Abstract
Para atlet dituntut dan menuntut diri untuk berlaku profesional. Seharusnya semua bidang profesi selayaknya menjunjung tinggi profesionalitas, yang menunjukkan kualitas yang sepadan sebagai profesional dalam menjalankan profesinya (Cambridge English Dictionary). Maknanya juga mencakup aspek kepribadian yang positif. Pendidikan merupakan sarana penting untuk proses pembentukan profesionalitas tersebut. Ada berbagai aspek yang perlu diperhatikan, mengingat kompleksitas manusia dalam keberadaannya. Tulisan ini akan merefleksikannya berdasarkan iman kristiani yang tetap menghargai kebenaran-kebenaran dalam berbagai ilmu pengetahuan (prinsip All Truth is God’s Truth).
Pendahuluan

Salah satu acara tv berbayar yang menarik minat banyak penonton, bahkan mengundang minat banyak calon pesertanya, adalah acara hiburan olahraga yang dikenal sebagai American Ninja Warrior (ANW). Saat ini, acara serupa bahkan sudah merebak ke Inggris (UK) dan Australia. Asal mula acara ini dari Jepang tentunya, yaitu serial tv Sasuke. Dapat dikatakan, acara ANW merupakan hiburan kompetisi olahraga yang paling populer saat ini. Acara ini diikuti oleh ribuan bahkan puluhan ribu peserta yang berkompetisi secara individual dalam menaklukkan serangkaian halang-rintang di ‘udara’ yang dirancang sedemikian, dengan tingkat kesulitan yang makin besar, dan berpuncak pada penaklukkan “Mount Midoriyama” di Las Vegas, Amerika Serikat. Pemenangnya akan meraih hadiah 1 juta USD serta meraih gelar sebagai “Pejuang Ninja Amerika.” Panitia acara juga mensyaratkan beberapa ketentuan yang harus dipenuhi oleh calon peserta sebelum mereka diijinkan mengikuti perlombaan ini. Terbayangkan betapa ketatnya persaingan dalam acara ini.



Popularitas acara ini dapat diukur dari makin berkembangnya jumlah kelompok-kelompok Ninja Warrior, bahkan munculnya banyak sekolah-sekolah Ninja Warrior tersebut. Dengan demikian, banyak individu yang melatih diri secara serius sedemikian rupa untuk mengikuti perlombaan di acara tersebut. Semangat sportivitas yang selayaknya dimiliki oleh para atlet olahraga, tampak menonjol sepanjang acara tersebut. Semangat tersebut tergambar dari ungkapan para peserta saat diwawancara oleh pewawancara setelah akhir dari aksinya, baik gagal mau pun sukses. Tentu saja sangat banyak yang gagal menyelesaikan tantangan halang-rintang yang ada. Tayangan yang disajikan, beberapa ditayangkan sejak cuplikan persiapan latihan, kemudian aksi sang peserta saat berhadapan dengan segala halang-rintang sepanjang perlombaan, hingga akhir perjuangannya dalam sesi lomba tersebut, yang ditutup dengan wawancara singkat tentang kesan sang peserta setelah ikut sesi lomba tersebut. Semuanya mencitrakan profesionalitas sang peserta.
Menyaksikan acara ANW tersebut, memunculkan perenungan dalam benak saya. Bukankah kehidupan tiap individu di dunia ini bagaikan sedang berada dalam suatu perlombaan, yang harus menaklukkan serangkaian halang-rintang agar dapat terus maju ke depan? Apakah semua individu pasti melakukannya secara profesional? Bagaimana pula individu kristiani menggapai dan menyaksikan profesionalitas kristianinya dalam kehidupan sehari-harinya?
Shema

Pendidikan usia dini disepahami sebagai proses penting dalam tumbuh-kembang seseorang. Keluarga sebagai wadah interaksi awal seseorang dengan lingkungannya, akan sangat menentukan kepribadiannya kelak. Jadi, peran orangtua khususnya, sangat penting dalam membentuk eksistensi sang anak. Itu sebabnya, Tuhan memberikan suatu perintah khusus bagi generasi pertama umat Israel kuno yang keluar dari tanah Mesir. Perintah tersebut dikenal sebagai Hukum Shema yang diturunkan terus bagi keturunan Israel untuk dilakukan.
Hukum Shema (Ul. 6:4-9) menegaskan tentang ke-esa-an Tuhan umat Israel, yang harus menjadi esensi hidup (teosentris) umat Israel. Penerapannya melalui perhatian, sumber aktifitas, pengingat identitas, dan pokok didikan bagi keturunannya. Sebelum mendidik anak-anaknya, orangtua harus terlebih dulu menerapkannya bagi dirinya sendiri (antroposentris). Saat penerapan inilah, dapat terlihat bahwa aspek teologi dalam hukum yang sama, ternyata diperhadapkan dengan aspek lain dari manusia, yaitu realitas psikologis masing-masing individu yang unik dan kompleks.
Diri manusia sebagai ciptaan yang berproses, tidak pernah dapat mencapai kepenuhan eksistensialnya secara sempurna, apalagi setelah kejatuhan manusia dalam dosa yang berdampak pada keterpelintiran (disintegrasi) psikologisnya. Kondisi ini menyebabkan diterapkannya Hukum Shema secara berbeda oleh masing-masing individu.


Menurut Diana Baumrind, yang dikembangkan lanjut oleh Maccoby dan Martin, paling tidak, ada 4 model cara orangtua mendidik anaknya yang akan mempengaruhi kelakuan anaknya kelak (4 Types of Parenting Styles and Their Effects (parentingforbrain.com)), yaitu:
- Authoritative : orangtua tetap menegakkan aturan secara jelas dengan kehangatan kasih, akan membentuk anak bermartabat yang mampu berprestasi dan cakap bersosialisasi.
- Authoritarian/Disciplinarian : orangtua menerapkan aturan secara kaku dan kurang responsif, akan membentuk anak yang kurang percaya-diri, lemah dalam prestasi dan bersosialisasi.
- Permissive/Indulgent : orangtua sangat toleran dan bebas aturan, bahkan senantiasa menanggung konsekuensi pahit bagi anaknya, akan membentuk anak yang egois, impulsif, dan buruk dalam bersosialisasi.
- Neglectful/Uninvolved : orangtua yang tidak pedulian dan bebas aturan, akan membentuk anak yang impulsif dan tidak tahu aturan.
Keragaman model pendidikan orangtua bagi anaknya tersebut, jelas mempengaruhi pertumbuhan kepribadian sang anak.
Erik Homburger Erikson juga mencermati fenomena perkembangan psikologis anak yang akan berdampak pada perkembangan identitas sang anak tersebut. Erikson menemukan bahwa pengalaman hidup di masa kecil dan pengaruh lingkungan, sangat penting bagi pembentukan kebaikan-kebaikan seseorang (Erik Erikson – Wikipedia). Paling tidak, ada 8 tahapan yang dicermatinya, yaitu:
- Harapan, Basic trust vs. basic mistrust (usia di bawah 18 bulan) : sangat dipengaruhi oleh relasi dengan ibunya yang menyusuinya (maternal relationship). Bila berhasil, akan membangun identitas diri positif. Bila gagal, akan menghadirkan rasa takut, khususnya pada dunia yang dinilainya tidak konsisten dan tidak dapat ditebak.
- Kehendak, Autonomy vs. Shame and doubt (usia dekitar 1-3 tahun) : periode anak mulai melakukan eksplorasi lingkungan dan pengembangan talenta dirinya. Orangtua perlu memfasilitasi dengan tanpa memberi ‘hukuman’ atas kegagalan sang anak, agar anak tersebut tidak dikuasai oleh ketidak-percayaan diri. Bila tahap ini sukses, akan membentuk kemampuan penguasaan diri tanpa kehilangan martabatnya.
- Makna, Initiative vs. Guilt (usia 3-5 tahun) : periode mulai bersosialisasi dan membangun kepemimpinan, biasanya sang anak akan banyak mengajukan pertanyaan yang sebaiknya ditanggapi bukan dengan kritikan atau pun pembungkaman. Kegagalan tahap ini akan memunculkan pribadi yang dikuasai oleh rasa bersalah, sedang bila berhasil akan membangun pribadi yang paham kebaikan suatu makna (the virtue of purpose).
- Kompetensi, Industry vs. Inferiority (usia sekolah dasar) : periode anak mulai memahami keragaman kemampuan manusia, dan mulai membuktikan kemampuan dirinya dalam kelompoknya. Kegagalan tahap ini akan menjadikan sang anak meragukan kemampuan dirinya. Kesuksesan tahap ini akan membangun kompetensi diri secara positif.
- Kesetiaan, Identity vs. role confusion (usia remaja: 12-18 tahun) : periode sang anak mulai mempertanyakan jati diri dan makna dirinya secara kritis, mengeksplorasi aspek moralitas diri dan mulai memikirkan masa depannya. Perlu difasilitasi dengan aktifitas sosial yang sehat, agar membangun komitmen dan menerima pihak lain yang berbeda dengan dirinya. Kegagalan tahap ini akan menimbulkan krisis identitas diri dan nanar peran, sehingga mendorongnya melakukan gaya hidup berbeda.
- Mengasihi, Intimacy vs. Isolation (usia sekitar 18-40 tahun) : periode kebutuhan relasi intim dan membangun keluarga yang saling mengasihi dengan orang lain. Keberhasilan tahap ini memunculkan rasa aman, kepedulian, dan komitmen atas hubungan kasih. Kegagalannya akan memunculkan keterasingan dan kesendirian.
- Kepedulian, Generativity vs. Stagnation (usia 40-65 tahun) : periode seseorang mulai mapan dengan hidupnya, dan makin mendalami apa yang penting bagi dirinya. Bila dirinya tidak nyaman dengan kehidupannya, maka timbullah kekecewaan dan rasa tidak berguna. Sebaliknya, kesuksesan tahap ini akan memunculkan rasa dirinya bermakna.
- Bijaksana, Ego integrity vs. Despair (usia di atas 65 tahun) : periode evaluasi perjalanan hidup, pencapaian atau pun kegagalannya. Bila lebih dikuasai oleh perasaan gagal, akan memunculkan depresi dan tiada harapan. Penerimaan diri dalam perjalanan kehidupan yang telah dilalui, akan memunculkan bijaksana yang meliputi perasaan puas atas perjalanan hidupnya yang bermakna.

Dari ulasan di atas, dapat terlihat betapa kompleksnya diri manusia, khususnya realitas psikologisnya. Namun, dunia lebih menekankan pengembangan aspek olah pikir (kognitif) yang salah satunya diajukan oleh Benjamin Bloom yang berkolaborasi dengan Max Englehart, Edward Furst, Walter Hill, dan David Krathwohl, berupa konsep Taxonomy of Educational Objectives, dengan tahapan Knowledge, Comprehension, Application, Analysis, Synthesis, dan Evaluation. Konsep ini direvisi di tahun 2001 menjadi A Taxonomy for Teaching, Learning, and Assessment, yang menggambarkan proses olah pikir dinamis atas hal mengetahui (knowledge) berupa mengingat, memahami, menerapkan, menganalisa, mengevaluasi, menciptakan (Blooms Taxonomy :: Resource for Educators).
Lanjut ke halaman 2……

Sangat relevan dengan kebutuhan pendidikan dan pertumbuhan jiwa anak.
SukaSuka
Terima kasih. Silakan ‘ikut’ untuk ‘update’ refleksi berikut🙏
SukaSuka