
Kaum remaja dan muda/i Indonesia tahun 80-an rasanya tidak asing dengan lagu berjudul “Hari-Hari“.
Lagu ciptaan Oetje F. Tekol ini di rilis tahun 1978 oleh PT. Mustika Studio’s dan dinyanyikan oleh Gito Rollies. Cuplikan awal syairnya berbunyi demikian:
Hari-hari datang dan pergi. Dan kemarin bukan hari ini.
Yang tlah berlalu, biar berlalu. Nikmatilah…., hari ini.
Hari-hari datang dan pergi. Hari esok bukan hari ini.
Yang akan datang, biarlah datang. Nikmatilah…, hari ini.
Ada kebenaran dalam syair lagu itu, walau pesannya seolah lebih bernuansa untuk mendorong meraih kenikmatan hidup di hari ini. Bila pesan itu yang ditangkap oleh pendengarnya, maka hedonisme akan menemui pembenarannya.
Masyarakat Indonesia sendiri disinyalir merupakan salah satu kaum mager tertinggi di dunia. Di lain pihak, kekayaan kuliner nusantara sangat menggoda untuk dinikmati. Nah… di sini lah awal latar belakang kesaksian pribadi yang akan saya tuliskan berdasarkan iman kristiani. Tentu saja, sebagai suatu kesaksian pribadi, tidak semua orang mengalaminya, walaupun mungkin saja ada bagian mirip yang dapat dialami oleh orang lain dalam kisah pribadinya sendiri.

Makanan jasmani merupakan salah satu aspek penting penunjang kehidupan manusia. Makanan itu akan menjadi sumber bahan bakar yang diperlukan manusia untuk beraktifitas serta pembaruan sel-sel tubuhnya. Tuhan sendiri telah menyediakan karunia makanan bagi manusia, sebelum menciptakan manusia.
Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Berfirmanlah Allah, “lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuhan yang menghasilkan biji di seluruh muka bumi dan segala pohon yang buahnya berbiji. Semua itu menjadi makananmu.” [Kej. 1:27, 29. LAI TB2]
Makanan yang dikaruniakan Tuhan bagi manusia, bukan saja bermanfaat bagi tubuh jasmaninya, namun juga menggugah selera, yaitu baik untuk dimakan dan menarik untuk dipandang (Kej. 3:8a).
TUHAN Allah membuat taman di Eden, di timur. Di sanalah Ia menempatkan manusia yang dibentuk-Nya. TUHAN Allah menumbuhkan dari tanah berbagai pohon yang menarik dan baik untuk dimakan buahnya,… Lalu TUHAN Allah memberi perintah kepada manusia, firman-Nya, “Buah dari semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan dengan bebas,…” [Kej. 2:8-9a, 16. LAI TB2]

Perlu diingat bahwa kebebasan menyantap makanan jasmaniah itu bukanlah kebebasan tanpa batasan. Sejak semula, Tuhan tidak pernah bermaksud memberikan kebebasan tanpa batas itu bagi manusia untuk memuaskan nafsunya. Ada berkat jasmaniah, namun juga ada batasan yang ditetapkan Tuhan.
Lalu TUHAN Allah menumbuhkan dari tanah berbagai pohon yang menarik dan baik untuk dimakan buahnya, juga pohon kehidupan di tengah-tengah taman itu serta pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Lalu TUHAN Allah memberi perintah kepada manusia, firman-Nya, “Buah dari semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan dengan bebas, tetapi buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, jangan kaumakan, sebab pada saat engkau memakannya, engkau pasti mati.” [Kej.2:9, 16-17. LAI TB2]
Batasan itu sendiri nampaknya dimaksudkan agar manusia itu mengingat Tuhan dengan hidup menaati hukum-hukum-Nya, bukan sekedar memuaskan minatnya sendiri yang melanggar hukum Tuhan.
Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Musa, “Sesungguhnya Aku akan menurunkan hujan roti dari langit bagimu. Bangsa itu akan keluar dan memungut secukupnya untuk sehari, supaya mereka Kuuji, apakah merka hidup menurut hukum-Ku atau tidak. [Kel. 16:4. LAI TB2]
Perempuan itu melihat bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan menarik untuk dipandang. Lagi pula, pohon itu diminati karena memberi pengertian. Lalu ia memetik buahnya dan memakannya. Ia memberikannya juga kepada suaminya yang bersamanya, dan suaminya pun memakannya. [Kej. 3:6. LAI TB2]

Tuhan bahkan kemudian memperluas jenis bahan pangan yang dapat dikonsumsi oleh manusia. Apabila sebelumnya daging hewan tidak termasuk dalam bahan pangan tersebut, setelah peristiwa banjir di jaman Nuh maka daging hewan diijinkan Tuhan untuk menjadi salah satu bahan pangan manusia.
Segala binatang liar, segala burung di udara, segala binatang yang bergerak di bumi, dan segala ikan di laut akan takut dan gentar kepadamu. Ke dalam tanganmulah semuanya itu diserahkan. Segala yang bergerak, yang hidup, akan menjadi makananmu. Aku telah memberikan semuanya itu kepadamu seperti juga tumbuh-tumbuhan hijau. Hanya daging yang masih bersama darahnya, yakni nyawanya, janganlah kamu makan. [Kej. 9:2-4. LAI TB2]
Sekali lagi, kebebasan yang diperluas ini pun ada batasannya, yakni jenis mengolahnya. Bukan hanya jenisnya, ternyata juga ada batasan pada aspek jumlah santapannya. Prinsip mengambil dan menyantap makanan secukupnya, menjadi batasan jumlah makanan yang ditetapkan Tuhan bagi manusia. Prinsip itu telah dinyatakan Tuhan pada saat menjanjikan pencurahan roti manna di jaman Musa (Kej. 16), dan disiratkan dalam doa yang diajarkan Tuhan Yesus bagi murid-murid-Nya.
Berilah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya. [Mat. 6:11. LAI TB2]

Para pemilik kendaraan bermotor tentu tidak asing dengan bensin maupun olie mesinnya. Keduanya diperlukan untuk memastikan kelancaran penggunaan kendaraan itu. Ternyata baik bensin maupun olie mesinnya juga memiliki batasan jenis maupun jumlahnya, sesuai dengan spesifikasi yang ditetapkan produsen kendaraan tersebut.
Bukan hanya itu, kapan waktu pengisiannya juga ada masanya. Semuanya itu harus diperhatikan dan ditaati oleh pengguna kendaraan tersebut.
Demikian pula dengan manusia. Tuhan sebagai penciptanya, telah menetapkan jenis, jumlah, dan jarak aman bagi manusia untuk makan. Manusia harus mengingat dan menaatinya agar tubuh jasmaninya berfungsi optimal. Sayangnya pemenuhan nafsu makan yang serakah, nampaknya lebih diminati.

Pola makan sehat yang banyak didengungkan, sama sekali disepelekan. Prinsip 3-j (jenis-jumlah-jarak) diganti dengan slogan 3-h (halal-haram-habiskan). Urusan makan menjadi urusan lidah. Kenikmatan yang dikecap lidah menjadi pilihan utama. Dampak negatif asupan makanan itu bagi tubuh, menjadi urusan kesekian. Bukankah manusia perlu menikmati hidupnya di hari ini?
Apabila keserampangan pola makan ini didukung oleh kemalasan bergerak, jadilah kolaborasi gaya hidup tidak sehat. Kehidupan yang tidak lepas dari masalah hidup, juga berkontribusi pada timbulnya stress bagi manusia. Kombinasi ketiganya menjadi aspek nyaris sempurna bagi pola hidup tidak sehat. Kondisi ini biasanya akan berlangsung tahunan, sehingga menimbun penyakit dalam tubuh jasmani.
Salah satu penyakit akibat gaya hidup tidak sehat yang makin popular saat ini adalah “penyakit jantung” yang serangannya dapat mematikan. Sebenarnya penyakit ini lebih tepat disebut sebagai penyakit pembuluh darah arteri jantung (CAD: Coronary Artery Disease), yaitu penumpukan plak yang menyumbat pembuluh darah tersebut.
Celakanya, penyakit ini biasanya tidak terdeteksi karena ada pada organ bagian dalam tubuh yang tidak langsung terlihat mata. Prosesnya yang berlangsung tahunan juga menjadi faktor terabaikannya kontrol pencegahannya. Hanya melalui pengecekan medis tertentulah, dapat didiagnosa kondisinya oleh dokter yang berkompeten. Salah satu indikator yang dapat dijadikan acuan adalah nilai kalsium (Calcium Score) pembuluh darah jantung. Batas nilai tertingginya secara umum adalah di angka 400. Di atas nilai itu, sudah menjadi kasus luar biasa.
Segala narasi di atas itu menjadi latar belakang kesaksian kebaikan Tuhan bagi saya.

Semua aspek yang disebutkan di atas sebagai aspek pembentuk gaya hidup tidak sehat itu saya lakukan selama tahunan. Dampak negatifnya yang tidak langsung saya rasakan, membuat saya abai atas semua peringatan yang ada, baik itu oleh isteri maupun oleh dokter, atau oleh berbagai tayangan kesehatan yang marak di berbagai media tayang maupun sosial.
Tanpa saya sadari, Tuhan terus beranugerah menopang hidup saya dan memampukan saya melakukan aktifitas harian secara “normal.” Kenormalan itu pun saya bandingkan dengan orang lain yang saya kenal, yang secara penilaian fisik melalui inderawi awam, saya anggap lebih buruk kondisi kesehatannya daripada saya. Hal itu makin membuat saya abai atas semua peringatan yang diberikan, dan tetap melanjutkan gaya hidup tidak sehat itu secara menyeluruh.
Rupanya, Tuhan beranugerah melalui cara lain berikutnya. Setelah melalui penolakan dengan berbagai alasan atas dorongan isteri pada saya untuk melakukan General MCU (Medical Check Up), tibalah saatnya saya tidak dapat menghindar lagi. Dapat ditebak, hasil MCU itu mengindikasikan saya terkena “sakit jantung.” Diputuskan untuk melakukan pemeriksaan lanjutan, dan echo (TTE: Transthoracic Echocardiogram) pun dilakukan.
Kebaikan Tuhan dinyatakan dengan hasil echo yang menegaskan kondisi jantung saya masih berfungsi normal dengan relatif sedikit gangguan. Kelak kondisi jantung inilah yang menjelaskan mengapa saya masih dapat beraktifitas “normal” walaupun sesungguhnya penyakit pembuluh darah jantung saya (CAD) itu parah kondisinya.
Kontras antara hasil test Treadmill (ECG: Electrocardiogram) yang buruk dengan hasil test echo yang relatif baik, mendorong saya untuk melanjutkan test berikutnya, yaitu CT Scan Angiografi Contrast dan pengecekan Calcium Score. Di atas telah saya sebutkan bahwa nilai 400 merupakan batas tertinggi Calcium Score secara umum.
Nilai saya ternyata lebih dari 1800, yang berdampak pada tidak mudah terbacanya sumbatan pembuluh darah jantung saya dari hasil CT Scan nya. Hampir pasti ada sumbatan yang lebih dari satu, namun tidak jelas berapa sumbatan yang ada dan seberapa parah prosentase sumbatannya. Harus dilakukan kateterisasi jantung bila ingin mengetahuinya secara lebih tepat. Tindakan kateterisasi ini awalnya sempat terhalang karena alasan prosedural tertentu yang berkaitan dengan pembiayaannya, sehingga saat itu saya batal melakukan kateterisasi itu.
Saya bertekad untuk kembali melakukan pola gaya hidup sehat secara ketat, seperti yang pernah saya lakukan saat masa covid melanda. Awalnya sih saya sempat merasa marah karena masalah pembiayaan tersebut, di samping anggapan bahwa Tuhan toh bisa bermujizat menyembuhkan saya sambil saya melakukan bagian tanggung jawab saya melakukan gaya hidup sehat. Kegiatan itu saya lakukan selama sekitar 9 bulan.
Ternyata bentuk anugerah Tuhan bukanlah kesembuhan seperti yang saya harapkan. Aktifitas gaya hidup sehat lewat jaga 3-j asupan makanan, tekun jalan pagi 3-5 kali seminggu @4-4,5 km, tidur cukup dan kelola stress, pencapaian dan penjagaan IMT (Indeks Massa Tubuh) ideal, diberkati Tuhan untuk kelancaran proses bypass jantung (CABG: Coronary Artery Bypass Graft) dan pemulihannya kelak. Ada waktu-Nya yang lebih baik, melampaui pertimbangan pikiran manusia.
Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya. Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir. [Pkh. 3:1, 11. LAI TB2]
Sebelum masa 9 bulan percobaan gaya hidup sehat itu berakhir, saya telah merencanakan untuk melakukan test ulang Calcium Score dan CT Scan Angiografi karena ada rumah sakit yang menawarkan diskon khusus untuk test kesehatan jantung tersebut. Sebelum hal itu terlaksana, saya telah mengalami beberapa pengalaman fisik yang menunjukkan tanda-tanda “nyaris terkena serangan jantung.”
Pengalaman itu menegaskan adanya kebaikan Tuhan yang meluputkan saya dari serangan jantung yang dapat mematikan itu. Tuhan telah beranugerah memperpanjang umur saya. Tidak lama setelah pengalaman tersebut, kami memutuskan untuk memeriksakan diri saya ke dokter jantung.
Berbagai pertimbangan logis manusiawi telah kami lakukan dalam memilih dokter dan rumah sakit yang akan melakukan pemeriksaan tersebut. Satu demi satu pertimbangan itu gagal karena satu dan lain hal, sampai akhirnya kami memutuskan untuk mempercayakan dan menyerahkan pada pimpinan dan kehendak Tuhan saja.
Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui, berserulah kepada-Nya selama Ia dekat! Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya. Baiklah ia kembali kepada TUHAN, maka Dia akan menyayanginya, dan kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengampunan dengan limpahnya. Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit ari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu. [Yes. 55:6-9. LAI TB2]
Akhirnya setelah lewat jalan berliku yang menempa dan menguji iman, kami dijadwal untuk dilakukan kateterisasi jantung oleh seorang dokter jantung yang kami imani sebagai pilihan Tuhan. Apabila 9 bulan sebelumnya gagal, kali ini proses pembiayaannya berlangsung dengan cukup lancar sehingga kateterisasi dapat dilakukan sesuai jadwalnya, berikut kamar rawat inap yang lebih baik.
Ternyata hasil kateterisasi jantung tersebut menegaskan CAD saya sangat bermasalah, minimal ada 7 sumbatan yang signifikan di pembuluh jantung utama (CAD 3VD+LM), bahkan ditengarai ada 1 sumbatan yang secara medis dinilai sudah sebesar 99%. Kondisi ini menegaskan betapa limpah kebaikan Tuhan bagi saya secara pribadi dan bagi kami sekeluarga, sehingga selama ini saya masih dimampukan beraktifitas secara “normal.”
Belum lagi ada banyak pengapuran sehingga perlu “di-bor” saat pemasangan ring jantung, sehingga resiko medisnya sangatlah besar. Akhirnya dokter jantung tersebut, secara profesional medis, menyarankan untuk dilakukan tindakan bypass jantung (CABG) dengan merujuk pada salah satu dokter bedah toraks dan vaskuler rekanannya. Keterbukaan dokter tersebut membuktikan bahwa jalan dan pimpinan Tuhan yang maha baik, pastilah merupakan rancangan yang tepat.
Sebab, Aku mengetahui rancangan-rancangan yang Kupikirkan mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan malapetaka, untuk memberikan kepadamu masa depan yang penuh harapan. Ketika kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku, Aku akan mendengarkan kamu, ketika kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku, ketika kamu mencari Aku dengan segenap hati, Aku akan berkenan kamu temukan, demikianlah firman TUHAN,… [Yer. 29:11-14a. LAI TB2]
Waktu yang dijadwalkan untuk pelaksanaan CABG itupun dalam kerangka rancangan Tuhan. Sebenarnya waktu yang diminta oleh dokter rujukan kami itu, telah didaftarkan untuk jadwal operasi orang lain. Namun ternyata dokter yang akan menanganinya sedang berhalangan sehingga dilakukan penjadwalan ulang bagi orang tersebut. Itu sebabnya kami dapat dicatat di jadwal yang sesuai dengan kesiapan dokter rujukan kami.
Itupun cukup singkat waktunya untuk pengurusan ijin pendanaannya, dan dapat disetujui tepat waktu yang diperlukan. Ada jeda waktu tertentu yang dibutuhkan untuk mengganti jenis obat pengencer darah bagi saya, agar mencegah terjadinya pendarahan saat CABG. Semua ketepatan itu menegaskan kebaikan Tuhan saja.
Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, turun dari Bapa segala terang. Pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran. [Yak. 1:17. LAI TB2]
Segala kemuliaan hanyalah bagi Tuhan (Soli Deo Gloria)! Terpujilah Tuhan!
