C. Psikologi Humanistik
Penekanan pentingnya pada sisi-sisi positif dari sifat-sifat manusia, yaitu:
- Manusia dimotivasi oleh keinginan untuk berkembang memenuhi potensinya.
- Manusia memiliki kapasitas free will untuk memilih keberadaan dirinya dan tahu apa yang terbaik baginya.
- Cara perlakuan orang lain mempengaruhi cara pandang individu terhadap eksistensinya.
- Bantuan diberikan agar individu menentukan pikiran dan kehendaknya sesuai tujuan dirinya sendiri, serta agar potensi dirinya terpenuhi.

Konsep diri yang tepat akan sangat penting bagi membangun harga-diri seseorang, di mana manusia cenderung untuk mengaktualisasikan dirinya sebagaimana gambar bangunan piramida “hirarki kebutuhan” menurut Abraham Maslow (lihat “COUP” – faithfulONE Ministry), melalui memperoleh penghargaan tak bersyarat dari orang lain.
Dengan demikian, individu dapat menjadi manusia dewasa yang berfungsi dengan sempurna, yaitu mampu bersikap terbuka terhadap pengalaman, memiliki cara hidup yang menghargai eksistensinya, percaya pada diri sendiri, bebas dari bayang-bayang masa lalu, dan memiliki kreatifitas. Jadi individu tersebut telah mencapai tahap ‘menjadi manusia seutuhnya’ (fully-functioning human-beingness), yang telah terpenuhi semua kebutuhannya dan telah melakukan apapun yang dapat dilakukannya.
Pendekatan psikologi humanistik tidak dapat mengabaikan aspek spiritualitas dalam tahap menjadi manusia seutuhnya tersebut. Hal ini sejalan dengan wawasan kristiani tentang keberadaan manusia sebagai kesatuan psikosomatik (lihat Manusia 7 Natur Konstitusional Manusia – YouTube) sekaligus sebagai ciptaan yang dicipta menurut gambar rupa Allah (Imago Dei lihat Manusia 3 Imago Dei = Antropologi Perjanjian Baru – YouTube). Hakekat ketidak-berubahan Allah (lihat Allah 3 – Natur Dan Hakekat Incommunicable Allah – YouTube) memastikan keputusan penciptaan-Nya tersebut tidak berubah, sekalipun manusia telah kehilangan kemuliaan-Nya oleh karena kesalahan dan dosa manusia. Apalagi hakekat kemaha-baikan Allah (lihat Allah 4 – Hakekat Communicable Allah – YouTube) menjadikan luapan anugerah umum Allah (lihat Dosa 8 Menahan Kejahatan Anugerah Umum Dan Budaya Dalam Dunia Berdosa – YouTube) yang terus menopang natur dasar eksistensi manusia (lihat Allah 8 – Ketetapan Allah: Providensia – YouTube), sehingga manusia tetap memiliki sifat-sifat baik yang dapat dibantu untuk mengenali dan mengembangkannya.
D. Psikologi Kognitif

Pusat perhatian terletak pada cara manusia merasakan-mengolah-menyimpan-meresponi informasi, sehingga mengutamakan proses dan cara berpikir. Pembagian bidang studinya:
- Persepsi: memasukkan dan menganalisa informasi dari luar dirinya.
- Perhatian: mampu berkonsentrasi dan mempertahankannya pada satu atau lebih sumber informasi.
- Ingatan: simpanan informasi tentang fakta, kejadian, keterampilan, dan lain-lain.
- Bahasa: penggunaan lambang-lambang sebagai sarana komunikasi dan berpikir.
- Berpikir: beragam aktifitas mental, misal membuat gagasan, ide, teori, keputusan, dsb.
Aspek ingatan mencakup ingatan jangka pendek dan ingatan jangka panjang, yang bekerja sebagai putaran fonologi/kata-kata (suara batin), gambaran penglihatan-ruang (mata batin), serta pelaksana pusat sebagai lokasi pikiran sadar yang berperan dalam proses perencanaan maupun pengambilan keputusan. Ingatan merupakan aspek penting agar individu dapat berfungsi sebagai seorang manusia, yang mampu mengingat peristiwa (ingatan episodik) maupun fakta (ingatan semantik). Kasus kesulitan mengenali wajah ataupun kasus ‘lupa’ mengisyaratkan perlunya informasi tambahan seperti membuat imajinasi penghubung, baik berupa suatu tempat atau situasi tertentu, agar menolong mengingat lebih lama dan akurat.
Berbeda dengan Allah yang tidak berproses karena melampaui semua keterbatasan dimensi ciptaan, manusia sebagai ciptaan berada dalam batasan berbagai dimensi dan mengalami proses sepanjang keberadaannya. Allah telah memberkati manusia dengan berbagai fakulti agung dalam diri manusia (innate), namun setiap individu manusia harus berkelanjutan mengasah-kembangkan semua fakulti dirinya tersebut secara bertanggungjawab agar menjadi kemampuan diri yang dikuasai (acquire) dan dapat dipergunakannya secara optimal. Alkitab mencantumkan narasi perumpamaan tentang talenta (Mat. 25:14-30; Luk. 19:12-27) sebagai ilustrasi bagi pertanggungan jawab manusia atas anugerah fakulti agung tersebut.
E. Psikologi Sosial

Perhatiannya pada interaksi antar manusia, yaitu semua hal yang menyangkut pengaruh manusia terhadap manusia lain. Perilaku manusia juga sangat dipengaruhi oleh situasi sosial tempat individu tersebut berada, misalnya ‘ketaatan’ kepada pihak yang berkuasa. Kehidupan sosial dapat memperhadapkan kehendak bebas individu dengan aturan-aturan sosial. Bila individu dalam keadaan otonom (autonomous state: bebas berbuat semau siri sendiri), maka tanggungjawab perilakunya sepenuhnya dipikulnya sendiri. Berbeda bila dalam keadaan agentik (agentic state: menundukkan diri melakukan perintah pihak yang berkuasa), yang lebih umum berlaku dalam relasi sosial agar kestabilan sosial terjaga, walau tetap tidak dapat sepenuhnya meniadakan batasan moral individual. Ada beberapa orang yang mungkin melawan perintah yang keliru secara moral.
Semua manusia memiliki prasangka yaitu kecenderungan kuat untuk bersikap tertentu terhadap keadaan, orang, dan kelompok yang dihadapinya. Semua sikap akan mengandung 3 komponen yang saling mempengaruhi, yaitu komponen pikiran (thinking), emosi (feeling), dan tindakan (action). Prasangka mendorong terjadinya diskriminasi, baik secara ringan maupun ekstrim. Manusia cenderung terburu-buru membuat penilaian yang berat sebelah terhadap orang lain berdasarkan prasangkanya terhadap kelompok tertentu, misal jender. Prasangka dapat berbentuk baik (benevolent prejudice) atau bermusuhan (hostile prejudice).
Kehidupan sosial mau tidak mau membentuk identitas sosial berdasarkan proses kognitif menilai diri sendiri maupun orang lain, yaitu tahap pengelompokan sosial, lalu tahap identifikasi sosial, dan diakhiri dengan tahap perbandingan sosial. Identitas sosial inilah yang banyak menjelaskan tentang berbagai fenomena sosial yang terjadi, walaupun kepribadian individu maupun budaya setempat tetap berandil dalam kemungkinan perbedaan sikap.
Wawasan dunia seseorang merupakan caranya melihat dunia, berakar pada keyakinan dan kebiasaan budaya yang terkait erat dengan bahasa. Pengaruh budaya menyebabkan tidak mungkin bila individu dapat bersikap objektif dan tak berprasangka. Dengan demikian, dunia yang dikenal merupakan sesuatu yang telah terkonsep secara sosial. Bahasa yang digunakan individu untuk menggambarkan suatu hal, disebut sebagai wacana (discourse), diyakini akan mempengaruhi maupun dipengaruhi oleh persepsinya atas hal tersebut. Kondisi ini akan menghasilkan beragam versi dari satu kejadian yang sama. Tidak berarti realitas itu tidak ada, melainkan persepsi individu atas realitas tersebut telah terdistorsi oleh bahasa.
Lanjut halaman 3
