Beda Cara

Photo by RF._.studio on Pexels.com

Setelah lelah jalan pagi, nongkrong sambil sarapan bubur ayam atau mie ayam tentunya asik sekali. Apalagi bila dibarengi dengan secangkir teh atau kopi hangat, wuihh… nyaman rasanya. Aktifitas itu akan lebih indah bila dilakukan bareng teman sehati. Bahagia rasanya, dan itu cukup sederhana serta dapat dijangkau. Obrolan santai akan mengalir dengan topik-topik ringan.

Nah…, salah satu topik yang muncul bisa bersifat guyonan, misal bagaimana cara menyantap bubur atau mie yang tersaji. Apakah bubur itu akan diaduk sehingga semua toping-nya bercampur, atau dimakan dengan cara mengambil toping-nya sedikit-sedikit. Apakah kuah mie akan dituang ke mangkok mie-nya, atau kuahnya tetap terpisah dan akan dihirup setelah beberapa suapan mie-nya. Topik remeh-temeh itu ternyata bisa jadi penghangat suasana. Tidak ada yang benar maupun yang salah dengan beda cara menyantap hidangan itu. Semuanya cuma beda kebiasaan sesuai nyamannya saja.

Photo by Jonathan Borba on Pexels.com

Tidak semua beda cara itu sesederhana topik di atas. Ada beda cara yang dapat berdampak serius bagi hidup manusia. Sebagai kesatuan psikosomatik, manusia merupakan keberadaan tubuh jasmaniah yang berjiwa dan berakal budi. Bahkan lebih dari itu, manusia pun merupakan keberadaan rohaniah yang menyatu dengan aspek lainnya.

Keunikan keberadaan ini menyebabkan manusia bersifat fana (mortal) dan abadi (everlasting/immortal). Kefanaan dan keabadian ini menjadi dua kutub tegangan saling tolak yang meresahkan manusia. Manusia selalu terdorong untuk mencapai keabadian.

Tendensi manusia untuk meraih keabadian, sebenarnya masuk akal. Narasi penciptaan manusia yang dicatat di awal Kitab Kejadian pada Alkitab, menyiratkan keberadaan awal manusia yang dianugerahi keabadian. Manusia juga dicatat diciptakan di dunia yang berproses dalam dimensi ruang dan waktu.

Berfirmanlah Allah, “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara, atas ternak dan seluruh bumi, serta atas segala binatang yang melata di bumi.” Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia, laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka….. Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sengguh sangat baik. Lalu jadilah petang dan jadilah pagi; itulah hari keenam. [Kej. 1:26-27, 31. LAI TB2]

Kemudian TUHAN Allah membentuk manusia dari debu tanah, dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya. Demikianlah manusia itu menjadi makhluk hidup. TUHAN Allah membuat taman di Eden, di timur. Di sanalah Ia menempatkan manusia yang dibentuk-Nya.      [Kej. 2:7-8. LAI TB2]

Sebagai gambar rupa Allah, manusia awalnya berada dalam kondisi kudus sebagaimana Allah yang kudus. Itu sebabnya, Allah memerintahkan umat-Nya untuk “hidup” kudus.

TUHAN berfirman kepada Musa, “Berbicaralah kepada segenap umat Israel dan katakan kepada mereka: Hendaklah kamu kudus, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, kudus.  [Im. 19:1-2. LAI TB2]

Kitab Imamat pada Alkitab, berisikan serentetan perintah-perintah yang disampaikan TUHAN kepada Musa di gunung Sinai (Im. 27:34). Kitab Imamat merupakan bagian tak terpisah dengan keempat kitab lain yang secara tradisi, diakui ditulis oleh Musa untuk orang Israel. Sebagai bagian dari Alkitab, tentu saja kelima kitab Musa itu juga berlaku bagi umat kristiani, bukan hanya bagi kaum yudais yang mengikuti iman orang Israel kuno tersebut.

Perintah-perintah yang ada dalam Alkitab tersebut, tidak pada tempatnya dianggap bernuansa moral etis saja. Jelaslah bila perintah tersebut TUHAN firmankan dalam konteks relasi. Bahkan, tidak berlebihan bila dikatakan bernuansa rohani karena TUHAN adalah Roh (2 Kor. 3:17a).

Konteks relasi yang bersifat kudus, menjadi aspek penting dalam memandang dan memperlakukan perintah-perintah Tuhan. Melakukan perintah Tuhan sebagai pancaran dari hidup kudus, menjamin untuk tidak mati. Dosa yang menggambarkan pelanggaran atas perintah Tuhan tersebut, mematikan manusia.

Sesungguhnya kamu harus berpegang pada ketetapan-Ku dan peraturan-Ku. Orang yang melakukannya akan hidup karenanya. Akulah TUHAN.  [Im. 18:5. LAI TB2]

Jika seseorang berbuat dosa dengan melakukan salah satu hal yang dilarang TUHAN tanpa mengetahuinya, maka ia bersalah dan harus menanggung kesalahannya.  [Im. 6:17. LAI TB2]

Terlihat bahwa pelanggaran perintah Tuhan merupakan hal serius di mata Tuhan. Sekalipun si pelanggar melakukannya secara tidak sadar ataupun tidak tahu dirinya telah melanggar, tetap bersalah. Keadaan ini terjadi dalam konteks relasi dengan Tuhan yang sepenuhnya kudus, sehingga tidak ada toleransi bagi dosa.

Inilah berita yang telah kami dengar dari Dia dan kami sampaikan kepada kamu: Allah adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan.  [1 Yoh. 1:5. LAI TB2]

Keberadaan yang awalnya mungkin “dapat tidak mati” bagi Adam dan Hawa sebagai manusia pertama karena anugerah kekudusan sebagai gambar rupa Allah, menjadi “tidak mungkin tidak mati” setelah mereka melanggar larangan Allah bagi mereka. Allah yang telah menyediakan segala sesuatu untuk mendukung kehidupan mereka secara nyaman, hanya memberi satu larangan berikut peringatan dampak pelanggarannya.

Lalu TUHAN Allah memberi perintah kepada manusia, firman-Nya, “Buah dari semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan dengan bebas, tetapi buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, jangan kaumakan, sebab pada saat engkau memakannya, engkau pasti mati.”  [Kej. 2:16-17. LAI TB2]

Manusia yang diciptakan dalam dimensi ruang dan waktu, tidak memiliki pengetahuan lengkap menyeluruh secara seketika. Manusia memang dianugerahi hikmat pengetahuan (innate knowledge) agar dapat menjalankan perannya sebagai penatalayan yang berkuasa atas makhluk hidup ciptaan Allah lainnya.

Photo by Teona Swift on Pexels.com

Pengetahuan itu tetap harus diasah-kembangkan melalui proses berkelanjutan sehingga bertahap meraih pertumbuhan pengetahuan (acquired knowledge). Allah yang maha baik, berkenan membimbing proses itu, walaupun Allah sendiri merupakan keberadaan yang bebas proses karena melampaui semua batasan yang ada di alam ciptaan.

Lalu TUHAN Allah membentuk dari tanah segala binatang liar dan segala burung di udara. Semuanya dibawa kepada manusia itu untuk melihat, bagaimana ia menamainya. Sama seperti nama yang diberikan manusia itu kepada setiap makhluk hidup, begitulah namanya.  Manusia itu memberi nama kepada segala ternak, kepada burung-burung di udara, dan kepada segala binatang liar, ……   [Kej. 2:19-20a. LAI TB2]

Proses berkelanjutan yang demikian itu, merupakan cara satu-satunya yang alami bagi manusia untuk menumbuh-kembangkan pengetahuannya. Bimbingan Tuhan sepanjang proses demikian itulah yang akan menolong manusia untuk secara bertahap mengerti tentang apa yang baik dan yang jahat.

Sayangnya, manusia enggan menjalani proses demikian, dan memilih cara instan untuk mengerti apa yang baik dan apa yang jahat seperti pengertiannya Allah atas hal itu. Manusia memilih mengambil tindakan melanggar larangan Allah dan berdosa, yang menjadikannya pasti mati. Bahkan segala hal baik yang telah disediakan Allah guna mendukung hidup manusia, kini harus diraih dengan perjuangan penuh derita.

Lalu firman-Nya kepada Adam, “Karena engkau mendengarkan perkataan istrimu dan makan buah dari pohon yang telah Kuperintahkan kepadamu: Jangan makan darinya! Maka terkutuklan tanah karena engkau. Dengan susah payah engkau mencari makan dari tanah itu seumur hidupmu. Semak duri dan rumput duri akan ditumbuhkannya bagimu, dan tanaman ladang akan menjadi makananmu; dengan cucuran keringat engkau akan mencari makan, sampai engkau kembali menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu, engkau akan kembali menjadi debu.”  [Kej. 3:17-19. LAI TB2]

Beda cara yang dipilih, ternyata menjadi masalah teramat serius bagi hidup manusia. Sejak saat itu, tidak ada manusia yang dapat tidak mati. Semua manusia pasti berdosa, seperti pengakuan raja Salomo dalam doanya saat pentahbisan Bait Allah (1 Raj. 8). Bahkan raja Daud mengakui keberdosaan manusia sejak dari kandungan ibunya, sesaat setelah ditegor nabi Natan atas kasusnya dengan Batsyeba (Mzm. 51).

Kondisi ini tentu saja meresahkan manusia yang lalu mencari segala macam cara untuk kembali dapat tidak mati. Ada beberapa mitos tentang tokoh-tokoh dunia yang mencari cara instan untuk tidak mati. Sampai saat ini, tidak ada satupun upaya manusia yang dicatat telah terbukti menemukan cara jitu mengalahkan kematian. Semua tokoh-tokoh itu pun akhirnya harus mati.

Photo by Jan Van Bizar on Pexels.com

Kematian yang meresahkan manusia itu, bukanlah akhir cerita kelam bagi manusia. Sang Pencipta bukanlah keberadaan tanpa daya yang telah dikalahkan oleh iblis, sang ciptaan pemberontak pertama. Ada cara penyelamatan tersamar yang telah disampaikan Allah, saat “manusia pertama” berdosa.

Prinsip keadilan-Nya tetap konsisten dilaksanakan, manusia yang berdosa maka manusia yang harus tanggung akibatnya. Manusia yang berdosa, manusia pula yang harus mati. Natur kasih-Nya, membuat Allah rela menganugerahkan Anak-Nya yang tunggal menjadi korban pengganti manusia. Hikmat-Nya yang melampaui apapun yang dapat dipikirkan manusia, menjadikan inkarnasi Allah Putera menjadi manusia hingga kenaikan-Nya ke sorga, sebagai realitas yang dicatat telah didukung oleh kesaksian banyak orang.

Cara penyelamatan Allah bukanlah cara instan seperti yang banyak ditawarkan oleh dunia. Cara penyelamatan Allah itu mengakomodasi keberadaan manusia yang secara alami harus berproses, sehingga kehadiran Yesus Kristus sebagai juru selamat manusia itu taat proses.

Respon percaya umat-Nya juga tidak lepas dari proses, bahkan prosesnya dijalani sepanjang hidupnya di setiap detak waktu. Allah yang setia mendampingi proses pertumbuhan pengertian Adam dan Hawa, juga setia mendampingi umat-Nya menjalani proses hidup baru lewat kehadiran Allah Roh Kudus dalam batin umat-Nya.

Aku akan memberikan kepadamu hati yang baru dan roh yang baru dalam batinmu. Aku akan menyingkirkan dari tubuhmu hati yang membatu dan memberikan kepadamu hati yang lembut. Roh-Ku akan Kutaruh dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku serta melakukannya.  [Yeh. 36:26-27. LAI TB2]

Yesus Kristus telah meneladankan jalan hidup “setia proses” yang memang tidak nyaman, namun jalan itulah yang diperintahkan untuk dihidupi oleh umat-Nya.

Yesus berkata kepada mereka semua, “Jika seseorang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari, dan mengikut Aku.  [Luk. 9:23. LAI TB2]

Semoga kita tidak mengikuti cara pintas yang dipilih Adam dan Hawa, melainkan dimampukan menjalani cara “setia proses” sebagaimana telah diteladankan Yesus Kristus. Semoga kita tekun, sabar, dan sukacita menjalaninya, sambil mengucap syukur kepada-Nya. Selamat Beda Cara.

avatar setiadotone

Oleh setiadotone

Buah pertama kristiani dari keluarga konfusianis. Berkarier di berbagai perusahaan 'sekuler' lalu terpanggil sebagai pendidik di universitas (kristen) 'umum.' Berupaya mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan wawasan dunia kristiani terapan, agar membangun profesional kristiani.

Tinggalkan komentar