Penutup
Keberadaan manusia sebagai kesatuan psikosomatik mendukung pemahaman ikatan pikiran, emosi, dan perilaku yang saling mempengaruhi satu sama lainnya. Itu sebabnya, berpikir positif akan menolong seseorang dari emosi negatif maupun perilaku tidak terpuji. Mengisi pikiran secara positif akan mengikis prasangka buruk (hostile prejudice) dan membangun prasangka baik (benevolent prejudice). Pada akhirnya akan mengurangi kemungkinan timbulnya konflik dalam interaksi antar manusia. Peran orangtua dalam mendidik anak sejak usia dini merupakan aspek sangat penting bagi pembentukan kepribadian anak tersebut.
“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.”
Flp. 4:8; LAI TB
Wawasan dunia seseorang yang salah satunya dipengaruhi oleh budaya tempatnya, perlu terbuka terhadap uji keabsahan dan konsistensi wawasan tersebut. Sumbangsih kebenaran dalam ilmu pengetahuan, sekalipun kurang dikuasai, sepantasnya diterima dengan terbuka walaupun tetap dengan kehati-hatian (prudent). Hakekat TUHAN yang benar dan berdaulat, berhak untuk bebas mengungkapkan kebenaran dalam berbagai bentuk. Pemahaman ini memunculkan pengakuan prinsip iman kristiani bahwa “semua kebenaran adalah kebenaran TUHAN” (all truth is God’s truth). Salah satu buktinya adalah sumbangsih teori psikologi dalam memahami narasi di dalam Alkitab secara lebih mantap, agar lebih relevan terhadap realitas kehidupan sehari-hari di jaman kini.
Menerima prinsip di atas sebagai kebenaran logis akan menuntun pada sikap rendah hati dan rasa syukur atas hikmat dan limpah kebaikan TUHAN yang terus menopang manusia agar meraih kelimpahan penuh sebagai manusia seutuhnya (fully-functioning human-beingness). Terpujilah TUHAN!
