New Normal

Revolusi industri 4.0 yang banyak mengembangkan aspek virtual berbasis AI (kecerdasan tiruan), dan dikondisikan oleh pandemi covid-19, memacu model aktifitas daring (dalam jaringan: online). Temu muka daring menyingkapkan kemungkinan ‘aspal’ yang lebih luwes pengaturan penampilannya (misal tampilan ‘pas foto’ yang hanya mengutamakan kerapihan penampilan tubuh bagian atas). Teknologi Robot Android berbasis AI yang terus dikembangkan di era revolusi industri 4.0, mungkin suatu saat akan makin memuluskan ‘aspalisasi’ tersebut. Mungkin cukup para robot android yang saling berkomunikasi secara virtual.

Wah…., imajinasi liar yang cukup bikin galau nih!!

Sebenarnya manusia tidak perlu terlalu galau, toh revolusi industri telah pernah terjadi sebelumnya. Banyak juga penyintas (survivor) yang berhasil menaklukkan revolusi tersebut. Para penyintas itu tidak segan berganti profesi, mengisi berbagai peluang yang dibukakan oleh tiap era revolusi. Jadi, profesi itu hanyalah sekadar sarana pengenalan si-apa (what). Sangat terbuka untuk diganti dengan profesi lain apa pun, selama tidak melanggar batasan Sang Pencipta. Atribut profesi tersebut tidak mengubah hakekat siapa (who).

Secara umum, saat ini telah diterima secara luas akan keberadaan manusia sebagai kesatuan psiko-somatik. Kesatuan ini terdiri dari elemen fisikal dan elemen jiwani (psikologis) yang keduanya saling mempengaruhi. Kitab Suci kristiani menarasikan manusia dibentuk dari ‘debu tanah’ yang diembusi ‘nafas’ Sang Pencipta sehingga menjadi makhluk hidup. Juga disingkapkan dalam bagian lain dari Kitab Suci kristiani bahwa Sang Pencipta adalah Roh. Bahasa Ibrani sebagai bahasa yang menarasikan pembentukan manusia tersebut, memaknakan kata ‘nafas’ dengan ‘roh.’ Dengan demikian, natur konstitusional manusia seturut narasi Kitab Suci kristiani adalah kesatuan ‘jasmani’ dan ‘rohani,’ yang tidak bercampur dan tidak terpisah. Kedua elemen tersebut sama-sama penting, sehingga harus dikultivasi (ditumbuh-kembangkan) bersama-sama. Mementingkan jasmaniah saja, atau pun sebaliknya, merupakan pengingkaran atas natur konstitusional manusia. Hal ini seolah manusia sedang membelah dan membuang separuh dirinya sendiri. Bukankah manusia yang ‘waras’ tidak akan mau memotong anggota tubuhnya sendiri, apalagi dengan sadar…, sengaja melakukannya.

Photo by Nav Photography on Pexels.com

Lalu aspek jiwaninya ada di mana….??? Bukankah semua makhluk hidup itu memiliki jiwa…??? Tulisan ini tidak bermaksud untuk meniadakan

elemen jiwa dalam diri manusia, namun mengajak untuk memaknai jiwa dengan sudut pandang yang sedikit berbeda. Suatu saat, semua makhluk hidup itu pasti mati, termasuk manusia. Bila manusia, sebagai kesatuan psiko-somatik mati, apakah lalu berarti baik jasmani mau pun jiwanya akan ‘mati’ dan ‘musnah’ begitu rupa? Penganut ‘agama Abrahamic’ (Yudaisme, Kristen/Katolik, Islam) tidak sependapat dengan konsep annihilisasi (‘musnah total’) tersebut, khususnya bila disematkan pada diri manusia. Tubuh jasmani memang akan ‘musnah’ jadi ‘debu tanah,’ namun ‘roh’ akan tetap ada.

Makhluk hidup dapat diamati mampu berinteraksi sedemikian rupa dengan lingkungannya sesuai dengan natur alaminya masing-masing, misal ikan yang bergerak dinamis di dalam air, burung yang melayang-layang di udara, atau hewan darat yang terampil menjelajahi berbagai kontur daratan, yang semuanya mampu ‘mencari makan’ dan ‘mencari selamat’ sesuai kapasitas natur alaminya. Elemen jasmani dapat dipandang sebagai sarana ‘berhubungan’ (in touch) dengan dunia fisikal, dan elemen jiwa dapat diasumsikan sebagai ‘mesin penerima dan penanggap’ rangsangan luar diri yang diterima oleh elemen jasmani tersebut. Dengan demikian semua makhluk hidup, selain manusia, dapat berinteraksi sedemikian rupa dengan lingkungan luar dirinya melalui keberadaan jasmaninya yang berjiwa.

Manusia memiliki keunggulan, yaitu elemen roh yang berasal dari ‘nafas ilahi.’ Elemen roh ini tetap ada saat manusia mati, bahkan tetap menyadari keunikan dirinya dibandingkan dengan roh lainnya. Sederhananya roh manusia memiliki kepribadian diri (who) yang tinggal tetap. Manusia yang juga memiliki kapasitas berinteraksi dengan lingkungannya, akan menanggapi ‘rangsangan’ lingkungan yang diterimanya melalui elemen jasmaninya. Rangsangan ini diteruskan dan diolah oleh jiwanya dan dipengaruhi oleh rohnya yang berkepribadian khas. Dapat diasumsikan, jiwa dan roh manusia itu menyatu sedemikian, dan tidak terpisahkan. Jadi saat manusia mati, roh manusia tetap dapat menanggapi ‘lingkungannya’ secara khas melalui jiwanya. Contohnya dinarasikan tentang ‘pengemis di pangkuan Abraham’ pada Kitab Suci kristiani. Mungkin tidak berlebihan bila diasumsikan bahwa ‘roh’ manusia adalah ‘jiwa yang berkepribadian.’ Dengan demikian, natur konstitusional manusia adalah kesatuan jasmani-rohani/jiwani yang berkepribadian khas.

Bagi yang sepakat tentang natur konstitusional tersebut, maka profesi apa pun yang tidak melanggar batasan norma-norma Sang Pencipta, perlu memenuhi kebutuhan jasmaniah dan rohaniah. Atau sederhananya, seseorang perlu menjalan-kembangkan profesinya sedemikian hingga memuaskan kebutuhan jasmaniah dan rohaniahnya. Slogan ora et labora (berdoa dan berkarya) menjadi relevan dan signifikan. Slogan ini menyiratkan pengakuan akan Providensia Sang Pencipta, yang senantiasa memelihara-bekerjasama-memerintah ciptaan-Nya. Karya Providensia ini, sudah berlaku bahkan saat segala sesuatu – termasuk manusia – diciptakan oleh Sang Pencipta, dan tetap terus berlaku hingga penyempurnaan semesta dan segala isinya kelak. Dengan demikian, tujuan Sang Pencipta dalam ciptaan-Nya, pasti tercapai.

Wuihhh…, jadi ingat tentang tujuan penciptaan manusia yang dicantumkan dalam salah satu pengakuan iman kristiani.

Q. 1. What is the chief end of man?

A. Man’s chief end is to glorify God, and to enjoy him for ever.

Westminster Shorter Catechism

Ingat hal itu, jadi semangat lagi deh…….

Yuk…, bersama providensia-Nya, kita terus maju dan menang menyintas tantangan revolusi industri 4.0 ini. Soli Deo Gloria.

avatar setiadotone

Oleh setiadotone

Buah pertama kristiani dari keluarga konfusianis. Berkarier di berbagai perusahaan 'sekuler' lalu terpanggil sebagai pendidik di universitas (kristen) 'umum.' Berupaya mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan wawasan dunia kristiani terapan, agar membangun profesional kristiani.

2 comments

  1. Trimakasih pak Setiawan utk narasi reflektif yg sdh mengingatkan kita agar tetap mengingat pencipta yg berdaulat atas mengatasi apapun tak terkecuali semua relita berubahan berikut dampak baik buruknya yg mencengangkan.

    Suka

Tinggalkan komentar