“Normal Baru”
Tahun 2020 baru saja berlalu. Dilihat dari angka, 2020 merupakan angka cantik (ganda 20) yang ternyata memberikan pengalaman istimewa bagi dunia. Tidak pernah timbul dalam hati manusia bahwa ada tamu tak diundang yang kemudian menguasai kehidupan manusia di tahun cantik ini. Virus Corona SARS-Cov-2 yang menyebabkan coronavirus disease 2019 (COVID-19) mulai merebak di Wuhan, China, Desember 2019. Secara cepat dan pasti, virus ini meng-global, menguasai segenap penjuru dunia, merevolusi segenap tatanan kehidupan manusia. Disrupsi yang ditimbulkan oleh teknologi, didorong penerimaan eksistensinya secara luas. Sudahkah tiba waktunya untuk ‘bye-bye’ dengan paradigma lama dan merevolusinya dengan kekinian? Lalu, memangnya kenapa (so what)?
Sebelum mengulasnya, saya akan coba lihat tentang revolusi industri. Revolusi industri tidak dapat dilepaskan dari faktor berkembang pesatnya ilmu pengetahuan manusia secara radikal. Pergerakan revolusi industri yang sudah terjadi, yaitu:

Revolusi industri 1.0 (+/- tahun 1760): penemuan mesin uap dan penggantian tenaga manusia dan hewan dengan tenaga mesin. Memunculkan ragam produk baru dan produksi massal pabrikan, perbedaan status sosial-ekonomi masyarakat, sekaligus timbulnya bahaya pencemaran lingkungan.
Revolusi industri 2.0 (+/- tahun 1850): penggunaan listrik dan pengembangan sistem ‘ban berjalan’ pada ‘lini produksi.’ Memunculkan perubahan radikal dalam model transportasi (‘mobil’) dan komunikasi (pesawat telpon), bahaya eksplorasi dan eksploitasi daerah jajahan
Revolusi industri 3.0 (awal abad 20): penemuan teknologi digital dan internet, komputerisasi otomatis. Memunculkan ‘kompresi’ dimensi waktu dan ruang (real time and anywhere), sekaligus tantangan makin menyusutnya peran serta manusia.
Revolusi industri 4.0 (+/- tahun 2018): pengembangan sistem cyber-physical (keterhubungan dunia fisik dengan dunia maya) dan teknologi ‘tiruan’ (misal virtual assistant berbasiskan Artificial Intelligent) yang semangatnya ‘adu cepat’ dalam pemenuhannya (implementation). Memunculkan ‘keterkiliran wawasan’ (paradigm shift) yang merubah secara radikal banyak bidang kehidupan manusia.
Bentuk kejahatan juga banyak dilakukan di dunia maya (cyber-crime), sehingga bisa kurang diwaspadai padahal berdampak di dunia fisikal.

Dari pergerakan di atas, revolusi industri memastikan tergesernya keutamaan peran manusia di jamannya. Ada tantangan, namun tetap ada peluang. Peran kekunoan (konvensional) manusia harus ditinggalkan dan menggantikannya dengan peran kekinian (kontemporer). Tentunya dengan tanpa kehilangan jati dirinya sebagai manusia. Lalu, manusia sendiri itu sebenarnya ‘apa’ atau ‘siapa’ sih…?
Dunia menghargai manusia dari atribut diri individu tersebut, misalnya atribut profesinya serta tingkat keberhasilannya menurut ukuran duniawi. Oleh sebab itu, tiap individu berpacu menggapai status sosial duniawi setinggi-tingginya. Wawasan dunia yang mewakili konsep tersebut misalnya “Raih cita-citamu setinggi bintang di langit…” Jadi atribut diri sebagai dokter tokcer, pengusaha tajir, pengacara kondang, pemimpin popular, penceramah sejuta umat, dan sebagainya, mencitrakan jati diri layaknya pribadi-pribadi istimewa yang terbatas (limited edition). Bedalah… dengan orang-orang awam yang ‘madesu’ (masa depan suram). Celakanya, kemapanan yang selama ini dinina-bobokan oleh dunia, mengalami keterpelintiran (disrupsi). Revolusi industri 4.0 yang dipecut oleh virus Corona SARS-COV-2, efek kejutnya mengglobal. Memang layak disebut sebagai revolusi, karena tidak terduga dan berlangsung sekonyong-konyong serta meluas.
Perubahan yang tidak diharapkan, terutama yang tidak nyaman, besar kemungkinannya akan menimbulkan ‘ketegangan’ (stress) yang berdampak pada fisikal mau pun jiwani. Proses stres terkait erat dengan otak, karena otak bagian depan merupakan reseptor dari pesan stressor. Keterancaman profesi yang dipandang sebagai ancaman ekonomi (terkait kebutuhan dasar) – sosial (terkait integritas kepribadian), berkembang dari olah pikir yang dipengaruhi oleh kepribadian individu terkait. René Descartes mencetuskan pernyataan filsafah Cogito, ergo sum (Aku berpikir, maka aku ada), menegaskan kaitan erat antara keberadaan diri dengan pikiran. Dampaknya, keyakinan seseorang akan keberadaan unik dirinya akan dibentuk oleh apa yang dipikirkannya tentang dirinya. Hal ini berlaku juga bagi pemikirannya akan seberapa jauh keutamaan profesinya bagi eksistensinya.
Lanjut ke laman berikutnya….

Trimakasih pak Setiawan utk narasi reflektif yg sdh mengingatkan kita agar tetap mengingat pencipta yg berdaulat atas mengatasi apapun tak terkecuali semua relita berubahan berikut dampak baik buruknya yg mencengangkan.
SukaSuka
Terima kasih atas tanggapannya. Kemuliaan hanya bagi Tuhan Yesus Kristus.
SukaSuka