi, mewaspadai hati lewat menyerahkan ujian hati kepada Tuhan merupakan cara logis terhadap hasrat.

Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.  [Ams. 4:23; TB LAI]

Ujilah aku, ya TUHAN, dan cobalah aku; selidikilah batinku dan hatiku.  [Mzm. 26:2; TB LAI]

Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!

[Mzm. 139:23-24; TB LAI]

Yesus Kristus, sebagai manusia inkarnasi Allah Putra, mengakui bahwa diri-Nya memiliki hasrat. Di taman Getsemani, Yesus kepingin agar derita dahsyat berupa “cawan murka Allah” tidak harus ditanggung-Nya. Walaupun demikian, Yesus mengambil posisi untuk menundukkan diri-Nya pada kehendak Allah Bapa.

Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: “Ya bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.”  [Mat. 26:39; TB LAI]

Ah…, jujur saja…, saya lebih sering berlaku seperti Gehazi dalam menghadapi hasrat diri. Dapat dikatakan, manusia berdosa tidaklah mungkin untuk lulus uji hati oleh Tuhan. Apalagi bertindak seperti Yesus Kristus yang dengan sadar dan sukarela memutuskan untuk bertindak melakukan apa yang dikehendaki Allah Bapa. Tidak heran bila tokoh sekaliber Rasul Paulus pun, sesak nafas saat menyadari dampak keberdosaan dirinya.

Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik. Sebab bukan apa yang kukehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat. Jadi jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan aku lagi yang memperbuatnya, tetapi dosa yang diam di dalam aku.  [Rm. 7:18-20; TB LAI]

Realitas ini bukan alasan yang dapat dipakai untuk membenarkan diri lho… Biarlah bersama Rasul Paulus, saya boleh jujur mengakui ketidakmampuan memiliki hasrat yang baik dan merealisasikannya dengan benar. Dengan demikian, saya juga dapat bersama Rasul Paulus mensyukuri anugerah Allah dalam Kristus.

Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini? Syukur kepada Allah! oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.  [Rm. 7:24-25; TB LAI]

Dan bersama Raja Daud, biarlah saya juga boleh melantunkan satu kepinginan yang sama.

Satu hal telah kuminta kepada TUHAN, itulah yang kuingini: diam di rumah TUHAN seumur hidupku, menyaksikan kemurahan TUHAN dan menikmati bait-Nya.  [Mzm. 27:4; TB LAI]

Anda juga kepingin??? Yuk… lantunkan bersama-sama. Terpujilah Tuhan Yesus Kristus. Amin.

avatar setiadotone

Oleh setiadotone

Buah pertama kristiani dari keluarga konfusianis. Berkarier di berbagai perusahaan 'sekuler' lalu terpanggil sebagai pendidik di universitas (kristen) 'umum.' Berupaya mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan wawasan dunia kristiani terapan, agar membangun profesional kristiani.

10 comments

  1. Keren pak tulisannya. Apakah nantinya mesin juga semakin canggih dan punya keinginannya sendiri serta memiliki hati yg lembut atau keras? Kemajuan AI bagus selama digunakan dg baik. Keserupaan dg Tuhan akan meng guide apa yg dilakukan manusia 🙏

    Suka

    1. Terima kasih untuk komen yang menggelitik ini 👍
      Mungkin saja kelak AI mampu memiliki pertimbangannya (serta keinginannya) sendiri, sehingga lebih lincah merespon keadaan.
      Yesus yang sepenuhnya manusia, sekaligus sepenuhnya Tuhan (prinsip one Godness), telah menjadi teladan dalam memilih menundukkan diri dan melakukan kepinginnya Allah Bapa. Apakah prinsip ini juga berani dan mampu dilakukan kita? Inilah inti masalahnya, dan hanya oleh anugerah Allah dalam Kristus Yesus lah, masalah iti dapat diselesaikan. Di luar itu, tidak ada jalan keluar, termasuk realitas keserupaan manusia dengan Tuhan, yang sebenarnya telah rusak total, dan hanya ditahan perusakannya oleh anugerah umum Allah yang maha agung (maha baik, maha kasih, maha benar, maha kuasa, dsb).

      Suka

Tinggalkan Balasan ke Ezekiel Batalkan balasan