Tanggap Metaverse

Photo by Mo on Pexels.com

Pendahuluan

Teknologi internet berkembang demikian pesat hingga seolah meniadakan batas waktu dan ruang. Dukungan kecepatan 5G membuat dunia virtual makin akrab bagi banyak orang dan makin luas bidang cakupannya. Salah satunya adalah permainan daring, yang dengan teknologi realitas virtual 3 dimensi, akan membuat pemainnya seolah menjadi pelakon nyata dalam permainan itu.

Photo by Josh Hild on Pexels.com

Metaverse merupakan perkembangan terkini yang seolah mempertemukan realitas fisik dan digital dari berbagai aktifitas kehidupan sosial secara virtual. Dunia nyata seolah dipindahkan ke dunia virtual, termasuk aktifitas berinvestasi dalam berbagai aset properti (misal tanah, rumah, lukisan, dsb) dengan menggunakan uang digital. Semua aktifitas itu dilakukan melalui kehadiran avatar yang mewakili diri pribadinya.

Hal itu membuka peluang memanipulasi tampilan diri sesuai dengan angan-angan pelakonnya. Apalagi metaverse sendiri masih butuh pengembangan lanjut, baik dalam teknologi keamanan maupun aspek hukumnya, sehingga perlu ditanggapi secara berhati-hati sebelum memutuskan untuk memasukinya.

Manusia Avatar

Simulasi aktifitas virtual yang dikemas dengan serius, sungguh dapat memberi manfaat positif bagi analisa SWOT (kekuatan, kelemahan, peluang, ancaman) dengan resiko minimal, sebelum proyek atau produk diluncurkan ke masyarakat pengguna secara nyata. Demikian pula dengan berbagai latihan bagi aktifitas-aktifitas yang berbahaya, misal bagi tentara, operator industri laut dalam, operator robotik bagi pekerjaan beresiko tinggi, dan sejenisnya. Metaverse dapat menjadi sarana menjanjikan bagi capaian positif tersebut, tentunya dengan berbagai catatan.

Walau metaverse coba menyatukan realitas fisik dengan realitas digital, namun semua aktifitas dilakukan di alam virtual. Selalu ada faktor di luar perkiraan yang mungkin dapat timbul di alam nyata, yang tidak terkemas dalam metaverse. Belum lagi tantangan kemungkinan nanar kesadaran yang sulit membedakan kenyataan dengan ilusi, bila seseorang terlalu dalam menenggelamkan dirinya dalam realitas metaverse. Masih ada berbagai masalah, baik secara psikologis seperti kecanduan, pelecehan, maupun cacat fisik karena tanpa sadar melakukan olah tubuh ekstrim sebagaimana tuntutan virtual.

Avatar

Avatar yang mewakili pribadi penggunanya, dibuat berdasarkan akal pikir dan ilusi manusia. Sebaik apapun hasilnya, tetap mengandung berbagai kekurangan karena keterbatasan manusia penciptanya. Keterbatasan itu sendiri bukanlah hal buruk bagi manusia, bahkan hal itu merupakan natur alami manusia sebagai ciptaan. Mengingkari keterbatasan diri sama saja dengan mengingkari keberadaan sejati dirinya sendiri, dan berdampak keterasingan atas dirinya. Manusia bahkan lalu mengeksploitasi dirinya sendiri, tidak memperlakukan dirinya secara wajar.

Iman kristiani memegang narasi penciptaan bahwa manusia merupakan kesatuan psikosomatik (Kej. 2:7) yang bertubuh fisik dan memiliki jiwa/roh, berakal budi dan berkehendak bebas, satu pribadi yang butuh relasi sosial bagi keberadaannya. Dengan demikian manusia sebagai roh yang bertubuh, memiliki kemampuan untuk bereksistensi di alam spiritual, walau diciptakan untuk hidup di alam fisik.

Sebagai ciptaan yang diciptakan menurut gambar rupa Tuhan yang adalah Roh (2 Kor. 3:17), aspek jiwa/roh yang dapat disebut sebagai ‘manusia batiniah’ merupakan aspek penting bagi keberadaan manusia. Jelaslah bahwa iman kristiani tidak memperlakukan aspek jiwa/roh manusia semata sebagai ‘perluasan’ aspek jasmani/fisik manusia sebagaimana yang dipegang penganut paham monokotomis.

Manusia juga merupakan makhluk dinamis, bukan keberadaan yang statis, selaras dengan tugas memenuhi bumi dari titik awal penempatannya di Taman Eden (Kej. 1:28, 2:8). Tugas memenuhi bumi ini tidak terlepas dari tugas menaklukkan bumi. Kapasitas akal budi dikaruniakan melengkapi kapasitas olah fisik agar manusia dimampukan melaksanakan tugas itu. Kapasitas akal budi merupakan kesatuan sehingga olah pikir, olah angan, dan olah rasa, tidak boleh bebas dari olah etika/pekerti. Bahkan olah etika/pekerti harus menjadi kompas bagi semua tipe olah lainnya, sebagaimana prinsip berikut:

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”  [Rm. 12:2; TB LAI]

Prinsip iman ini mengarahkan umat kristiani untuk tidak bergegas mengikuti tren dunia agar semata tidak dilecehkan sebagai ketinggalan jaman. Apapun tren dunia, harus dicerna dan diuji dulu dengan prinsip iman kristiani yang telah dinyatakan-Nya. Alkitab sebagai firman-Nya yang tertulis, perlu dipahami secara memadai sesuai kaedah penafsiran yang sehat dalam pimpinan Roh.

Yang terutama harus kamu ketahui, ialah bahwa nubuat-nubuat dalam Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri, sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah.”  [2 Ptr. 1:20-21; TB LAI]

Prinsip iman di atas mendorong umat kristiani untuk menghargai diri sendiri sebagai gambar rupa Tuhan. Kegagalan menghargai diri secara memadai, baik meninggikan maupun merendahkan, sama saja dengan menistakan Tuhan yang adalah model bagi manusia ciptaan-Nya (Kej. 1:26-27). Tindakan ini berdampakkan hilangnya kemuliaan Tuhan pada manusia (Rm. 3:23), juga manusia menjadi asing dengan dirinya sendiri. Avatar menyiratkan dampak menyesakkan ini.

Penutup

“Avatar Pencitraan”

Avatar yang menjadi tampilan wakil diri pribadi, tidak boleh dimaksudkan sebagai alat pencitraan. Ada batas diri yang perlu tetap dipertahankan secara jujur. Memang bisa ada keluwesan tertentu saat memerankan avatar dalam metaverse, asal masih dapat dipertanggung-jawabkan. Dengan demikian, tidak tepat bila semua bidang dalam metaverse boleh diikuti. Pertimbangan olah pekerti berdasarkan firman Tuhan menjadi kompas bagi kesertaan tersebut.

Perkembangan teknologi mungkin akan makin meneguhkan kehadiran metaverse dalam kehidupan manusia. Iman kristiani tidak anti, namun juga tidak asal ikut tawaran budaya dunia. Butuh kepekaan, kejujuran, dan kerendahan hati atas rancangan Tuhan bagi tiap pribadi. Jangan sampai pertimbangan sendiri, apalagi ambisi pribadi, yang menjadi landasannya. Apabila panggilan Tuhan memang di ladang metaverse, seharusnya dapat dikenali melalui pengenalan diri pribadi secara jujur bersama-Nya.

Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama. Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendaki-Nya.”  [1 Kor. 12:7,11; TB LAI]

Metaverse mungkin dapat menjadi ladang pelayanan di jaman kini, asalkan prinsip panggilan menjadi dasar utama penggerak pelayanan tersebut. Salah satu prinsip panggilan adalah tuntunan Tuhan yang menyiapkan seseorang secara khusus dengan anugerah talenta yang selaras dengan panggilan-Nya. Sejak awal penugasan manusia, berlaku prinsip kerja Tuhan bahwa Tuhan terlebih dulu memberkati sebelum menugaskan (Kej. 1:28 TB LAI “Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman …..”).

Dua contoh prinsip panggilan-Nya yang tidak berubah hingga kini, dinarasikan dalam panggilan kepada nabi Yesaya (Yes. 6:5-8), dan Rasul Paulus. Paulus yang sebelumnya dikenal sebagai Saulus, memiliki status istimewa sebagai orang Yahudi berkewargaan Romawi (Kis. 16:21; 22:25-29). Statusnya ini membuat Paulus berkesempatan menyampaikan kabar baik keselamatan (Yoh. 3:16) kepada raja-raja di wilayah kekuasaan kekaisaran Romawi saat itu, sesuai dengan panggilannya (Kis. 9:1-18). Dengan demikian, manusia avatar tetap harus mencerminkan keberadaan diri yang sesuai.

Berpartisipasi dalam metaverse secara bijak berkompaskan firman Tuhan, dapat memberi manfaat baik asalkan terus menerus berhati-hati sebelum dan selama kesertaannya. Perlu diingat adanya kemungkinan rawan keamanan identitas diri yang dapat dimanipulasi pihak lain bagi kepentingannya. Belum lagi ajakan berinvestasi aset virtual menggunakan uang virtual yang dibeli dengan mata uang nyata yang berlaku di dunia fisik, cukup mencengangkan pertimbangan akal sehat. Boleh saja ikut masuk realitas metaverse asalkan telah benar-benar dipertimbangkan kegunaannya.

Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apapun.”  [1 Kor. 6:12; TB LAI]

Kiranya segala kemuliaan hanya bagi Tuhan.

avatar setiadotone

Oleh setiadotone

Buah pertama kristiani dari keluarga konfusianis. Berkarier di berbagai perusahaan 'sekuler' lalu terpanggil sebagai pendidik di universitas (kristen) 'umum.' Berupaya mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan wawasan dunia kristiani terapan, agar membangun profesional kristiani.

6 comments

  1. Artikel yang membuka wawasan pembaca serta cukup mempersiapkan pembaca bagaimana menyikapi zaman yang muncul ini. Terima kasih.

    Suka

Tinggalkan Balasan ke setiadotone Batalkan balasan