Mandat “Move On” (2)

Tulisan sebelumnya telah menyajikan beberapa prinsip kerja Allah terkait dengan Mandat Budaya. Kali ini akan coba disajikan bagaimana manusia mengerjakannya dan mengapa demikian caranya. Apakah ini merupakan hikmat manusia atau hikmat Allah?

Sebelum mengulasnya, saya mau mengajak pembaca untuk meninjau narasi penciptaan semesta yang dituliskan dalam Alkitab, karena hal ini menjadi dasar logis bagi uraian cara kerja manusia dalam mewujudkan Mandat Budaya tersebut.

Kegelapan, gelap gulita yang amat sangat pekat, akan meniadakan kemampuan untuk mengenali dimensi apa pun, entah itu waktu-ruang-gerak-dsb, sehingga menimbulkan kesan hampa-tak-berwujud yang mencekam. Hanya terang yang absolut – yi. yang tak terukur – yang dapat ‘mengusir’ kegelapan itu, lalu….eureka, tampillah segala dimensi, yang dinarasikan melalui ‘suara’ maha agung-mulia.

Narasi penciptaan secara unik menyiratkan adanya proses berkelanjutan yang secara terus menerus bergerak ke depan (sempiternally) tanpa mengabaikan apa yang telah ada di periode sebelumnya, layaknya proses mendirikan suatu bangunan. Dapat dikatakan bahwa tidak ada sesuatu pun pada semesta ini yang tidak bergerak ke depan dalam batasannya, sesuai dengan rancangan Sang Perancang Agung (NB: silakan baca beberapa prinsip dasar perancangan di bagian pertama).

Manusia yang dinarasikan sebagai makhluk ciptaan istimewa, tentu saja memiliki berbagai keistimewaan diri yang tidak dimiliki oleh produk ciptaan lainnya, namun tetap memiliki keterkaitan dengan produk ciptaan lain di periode sebelumnya, sebagaimana tersirat pada prinsip proses penciptaan di atas.

Sang Perancang tentu tahu persis akan rancangannya, sehingga di saat manusia menjalani pelatihan sebagai persiapan untuk mewujudkan Mandat Budaya yang telah dipercayakan kepadanya, diajarkan cara latihannya (Kej. 2:15) yi. mengerjakan (to work) dan memelihara (to keep). Ini bukanlah 2 cara, melainkan dwitunggal (2in1 way) dengan 2 langkah yang berlangsung bersamaan dan tidak terpisahkan.

Cara dwitunggal ini merupakan satu-satunya cara yang sesuai dengan natur ciptaan, yi. secara terus menerus bergerak ke depan tanpa mengabaikan apa yang telah ada di periode sebelumnya. Kapasitas pengetahuan dan keterampilan yang diraih oleh manusia dapat dikatakan sebagai proses thesis-antithesis-sinthesis yang berlangsung secara berkelanjutan di sepanjang hidupnya. Demikian pula dengan wawasan dunia seseorang, akan dibentuk melalui proses yang sama, sehingga tiap manusia pasti memiliki wawasan dunianya sendiri yang bersifat unik secara personal.

Sebagaimana pelatihan yang dijalani oleh manusia pertama yang didampingi oleh Sang Maha Agung, setiap manusia akan menjalani pelatihan personalnya dalam lingkup karya Providensia Allah yang mencakup tritunggal aspek (preservation-cooperation-gubernation) secara berkelanjutan, sehingga tidak ada satu pun pengalaman hidup yang dialami oleh seseorang merupakan ‘kebetulan’ semata.

Kesadaran akan realita ini dapat membarui wawasan dunia seseorang sehingga makin membuatnya mampu meresponi segala peristiwa yang terjadi pada kehidupannya secara lebih tepat dan bermakna. Apalagi bila ‘pengenalan akan Allah’ berkembang makin tepat dalam dirinya (acquired knowledge), makin tepat pula responnya.

Jadi, masihkah Anda terpikat untuk memisahkan antara ilmu pengetahuan dengan iman, bahkan mempertentangkan keduanya? Maukah Anda mulai mengintegrasikan keduanya?

avatar setiadotone

Oleh setiadotone

Buah pertama kristiani dari keluarga konfusianis. Berkarier di berbagai perusahaan 'sekuler' lalu terpanggil sebagai pendidik di universitas (kristen) 'umum.' Berupaya mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan wawasan dunia kristiani terapan, agar membangun profesional kristiani.

Tinggalkan komentar