Apa pun sarana komunikasi yang dipilih, kepribadian antar pihak menjadi faktor penting bagi keefektifan komunikasi yang dilakukan. Terbersit di benak saya keingin-tahuan akan komunikasi antara Allah dengan manusia. “Apakah Allah berkomunikasi dengan manusia…? Pakai sarana apa…., dapat diandalkankah….? dsb, dst, dll…?” Ah………., iseng amat sih…….!
Manusia sebagai citra Allah, meyakini dirinya adalah satu pribadi yang hidup, bukan hanya suatu benda. Kalau begitu, Allah yang menjadi model keberadaan manusia tentunya juga merupakan satu Pribadi dong ya…. Jadi, masuk akal dong bila diasumsikan adanya komunikasi antar pribadi pada relasi Allah dengan manusia, dengan catatan keberadaan Allah bukan seperti yang dipegang oleh penganut Deisme (yaitu paham yang mengakui keberadaan Sang Pencipta yang menciptakan suatu ciptaan dengan tatanan hukum alami sedemikian, hingga semua elemen dalam ciptaan-Nya ‘eksis’ sesuai dengan ketentuan hukum tersebut, sedangkan Sang Pencipta tidak lagi turut terlibat dalam ‘keberadaan’ ciptaan-Nya alias ‘lepas tangan…’ seperti ‘pembuat arloji’ dengan arloji buatannya).

“anthropological perspective”
“Allah mengkomunikasikan pesan-Nya seturut dengan ‘cara paham’ manusia agar terpahami secara efektif”
Orang tua terhadap anaknya akan berkomunikasi dengan ‘bahasa’ dan ‘sarana’ yang dapat dipahami oleh anaknya, bila ingin agar ‘pesannya’ dapat dipahami dan disepakati oleh anaknya. Manusia saja punya hikmat seperti itu, masakan Allah kurang berhikmat….
Secara khusus, sarana komunikasi yang dipakai Allah untuk menuangkan ‘pesan’-Nya adalah Kitab Suci. Sebagai Komunikator, hikmat Allah lebih dari memadai untuk mengkomunikasikan ‘pesan’-Nya secara efektif bagi para Komunikan yang benar-benar ingin menangkap ‘pesan’ Allah (lihat artikel “Bahasa Kita”). Hakekat Allah yang adalah ‘Kasih’ dan ‘Benar,’ menjamin ‘pesan’ yang dikomunikasikan-Nya adalah baik dan tidak menyesatkan, bahkan merupakan penyingkapan diri-Nya sendiri, walau pun tentu saja bukanlah sepenuhnya diri Allah yang tidak terbatas, yang logisnya tidak mungkin dapat ‘ditampung’ oleh manusia yang terbatas. Jadi…., tidak perlu ‘sok sibuk’ cari-cari apa yang tidak disingkapkan Allah dalam ‘pesan’-Nya.
"Masih banyak hal-hal lain lagi yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu." - Yoh. 21:25 (LAI-TB)
"Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai selama-lamanya, supaya kita melakukan segala perkataan hukum Taurat ini." - Ul. 29:29 (LAI-TB)
“Wah…., begitu ya… Katanya ‘Kitab Suci’ umat kristiani itu ditulis oleh manusia, bukan ‘jatuh dari langit.’ Nah, kalau begitu bisa salah dong ya, ‘asbun’ gitu loh…., minimal salah tulis seperti kebiasaan ‘typo’ beberapa orang di berbagai medsos (termasuk saya sih….).” Tepat sekali…, manusia memang punya kecenderungan untuk bisa salah, namanya juga terbatas…, salah itu alami. Namun….., ada satu proses penting saat manusia (terpilih) menuliskan Kitab Suci kristiani, yang diistilahkan dengan “pengilhaman,” dan ini lho ilustrasinya:
- Butuh tiupan angin.
- Bergerak searah angin.
- Dipengaruhi posisi layar dan aerodinamika bentuk perahu.
Tidak sembarang manusia boleh menuliskan Kitab Suci, hanya ‘orang-orang pilihan’ Allah saja yang diberikan ilham Allah untuk menuliskan ‘pesan’-Nya tersebut. Penulisannya itu pun karena ‘digerakkan’ Allah, seperti perahu layar yang digerakkan angin, dan bergerak sesuai dengan arah tiupan angin tersebut. Jadi bukan atas kemauan penulis Kitab Suci itu sendiri, walau pun keunikan pribadi penulis tersebut tidak ditiadakan oleh Allah saat menulis ‘pesan’ Allah, sebagaimana ilustrasi gerakan perahu layar saat ditiup angin yang juga dipengaruhi oleh posisi layar dan aerodinamika bentuk perahu tersebut. Sederhananya…., kepribadian unik penulis dipakai Allah untuk menuliskan kitab tertentu sebagai bagian Kitab Suci. Misal Nabi Musa menuliskan 5 Kitab Taurat sesuai dengan kapasitas pribadinya yang dididik secara khusus sebagai pangeran di istana Firaun, atau Nabi Salomo yang menuliskan mayoritas Kitab Amsal sesuai dengan kebijakannya yang telah dikaruniakan Allah kepadanya, dan seterusnya…. Dengan demikian, Kitab Suci kristiani memang benar ditulis oleh manusia, sekaligus ‘ditulis’ oleh Allah yang ‘tangan-Nya’ memimpin tangan manusia penulisnya.
Lanjut ke laman berikut…


Komunikasi dengan teks, sebenarnya lebih berisiko jika tidak ditata dengan baik. Ini kaitannya dengan adanya jejak digital yang jika dikombinasi dengan UUTE dapat dimanfaatkan untuk memukul balik jika ada yang tersinggung dengan isi teks yang dibuat.
Komunikasi dengan teks bagaimanapun tergantung teknologi yang digunakan. Saat ini dengan foto dan video yang begitu mudah, juga teknologi cloud yang memungkinkan anonim maka isi dan jangakuannya bisa melebihi cara komunikasi langsung.
Dengan adanya pandemi yang bersifat global ini, maka kita harus berusaha meningkatkan kualitas komunikasi teks ini menjadi seperti komunikasi langsung. Ini tantangan, tetapi jika tidak diusahakan maka kita sendiri yang akan rugi. Intinya komunikasi teks, suka atau tidak suka maka kita harus banyak gunakan untuk menggantikan komunikasi langsung.
Moga-moga menambah bahan diskusi terkait komunikasi teks dan kita.
SukaSuka
Terima kasih atas masukannya. Jaman memang terus berubah dan kita terus harus selaras dengan tantangan jaman. Namun jati diri kita tetap perlu dipertahankan, tidak diombang-ambingkan jaman.
SukaSuka
Terima kasih sharingnya Pak. Memberkati dan mengingatkan kembali mengenai bagaimana Tuhan yang Maha Baik dan Maha Kreatif pasti tahu cara yang terbaik untuk ngobrol sama anakNya. Orang tua saja tahu bagaimana mengobrol dengan anak ya. Kadang kita sebagai anak yang kurang mendengar juga. Thank you Pak!
SukaSuka
Syukur sudah jadi berkat. Soli Deo Gloria.
SukaSuka