
Biasanya makin bertambah usia, orang makin sadar pentingnya kesehatan diri. Memasuki usia senior akan makin peka terhadap sakit penyakit. Memang tidak terpungkiri kalau usia senior akan makin menurun kondisi kesehatan fisiknya. Aneka sakit penyakit mudah muncul bergantian, bahkan mungkin berbarengan menjangkitinya. Realitas ini mendorong kaum senior untuk makin selektif memilih menu makanannya. Memang tidak semua akan melakukannya, namun umumnya itulah yang dilakukan. Bukan hanya menu, porsi makannya pun biasanya akan berkurang. Dampaknya akan menurunkan bobot berat badan.

Mudahnya memiliki alat timbangan badan dengan harga cukup terjangkau, menjadikan timbangan badan menjadi salah satu perlengkapan umum rumah tangga, khususnya di kota besar. Orang-orang yang sadar akan pentingnya menjaga kesehatan badan, akrab memakainya.
Berat badan berlebih, memang banyak dinyatakan sebagai indikasi mengundang bahaya timbunan sakit penyakit bagi tubuh. Nah…, timbangan itu diperlukan untuk mengukur bobot penggunanya. Alat timbangan memang diciptakan untuk mengukur bobot objek yang ditimbangnya.
Secara umum, alat timbangan bekerja dengan menggunakan prinsip keseimbangan. Ada bagian sensor yang akan mendeteksi adanya tekanan akibat beban yang diletakkan. Semakin sensitif sensor tersebut, hasil pengukuran tekanannya akan makin akurat. Tekanan itu akan diteruskan pada sistem alat timbangan yang mengandung beban penyeimbang sedemikian rupa, hingga memunculkan angka bobot objek beban tersebut. Dalam hal ini gaya grafitasi menjadi dasar pengoperasiannya, dan prinsip keseimbangan menjadi prinsip terpenting pengukurannya.

Aktivitas timbang menimbang menjadi sangat umum dilakukan. Cakupan aktivitas inipun sangat luas, bisa dikatakan hampir semua hal tidak lepas dari aktivitas ini. Bobot apapun akan diukur menggunakan sistem timbangan.
Bukan hanya objek fisik, bahkan objek non fisik pun akan ditimbang bobotnya. Aspek “baik” ataupun “jahat” acapkali juga tidak bebas penimbangan.

Bahkan aktivitas itupun seolah disahkan lewat gambaran figur dewi keadilan yang memegang alat timbangan sebagai legalitas pengukur keadilan.
Semua perkara hukum akan ditimbang dengan memperhatikan aspek-aspek yang memberatkan maupun yang meringankan terdakwa perkara tersebut. Aspek yang ditimbang “baik” akan meringankan, dan yang ditimbang “jahat” tentunya akan memberatkan terdakwa tersebut. Baik aspek “baik” maupun aspek “jahat” ditimbang dari diri terdakwa itu sendiri.
Hal ini juga menjadi konsep pemahaman banyak pihak terkait dengan akhir hidup seseorang. Apabila orang itu melakukan lebih banyak hal “baik” dibandingkan dengan hal “jahat” dalam hidupnya, maka akan dinilai akhir hidupnya akan menuju ke sorga. Sebaliknya, apabila hal “jahat” dilakukan lebih banyak daripada hal “baik” maka hidupnya akan berakhir di neraka. Pemahaman demikian mendorong orang untuk berlomba menabung pahala dengan melakukan hal-hal “baik” dalam hidupnya. Bahkan kebaikannya tersebut dapat menjadi alat transaksi guna menutupi kejahatannya.
Pemahaman itu mencerminkan konsep antroposentris. Sesuai makna katanya, antroposentris menjadikan manusia sebagai pusat semesta. Manusia sendiri lah menjadi penilai dan penentu hidup manusia, bahkan keberlangsungan semesta. Memang konsep antroposentris ini seolah sangat adil, karena manusia sepenuhnya bertanggung jawab sendiri atas apa yang dilakukannya. Manusia jahat akan menanggung sendiri akibat kejahatannya. Manusia baik akan menikmati sendiri segala kebaikannya.

Masalahnya, apa yang menjadi patokan penilaiannya, apa yang dikriteriakan sebagai hal “baik” ataupun hal “jahat.” Siapa pula yang berotoritas menentukan patokan penilaian itu, dan seberapa besar otoritasnya. Sejarah mencatat, tidak mungkin ada keadilan penilaian yang tak terbantahkan saat manusia menjadi penentu penilaian itu.
Apa yang mungkin nampak adil saat itu dinilai, dapat menjadi tidak adil di kemudian hari saat ditemukan ada fakta lain di baliknya.

Keberubahan yang menjadi natur alami dalam dimensi waktu dan tempat, menjadi realitas yang melekat pada ciptaan. Keberadaan yang melampaui ciptaan saja lah yang bebas dari keberubahan itu.
Manusia sebagai ciptaan pasti tidak bebas dari hukum perubahan, sehingga tidak layak menjadi penilai dan penentu keadilan. Allah, Sang Pencipta, saja lah yang bebas dari segala batasan ciptaan. Allah saja lah yang tidak berubah karena melampaui dimensi waktu dan tempat. Jadi, hanya Allah lah yang layak dan berotoritas mutlak menjadi penentu dan penilai. Allah lah sang “dewi keadilan” sejati itu, dan manusia sebagai objek yang ditimbang bobotnya.
Sebagai sang “dewi keadilan,” standar Allah lah yang menjadi patokan pengukurannya. Saat standar Allah diterapkan, tidak akan ada aspek kebaikan manusia yang layak masuk kategori sebagai hal “baik”.
Demikianlah kami sekalian seperti orang najis dan segala kesalehan kami seperti kain haid, kami sekalian menjadi layu seperti daun dan lenyap oleh kejahatan kami seperti daun diterbangkan angin. [Yes. 64:6. LAI TB2]
Dengan demikian, masuk di akal bila disimpulkan bahwa manusia bukan ditimbang berdasarkan hal “baik” ataupun hal “jahat” dari dirinya sendiri. Memang manusia itulah objek yang ditimbang bobotnya, dan bagaimana posisi manusia itu sebenarnya, menjadi aspek penting dalam menempatkannya. Apabila aspek moral, yaitu hal “baik” ataupun hal “jahat” yang akan ditimbang, maka posisi manusia itu sudah jelas.
Sebagai manusia pertama, Adam telah jatuh dalam dosa melalui tindakan antroposentrisnya. Pelanggaran Adam atas larangan Allah, menjadikan Adam dan semua manusia keturunannya telah menjadi orang berdosa. Tidak ada seorang pun yang layak mengklaim bahwa dirinya tidak berdosa. Klaim itu sama saja dengan suatu penipuan.
Sebab sama seperti melalui ketidaktaatan satu orang banyak orang telah menjadi orang berdosa, …. [Rm. 5:19a. LAI TB2]
Jadi, bagaimana? Apakah memang kita lebih baik? Sama sekali tidak. Sebab, di atas telah kita tuduh baik orang Yahudi maupun orang Yunani bahwa mereka semua ada di bawah kuasa dosa, seperti tertulis, “Tidak ada yang benar, seorangpun tidak. …” [Rm. 3:9-10. LAI TB2]
Jika kita berkata bahwa kita tidak berdosa, kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. [1 Yoh. 1:8. LAI TB2]
Daud yang merupakan salah satu raja kerajaan Israel kuno yang paling dihargai oleh orang-orang yahudi, menyadari dan mengakui keberdosaan dirinya bahkan sebelum kelahirannya di dunia ini.
Sesungguhnya, dalam kesalahan aku dilahirkan, dalam dosa aku dikandung ibuku. [Mzm. 51:7. LAI TB2]
Prinsip keseimbangan menuntut adanya beban penyeimbang dalam timbangan tersebut. Pengakuan Daud akan keberdosaan dirinya itu, akan menolong kita untuk mengerti apa yang layak sebagai beban penyeimbang pada sistem timbangan.
Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan melakukan apa yang Kauanggap jahat. Maka Engkau benar dalam keputusan-Mu, bersih dalam penghakiman-Mu. [Mzm. 51:6. LAI TB2]
Sekarang kita memiliki sistem timbangan yang lengkap dan akurat. Manusia menjadi objek yang ditimbang bobotnya, dan Allah sebagai beban penyeimbangnya sekaligus sebagai penimbangnya. Tidak ada peluang setitikpun untuk meragukan keadilan dan kebenaran Allah dalam melakukannya.
Lalu aku mendengar mezbah itu berkata, “Ya Tuhan, Allah, Yang Maha Kuasa, benar dan adil segala penghakiman-Mu.” [Why. 16:7. LAI TB2]
Sistem timbangan yang demikian, menutup sama sekali peluang bagi manusia untuk dapat meraih keseimbangan pada neraca timbangan Allah. Bobot manusia terlalu ringan di hadapan Allah. Manusia yang memandang tinggi dirinya karena memiliki kedudukan dan kekuasaan duniawi, akan mengalami realitas serupa seperti Raja Belsyazar, anak Raja Nebukadnezar yang adalah raja kerajaan Babel kuno yang sangat berkuasa di jamannya. Raja Belsyazar yang meninggikan diri terhadap Allah, telah ditimbang Allah dengan neraca dan didapati terlalu ringan (Dan. 5:23, 27).
Antroposentris yang sama sekali tidak berpeluang pada sistem timbangan Allah, harus diubah dengan teosentris yang menempatkan Allah sebagai pusat dari segala sesuatu di segenap semesta. Allah yang adil dan benar dalam segala penghakiman-Nya, juga adalah Allah yang Maha Kasih. Natur kasih Allah ini menggerakkan Allah untuk menjadikan Anak tunggal-Nya yang setara dengan Allah, berkenosis menjadi manusia agar dapat menggantikan manusia sebagai objek yang ditimbang bobotnya pada neraca timbangannya Allah.
Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab, Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan supaya dunia diselamatkan melalui Dia. Siapa yang percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum. Siapa yang tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah. [Yoh. 3:16-18. LAI TB2]
Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. [Flp. 2:5-8. LAI TB2]
Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, Ia juga menjadi sama dengan mereka dan turut mengalami keadaan mereka, supaya melalui kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis yang berkuasa atas maut. Dengan demikian, Ia membebaskan pula mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan karena takutnya kepada maut. Sebab sesungguhnya, bukan malaikat-malaikat yang Ia pedulikan, tetapi keturunan Abraham yang Ia pedulikan. Itulah sebabnya, dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudara-Nya, supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa umat. [Ibr. 2:14-17. LAI TB2]
Kebesaran kasih Allah melalui Yesus Kristus, Anak Tunggal Allah, merupakan karunia yang jauh melampaui dosa Adam yang telah melanggar perintah Allah.
Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia melalui satu orang, dan melalui dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa. Tetapi, karunia Allah tidaklah sama dengan pelanggaran Adam. Sebab, jika ksrena pelanggaran satu orang banyak orang telah jatuh di dalam kuasa maut, jauh lebih besar lagi anugerah Allah dan karunia-Nya yang dilimpahkan-Nya atas banyak orang karena satu orang, yaitu Yesus Kristus. Jadi, sama seperti melalui satu pelanggaran semua orang beroleh penghukuman, demikian pula melalui satu perbuatan kebenaran, semua orang beroleh pembenaran untuk hidup. Sebab, sama seperti melalui ketidaktaatan satu orang banyak orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula melalui ketaatan satu orang banyak orang menjadi orang benar. [Rm. 5:12,15,18-19. LAI TB2]
Demikianlah kita dapat memahami keadilan, kebenaran, kasih, dan kuasa Allah Yang Maha Mulia lewat memahami sistem neraca timbangan Allah atas manusia. Salam “Beda Anak Timbangan.”
