Inside#Out

Photo by Kamaji Ogino on Pexels.com

Pendahuluan

Photo by cottonbro on Pexels.com

Dunia ini panggung sandiwara, ceritanya mudah berubah. Kisah Mahabarata atau tragedi dari Yunani. Setiap kita dapat satu peranan yang harus kita mainkan. Ada peran wajar, ada peran berpura-pura. Mengapa kita bersandiwara….” Ini merupakan penggalan syair lagu berjudul “Panggung Sandiwara” yang sempat dipopulerkan oleh grup band “God Bless” di jamannya.

Bila lagu ini digelar berkolaborasi secara harmonis dengan aksi panggung “Tari Topeng,” mungkin akan lebih menarik karena bisa saling isi dalam memperkuat maknanya.

Photo by Lam Penjor on Pexels.com

“Tari Topeng” merupakan salah satu tarian tradisional Indonesia di mana sang penari beberapa kali akan berganti topeng dalam waktu sangat singkat, yang menyimbolkan peran dan makna tertentu. Tarian serupa adalah “Tari Seribu Wajah” (Biàn Liǎn 变脸) yang merupakan seni tradisional opera Sichuan-RRT, yaitu “seni menukar muka.”

Dalam perjalanan hidup seseorang, acapkali dirinya tak terhindarkan memerankan berbagai peran berbeda di tengah kehidupan sosialnya. Bisa jadi komunitas sosial, bahkan dunia, memang lebih menghendaki orang yang piawai “berganti topeng” agar selaras dengan sikonnya saat itu. Dengan demikian, tidak ada “orang aneh” yang dirinya berbeda dengan lingkungan komunitas yang bersangkutan. Jangan-jangan, perbedaan itu menimbulkan perasaan tidak nyaman, bahkan menakutkan, bagi kumpulan yang ada karena mengancam “kesatuan.” Jadi bila mau aman, jangan pernah berani tampil beda dengan lingkungan setempat. Benarkah? Apakah memang kesejatian diri harus dinihilkan agar kedamaian umum terpelihara?

Tulisan ini coba meninjau pergulatan di atas dengan memakai landasan wawasan kristiani yang menghargai sumbangsih ilmu-ilmu sosial umum. Ada pun latar belakang kasus akan diambil dari masa awal kekristenan mula-mula. Salah satu buku rujukan yang akan dipakai adalah karya Stambaugh, John & Balch, David, The New Testament in its Social Environment, Westminster/John Knox Press yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh BPK Gunung Mulia, Jakarta.

Panggung Sandiwara?

Secara umum orang mengharapkan orang lain untuk walk the talk, menghidupi apa yang dikatakannya. Namun apakah individu yang ‘lurus apa adanya’ tersebut akan disukai semua orang, itu merupakan soal lain. Dunia peran tentunya menuntut para pemeran untuk dapat melakonkan peran tertentu setepat mungkin sesuai dengan skenario yang telah disediakan. Tuntutan ini bukan masalah sepele, hingga perlu pembinaan serius dan lama pada sekolah-sekolah seni peran yang bahkan dapat mencakup berbagai profesi yang saling terkait erat. Butuh calon aktor/aktris, sutradara, kamerawan, penyunting dsb yang dilatih sedemikian rupa agar mampu menerjemahkan naskah skenario tertulis menjadi tayangan audio visual yang bakal memuaskan penontonnya.

Photo by cottonbro on Pexels.com

Keseluruhan aspek tersebut menjadi seni ilusi yang merancang, mendistribusikan dan menyusun, mengatur sekaligus memerankan apa yang telah dirancang agar seolah merupakan realitas alami. Dengan demikian individu yang bersangkutan akan menjadi ‘tak nampak’ (invisible) seperti yang diilustrasikan dalam serial Quantico bagi para agen khususnya.

Penghayatan seni ilusi secara mendalam, dapat mengaburkan batas antara realitas dengan ilusi sehingga jatidiri sejati seolah terkikis dan terlupakan. Bisa saja kerancuan ini timbul karena peran tertentu dalam masyarakat yang dilakukan secara turun temurun selama banyak generasi, sehingga asal mula konteksnya terlupakan. Deviasi berkelanjutan, mungkin sedikit demi sedikit (subtle), telah mengaburkan 5W+1H (apa, siapa, di mana, kapan, mengapa + bagaimana) latar belakang yang menjadi landasannya. Konteks jaman yang terus berubah, makin menggerusnya. Perlu terapi kejut yang menyentak agar sadar diri, sebagaimana yang dilakukan oleh Yesus Kristus kepada kaum Farisi di jaman-Nya.

Photo by cottonbro on Pexels.com

Pada jaman itu, kaum Farisi adalah kelompok sektarian yang diakui sebagai “penafsir hukum Taurat yang paling akurat.” Mereka berpegang pada legalitas ketat, khususnya dalam hal hukum/aturan yang terkait dengan kehalalan makanan dan kesucian, seolah-olah sebagaimana yang dituliskan dalam kitab Taurat. Status sebagai keturunan Abraham menjadi pendukung kehidupan religius yang kental pada orang-orang Israel. Hal ini melatar-belakangi dukungan massa Israel pada kelompok Farisi.

Kaum Farisi lalu menambahkan aturan-aturan tertentu kepada orang banyak di luar aturan yang tertulis dalam kitab Taurat, yang lebih dari setengahnya berkaitan dengan “persekutuan meja.” Aturan-aturan tambahan tersebut merupakan manifestasi penafsiran sempit mereka atas “kesucian,” yang mereka tekankan demi untuk menjaga kemurnian imamat. Mereka memisahkan diri dari orang-orang Yahudi lainnya yang tidak sejalan dengan penafsiran sempit mereka tersebut. Celakanya, penafsiran atas perintah Taurat yang relevan, lebih bernuansakan “kepentingan pribadi” kelompok tersebut.

”Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang; mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat; mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi.” – (Mat. 23:2-7; TB LAI)

Motivasi dasar yang bernuansakan “kepentingan pribadi” tersebut telah melahirkan teguran keras Yesus Kristus kepada kelompok sektarian ini, dengan menyebutkan mereka sebagai kaum munafik (Mat. 23:1-36). Sebenarnya perintah untuk melaksanakan aturan Taurat ada dalam Hukum Shema Israel yang menegaskan TUHAN yang esa sebagai Allah Israel yang harus dikasihi dengan segenap hati-jiwa-kekuatan umat Israel (Ul: 6:4-5). Perintah inilah, yang diwujudkan melalui mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri, ditegaskan Yesus Kristus sebagai hukum yang terutama dan melandasi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi (Mat. 22:37-40).

Photo by RODNAE Productions on Pexels.com

Shema Israel ini harus diperhatikan dan diajarkan kepada anak cucu secara turun temurun di segala tempat dan aktifitas, bahkan harus menandai segenap aspek keberadaan umat Israel (Ul. 6:6-9). Dengan demikian, perintah ini harus dilakukan secara pribadi sebelum diajarkan kepada keturunannya.

Tujuannya agar umat Israel tidak lupa diri saat kelimpahan, melainkan mengakui pemeliharaan dan pimpinan TUHAN yang berlimpah berkat di sepanjang perjalanan hidupnya (Ul. 6:10-25). Manusia memang wajib berusaha dan bekerja, namun TUHAN yang memberkati sehingga diperoleh hasil kerja yang memadai (lihat prinsip Providensia Allah; Allah 8 – Ketetapan Allah: Providensia – YouTube).

“Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga. Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah–sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur.” (Mzm. 127:1-2; TB LAI)

Penutup

Tiap individu memang punya peran dan karakter unik yang disediakan TUHAN baginya, mulai dari aspek genetika hingga pembentukan kepribadian di sepanjang perjalanan hidupnya (lihat “RI~VAL~RY” – faithfulONE Ministry). Namun tidak berarti masing-masing individu manusia bebas berlakon sandiwara sesuai dengan kepentingan dirinya, melalui gonta ganti topeng yang menutupi “muka” sebenarnya. Segenap upaya “menukar wajah” untuk membangun ilusi yang menguntungkan dirinya sendiri maupun kelompoknya, merupakan topeng dosa yang telah mencemari, bahkan merusak citra diri manusia sebagai “gambar Allah” (Kej. 1:26-27).

Dengan demikian manusia akan terasing dengan dirinya sendiri, sehingga terasing dengan Allah, dengan sesamanya manusia, bahkan dengan ciptaan Allah lainnya. Akibatnya manusia tidak mampu dan/atau tidak mau untuk melaksanakan mandat Shema Israel. Bila hal ini tidak diperbaiki secara total, maka kerusakannya akan sedemikian parahnya hingga akhirnya memunahkan segenap ciptaan TUHAN yang awalnya sungguh amat baik. Hanya oleh kasih Allah yang begitu besarnya pada ciptaan-Nya, telah menghadirkan satu-satunya jalan pemulihan total melalui karya penebusan Yesus Kristus, sang Putra Tunggal Allah, Juru Selamat dunia. Karya penebusan inilah yang memastikan hidup berkelimpahan bagi tiap individu yang percaya kepada-Nya. Individu yang telah ditebus dan percaya, wajib bertumbuh dalam proses ketaatan pada Shema Israel hingga menjadi manusia dewasa seutuhnya (fully-functioning human-beingness). Semuanya karena kasih karunia TUHAN. Soli deo Gloria, Segenap Kemuliaan Hanya Bagi TUHAN!

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” –  (Yoh. 3:16; TB LAI)

Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” – (Yoh. 10:10; TB LAI)

avatar setiadotone

Oleh setiadotone

Buah pertama kristiani dari keluarga konfusianis. Berkarier di berbagai perusahaan 'sekuler' lalu terpanggil sebagai pendidik di universitas (kristen) 'umum.' Berupaya mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan wawasan dunia kristiani terapan, agar membangun profesional kristiani.

2 comments

Tinggalkan komentar