
Berwisata memang mengasikkan, apalagi bila tempat wisatanya dikelola dengan baik. Alam Indonesia umumnya memiliki banyak keindahan yang memikat sehingga menarik banyak wisatawan untuk mengunjunginya. Belum lagi bila didukung oleh kekayaan budaya dan kuliner lokalnya yang dikelola dengan baik. Umumnya tempat wisata alam berlokasi di luar kota besar. Kami pernah berwisata ke tempat wisata alam itu di bulan puasa. Pada jam makan siang, kami tidak menemukan adanya tempat makan yang buka sepanjang perjalanan seputar tempat wisata. Akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke kota besar terdekat sambil menahan lapar.
Pengalaman ini menolong saya untuk sedikit mampu membayangkan kondisi umat Israel kuno saat berada di padang gurun selepas dari perbudakan di Mesir. Tayangan di tv menegaskan sulitnya menemukan makanan di padang gurun, apalagi dalam jumlah besar bagi sekian banyak umat Israel saat itu. Piramida kebutuhan manusia yang disajikan oleh Abraham Maslow menempatkan makanan sebagai salah satu kebutuhan hidup paling dasar bagi manusia.
Naskah Alkitab mencatat bahwa Allah memahami kebutuhan itu dan memenuhinya lewat pencurahan manna (Kel. 16, Bil. 11). Tidak ada satu pun orang Israel yang pernah melihat makanan itu, apalagi mencicipinya. Tidak lah mengherankan, karena makanan itu merupakan roti sorga, roti para malaikat.
Ketika orang Israel melihatnya, mereka bertanya seorang kepada yang lain. “Apa itu?” sebab mereka tidak tahu apa itu. Tetapi, Musa berkata kepada mereka, “Itu roti yang diberikan TUHAN kepadamu menjadi makananmu.” [Kel. 16:15. LAI TB2]
Nenek moyang kami telah makan manna di padang gurun, seperti ada tertulis: Mereka diberi-Nya makan roti dari sorga. [Yoh. 6:31. LAI TB2]

Ia pun memerintahkan awan-awan dari atas, membuka pintu-pintu langit, menurunkan kepada mereka hujan manna untuk dimakan, dan memberikan kepada mereka gandum dari langit; setiap orang telah makan roti malaikat, Ia mengirim makanan kepada mereka berlimpah-limpah. [Mzm. 78:23-25. LAI TB2]
Ada beberapa pokok penting yang tersurat dalam narasi tentang roti manna itu, yaitu:
- Roti itu merupakan anugerah pemberian Tuhan semata (Kel. 16:15).
- Roti itu harus dipungut dan diolah agar siap santap (Kel. 16:16-17, 23; Bil. 11:8).
- Roti itu diperuntukkan sama rata bagi siapa pun dan sesuai dengan keperluan seisi rumahnya (Kel. 16:16-18).
- Ada batas waktu tertentu bagi pengadaan roti itu setiap harinya (Kel. 16:13b-14, 21), serta hanya bertahan satu hari kecuali sebelum hari sabat yang merupakan hari untuk beristirahat (Kel. 16:18-19, 22-24).
Pokok-pokok penting itu mengajarkan prinsip-prinsip berikut:
- Berkat pemeliharaan Tuhan itu berlaku sama dan cukup bagi setiap orang. Hal ini mencerminkan natur keadilan Tuhan.
- Manusia tetap wajib berusaha meraih dan mengolah berkat Tuhan tersebut. Hal ini sejalan dengan prinsip kerja providensia Tuhan bagi ciptaan-Nya, yaitu mengaruniakan kemampuan, menopang penggunaannya, memerintah daya upaya penggunaannya hingga akhir.
- Manusia perlu bergantung setiap hari kepada Tuhan bagi pemeliharaan hidupnya. Hal ini untuk membuat manusia tetap rendah hati dan mengakui kebaikan Tuhan dalam hidupnya.
- Manusia tidak boleh menyepelekan periode dari waktu (kairos) curahan berkat Tuhan agar optimal meraihnya. Hal ini mendorong manusia agar tetap mengarahkan hati kepada Tuhan.
Pentingnya makanan guna menunjang hidup manusia tidaklah dapat dibantah, namun sikap manusia atas makanan itupun sangatlah penting. Ada pedoman sederhana dalam menyikapinya secara sehat, yaitu 3-j (jenis, jumlah, jarak). Menu dan cara mengolah makanan dirangkumkan dalam jenis makanan. Porsi makanan yang disantap tiap waktu makan dipahami sebagai jumlah makanan. Selang waktu antar waktu makan merupakan jarak makanan. Saat ini telah makin banyak ulasan tentang batas sehat dari ketiga elemen tersebut yang ditayangkan lewat berbagai platform media komunikasi.

Sayangnya, nafsu makan berlebih yang diistilahkan dengan kerakusan, menjerat banyak orang yang terbelenggu olehnya.
“Makan untuk Hidup” dan bukannya “Hidup untuk Makan” lah yang sepatutnya menjadi slogan pegangan sikap manusia atas makanan. Kerakusan berdampak buruk bagi kesehatan tubuh jasmani manusia. Hal itu tersirat dalam poin tentang makan yang ada dalam doa yang diajarkan Yesus kepada murid-murid-Nya.
Berilah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya [Mat. 6:11. LAI TB2]

Berilah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya [Luk. 11:3. LAI TB2]
Alkitab mencatat bahwa manusia diciptakan sebagai keberadaan kesatuan elemen jasmani dan rohani, sebagai kesatuan psikosomatis (psiko = jiwa/roh; soma = fisik/daging). Keberadaan kesatuan dua elemen inilah yang mengklasifikasikan manusia sebagai makhluk hidup di mata Tuhan.
Kemudian TUHAN Allah membentuk manusia dari debu tanah, dan menghembuskan napas hidup ke dalam hidungnya. Demikianlah manusia itu menjadi makhluk hidup. [Kej. 2:7. LAI TB2]
Keberadaan tersebut menyebabkan makanan tidaklah hanya penting bagi tubuh jasmani saja, melainkan juga penting bagi tubuh jiwani/rohani. Kerakusan yang merupakan jenis pemuasan nafsu kedagingan/jasmaniah belaka, merupakan penghinaan karya Tuhan yang menciptakan manusia sebagai kesatuan dua elemen jasmaniah dan rohaniah. Bukan itu saja, kerakusan berujung pada pengingkaran akan kecukupan pemeliharaan Tuhan. Hal itu merupakan kekejian di mata Tuhan dan membangkitkan amarah-Nya.
Suatu ketika bangsa itu bersungut-sungut di hadapan TUHAN tentang kemalangan mereka. Mendengar itu menyalalah murka TUHAN. Lalu api TUHAN menyala di antara mereka dan melahap tepi perkemahan. Segerombolan orang yang ada di antara mereka sangat menginginkan daging; dan orang Israel pun menangis serta berkata, “Siapakah yang akan memberi kita makan daging? Kita teringat pada ikan yang kita makan di Mesir tanpa bayar, pada mentimun, semangka, bawang prei, bawang merah, dan bawang putih. Tetapi, sekarang kita kurus kering, tidak ada apa pun kecuali manna ini saja yang kita lihat.” [Bil. 11:1, 4-6. LAI TB2]
Klaim yang dilontarkan sambil menangis itu, merupakan klaim omong kosong belaka karena mereka merupakan budak di Mesir saat itu. Budak tidak berharga sama sekali di mata tuannya, bahkan jauh di bawah nilai hewan peliharaan tuannya. Status budak itu, tidaklah logis bila melontarkan klaim itu. Perbuatan mereka itu jelas merupakan hujatan kepada Tuhan yang telah membebaskan mereka dari perbudakan, bahkan memimpin dan memelihara mereka dalam perjalanan menuju tanah perjanjian.
Bukan hanya bangsa Israel di jaman Musa yang jatuh terjerat kerakusan, jerat yang sama telah pula menjatuhkan Adam dan Hawa sebagai nenek moyang semua manusia, walau ada perbedaan sasaran kerakusannya. Makanan dalam narasi kejatuhan Adam dan Hawa merupakan alat perwujudan nafsu “kerakusan akan kuasa” yang disembunyikan mereka di balik tindak mereka.
Tetapi, ular berkata kepada perempuan itu, “Sekali-kali kamu tidak akan mati. Sebaliknya, Allah mengetahui bahwa pada saat kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.” Perempuan itu melihat bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan menarik untuk dipandang. Lagi pula, pohon itu diminati karena memberi pengertian, lalu ia memetik buahnya dan memakannya. Ia memberikannya juga kepada suaminya yang bersamanya, dan suaminya pun memakannya. [Kej. 3:4-6. LAI TB2]
Memahami dengan benar akan relasi antara makanan dengan keberadaan manusia, membuat Yesus mampu mematahkan jerat Iblis saat diri-Nya kelaparan setelah berpuasa tidak makan selama 40 hari. Kebergantungan manusia sebagai ciptaan kepada Tuhan yang menciptakannya, di mana Tuhan adalah Roh (2 Kor. 3:17a), menjadikan makanan rohaniah lebih utama daripada makanan jasmaniah.
Setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya laparlah Yesus. Datanglah si pencoba dan berkata kepada-Nya, “Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti.” Jawab Yesus, “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” [Mat. 4:2-4. LAI TB2]
Manna itupun bukan hanya sebagai makanan jasmani. Sebagai roti dari sorga, manna yang adalah roti malaikat, lebih bernilai sebagai makanan rohani. Bahkan kemudian, manna itu menyimbolkan akan diri Yesus Kristus.
Kata Yesus kepada mereka, “Aku-lah roti kehidupan. Siapa saja yang datang kepada-Ku, ia tidak akan pernah lapar lagi, dan siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia tidak akan pernah haus lagi. Lalu bersungut-sungutlah orang Yahudi tentang Dia, karena Ia telah mengatakan, “Akulah roti yang telah turun dari surga.” [Yoh. 6:35, 41. LAI TB2]
Makanan memang penting untuk menunjang kehidupan. Keberadaan manusia yang adalah makhluk kesatuan psikosomatis, menegaskan pentingnya makan makanan jasmaniah dan makanan rohaniah. Kebergantungan manusia kepada Tuhan, melogiskan keutamaan makanan rohaniah dibandingkan makanan jasmaniah. Kerakusan telah menjerumuskan manusia untuk lebih mengutamakan makanan jasmaniah, bahkan memikatnya sedemikian rupa hingga menyantapnya secara berlebihan.
Jerat kerakusan ini merusakkan kesehatan jasmani, sekaligus melumpuhkan bahkan mematikan tubuh rohani. Gaung peristiwa di taman Eden, “Sekali-kali kamu tidak akan mati,” terus menjadi tipu daya mematikan yang memangsa manusia. Manusia akan terus dilaparkan bila hanya fokus pada makanan jasmaniah. Bahkan tidak ada makanan rohaniah apapun yang dapat membebaskan manusia dari laparnya, selain diri Yesus Kristus, sang roti kehidupan yang telah turun dari surga.
Manna yang jasmaniah di jaman Musa, tidak cukup memberi hidup bagi penyantapnya. Yesus Kristus-lah manna sejati yang dianugerahkan Tuhan. Manna sejati yang rohaniah inilah yang memberi hidup.
Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup. [Yoh. 6:63. LAI TB2]
Semoga kita semua bergiat meraih manna sejati ini setiap hari selagi masih ada waktu. Terpujilah Tuhan.
