
Pendahuluan
(Amazing Race)
Kehidupan manusia nampaknya butuh diisi dengan beragam acara, beragam pola, beragam tayangan. Salah satu tayangan yang cukup menghibur adalah acara Amazing Race. Acara ini juga disukai oleh para pesertanya, maklumlah dapat kesempatan “jalan-jalan” gratis ke berbagai tempat sekaligus ada kesempatan untuk meraih hadiah yang cukup spektakuler bagi pemenangnya.
Acara ini merupakan tayangan serial reality show yang telah memenangkan beragam penghargaan Emmy (Emmy Awards).
Ada beragam tantangan di sepanjang sesi perlombaan, baik secara fisik maupun mental, yang harus dihadapi dan diselesaikan dengan baik oleh para peserta lomba. Tentu saja akan ada tim lomba yang terbelakang pencapaiannya dengan resiko tereliminasi dan tidak dapat melanjutkan lombanya.
Selain butuh kekompakan kerjasama tim, juga butuh strategi lomba untuk menjadi tim juara. Cukup longgarnya peraturan lomba membuat strategi yang dilakukan kadang dapat terkesan “kejam” bagi korbannya. Selain strategi kerjasama antar tim untuk menjegal tim unggulan, ada momen tertentu yang mengijinkan satu tim untuk mengalihkan arah (detour) tim lainnya agar terhambat waktunya dan menghadapi kemungkinan tereliminasi karena terbelakang mencapai titik tujuan lomba hari itu.
Acara ini menjadi tontonan menarik karena dapat menyaksikan beragam keindahan alam dan budaya setempat, juga dapat merasakan ketegangan lomba yang seolah mencerminkan realita kehidupan dengan beragam lika-liku perjuangannya bagi para penontonnya. Pelajaran apa yang dapat kita petik?
Cermin Diri
Interaksi antar sesama anggota tim serta antar sesama tim peserta, mempertontonkan sekilas warna kepribadian masing-masing individu peserta. Keunikan kepribadian tiap individu terbentuk sesuai perjalanan hidupnya yang tentunya bersifat unik pada tiap individu.

Pertumbuhan psikososial yang disampaikan oleh Erik Homburger Erikson, psikolog Denmark-Jerman-Amerika, menunjukkan tahapan perkembangan identitas tiap individu sepanjang perjalanan hidupnya. Sebagaimana acara Amazing Race, ada beberapa titik perhentian yang bakal menjadi titik peralihan lanjut dalam perjalanan hidup seseorang. Sederhananya ada periode anak, remaja, muda, dewasa, usia lanjut.
Tiap periode butuh satu pemenuhan pertumbuhan tertentu, yang bila tidak terpenuhi akan dapat menimbulkan krisis kepribadian pada periode berikutnya. Periode anak bahkan dipandang sebagai periode terpenting bagi pembentukan identitas individu tersebut, sehingga model asuh keluarganya berperan penting atasnya (lihat Ninja Warrior – faithfulONE Ministry).

Musa yang dipilih Tuhan menjadi tokoh pembebas umat Israel dari perbudakan Mesir, menyampaikan Hukum Shema kepada generasi “bebas” pertama umat Israel. Hukum ini menekankan pentingnya keteladanan ayah bagi pendidikan anak-anaknya (Ul. 6). Selintas seolah-olah Hukum Shema itu hanya menekankan aspek kecerdasan rohaniah (SQ). Gagal paham ini dapat terjadi bila teks dibaca lepas dari konteksnya. Patut diingat bahwa penerima Hukum Shema tersebut merupakan mantan budak Mesir yang eksistensinya bahkan dinilai jauh lebih rendah daripada “buruh modern.”
Kondisi “tak bernilai” tersebut bahkan telah dialami selama sekitar 4 abad (Kej. 15:13; KPR. 7:6). Latar belakang pengalaman ini jelas akan membentuk persepsi mereka yang mengutamakan kebutuhan fisik (material) seperti pernyataan Abraham Maslow dalam teori tahap kebutuhan manusia (lihat “COUP” – faithfulONE Ministry). Tuhan sendiri memandang penting pengembangan semua elemen kecerdasan manusia agar manusia dapat berkembang menjadi gambar-Nya secara utuh. Abraham sebagai Bapak Leluhur orang Israel bahkan diproses Tuhan untuk mengembangkan keseluruhan aspek kecerdasan dirinya (lihat Holistic Quotient – faithfulONE Ministry).

Sebagai makhluk sosial, manusia butuh interaksi nyata dengan sesama manusia. Interaksi tersebut akan bersumbangsih membentuk kepribadian sang individu, dengan kedalamannya seimbang dengan kedalaman interaksinya. Prinsip ini berlaku di sepanjang perjalanan interaksi hidup seseorang, seperti yang diutarakan oleh Urie Bronfenbrenner, psikolog Amerika, dalam teori sistem ekologinya (lihat Bronfenbrenner’s Ecological Systems Theory | Simply Psychology).
Itulah sebabnya penting untuk berhati-hati dalam membina pergaulan dengan sesama, walau tidak menutup diri dari pergaulan.
“Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.” [1 Kor. 15:33; TB LAI]
“Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya.”[Ams. 27:17; TB LAI]
Manusia yang dicipta serupa gambar Penciptanya (Kej. 1:26-27), bersifat “majemuk yang esa” seperti keberadaan Allah Tritunggal (3 Pribadi, 1 Esensi Allah).

Homo Homini Socius

Homo Homini Lupus
Dengan demikian selayaknya relasi manusia dengan sesamanya berwarnakan persahabatan sosial (Homo Homini Socius). Narasi “Kejatuhan” (Kej. 3) mencantumkan kecenderungan manusia untuk “mengorbankan pihak lain” demi keamanan dirinya sendiri, sebagai dampak keberdosaan manusia. Manusia yang berdosa terhadap Penciptanya, ogah menanggung hukuman dosanya dan menunjuk pihak lain sebagai pihak yang bertanggung jawab atas “Kejatuhan” tersebut. Kecenderungan ini menjadikan manusia seolah bagai serigala bagi sesamanya (Homo Homini Lupus).
Acara Amazing Race sebagai perlombaan yang hanya menyediakan satu tempat saja bagi pemenangnya yang akan meraih hadiah uang dalam jumlah yang menggiurkan, menggiring manusia berlaku sebagai Homo Homini Lupus. Bila demikian, benarkah pemenang lomba telah menjadi pemenang? Bagaimana dengan realita hidup yang seolah menggiring manusia dalam berbagai lomba kehidupan dengan hanya ada segelintir kecil pemenangnya?
lanjut halaman kedua…
