“Bahasa Kita”

Manusia butuh berinteraksi dengan manusia lainnya agar jati dirinya makin tajam terasah (Ams. 27:17 “Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya“), dan hal ini merupakan salah satu natur alami manusia. Komunikasi yang lugas menjadi penting dalam aktifitas tersebut. Namun, tidak dapat disangkal bahwa acap kali komunikasi yang dilakukan, tidak membuahkan apa yang diharapkan dalam interaksi tersebut.

Kesadaran akan pentingnya komunikasi dalam interaksi antar pribadi manusia, serta adanya kemungkinan gagalnya pencapaian tujuan karena kendala dalam berkomunikasi, mendorong diadakannya pendidikan mau pun pelatihan berkomunikasi oleh berbagai institusi pendidikan mau pun pelatihan, baik secara formal (misal Program Studi Ilmu Komunikasi), melalui berbagai seminar, dan berbagai kelas pelatihan komunikasi. Semua pembekalan ini tentu saja baik, dengan catatan kendala utama komunikasi dalam interaksi antar manusia tersebut telah dikenali secara tepat.

Tentu saja ada banyak aspek yang dapat menjadi kendala dalam berkomunikasi, dan kali ini penulis akan mencoba mengkajinya secara sederhana dari sisi wawasan dunia kristiani.

Manusia merupakan keberadaan yang unik secara personal, memiliki keunikan perjalanan dan pengalaman hidup yang akan membentuk wawasan dunia personalnya yang unik. Dengan demikian, tiap individu akan memaknai segala peristiwa di dunia ini menurut ‘kacamata’ (wawasan dunia) personalnya. Itu sebabnya, satu ‘fakta’ akan memunculkan beragam ‘cerita’ sesuai dengan ‘kacamata’ naratornya. Apalagi bila diperhitungkan aspek keterbatasan inderawi tiap pengamat ‘fakta’ (noumena: yang dalam filsafat Immanuel Kant sederhananya disebut sebagai ‘the thing-in-itself‘) tersebut, yang dikenal sebagai mundus sensibilis (‘world of things‘ yang dikenali melalui inderawi manusia), akan menghadirkan fenomena yang sesuai dengan keunikan individu pengamatnya.

Seorang teman kemudian menyitir ungkapan Ludwig Wittgenstein, “batas-batas bahasaku adalah batas-batas duniaku” guna menggambarkan bahwa komunitas bahasa yang berbeda, akan “menghayati” mundus secara berbeda-beda meski “tahu” bahwa mundus ini sama saja. Jadi pada dasarnya, manusia tidak memiliki kapasitas untuk meraih ‘fakta,’ walau pun secara umum tiap individu manusia akan mempertahankan fenomena yang dialaminya sebagai suatu ‘fakta.’ Ini merupakan kendala utama yang pertama dalam berkomunikasi.

Berikutnya akan coba diulas dari aspek psikologis, yaitu Transactional Analysis (TA) yang dikembangkan oleh Eric Berne terkait dengan keadaan ‘ego’ sang komunikator dalam interaksi sosialnya (yaitu menjadi ‘Orang-Tua,’ atau ‘Anak-Anak,’ atau ‘Orang Dewasa’), yang sangat dipengaruhi oleh pengalaman masa kecil sang komunikator. ‘Model menjadi’ (states) tertentu akan memanifestasikan kepribadiannya melalui pikiran-perasaan-tingkah laku, yaitu:

  • Orang-Tua: respon ‘tanpa sadar’ menirukan tindakan ‘orang-tua’ di masa kecilnya yang biasanya membuahkan hasil.
  • Orang Dewasa: serupa kerja ‘komputer pintar’ yang menganalisa informasi dan merespon berdasarkan penilaian objektif dari realita/kenyataan. ‘Model menjadi’ ini yang merupakan sasaran capaian pertumbuhan kepribadian yang sehat.
  • Anak-Anak: respon ‘tanpa sadar’ menirukan tindakannya di masa kecil saat mengalami suatu peristiwa tertentu, baik yang menyenangkan dirinya mau pun tidak.

‘Model menjadi’ di atas tidak diukur dari usia lahiriah, dan tidak selalu mewakili status relasionalnya dengan pihak lain, sehingga bentuk transaksi antar pribadi yang terlibat dapat berganti-ganti model (misal Pimpinan yang lebih muda usia lahiriahnya dapat melaksanakan transaksi model Orang-Tua kepada stafnya yang sudah lanjut usianya; atau seorang staf dapat bertransaksi sebagai Anak-Anak saat meresponi apresiasi rekan kerjanya dengan tersenyum lebar dan gerak tubuh yang menggambarkan hati senang dan berterima kasih). Jadi, untuk transaksi tertentu, model Orang-Tua atau pun Anak-Anak, tetap dapat mendatangkan hasil yang positif asalkan dilaksanakan dengan cara yang tepat pada situasi-kondisi yang tepat. Prasyarat ini akan tercapai bila semua individu yang terlibat dalam komunikasi antar pribadi tersebut, memiliki posisi hidup yang ‘telah mantap dengan dirinya’ (‘Saya OK dan Anda OK‘ yaitu ‘puas’ dengan ‘kompetensi’ dirinya dan orang lain).

Masalahnya, ‘puas diri’ ini merupakan tantangan di dunia yang berpedomankan ‘raih cita-citamu setinggi langit’ atau syair lagu ‘Never Enough‘ yang ditulis Benj Pasek dan Justin Paul, dan dilantunkan oleh Loren Allred serta menjadi salah satu soundtrack dalam film musikal The Greatest Showman. Tantangan ini menjadi kendala utama kedua dalam berkomunikasi.

Aspek metafisika dari wawasan dunia kristiani memegang prinsip creatio ex-nihilo yang bermakna ‘penciptaan keluar dari ketiadaan‘ sehingga segala sesuatu belum ada sebelum diciptakan, dan baru ada setelah diciptakan dari ketiadaan. Aspek Teologi dari wawasan dunia kristiani menegaskan tentang keberadaan Allah yang menyingkapkan diri-Nya sebagai Allah Tritunggal, Sang Pencipta yang transenden (berbeda absolut dari ciptaan) sekaligus imanen (menopang dan hadir menyertai ciptaan). Hakekat kesempurnaan absolut pengetahuan-Nya, mencakup semua fakta (the thing-in-itself) secara tidak terbatas, bahkan hanya Allah Tritunggal yang mengetahui fakta secara kekal, melalui ketetapan-Nya (NB: akan diulas pada tulisan lain).

Wittgenstein telah memberikan tilikan yang berguna tentang signifikansi bahasa dalam memahami sesuatu, dan “bahasa-ibu” (native-language) merupakan bahasa yang paling penting bagi tiap individu, karena dari istilahnya telah menyiratkan sebagai bahasa pertama yang dipakai oleh tiap individu untuk berkomunikasi dengan pribadi manusia yang paling dekat dengan keberadaannya (yaitu ibu yang mengandungnya), melampaui bahasa verbal yang kemudian dipakainya untuk berkomunikasi dengan manusia lain.

Pentakosta yang dinarasikan dalam Kitab Kisah Para Rasul mencatat adanya satu peristiwa penting, yaitu semua orang yang dipenuhi Roh Kudus telah berkata-kata menurut ‘bahasa asing’ yang dikaruniakan Roh Kudus kepada mereka masing-masing, didengar oleh masing-masing individu ‘pengguna asli’ bahasa tersebut sehingga berita yang disampaikan dapat dipahami dengan baik. Roh Kudus sebagai Pribadi Ketiga dari Allah Tritunggal inilah yang berkomunikasi dengan para pengguna asli ‘bahasa asing’ tersebut, yaitu komunikasi antar pribadi. Sebagai Allah, tentu saja Roh Kudus mengetahui fakta/noumena secara kekal, dan mengkomunikasikan fakta tersebut secara personal kepada masing-masing individu secara personal pula, dengan menggunakan ‘bahasa ibu’ yang pasti dipahami sepenuhnya oleh individu yang bersangkutan. Selain itu, komunikasi personal ini bersifat pasti secara tepat daya (efektif) dan tepat guna (efisien) karena dikomunikasikan oleh Pribadi yang maha berkuasa dan berdaulat (Yes. 55:11).

Allah yang adalah kasih (1 Yoh. 4:8), secara kekal saling mengasihi antar Pribadi Tritunggal, dan secara beranugerah telah menetapkan untuk menciptakan manusia sebagai citra-Nya. Keserupaan itu mempermudah bagi Allah untuk lebih mengasihi manusia dibandingkan dengan ciptaan-Nya yang lain, sebagaimana manusia yang akan lebih mudah untuk mengasihi anak yang sangat mirip dengan dirinya bila manusia itu ‘puas’ dengan dirinya. Hal ini ditegaskan melalui penetapan target utama penebusan Allah setelah dosa ‘menguasai’ dunia, di mana bukan malaikat melainkan manusia yang menjadi target utama penebusan tersebut (Ibr. 2:16-17). Keserupaan dengan Allah ini sepatutnya menjadikan manusia bermartabat mulia, dan martabat mulia yang dari Allah ini sepatutnya diresponi dengan ‘puas’ diri. Keberdosaan manusia itulah yang menjadikan manusia kehilangan kemuliaan tersebut, dan butuh penebusan Allah (Rm. 3:23-24).

Roh Kudus berperan penting bagi pemulihan citra Allah tersebut dengan melahir-barukan dan menjadikan ‘manusia baru.’ Dengan demikian, kemuliaan Allah dapat dipancarkan kembali melalui citra-Nya yang dipulihkan. Pemulihan ini akan menyadarkan keberadaan dirinya, juga keberadaan diri sesamanya, sebagai citra Allah yang mulia. Demikianlah manusia yang telah dipulihkan citra dirinya sebagai citra Allah, boleh memiliki posisi hidup yang terpuaskan, baik bagi dirinya sendiri mau pun pandangannya terhadap sesamanya, yang tercermin dalam relasi ‘Saya OK, Anda OK.’

Refleksi di atas menegaskan signifikansi Roh Kudus dalam keberhasilan komunikasi antar pribadi manusia dalam segala bentuk relasi, baik itu komunikasi antara suami-isteri, orang tua-anak, guru-murid, pimpinan-staf, dokter/perawat-pasien, pemerintah-rakyat, dsb. Roh Kudus akan berkomunikasi dengan menggunakan ‘bahasa ibu’ melalui orang yang terus diperbarui-Nya sehingga mengalami posisi hidup yang terpuaskan. Jadi, doa memohon pimpinan Roh Kudus sebelum-selama-setelah komunikasi menjadi kunci bagi keberhasilan komunikasi.

Selamat berkomunikasi menggunakan “bahasa kita.”

avatar setiadotone

Oleh setiadotone

Buah pertama kristiani dari keluarga konfusianis. Berkarier di berbagai perusahaan 'sekuler' lalu terpanggil sebagai pendidik di universitas (kristen) 'umum.' Berupaya mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan wawasan dunia kristiani terapan, agar membangun profesional kristiani.

Tinggalkan komentar