Baik Yakub maupun Esau saat itu sedang menjalankan kerja pikiran yang berbeda, bahkan mungkin bertolak belakang. Pengalaman relasi keluarga dan budaya saat itu yang telah dialami keduanya, menjadi informasi yang dirasakan-diolah-disimpan-diresponi sebagai cara dan proses berpikir mereka. Semuanya menjadi ingatan jangka panjang yang bersifat episodik (berbagai peristiwa) maupun semantik (berbagai fakta). Ingatan ini muncul menjadi ingatan jangka pendek yang memacu emosi tertentu dan menggerakkan tindakan tertentu pula. Yakub mengingat diskriminasi dan budaya tentang pewaris, telah mendorongnya untuk bertransaksi membeli hak kesulungan Esau. Sebagai pemburu, mungkin Esau mengingat adanya hewan yang ditemukannya mati kelaparan karena tidak berhasil menangkap mangsa, mendorongnya untuk menjual hak kesulungannya dan menukar dengan makanan agar tidak mati kelaparan. Memang tidak ada bukti tertulis yang mendukung kemungkinan di atas, namun psikologi kognitif tidak menutup adanya kemungkinan yang diimaginasikan ini.
Jelas peristiwa transaksi ini akan menjadi batu sandungan keharmonisan keluarga Ishak-Ribka. Apalagi kemudian Yakub berkolusi dengan ibunya untuk menipu ayahnya agar berkat yang semula direncanakan Ishak untuk diberikan kepada Esau, ternyata diberikan Ishak kepada Yakub. Sempat hampir terjadi pertumpahan darah di antara saudara kembar ini, minimal terjadi perpecahan keluarga di mana Yakub harus kabur dari rumah orangtuanya agar tidak dibunuh oleh Esau (Kej. 27). Sebenarnya, dari sejak dalam kandungan Ribka, TUHAN telah menetapkan Yakub sebagai pemilik hak kesulungan (Kej. 25:23). Lika liku drama kehidupan Yakub-Esau ini tidak dapat menghindar dari kedaulatan TUHAN, bahkan hak kesulungan itu kemudian ditegaskan lewat berkat Ishak yang meneruskan ‘Berkat Abraham’ kepada Yakub (Kej. 28:3-4).
Walaupun peristiwa transaksi Yakub-Esau serta kolusi Yakub-Ribka menjadi sejarah kelam bagi keluarga Ishak-Ribka, namun intervensi providensia TUHAN (lihat Allah 8 – Ketetapan Allah: Providensia – YouTube) menopang terjaganya sifat-sifat baik manusia pada diri Esau dan Yakub, yang di usia lebih dewasa kemudian berbaikan kembali (Kej. 33). Perdamaian ini dapat mendukung pandangan psikologi humanistik tentang sisi-sisi positif dari sifat-sifat manusia, sebagaimana yang tergambar dari tindakan dan bahasa komunikasi Esau, yang sebenarnya merupakan pihak yang dirugikan bila ditinjau dari sudut pandang duniawi. TUHAN yang menciptakan segala sesuatunya dengan sangat baik (Kej. 1:31) sesuai dengan hakekat kesempurnaan absolut-Nya, tidak lepas tangan atas kerusakan yang diakibatkan oleh dosa.
Sangat disayangkan bahwa Yakub gagal melakukan rekonsiliasi maksimal, karena Yakub melakukan strategi menghindar walaupun Esau telah berulangkali menunjukkan kemurahan hatinya dengan semangat persaudaraan. Yakub melakukan pertahanan ego dari bawah sadarnya, seperti penyangkalan, kemunduran, sublimasi, bahkan formasi reaksi yang telah diuraikan pada psikologi psikodinamika di atas. Yakub masih belum mencapai kedewasaan penuh (fully-functioning human-beingness). Pergumulan Yakub dengan TUHAN secara pribadi (Kej. 32:24-30), baru merupakan awal dari proses lanjut kedewasaan penuh Yakub. Walau tidak tertulis, namun pantas diyakini bahwa TUHAN turut bekerja dalam pendewasaan Yakub.
“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”
Rm. 8:28; LAI TB
Mungkin saja Yakub belajar dari lingkungan bahwa merendah sambil ‘menjilat’ dengan upeti dan kata-kata pujian kosong (Kej.33:10-11), akan menyelamatkannya dari murka dan balas dendam Esau yang telah secara licik pernah sangat dirugikan olehnya. Dengan demikian, psikologi perilaku dapat menolong pembaca Alkitab untuk lebih memahami narasi Kej. 33.
Lanjut halaman 6
