
Pendahuluan

Kenyamanan hidup manusia modern dengan topangan berbagai alat rumahtangga canggih maupun kerja kantor yang kurang menuntut kerja fisik, membuat makin kurangnya gerak tubuh dalam kehidupan sehari-hari. Tayangan hiburan tv yang didukung oleh perangkat bioskop rumah yang kian terjangkau harganya, makin memperparah kurang gerak tersebut. Kondisi ini mendorong munculnya berbagai penyakit modern akibat kurang gerak. Manusia modern menjadi relatif kurang fit secara fisik.
Pandemi covid-19 yang melanda, telah membangkitkan kesadaran baru akan pentingnya kebugaran tubuh, di samping mentaati protokol kesehatan terkait pandemi tersebut.

Dilain pihak, budaya mager (malas gerak) yang popular di Indonesia secara umum, telah memanjakan diri lewat kebiasaan naik turun kendaraan di titik terdekat dari tempat tujuan. Escalator maupun lift yang menggantikan tangga manual di gedung-gedung umum makin membudayakan mager tersebut. Bahkan orang Indonesia pernah didaulat sebagai orang paling malas berjalan di dunia berdasarkan kesimpulan hasil survey yang diulas dalam jurnal ilmiah Nature di tahun 2019.
Ary Moelyadi sebagai Asisten Deputi Pengelolaan Olahraga Pendidikan Kemenpora mendukung hasil survey tersebut saat diskusi di Jakarta bulan Oktober tahun 2021. Pandemi covid-19 yang membatasi gerak sosial dengan mengoptimalkan komunikasi virtual, makin menguatkan budaya mager ini. Apalagi makin riuhnya revolusi metaverse, lengkaplah sudah mager sebagai gaya hidup baru yang seolah sah dan wajar.
Dua sisi di atas nampak berkontradiksi. Bagaimana seharusnya menyikapinya?
Wawasan (diri) Manusia


Manusia memiliki berbagai organ tubuh yang lokasinya di bagian dalam tubuh manusia yang lunak. Organ-organ itu dilingkupi oleh setidaknya 206 tulang-tulang yang membentuk rangka, yang dapat dibagi menjadi 2 bagian kerangka, yaitu aksial dan apendikular. Rangka yang membentuk postur tubuh manusia, merupakan alat gerak pasif yang menjadi tempat melekatnya otot. Fungsinya melindungi organ-organ tubuh manusia serta bekerja sama dengan otot dan sistem saraf manusia untuk bergerak.
Rangka juga menjadi tempat pembentukan sumsum kuning sebagai tempat menyimpan lemak yang merupakan sumber energi cadangan bagi manusia. Juga sebagai tempat membentuk sel-sel imunitas, bahkan pembentukan komponen sel-sel darah manusia. Selain itu, tulang tinggi kandungan mineral kalsium dan fosfat yang penting untuk kontraksi otot dan pembekuan darah. Dengan demikian, dapat dibayangkan betapa pentingnya menjaga kesehatan tulang manusia.
Ada berberapa cara yang dapat dilakukan sebagai upaya menjaga kesehatan tulang. Misal makanlah makanan yang tinggi kandungan mineral kalsium, seperti sayuran berwarna hijau dan buah berwarna kuning. Cukup berjemur matahari pagi juga baik untuk pembentukan vitamin D yang diperlukan untuk mengoptimalkan penyerapan kalsium makanan ke dalam tubuh. Teratur berolahraga, termasuk latihan beban, akan membantu menghindari peradangan tulang dan menjaga kepadatannya, juga berguna menjaga berat ideal tubuh setidaknya menurut IMT (Indeks Massa Tubuh).

Tuhan yang maha bijak telah menciptakan manusia dengan struktur yang demikian, memang dengan tujuan membentuk manusia yang dinamis bergerak. Tulang pipa dan tulang paha yang ada pada kaki manusia, biasanya menjadi tempat pembentukan sel-sel darah, baik sel darah merah maupun sel darah putih. Dengan demikian, gerak kaki menjadi salah satu faktor penting menjaga kesehatan tubuh. Tuhan yang maha baik tidak bakal memerintah manusia secara semena.
Perintah untuk memenuhi bumi dan menaklukkannya, hanya mungkin dilakukan bila manusia aktif dinamis dan tidak statis di satu tempat belaka. Ternyata dinamika gerak tubuh manusia itu menyehatkan diri manusia sendiri.
Revolusi teknologi yang bagai pisau bermata dua, memberi kemudahan hidup sekaligus tantangan kesehatan. Alih-alih berposisi ekstrim pada salah satu kutub saja, baik menolak ataupun mendekap sepenuhnya, seimbang menggunakan teknologi secara harmonis dalam hidup keseharian merupakan posisi yang sepantasnya diambil. Tantangannya bukan pada teknologi itu sendiri, melainkan pada sifat manusia penggunanya. Gagal mengenali jati diri sejati sebagai makhluk dinamis yang berakal budi, akan menjerumuskan diri pada posisi ekstrim yang sia-sia.
Penutup
Kesatuan psikosomatik sebagai natur konstitusional manusia, merupakan fakta yang sama sekali tidak dapat diabaikan kebenarannya. Kesehatan harus mencakup secara seimbang harmonis antara jasmani dan rohani/jiwani. Bahkan WHO menetapkan standar sehat bukan hanya tidak menderita sakit fisik, melainkan harus mencakup sehat jasmani, rohani/jiwani, dan sosial.
Gangguan stres sebagai gangguan jiwani/rohani akan menurunkan imunitas tubuh sehingga berdampak negatif bagi jasmani. Sebaliknya gangguan jasmani seperti sakit darah tinggi atau penyakit jantung, ternyata memberi dampak tidak baik bagi jiwani/rohani, seperti gampang marah dan tersinggung, maupun mudah panik atau kaget.
Aktifitas fisik yang baik seperti olahraga dengan tenaga fisik, didukung asupan nutrisi yang sehat dan bergizi seimbang, akan mendukung kesehatan mental. Slogan ‘Men sana in corpore sano’ (dalam jasmani yang sehat terdapat jiwani yang kuat) mencitrakan pemikiran itu. Umat kristiani memegang satu prinsip hikmat yang dinyatakan dalam firman, bahwa kesehatan jiwani/rohani lebih berpengaruh.
“Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat.” [Ams. 15:13; TB LAI]
“Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.” [Ams. 17:22; TB LAI]
Tentu saja penerimaan prinsip hikmat di atas akan dipengaruhi oleh wawasan pribadi seseorang. Wawasan dunia sebagai penilai dan pendorong aksi atas satu peristiwa, harus dikaji kesatuan lengkap semua elemennya (lihat WD 1-Definisi, Nesisitas, Elemen Wawasan Dunia – YouTube dan WD 2-Evaluasi Wawasan Dunia – YouTube). Wawasan dunia yang sehat akan menolong pemiliknya bersikap seimbang harmonis atas perkembangan budaya, termasuk di era new normal saat ini.
Tidak ada paksaan, semua orang bebas bersikap sesuai wawasan dunia miliknya. Anda dan saya bebas menyikapi disrupsi yang ditimbulkan oleh revolusi teknologi. Jebakan idolatris era new normal yang cenderung bersifat adiktif seperti tenggelam pada realitas virtual, sangat mungkin terjadi. Tentu saja tanggung jawab atas pilihan yang diambil, selalu melekat.
Apapun pilihan Anda, saya pribadi yang bernatur kesatuan psikosomatik, mendamba bebas dari gagal guna (misused) yang disebabkan oleh nanar hikmat karena menolak Sang Hikmat.
“Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!” [Yos. 24:15; TB LAI]
Terpujilah Tuhan, Pencipta yang ber-maha hikmat.

Sangat inspiratif dan memotivasi agar kembali bergerak dan bergerak. Bersyukur jika masih dapat bergerak
SukaSuka
Mari sama-sama semangat mengoptimalkan anugerah gerak agar sehat 🙏
SukaSuka
Wah lengkap nih wawasan dan penjelasannya. Thanks bro
SukaSuka
Thanks juga. Moga2 terus semangat sehat ya bro 🙏
SukaSuka
Thanks Pak Setiawan untuk karyanya. Semoga kita dan pak Setiawan juga hehehe tidak tergerus budaya mager ini.
SukaSuka
Siap Pak Rudy 🚶♂️
SukaSuka