Komunikasi Kekinian

“ASBUN” (Asal Bunyi)

“Katakan dengan jarimu…..”

Teknologi memunculkan model komunikasi baru – komunikasi teks – yang menjadi komunikasi kekinian.

Efektifkah…??? Terandalkankah….???

“Asyik juga ya…, menjawab pertanyaan-pertanyaan orang melalui media sosial pakai teks, bisa dilakukan sambil mengerjakan aktifitas lain…, tidak perlu jaga penampilan fisikal…, bahkan bisa diwakilkan oleh ‘joki’…….”

Manusia memang hanya memiliki satu mulut dan dua telinga, yang sering dimaknai sebagai ‘sedikit bicara-banyak mendengar.’ Nyatanya, manusia tidak dapat menahan diri untuk tidak ‘berbicara,’ bahkan orang yang dikenal sebagai pendiam sekali pun pasti suka berbicara walau berbicara pada dirinya sendiri (self talk). Kondisi ini menegaskan keberadaan manusia sebagai ‘mahluk sosial’ dan tentunya tetap sebagai ‘personal’ unik, yang butuh berkomunikasi dengan manusia lainnya bahkan sejak ada dalam kandungan ibunya. Komunikasi awal dari keberadaan manusia itu memperluas jangkauan berkomunikasi, bukan semata komunikasi verbal yang terjalin dari untaian kata-kata dalam bahasa tertentu, melainkan juga mencakup komunikasi non-verbal, misalnya ‘bahasa tubuh’ yang bahkan nampaknya merupakan bahasa universal, dapat dipahami oleh orang-orang yang tidak mengerti ‘bahasa asing’ yang dikuasai oleh lawan bicaranya, atau bahkan ‘bahasa kalbu’ yang hanya dapat dipahami oleh antar pihak yang memiliki relasi batin yang spesial, biasanya direnda oleh ‘tali kasih.’

Komunikasi yang dari bahasa Latin (communicatus) berarti “berbagi” atau “menjadi milik bersama,” sederhananya merupakan proses penyampaian atau pembagian ‘pesan’ dari satu pihak ke pihak lainnya agar tercapai pemahaman bersama atas ‘pesan’ tersebut, termasuk perubahan sikap (attitude change) antar pihak yang berkomunikasi. Nah…, efektiflah komunikasinya bila hal itu tercapai. Jadi pesannya harus jelas, lengkap, akurat, mudah dipahami, dan seimbang antara komunikator (penyampai pesan) dengan komunikan (penerima pesan) agar tercapai kesamaan pengertian-sikap-bahasa antar pihak atas ‘pesan’ tersebut. Kompleks bukan….., karena pastinya akan melibatkan individu-individu yang memiliki kepribadian personal yang unik sebagaimana nampak dalam perilakunya.

Komunikasi model ‘teks’ menggunakan ‘teks’ sebagai saluran (channel) komunikasi yang wujudnya dapat berupa tulisan bahasa, gambar, simbol dan sebagainya, guna menguraikan ‘pesan’ yang dapat berupa ekspresi ide atau perasaan, bahkan dapat juga menyiratkan arti tersembunyi. Kesederhanaan penyampaian ‘pesan’ akan menemui kendala bila banyak mengandung elemen konotatif (yaitu pikiran-perasaan-ide dalam suatu kata, misal yang tersirat dalam stickers atau emoji yang ada dalam platform media sosial). Waktu (timing) penyampaian ‘pesan’ juga harus tepat, dan tidak kalah pentingnya adalah keintiman relasi antar pihak yang akan menentukan bobot pemahaman ‘metakomunikasi’ (‘pesan dalam pesan’). Komunikasi model ‘teks’ cukup menghadapi tantangan dari hilangnya keunggulan dari komunikasi tatap muka (misal intonase, sikap tubuh, penampilan fisikal, ekspresi wajah, dan sebagainya, yang menggambarkan kepedulian personal secara empatik).

Lanjut ke laman berikut…

(Tulisan terkait)

avatar setiadotone

Oleh setiadotone

Buah pertama kristiani dari keluarga konfusianis. Berkarier di berbagai perusahaan 'sekuler' lalu terpanggil sebagai pendidik di universitas (kristen) 'umum.' Berupaya mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan wawasan dunia kristiani terapan, agar membangun profesional kristiani.

4 comments

  1. Komunikasi dengan teks, sebenarnya lebih berisiko jika tidak ditata dengan baik. Ini kaitannya dengan adanya jejak digital yang jika dikombinasi dengan UUTE dapat dimanfaatkan untuk memukul balik jika ada yang tersinggung dengan isi teks yang dibuat.
    Komunikasi dengan teks bagaimanapun tergantung teknologi yang digunakan. Saat ini dengan foto dan video yang begitu mudah, juga teknologi cloud yang memungkinkan anonim maka isi dan jangakuannya bisa melebihi cara komunikasi langsung.
    Dengan adanya pandemi yang bersifat global ini, maka kita harus berusaha meningkatkan kualitas komunikasi teks ini menjadi seperti komunikasi langsung. Ini tantangan, tetapi jika tidak diusahakan maka kita sendiri yang akan rugi. Intinya komunikasi teks, suka atau tidak suka maka kita harus banyak gunakan untuk menggantikan komunikasi langsung.
    Moga-moga menambah bahan diskusi terkait komunikasi teks dan kita.

    Suka

    1. Terima kasih atas masukannya. Jaman memang terus berubah dan kita terus harus selaras dengan tantangan jaman. Namun jati diri kita tetap perlu dipertahankan, tidak diombang-ambingkan jaman.

      Suka

  2. Terima kasih sharingnya Pak. Memberkati dan mengingatkan kembali mengenai bagaimana Tuhan yang Maha Baik dan Maha Kreatif pasti tahu cara yang terbaik untuk ngobrol sama anakNya. Orang tua saja tahu bagaimana mengobrol dengan anak ya. Kadang kita sebagai anak yang kurang mendengar juga. Thank you Pak!

    Suka

Tinggalkan Balasan ke setiadotone Batalkan balasan