Komunikan (penerima ‘pesan’) yang baik tentunya tidak menafsirkan ‘pesan’ Komunikator (penyampai ‘pesan’) secara sembarangan sesuai dengan nuansa hatinya sendiri, berdasarkan kemauannya sendiri, sehingga gagal paham walau pun Komunikator telah menyampaikan ‘pesannya’ secara sederhana-jelas-tepat sesuai dengan kaidah berkomunikasi yang efektif. Bila demikian peristiwanya, salah Komunikan itu sendiri dong…, jangan salahkan Komunikatornya. Demikian pula, Allah sebagai Pribadi yang memiliki hakekat mahabenar dan mahabaik, tidak masuk akal sehat bila dipandang telah menyampaikan ‘pesan-Nya’ secara ‘asbun’ sehingga Kitab Suci kristiani yang ditulis manusia pilihan Allah di bawah pimpinan-Nya sendiri, akan tidak logis bila mengandung ‘typo’ apalagi ‘asbun.’ Yang mungkin terjadi adalah salah menafsirkan ‘pesan’ Kitab Suci. karena dilakukan dengan sekehendak hatinya sendiri.
Saya kutip ‘pesan’ dari Kitab Suci tersebut:
"Yang terutama harus kamu ketahui, ialah bahwa nubuat-nubuat dalam Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri, sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah." - 2Ptr. 1:20-21 (LAI-TB)
"Dan karena itulah kami tidak putus-putusnya mengucap syukur juga kepada Allah, sebab kamu telah menerima firman Allah yang kami beritakan itu, bukan sebagai perkataan manusia, tetapi — dan memang sungguh-sungguh demikian — sebagai firman Allah, yang bekerja juga di dalam kamu yang percaya." - 1 Tes. 2:13 (LAI-TB)
"Sebab seperti hujan dan salju turun dari langit
dan tidak kembali ke situ, melainkan mengairi bumi,
membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan,
memberikan benih kepada penabur dan roti kepada orang yang mau makan,
demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku:
ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia,
tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki,
dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya."
- Yes. 55:10-11 (LAI-TB)
God bless you

Komunikasi dengan teks, sebenarnya lebih berisiko jika tidak ditata dengan baik. Ini kaitannya dengan adanya jejak digital yang jika dikombinasi dengan UUTE dapat dimanfaatkan untuk memukul balik jika ada yang tersinggung dengan isi teks yang dibuat.
Komunikasi dengan teks bagaimanapun tergantung teknologi yang digunakan. Saat ini dengan foto dan video yang begitu mudah, juga teknologi cloud yang memungkinkan anonim maka isi dan jangakuannya bisa melebihi cara komunikasi langsung.
Dengan adanya pandemi yang bersifat global ini, maka kita harus berusaha meningkatkan kualitas komunikasi teks ini menjadi seperti komunikasi langsung. Ini tantangan, tetapi jika tidak diusahakan maka kita sendiri yang akan rugi. Intinya komunikasi teks, suka atau tidak suka maka kita harus banyak gunakan untuk menggantikan komunikasi langsung.
Moga-moga menambah bahan diskusi terkait komunikasi teks dan kita.
SukaSuka
Terima kasih atas masukannya. Jaman memang terus berubah dan kita terus harus selaras dengan tantangan jaman. Namun jati diri kita tetap perlu dipertahankan, tidak diombang-ambingkan jaman.
SukaSuka
Terima kasih sharingnya Pak. Memberkati dan mengingatkan kembali mengenai bagaimana Tuhan yang Maha Baik dan Maha Kreatif pasti tahu cara yang terbaik untuk ngobrol sama anakNya. Orang tua saja tahu bagaimana mengobrol dengan anak ya. Kadang kita sebagai anak yang kurang mendengar juga. Thank you Pak!
SukaSuka
Syukur sudah jadi berkat. Soli Deo Gloria.
SukaSuka