“RI~VAL~RY”

Photo by cottonbro on Pexels.com

Pendahuluan

Manusia normal tidak mungkin melepaskan diri dari berinteraksi dengan sesamanya. Interaksi ini tidak selalu berlangsung mulus, kadang ‘konflik’ dapat muncul walau tidak dikehendaki sekalipun. Bisa saja hal ini terjadi karena salah paham. Bisa juga terjadi karena beda gaya penyampaian. Berabenya, masalah ini dapat muncul pada berbagai relasi, bahkan relasi dengan orang-orang yang paling dekat seperti relasi suami-isteri, orangtua-anak. Padahal kehidupan sosial yang mulus, penting bagi kesuksesan ‘karier’ seseorang.

Realita keberagaman pribadi manusia yang mewarnai interaksi antar manusia, menegaskan pentingnya ketrampilan memahami perilaku, perasaan, dan pikiran manusia. Telah ada cukup banyak penelitian yang mendukung perkembangan ilmu psikologi. Salah satu pendekatan modern disajikan oleh Matt Jarvis dalam karyanya “Theoretical Approaches in Psychology, London: Routledge, 2000.” Karya ini diterjemahkan oleh SPA-Teamwork dan diterbitkan oleh Penerbit Nusamedia & Penerbit Nuansa, Bandung. Buku ini akan menjadi rujukan dengan kacamata wawasan kristiani pada tulisan ini.

Raja Salomo yang dikenal sebagai raja berwawasan luas pada kerajaan Israel Kuno, dan diakui sebagai penulis kitab Pengkhotbah dalam Alkitab, menuliskan: “Apa yang pernah ada akan ada lagi, dan apa yang pernah dibuat akan dibuat lagi; tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari” (Pkh. 1:9; LAI TB). Pernyataan ini mendukung keabsahan penggunaan kisah tokoh dalam Alkitab sebagai contoh kasus yang tetap relevan di jaman kini.

Teori-teori Psikologi

Sebelum menganalisa studi kasus ‘konflik’ tokoh dalam Alkitab, terlebih dulu akan disajikan berbagai teori psikologi secara sederhana. Tidak ada satu pun teori psikologi yang cukup pada dirinya sendiri untuk memahami sepenuhnya akan aspek psikologi seseorang. Memahami berbagai teori psikologi akan menolong untuk memahami pikiran, perasaan, dan perilaku manusia secara lebih lengkap. Bila dirasakan perlu, teori tersebut juga akan diberi ulasan dengan kacamata wawasan kristiani secara logis. Dengan demikian, tulisan ini dapat lebih bermanfaat bagi pengembangan keterampilan interaksi positif untuk siapa pun yang terbuka terhadap wawasan logis kristiani.

A. Psikologi Perilaku

Poin pentingnya adalah perilaku sebagai hasil dari proses belajar dari lingkungan, bagaimana seseorang belajar berperilaku dengan cara tertentu agar dapat mencapai hasil terbaik baginya. Perbedaan lingkungan akan memberikan pengalaman belajar yang berbeda-beda, sehingga menyebabkan perbedaan perilaku tiap orang. Ada keterkaitan kuat antara respon dengan stimulus/pencetusnya, baik yang dikondisikan maupun tidak.

Photo by cottonbro on Pexels.com
Photo by Kindel Media on Pexels.com

Ada elemen ‘penguat’ maupun ‘penghukum’ bagi respon seseorang atas stimulus yang dihadapinya. Bisa saja stimulusnya beda namun responnya sama, khususnya stimulus yang dikondisikan sedemikian rupa sehingga mengingatkan perespon akan suatu lingkungan tertentu yang pernah dihadapinya. Respon yang dikondisikan ini pada umumnya cenderung memudar seiring dengan berlalunya waktu.

Semua perilaku tidak bebas tanggung jawab, semua perilaku membawa aspek konsekuensi. Konsekuensi yang selalu menyertai perbuatan, akan membuat perespon menyimpulkan bahwa perbuatannyalah yang melahirkan konsekuensi tersebut, tanpa mempertimbangkan lebih lanjut akan keabsahan kesimpulan tersebut. Bisa jadi perilaku tersebut merupakan hasil dari proses “belajar sosial” yaitu meniru perilaku orang lain, dan dapat membentuk keyakinan budaya setempat yang tidak logis bagi budaya lain. Perlu diingat bahwa disadari maupun tidak, semua manusia pasti selalu saling mempengaruhi satu sama lain, sehingga menciptakan lingkungan (belajar) yang layak akan meningkatkan kecakapan manusia untuk berubah menjadi berperilaku yang lebih baik. Namun demikian, individu tersebut sendirilah yang membentuk perilakunya, dengan menentukan sendiri lingkungan yang dipilihnya.

Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya.”

Ams. 27:17; LAI TB

Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.”

1 Kor. 15:33; LAI TB

Karena itu waspadalah, supaya kamu jangan terseret ke dalam kesesatan orang-orang yang tak mengenal hukum, dan jangan kehilangan peganganmu yang teguh.”

2 Ptr. 3:17b; LAI TB

B. Psikologi Psikodinamika

Poin pentingnya adalah menekankan proses bawah sadar, misalnya pengalaman masa kecil yang bermakna tertentu, namun telah mengendap dan terlupakan dalam pikiran bawah sadar seiring dengan pertambahan usia. Pikiran dan motif bawah sadar ini harus diselami untuk memahami relasi yang dimiliki, pengalaman hidup, dan cara pandang individu yang bersangkutan terhadap dunia. Pikiran bawah sadar berisi naluri/insting biologis, terutama dorongan-dorongan primitif. Naluri pikiran bawah sadar beserta pengalaman masa lalu yang tersimpan dalam pikiran prasadar, akan sangat mempengaruhi perasaan, motif, dan keputusan yang akan diambil individu yang bersangkutan.

Masyarakat umum mengenalnya sebagai rangkaian aspek kepribadian “it-ego-superego.” “It” merupakan aspek naluriah yang telah dimiliki seseorang sejak lahir, tidak terikat dengan moral. “Ego” sebagai pembuat keputusan yang menjembatani “it” maupun “dunia luar” dan berkembang melalui pengalaman hidup serta pertambahan kemampuan berpikir logis. “Superego” terbentuk dari pengaruh pihak yang otoriter dan membatasi tindakan yang diijinkan.

Photo by cottonbro on Pexels.com

Ada proses tarik menarik antara tiga bagian kepribadian tersebut sehingga individu merasa seolah-olah ditarik ke arah yang berbeda-beda oleh pengaruh yang berbeda-beda. Kadang kala pergumulan ini bisa memunculkan perasaan bersalah, khususnya bila “superego” terlalu kuat dan membebani kepribadian individu yang bersangkutan.

Pertahanan ego menjadi mekanisme bawah sadar yang jadi perlindungan diri dari perasaan bersalah tersebut, yang dapat berupa:

  • Penyangkalan (denial): menolak mengakui suatu realita.
  • Kemunduran (regression): melakukan aksi “pelarian” dari masalah.
  • Penekanan ingatan (repression): memblokir paksa ingatan traumatik dan fantasi liar.
  • Formasi reaksi (reaction formation): benar-benar menyangkali dan mengambil tindakan berlawanan.
  • Salah penempatan (displacement): mengalihkan emosi ke pihak lain.
  • Sublimasi (sublimation): mengelola emosi melalui pengalihan ke kegiatan konstruktif.

Perlu diingat bahwa faktor psikodinamika, yaitu stres, pengalaman traumatik, dan relasi tidak harmonis di masa kecil, akan meningkatkan kemungkinan gangguan mental nantinya.

Wawasan dunia kristiani meyakini bahwa tujuan utama keberadaan manusia adalah untuk memuliakan TUHAN dan untuk menikmati kelimpahan kasih TUHAN selamanya (Katekismus Westminster Q.1.A). Hakekat kebaikan sempurna TUHAN menjamin bahwa wawasan yang disabdakanNya kepada manusia akan memberikan kebaikan semata bagi manusia. Kehendak bebas (free will) “sejati” (genuine) yang dikaruniakanNya bagi manusia, memberi kebebasan bagi manusia untuk memilih percaya dan taat kepada TUHAN dan wawasanNya, atau menolak dan menggantinya dengan wawasan lain yang berlawanan. Kapasitas kehendak bebas inilah yang menolong untuk lebih memahami tarik menarik “it-ego-superego” di atas.

Pilihan untuk mengikuti kontra wawasan TUHAN tersebut melahirkan pilihan-pilihan salah berikutnya, karena manusia telah “tersesat” dan “salah jalan” dengan menjauh dan makin jauh dari Sang “Jalan-Kebenaran-Hidup” (Yoh. 14:6). Hal inilah yang memunculkan banyak duka dalam hidup manusia. Pertahanan ego tidak cukup memadai karena hanya berurusan dengan fenomena ‘penderitaan’ manusia, bukan dengan akar permasalahannya. Butuh intervensi Sang Pencipta untuk menyelesaikannya secara agung, adil, dan mulia.

Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah

Rm. 3:23; LAI TB

Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran dan dosa-dosamu. Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita - oleh kasih karunia kamu diselamatkan-”

Ef. 2:1,4-5; LAI TB

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”

Yoh. 3:16; LAI TB

Lanjut halaman 2

avatar setiadotone

Oleh setiadotone

Buah pertama kristiani dari keluarga konfusianis. Berkarier di berbagai perusahaan 'sekuler' lalu terpanggil sebagai pendidik di universitas (kristen) 'umum.' Berupaya mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan wawasan dunia kristiani terapan, agar membangun profesional kristiani.

Tinggalkan komentar