
Pengalaman merasakan dan menerima kebaikan Tuhan dalam pelaksanaan CABG yang berhasil baik, masih berlanjut saat proses pemulihannya. Proses itu bukan saja berkenaan dengan aspek fisik, namun juga merambah aspek mental dan spiritual. Namun hal logis itu tidak selalu dapat diterima secara mulus, bahkan menantang mental untuk menerimanya dan tetap semangat menapakinya.
Aspek spiritual juga ditantang untuk mampu bersyukur atas kondisi yang dialami, terutama saat nyungsep (drop) kebugarannya. Butuh pertolongan dan kebaikan Tuhan atas tantangan-tantangan tersebut. Keyakinan dan mengandalkan akan kebaikan Tuhan inilah yang menjadi fondasi terpercaya dalam menjalani proses pemulihan paska CABG.
Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah jerih payah orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga [Mzm. 127:1. LAI TB2]
Cuplikan ayat Alkitab di atas merupakan bagian dari nyanyian ziarah Salomo, raja kerajaan Israel kuno yang terkenal akan hikmat bijaksananya. Pastinya kalimat pengakuan di atas bukanlah kalimat kosong yang berlebihan. Pengakuan tersebut telah memukul kesombongan yang begitu meresap di batin saya.
Dalam kesaksian pertama, kesombongan diri saya tersirat saat menganggap kondisi sendiri cukup baik karena telah sekian lama menjalani gaya hidup sehat. Anggapan itu terpukul realitas kondisi penyumbatan pada 3 arteri utama yang memperdarai jantung, termasuk arteri utama kiri yang sangat penting (CAD 3VD+LM).

Hanya oleh kebaikan Tuhan semata apabila saya sempat ditangani secara medis dengan baik. Selanjutnya akan saya tuliskan kebaikan-kebaikan Tuhan berikutnya sewaktu periode pemulihan.
Keberhasilan CABG saya tersirat pada kepuasan dokter bedah saya saat mencabut 2 pipa yang terpasang di area perut saya. Pipa-pipa tersebut dimaksudkan sebagai saluran pembuangan darah di rongga dada saat dilakukannya operasi CABG. Sesuai prosedurnya, pada H+1 (sehari setelah tindakan operasi) saya pun diminta untuk berlatih duduk di kursi di ruang ICCU (Intensive Coronary Care Unit: ruang perawatan intensif pasien jantung yang serius).
Bahkan saya kemudian sempat mencoba untuk berjalan di lorong ICCU tersebut. Keberhasilan berjalan di H+1 merupakan peristiwa pertama kalinya bagi pasien CABG yang dirawat di ICCU selama itu. Hal itu mempercepat ijin kepindahan saya ke ruang perawatan biasa di H+2, sambil mendapat transfusi darah sebanyak 1 kantung.

Transfusi darah yang bertujuan menaikkan kadar Hb (hemoglobin) saya, setelah sempat mengeluarkan banyak darah selama operasi, ternyata menjadi alat penyingkapan 2 aspek diri saya yang tidak diperkenan Tuhan. Nilai Hb yang normalnya akan naik setelah dilakukan transfusi darah, ternyata malah turun nilainya.
Sempat terjadi semacam kekalutan dan kebingungan atas anomali tersebut bagi beberapa dokter yang terlibat dalam kasus medis saya. Tuhan memakai anomali itu untuk menyingkapkan 2 hal bagi saya.
- Di bawah sadar, kebanggaan diri saya atas pemecahan rekor mampu berjalan di H+1, sangat rentan menjadi bibit kesombongan diri yang tidak diperkenan Tuhan. Tuhan lah yang telah beranugerah memampukan saya melakukannya, sehingga hanya Tuhan yang harus dimuliakan.
Jadi, sekarang kamu yang berkata, “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung”, … Sebenarnya kamu harus berkata, “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.” Namun, sekarang kamu memegahkan diri dalam kecongkakanmu, dan semua kemegahan yang demikian itu jahat. [Yak. 4:13, 15-16. LAI TB2]
- Merujuk pada dokter yang merawatnya sebagai dokter yang layak diandalkan kemampuannya dalam menangani masalah kesehatan tertentu dengan sukses, merupakan kecenderungan manusiawi. Padahal Tuhan tidak berkenan bila manusia mengandalkan sesama manusia lainnya.
Beginilah firman TUHAN, “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang bersandar pada kekuatan manusia fana, dan yang hatinya menjauh dari TUHAN! Ia akan seperti semak gundul di padang belantara, ia tidak akan melihat datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di tanah tandus di padang gurun, di padang garam yang tidak berpenduduk. Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang mempercayakan dirinya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang menambatkan akar-akarnya ke tepi sungai, dan tidak takut akan datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak khawatir dalam tahun kekeringan, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah. [Yer. 17:5-8. LAI TB2]

Jadi, Tuhan telah berbaik hati mengijinkan munculnya kasus anomali hasil transfusi darah pada saya untuk melepaskan saya dari “Jebakan Batman”.
Apa yang dipandang sebagai hal biasa dalam kedua poin di atas, sebenarnya berpotensi menyebabkan masalah dosa yang beresiko mencelakakan manusia. Kebaikan Tuhan itu, telah menginspirasi Daud, raja kesayangan umat israel kuno, untuk melantunkan pujiannya.
TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya. [Mzm. 37:23-24. LAI TB2]
Masalah anomali transfusi darah, berlanjut dengan demo kebaikan Tuhan pada transfusi berikutnya. Para dokter yang terlibat dalam kasus medis saya, bersepakat untuk memberikan transfusi darah lanjutan sebanyak 2 kantung, sambil menunggu hasilnya.
Pelaksanaan transfusi lanjutan itu berlangsung di malam hari, sehingga kantung kedua ditransfusikan hingga dini hari. Wajarlah bila saya akan tertidur saat kantung kedua itu ditransfusikan, dan keterbatasan perawat tidak memungkinkan untuk menungguinya hingga selesai. Hal itu dapat menimbulkan keterlambatan perawatan jika diperlukan. Dalam kekuatiran, saya hanya dapat berdoa meminta pertolongan Tuhan bagi amannya proses transfusi darah itu.
Menjelang dini hari, entah bagaimana, saya terbangun dan tersadar sepenuhnya. Saat itu saya melihat bahwa darah yang ditransfusikan telah merupakan tetes-tetes terakhir sebelum habis. Saya segera menekan tombol bantuan untuk memanggil perawat, karena sangat berbahaya jika saluran transfusi darah tetap terbuka setelah darah yang ditransfusikan habis total. Hal itu dapat menyebabkan beberapa resiko serius, seperti infeksi, reaksi alergi, ataupun komplikasi kardiovaskular. Apa yang tidak dapat saya lakukan sendiri, telah dilakukan oleh Tuhan yang maha baik.
Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang pertolonganku? Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi. Ia takkan membiarkan kakimu goyah, Penjagamu tidak akan terlelap. Sesungguhnya tidak terlelap dan tidak tertidur, Penjaga Israel. TUHANlah Penjagamu, TUHANlah naunganmu di sebelah tangan kananmu. Matahari tudak akan menyakiti engkau pada waktu siang, dan bulan pada waktu malam. TUHAN akan menjaga engkau terhadap segala bahaya; Ia akan menjaga nyawamu. [Mzm. 121:1-7. LAI TB2]
Akhirnya, transfusi ketiga itu telah menaikkan nilai Hb saya. Menariknya, nilainya persis merupakan nilai terendah yang disyaratkan oleh dokter untuk memberikan ijin pulang bagi saya. Kembali hal itu menunjukkan dan mendemokan kebaikan Tuhan bagi saya.
Ada satu peristiwa yang sangat berkesan di hati saya, saat masih di kamar perawatan rumah sakit. Dokter bedah saya telah berpesan kepada saya untuk berupaya memakan hidangan yang disediakan, karena akan menghadapi tantangan berupa masalah selera makan.

Awalnya saya mengira bahwa selera makan akan berkurang. Namun ternyata di masa awal setelah CABG itu, selera makan saya hilang sama sekali. Bukan karena hidangan yang disajikan itu sama sekali tidak ada rasanya, melainkan karena nafsu makan saya sepenuhnya tidak ada. Tidak saya sangka, operasi bypass jantung akan berdampak sedemikian.
Di saat itulah, Tuhan menyingkapkan satu hal yang menggentarkan hati saya sedemikian rupa. Satu hal yang menggambarkan keterlukaan “jantung” Tuhan dan dampaknya.
TUHAN melihat betapa besarnya kejahatan manusia di bumi, dan segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata. Lalu TUHAN menyesal bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hatinya. Berfirmanlah TUHAN, “Aku akan menghapuskan manusia yang telah Kuciptakan itu dari muka bumi, baik manusia maupun hewan, binatang-binatang melata dan burung-burung di udara, sebab Aku menyesal bahwa Aku telah menjadikan mereka.” [Kej. 6:5-7. LAI TB2]
Bandingkan betapa kontrasnya ayat di atas dengan ayat berikut:
Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh sangat baik. Lalu jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam. [Kej. 1:31. LAI TB2]
Saya yang semula termasuk penikmat makanan dan menganut prinsip 3-h (haram-halal-habiskan), saat mengalami “sakit jantung” yang serius, ogah melihat makanan, apalagi menyantapnya. Padahal makanan yang disiapkan dan disajikan itu cukup menarik kelihatannya dan cukup sedap rasanya.

Apabila mengaitkan dengan penyingkapan firman Tuhan di atas, saya mengakui keberdosaan saya. Harus diakui bahwa prinsip 3-h yang saya banggakan itu, memoles dan menyembunyikan “nafsu rakus” yang tercela.
Segerombolana orang {(NIV/ESV: the rabble) = (LAI TB1: orang-orang bajingan)} yang ada di antara mereka sangat menginginkan daging (LAI TB1: kemasukan nafsu rakus); dan orang Israel pun menangis serta berkata, “Siapakah yang akan memberi kita makan daging?… Selagi daging itu ada di mulut mereka, sebelum dikunyah, menyalalah murka TUHAN terhadap bangsa itu dan TUHAN memukul bangsa itu dengan suatu tulah yang sangat besar. Itulah sebabnya tempat itu dinamai Kibrot Ta’awa. Karena di sanalah dikuburkan orang-orang yang sangat menginginkan daging (LAI TB1: bernafsu rakus). [Bil. 11:4, 33-34. LAI TB2]
Tersirat dalam ayat di atas bahwa sangat mungkin orang-orang yang sangat menginginkan daging itu, memakannya dalam keadaan tidak cukup matang, sehingga ada darahnya pada daging itu. Hal itu jelas melanggar batasan Tuhan.
Prinsip 3-h itu jelas berlawanan dengan prinsip 3-j (jenis-jumlah-jarak) yang lebih selaras dengan batasan Tuhan. Keberdosaan itu menyebabkan Tuhan “sakit jantung” melihat saya. Sesungguhnya saya pantas untuk dilenyapkan oleh murka Tuhan.
Namun sebagaimana Nuh yang mendapatkan kemurahan hati Tuhan (Kej. 6:8), saya masih mendapatkan kesempatan kedua. Selain Nuh, ada tokoh lain dalam Alkitab yang juga dicatat mendapat kesempatan kedua dari Tuhan (2 Raj. 20:5-6). Tokoh itu merupakan raja Yehuda, keturunan raja Daud, yaitu Hizkia bin Ahas (2 Raj. 18:1, 3).
Berkenaan dengan kesempatan kedua, ada catatan penting yang dapat menjadi pengingat bagi siapa pun yang juga mendapatkan kesempatan kedua, misalnya para penyintas bypass jantung seperti saya.
- Nuh mengalami “mabuk anggur”. Kebun anggur Nuh merupakan hasil karya inovatif Nuh, dan dapat dikatakan sebagai kesuksesan “karier-kedua” Nuh. Anggur sendiri bila diminum dalam takaran “secukupnya” akan dapat menjadi “obat”. Namun bila diminum secara “berlebihan” akan dapat memabukkan, dan mudah mendorong kelakuan yang memalukan diri sendiri.
Nuh menjadi pengolah tanah; dialah yang mula-mula membuat kebun anggur. Setelah minum anggur, ia mabuk dan telanjang dalam kemahnya. [Kej. 9:20-21. LAI TB2]
Janganlah lagi minum air saja, melainkan tambahkanlah anggur sedikit, berhubung pencernaanmu terganggu dan tubuhmu sering lemah. [1 Tim. 5:23. LAI TB2]
- Hizkia mengalami “mabuk pujian”. Berita sembuh totalnya penyakit Hizkia yang disertai tanda mundurnya “jam Ahas” secara spektakular, mengundang kekaguman banyak pihak. Bahkan raja Babel yang berjarak jauh pun mengirim utusan dengan surat pribadi dan paket hadiah. Sayang sekali, kesempatan itu tidak dipakai Hizkia untuk memuliakan Tuhan. Hizkia menjadikannya ajang pamer kekayaan materi dan semua atribut kejayaannya sendiri (2 Raj. 20:12-13). Hiskia kebablasan dalam memilih objek kemegahan dirinya.
Beginilah firman TUHAN, “Janganlah orang bijaksana bermegah atas kebijaksanaannya, janganlah orang kuat bermegah atas kekuatannya, janganlah orang kaya bermegah atas kekayaannya. Namun, siapa yang mau bermegah, baiklah ia bermegah atas hal ini: bahwa ia memahami dan mengenal Aku, bahwa Akulah TUHAN yang menunjukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran di bumi; sungguh, semuanya iu Kusukai, demikianlah firman TUHAN.” [Yer. 9:23-24. LAI TB2]
Para dokter yang terlibat menangani bypass jantung, memberi informasi kepada para penyintasnya, bahwa “kami” akan mendapatkan kondisi fisik yang berusia lebih muda 20 tahun. Secara logika sederhana, mungkin hal itu disebabkan karena jantung mendapat pasokan “nutrisi” tanpa hambatan lagi, sehingga menjadi jauh lebih “sehat”. Jantung yang sehat, jelas akan berdampak pada organ-organ tubuh lainnya yang akan menjadi lebih sehat pula.
Realitas itu akan mudah menjadi “Jebakan Batman” apabila dijadikan sebagai objek memegahkan diri, alih-alih memegahkan Tuhan yang telah berbaik hati memberikan kesempatan kedua. Nuh dan Hizkia yang dicatat sebagai 2 tokoh istimewa yang awalnya bergaul “dekat” dengan Tuhan, menjadi pengingat bahwa siapapun dapat tersandung oleh “Jebakan Batman” ini.
Periode dwiwulan paska CABG, menjadi ajang latihan untuk bergantung dan beriman kepada Tuhan, dan latihan untuk tunduk kepada natur diri sebagai ciptaan yang harus berproses, serta latihan untuk mencermati dan menikmati berkat-berkat harian Tuhan. Sarana latihannya berupa kondisi kesehatan, kebugaran, bahkan kesakitan “tubuh” yang naik-turun.
Tidak berlebihan apabila hal ini mengingatkan akan bagian Kitab Ratapan dalam Alkitab, yang diyakini sebagai curahan hati dari Nabi Yeremia.
Tetapi, inilah yang kuperhatikan, sebab itu aku berharap: Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi, besar kesetiaan-Mu! “TUHANlah bagianku,” kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya. TUHAN itu baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia. Baiklah menanti dengan diam pertolongan TUHAN. [Rat. 3:21-26. LAI TB2]
Kebaikan Tuhan yang dapat dipercayai, menjadi penghibur tatkala sedang down, dan menjadi sumber sukacita tatkala sedang up. Itulah yang memampukan umat Tuhan untuk melakukan ajakan demikian:
Bersukacitalah senantiasa. Tetaplah berdoa. Ucapkanlah syukur dalam segala hal. Sebab, itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu. [1 Tes. 5:16-18. LAI TB2]
Sebuah lagu pujian kristiani juga dapat menjadi pujian yang cocok dilantunkan dalam periode pemulihan ini. Lagu itu berjudul “Hari-Hari Kulalui” yang diproduksi oleh Maranatha Indonesia, dan dilantunkan salah satunya oleh Letjie Sampingan. Syair lagu ini mengajak untuk menapaki hidup harian bersama Sang Juru Selamat.
Hari-hari kulalui bersama Yesus
Suka duka kujalani bersama Yesus
Persoalan pencobaan ‘kan kuhadapi
Bersama Yesus Juru s’lamatku
Ada banyak suka duka saat menjalani proses pemulihan ini. Namun ada kepastian penyertaan dan penyelesaian sempurna dari Tuhan. Natur Tuhan yang tidak berubah karena Tuhan bebas dari semua batasan dimensi ciptaan, memastikan prinsip keberlangsungan karya-Nya di dunia.
Mengenai hal ini aku yakin bahwa Ia yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai akhirnya selesai pada hari Kristus Yesus. [Flp. 1:6. LAI TB2]
Proses pemulihan yang bertahap, telah dibuktikan melalui hasil pengukuran staf rehab medis atas saturasi oksigen dan denyut nadi serta tekanan darah saat melakukan treadmill. Nilainya dapat dianggap cukup menggambarkan kondisi pemulihan organ-organ penting tubuh, yang berdampak pada kebugaran tubuh.
Juga ditambah dengan kondisi klinis yang baik, misalnya kaki yang makin jarang dan sedikit bengkaknya, wajah yang lebih segar, ataupun fisik yang lebih bugar. Semua itu dikonfirmasi pula oleh para dokter yang mengijinkan untuk melakukan aktifitas normal layaknya orang sehat, sambil terus diobservasi kesehatannya.
Memang gaya hidup sehat masih harus terus dilakukan secara harian. Namun kesempatan kedua yang telah diterima, sama sekali tidak bertanggung jawab bila disepelekan atau disalah-gunakan.
Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. [Gal. 6:7. LAI TB2]
Sebab, jika kita sengaja berbuat dosa, sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak ada lagi kurban untuk menghapuskan dosa itu. [Ibr. 10:26. LAI TB2]
Ayat-ayat Alkitab di atas memang memiliki makna esensial yang lebih terkait dengan keselamatan kekal. Namun prinsip sederhananya juga berlaku bagi keseharian hidup di saat kini di dunia.
Semoga Tuhan berkenan menyertai dan memimpin perjalanan hidup ke depannya. Terpujilah Tuhan!
