“Wiskuner”

Photo by Rachel Claire on Pexels.com

Abstract

Berwisata merupakan salah satu aktifitas yang disukai dan dibutuhkan manusia untuk ‘menyeimbangkan’ kehidupannya. Makanan merupakan salah satu kebutuhan paling dasar manusia untuk menunjang hidupnya. Wisata kuliner (Wiskuner) menjadi aktifitas nikmat bagi pemenuhan kebutuhan jasmani-jiwani manusia. Kondisi pandemi covid-19 meredam aktifitas ini, namun perlu penyiasatan cerdas agar hasrat ber-wiskuner tidak sepenuhnya terhalangi. Tetap ada tantangan, namun juga ada peluang. Bagaimana semua pihak terkait mengelolanya, khususnya berdasarkan prinsip iman kristiani? Tulisan ini mencoba menyajikannya secara sederhana, dan dapat dikembanglanjutkan pada kesempatan lain.

Pendahuluan

Photo by cottonbro on Pexels.com

Abraham Maslow menyatakan bahwa aktifitas manusia akan didorong oleh kebutuhannya, dan makan merupakan salah satu kebutuhan paling dasar manusia (“COUP” – faithfulONE Ministry). Nutrisi yang terkandung dalam makanan, merupakan asupan penting bagi metabolisme tubuh yang menopang fungsi jasmaniah manusia. Di samping nutrisi, indera pengecap manusia juga memberi kenikmatan dari sedapnya makanan itu. Kenikmatan ini merangsang otak memproduksi hormon-hormon serotonin-dopamin-endorfin yang membangkitkan ‘sukacita’ dalam benak penikmatnya.

Photo by zydeaosika on Pexels.com

Pandemi covid-19 ‘meluluh-lantakkan’ industri pariwisata, karena aturan pemerintah yang membatasi bahkan menutup pergerakan manusia di daerahnya, serta ketakutan orang-orang akan kemungkinan tertular penyakit tersebut yang dapat berujung pada kematian. Kondisi tersebut yang berlangsung lebih dari 1 tahun, dan belum dapat dipastikan kapan akan berakhir, menyebabkan tiadanya arus wisatawan yang sangat penting bagi keberlangsungan dunia pariwisata. Kemajuan teknologi, khususnya teknologi daring (online) yang telah berkembang pesat, memang telah memunculkan aneka penyajian tayangan wisata secara maya/virtual. Vaksinasi dan kebijakan protokol kesehatan 3M/5M memang mulai membangun kehidupan ‘normal baru’ yang mewarnai aktifitas manusia (New Normal – faithfulONE Ministry). Akankah hal ini dapat membangunkan kembali ‘dunia pariwista’ khususnya wisata kuliner?

Pariwisata

Photo by Adi Perets on Pexels.com

Pariwisata merupakan suatu aktifitas yang bersifat rekreasi bagi wisatawan, dan merupakan industri jasa yang mencakup berbagai bidang, yaitu transportasi-restoran-hotel-tayangan budaya-bank-dsb. Ada ‘pertemuan’ antara wisatawan yang merupakan ‘pendatang’ dengan penduduk lokal yang merupakan bagian dari ‘pemangku kepentingan’ (stakeholder). Keramahan (hospitality) merupakan syarat mutlak bagi industri jasa, di mana wisatawan harus diperlakukan layaknya tamu terhormat selama tidak melakukan ‘kejahatan’ saat berkunjung.

Tentu saja ada ‘kode kelakuan’ (code of conduct) bagi wisatawan agar dapat dilayani secara ramah. Wisatawan perlu berlaku selayaknya (appropriate) atas budaya, nilai, kondisi lingkungan alam setempat. Wisatawan bukanlah ‘penjajah’ yang menaklukkan dan merebut daerah lain (Werner Wintersteiner, Cordula Wohlmuther. Peace Sensitive Tourism: How Tourism Can Contribute to Peace, dalam buku International Handbook on Tourism and Peace). Bangun semangat eksplorasi, jauhi semangat eksploitasi, agar terjalin harmonisasi.

Bila dicermati dengan kacamata iman kristiani, ada beberapa prinsip iman kristiani yang tersirat pada narasi tentang pariwisata di atas, yaitu:

  1. Manusia sebagai ciptaan menurut gambar rupa Allah (Kej. 1:26) dipercayai memiliki tujuan utama untuk memuliakan Allah dan menikmati Allah selamanya (Katekismus Singkat/Panjang Westminster P. 1.). Alam semesta dengan segala keindahan dan kekayaan hayatinya, terbuka untuk dinikmati oleh manusia sedemikian hingga melahirkan rasa syukur yang memuliakan Allah Pencipta. Dengan demikian, rekreasi merupakan salah satu berkat Allah bagi manusia, asalkan dilakukan dengan sikap dan cara yang memuliakan Allah.
  2. Penciptaan manusia juga menyiratkan adanya perintah Allah bagi manusia untuk mengeksplorasi bumi (Kej. 1:28 ‘penuhi dan taklukkan bumi’). Manusia bukanlah makhluk statis, melainkan merupakan makhluk dinamis, yang tidak alami untuk tinggal diam pada satu titik pijak saja. Secara alami, manusia adalah keberadaan yang bergerak, bukan patung yang diam tak bergerak. Manusia juga memiliki hasrat ingin tahu, dan ini penting sebagai pendorong untuk bereksplorasi. Jadi, dapat dimengerti adanya ‘dorongan hati’ para wisatawan untuk berwisata.
  3. Penciptaan manusia menyiratkan pentingnya kerjasama ‘banyak’ manusia untuk tugas eksplorasi tersebut. Efektifitas kerjasama tersebut mensyaratkan keramahan dan kode kelakuan yang layak antar sesama manusia. Keberhasilan pariwisata sebagai industri jasa, juga mensyaratkan keramahan dan kode kelakuan yang layak dilakukan.
  4. Eksplorasi yang selayaknya dilakukan dengan cara ‘mengusahakan dan memelihara’ (work and keep) sebagaimana tersirat dalam penempatan di Taman Eden (Kej. 2:15), rusak oleh Kejatuhan manusia yang memunculkan semangat eksploitasi dalam diri manusia, baik terhadap sesama manusia, terhadap alam dan makhluk lain, bahkan terhadap Allah (Kej. 3:12-13,17-19).

Wisata Kuliner (Wiskuner)

Photo by fauxels on Pexels.com

Salah satu model wisata yang potensial adalah wisata kuliner. Tidak ada seorang manusia pun yang tidak butuh makan. Makanan yang diolah dan dihidangkan secara baik, akan menggugah selera bagi calon penyantapnya. Sebenarnya, Indonesia merupakan surga kuliner karena keragaman pangannya, sehingga potensial bagi wisata kuliner. Indonesia juga memiliki keragaman wisata alam dan budaya yang sangat kaya, selaras dengan keluasan wilayahnya (60LU-110LS dan 950BT-1410BT dengan luas total = 5.193.250 km2; Letak dan Luas Indonesia (kemdikbud.go.id)). Indonesia juga memiliki lebih dari 200 suku bangsa dengan keragaman bahasa daerah dan 6 agama resmi yang diakui pemerintah NKRI, menurut Sensus Penduduk 2010 (Indonesia.go.id – Keragaman Indonesia).

Keterbatasan akses wisata luar negeri selama pandemi covid-19, selayaknya disikapi dengan menggalakkan wisata domestik, mengingat potensi wisata Indonesia yang memiliki kemajemukan dalam ikatan kesatuan. Pemerintah pusat telah mengakomodasinya melalui pembangunan jaringan jalan raya, pelabuhan udara, dll. Perlu kesatuan hati semua pemangku kepentingan untuk membangun, mengembangkan, mengelola, memasarkan potensi wisata daerahnya secara optimal (NB: akan dibahas tersendiri).

Photo by RODNAE Productions on Pexels.com

Teknologi berbasis internet yang telah maju, memungkinkan pengembangan promosi digital yang berjangkauan amat luas secara waktu dan jarak. Banyak acara promosi wisata yang telah tayang dalam kemasan yang menarik, baik wisata alam, budaya, mau pun kuliner. Tayangan kuliner disajikan bervariasi, baik berupa ‘lomba masak’ oleh peserta dewasa mau pun anak-anak, berupa ‘demo masak’ baik secara santun mau pun agak vulgar, infokuner tentang tempat makan dengan sajian makanannya, dsb. Ada tayangan yang dikemas secara heboh, misalnya tayangan kuliner “mukbang” yang berasal dari Korea Selatan. Mukbang sendiri berasal dari gabungan 2 kata bahasa Korea Selatan yaitu kata meokneun (makan) dan kata bangsong (siaran), sehingga merupakan tayangan aktifitas makan dalam porsi besar, oleh sang pelakon (Dampak Positif dan Negatif dari Menonton Video Mukbang bagi Kesehatan – Alodokter).

Photo by Tim Samuel on Pexels.com

Tayangan mukbang mengingatkan saya akan pameo lama jurnalistik yang berbunyi “Orang digigit anjing bukanlah berita, orang menggigit anjing barulah berita.” Mungkin tayangan mukbang mengikuti pameo tersebut. Alih-alih menayangkan infokuner dengan porsi wajar, mukbang disusun sedemikian sehingga pelakon terlihat begitu lahap menikmati makanan dengan porsi super jumbo tersebut seolah telah berhari-hari tidak bertemu makanan.

Berdasarkan wawancara, ternyata memang pelakon umumnya ‘berpuasa’ sebelum direkam aksi mukbangnya agar sukses menyantap hidangan tersebut, walau menanggung berbagai dampak negatif yang menyertainya (5 Bahaya Tersembunyi Mukbang, Memicu Obesitas hingga Serangan Jantung (idntimes.com)).

Manusia diperlengkapi dengan sistem pencernaan yang canggih dan lengkap, mulai dari mulut dengan segala asesorisnya hingga anus untuk mengeluarkan kotoran sisa proses pencernaan tersebut. Kelengkapan canggih tersebut dimaksudkan agar asupan makanan dapat diproses untuk optimal menghasilkan nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh manusia dan membuang sisanya yang akan menjadi ‘racun’ bagi tubuh bila tidak dikeluarkan (Human digestive system – Wikipedia). Semakin ‘hancur’ mengunyah makanannya, semakin ‘ringan’ kerja organ pencernaan lainnya, dan semakin efektif penyerapan nutrisinya. Di lain pihak, ‘cara makan’ yang sembrono akan berdampak negatif bagi kesehatan tubuh manusia (Your Digestive System & How it Works | NIDDK (nih.gov)). Mukbang dengan porsi makan super jumbo dan menunya seringkali berupa makanan cepat saji (fast food), dimakan tanpa proses pengunyahan yang cukup, tidak memenuhi ketentuan cara makan yang sehat.

Photo by Tima Miroshnichenko on Pexels.com

Doa Bapa Kami yang dicatat dalam Kitab Suci kristiani sebagai doa yang diajarkan Yesus bagi murid-murid-Nya, mengajarkan tentang makan makanan yang secukupnya setiap hari (Mat. 6:11), selaras dengan pencurahan manna sebagai ‘roti surga’ (Kel. 16:15-18,31). Di samping makna rohaniah berupa ketaatan dan kebergantungan penuh pada pemeliharaan Tuhan serta mengalahkan keserakahan diri, tersirat makna jasmaniah terkait kesehatan pencernaan sebagaimana dipahami oleh ilmu kesehatan modern saat ini.

Sebagai Pencipta, tentu saja Tuhan mengetahui setepatnya apa yang baik bagi manusia ciptaan-Nya. Keserakahan akan makanan merupakan kerakusan (gluttony) yang dikategorikan sebagai salah satu dari 7 dosa mematikan (What are the seven deadly sins? | Bibleinfo.com), sehingga mukbang merupakan aksi yang mempertontonkan tindakan melawan titah Tuhan dan melahirkan dosa yang berujungkan maut/kebinasaan.

Ada anggapan bahwa mukbang merupakan tayangan yang dapat menghibur di kala stres karena mengalami banyak ‘kehilangan’ akibat pandemi covid-19 yang telah berlangsung dan tidak pasti kapan akan tertanggulangi, serta merupakan bagian pemasaran produk kuliner yang efektif karena disajikan melalui pelakon yang kondang sebagai pihak influencer bagi banyak penontonnya. Akting pelakon yang telah diatur skenarionya, memang nampak cukup meyakinkan bagi para pemirsa seolah hidangan yang disantap sungguh-sungguh nikmat dan tidak memberikan efek negatif apa pun bagi penyantapnya.

Sebenarnya, anggapan ini mengandung jebakan sesat pikir (fallacy) yang dikenal sebagai Argumentum ad populum yang mengacu pada snob, yaitu selera sang pelakon kondang sebagai pihak influencer. Padahal soal selera makan seseorang itu sangat variatif, sehingga tidak layak menilainya dari selera makan si pelakon yang sudah diatur aksinya tersebut. Penayangan aneka limpah makanan secara demonstratif juga mencederai simpati kepada pihak berkekurangan.

Wiskuner domestik berbasis aktifitas new normal yang diharapkan dapat menggerakkan lagi pariwisata di Indonesia, perlu bersikap bijak dan berhikmat agar dapat lebih langgeng. Tren sesaat belum tentu layak diikuti walau pun nampaknya makin marak perkembangannya. Efek negatif yang akan ditanggung kelak, dapat menjadi beban biaya yang tentunya tidak disukai oleh penderitanya. Berlaku bijak berdasar firman Tuhan merupakan awal dari hikmat dan pengetahuan (Ams. 1:7), yang akan meluputkan dari ‘malapetaka’ (Ams. 1:33).

Penutup

Mengingat masa subur pariwisata sebelum pandemi covid-19, pastinya akan memunculkan kerinduan banyak orang untuk dapat segera menikmatinya lagi. Banyak hal yang harus dikerjakan agar pariwisata dapat segera pulih dari kondisi mati surinya saat ini. Indonesia memiliki potensi wisata domestik yang selama ini kurang dikembangkan, padahal potensinya amat besar.

Selain upaya penanganan penanggulangan penyebaran covid-19 yang terus digalakkan, sudah saatnya dikerjakan pemulihan pariwisata new normal oleh semua pemangku kepentingan, agar mendatangkan manfaat baik bagi banyak pihak. Wisata kuliner dapat menjadi salah satu alternatif penggerak roda pariwisata yang sempat mandek. Hikmat bijaksana berupa ‘takut akan Tuhan’ perlu mendasari gerakan ini. Semoga pariwisata Indonesia diberkati-Nya. Segala puji hormat syukur hanya bagi Tuhan yang mahamulia.

avatar setiadotone

Oleh setiadotone

Buah pertama kristiani dari keluarga konfusianis. Berkarier di berbagai perusahaan 'sekuler' lalu terpanggil sebagai pendidik di universitas (kristen) 'umum.' Berupaya mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan wawasan dunia kristiani terapan, agar membangun profesional kristiani.

2 comments

  1. Thank you Pak. Betul juga ya ada hal negatif dari makan berlebihan. Kiranya kita peka akan hikmat dari Tuhan untuk dapat mengelola dan menikmati alam dan ciptaanNya.

    Suka

Tinggalkan Balasan ke Esther Batalkan balasan