
Berwisata memang mengasikkan, apalagi bareng orang-orang yang suka seru-seruan. Makin klop bila mereka semua teman dekat kita. Tidak perlu lagi upaya dan waktu guna mencairkan kebersamaan. Tinggal lanjut eksplor tempat yang bakal dikunjungi. Bukan cuma mata yang perlu dipuaskan, lidah pun perlu dimanjakan. Eksplor kuliner tradisional setempat, jadi salah satu tujuan petualangan nikmat. Sayangnya, tidak selalu nikmat yang didapat. Bisa saja, pemandangan atau panganan yang tersaji, tidak seindah angan dan harapan. Bukan salah dari sajiannya. Masalahnya mungkin ada pada beda selera, walau tentu saja, mungkin iming-iming yang digaungkan itu terlalu berlebihan. Jadinya, gembos lah impian indah.

Orang bijak suka berpesan, realitas tak selalu selaras angan-angan. Keindahan nikmat awal yang nampak, bisa saja cuma polesan berlebih pemasar ulung. Maklumlah, yang penting konten laku keras, bukan…..?
Ooppsss…, kok kayak-nya arahnya negatif aja nih. Gak seru kalau begini semangatnya. Bisa bikin orang malas berwisata nantinya. Ini bisa juga dinilai bernuansa hoaks yang miskin data berimbang, padahal pihak pengelola tempat mau pun sajian telah berupaya maksimal menyiapkannya agar penikmatnya puas. Kalau ternyata masalahnya beda selera, bukan salah penyajinya lah…. Atau kalau masalahnya karena alam tak berpihak, sehingga meredupkan keindahan pemandangannya, apa daya lah….

Menerima realita demikian, bisa membuat kita lebih menghargai foto indah pemandangannya. Mungkin saja, foto terpampang itu merupakan hasil jepretan berulang yang makan waktu dan daya pemfotonya. Kita hanya lihat hasil akhirnya, berupa foto yang ditayangkan itu.
Sedangkan soal selera, jelas itu kental bersifat personal. Selera seseorang akan rasa enak di lidahnya, pastinya sangat ditentukan oleh gaya hidupnya berkuliner. Keterbukaannya untuk coba menikmati jenis panganan baru baginya, jelas akan juga membuka peluang kesuksesannya mengecap nikmat tersembunyi pada panganan tersebut.
Di samping sifat personal, tidak terpungkiri ada rasa enak ataupun citra indah yang umum dapat disepakati banyak orang. Itu sebabnya, ada pangan-pangan tertentu atau tempat-tempat tertentu yang ramai diserbu calon-calon penikmat, hingga viral. Uniknya, makin viral, makin ramai serbuan penikmatnya. Rasa ingin tahu yang diperkuat dengan semangat memuaskan kenikmatan personal dan bergabung dengan dorongan kelatahan massal, seolah melandasi viralitasi itu.

Bicara soal panganan, manusia ternyata butuh bukan hanya makanan jasmaniah. Sebagai keberadaan yang bersifat jasmaniah dan rohaniah, manusia butuh kedua jenis makanan tersebut.

Hanya dengan kecukupan asupan kedua jenis makanan tersebut, manusia benar-benar kenyang seutuhnya. Fokus hanya pada makanan jasmaniah, yang umum berlaku di dunia, menyebabkan manusia, asing dengan makanan rohaniah. Pernah ada peristiwa di kota Sikhar di daerah Samaria yang dicatat dalam Alkitab, Yesus Kristus melontarkan penegasan atas realita itu, disertai dengan petunjuk makna praktisnya.
Tetapi, Ia berkata kepada mereka, “Pada-Ku ada makanan yang tidak kamu kenal.” …Kata Yesus kepada mereka, “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.” [Yoh. 4:32, 34; LAI TB2]
Pengenalan lengkap Yesus Kristus akan makna pangan bagi manusia, membuat Yesus Kristus secara jitu, telak membalik hasutan Iblis soal makanan.
Yesus, yang penuh dengan Roh Kudus, kembali dari Sungai Yordan, lalu dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun. Empat puluh hari lamanya Ia dicobai Iblis. Selama hari-hari itu Ia tidak makan apa-apa dan setelah itu Ia lapar. Berkatalah Iblis kepada-Nya, “Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah batu ini menjadi roti.” Jawab Yesus kepadanya, “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja.” [Luk. 4:1-4; LAI TB2]
Pada saat itu, roti merupakan makanan pokok yang sangat penting untuk menopang hidup manusia. Yesus Kristus menegaskan ada makanan lain yang bahkan lebih penting bagi hidup manusia.
Jawab Yesus, “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” [Mat. 4:4; LAI TB2]

Peristiwa di padang gurun itu tidak dapat dipisahkan dari kisah di Taman Eden, yang dicatat dalam Kitab Kejadian pasal 3, yaitu menceritakan kegagalan Adam dan Hawa, sepasang manusia pertama, dalam memahami makna makanan bagi manusia.

Waktu itu, Adam dan Hawa memutuskan bahwa makanan jasmaniah, yaitu buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, lebih menarik bagi mereka dibandingkan dengan larangan memakannya, yang telah difirmankan Allah kepadanya.
Sahut perempuan itu kepada ular, “Buah dari pohon-pohon di taman ini boleh kami makan, tetapi tentang buah dari pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: jangan kamu makan ataupun sentuh, nanti kamu mati!” …Perempuan itu melihat bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan menarik untuk dipandang. Lagi pula, pohon itu diminati karena memberi pengertian. Lalu ia memetik buahnya dan memakannya. Ia memberikannya juga kepada suaminya yang bersamanya, dan suaminya pun memakannya. [Kej. 3:2-3, 6; LAI TB2]
Lalu TUHAN Allah menumbuhkan dari tanah berbagai pohon yang menarik dan baik untuk dimakan buahnya, juga pohon kehidupan di tengah-tengah taman itu serta pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. …Lalu TUHAN Allah memberi perintah kepada manusia, firman-Nya, “Buah dari semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan dengan bebas, tetapi buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, jangan kaumakan, sebab pada saat engkau memakannya, engkau pasti mati.” [Kej. 2:9, 16-17; LAI TB2]
Manusia yang semula berkesempatan untuk tidak mengalami kematian, menjadi pasti mati karena salah memilih keputusan dan tindakan, yang dipikir bakal menguntungkannya tersebut. Kisah di Taman Eden itu menyiratkan adanya ketiga elemen yang melandasi viralitas, yaitu rasa ingin tahu Hawa yang diperkuat hasratnya meraih pengertian dari pohon terlarang itu, membangkitkan kelatahan Adam untuk ikut memakan buah pohon terlarang itu, setelah melihat seolah-olah Hawa aman-aman saja walaupun telah memakan buah pohon terlarang tersebut. Apa yang dilakukan oleh Adam dan Hawa itu, jelas bertolak belakang dengan respon Yesus Kristus terhadap provokasi iblis saat dirinya kelaparan setelah berpuasa.
Pesatnya perkembangan dunia perkulineran, yang makin dihargai profesi keahliannya kini, meningkatkan posisi panganan menjadi bukan sekadar pelepas rasa lapar. Tayangan konten kuliner makin marak, dengan kemasan yang digarap secara profesional.

Panganan kini bahkan dapat menjadi salah satu aspek gengsi bagi penyaji maupun penyantapnya. Bahkan nilai jualnya juga diberi tingkatan tertentu, misalnya melalui Bintang Michelin yang menandakan gelar bergengsi di dunia kuliner.
Sematan gelar Bintang Michelin itu bakal melejitkan harga jual sajian kulinernya, yang tidak ramah kantong bagi golongan mayarakat bawah.

Tentu saja masih ada, bahkan masih banyak olahan kuliner tradisional yang tidak kalah nikmatnya. Kesederhanaan sajian kuliner yang ramah kantong itu, malah membuatnya makin dapat dinikmati secara lebih luas.
Ketekunan dan kesetiaan pengolah kuliner tersebut yang melakukannya dengan kecintaan tulus, mengangkat nilai sajiannya secara istimewa di hati penggemarnya. Kuliner jenis ini bisa membuat jatuh hati bagi semua kalangan masyarakat, dari golongan atas hingga bawah. Bahkan saking luas penggemarnya, jenis panganan ini makin terbuka untuk diviralkan.
Keunikan dunia kuliner yang demikian, mengajarkan akan pentingnya kejernihan penilaian tulus yang bebas jerat gengsi. Tidaklah benar kalau dikatakan panganan yang mahal harganya, itulah yang enak rasanya dan layak diburu. Tidak juga benar, kalau panganan modern lebih nikmat dibandingkan dengan panganan tradisional yang sederhana. Bahkan kesederhanaan penyedia panganan yang demikian itu, malah membuatnya layak dihargai integritasnya yang tidak dikuasai aspek ekonomi.
Penyaji panganan yang mengolahnya secara berintegritas itu, tanpa sadar telah menjadikannya sebagai suatu bentuk persembahan yang benar kepada Allah, Sang Pencipta. Karya sajiannya itu sebagai bentuk ibadah kepada-Nya dan bagi kemuliaan-Nya, melampaui pemberhalaan dunia pada uang.
Sebab, segala sesuatu adalah dari Dia, oleh Dia, dan kepada Dia. Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! Amin. Karena itu, Saudara-saudara, oleh kemuliaan Allah aku menasehatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus, dan yang berkenan kepada Allah. Itulah ibadahmu yang sejati. Janganlah menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaruan budimu, sehingga kamu dapat membedakan mana kehendak Allah: Apa yang baik, yang berkenan kepada-Nya dan sempurna. [Rm. 11:36-12:2; LAI TB2]
Pencinta kuliner sejati selayaknya bebas gengsi, agar dapat lebih jernih menghargai karya panganan yang tersaji. Soal selera memang dapat terbentuk dari pola gaya kulinernya, gaya mana yang akan Anda pilih? Bila gaya kuliner mencerminkan juga gaya hidup, masalahnya menjadi tidak sederhana.
Beda selera itu soal biasa, asal bukan gagal paham atas makna sejati “panganan”-nya. Memahami keberadaan diri manusia sebagai makhluk jasmani sekaligus rohani, menjadi aspek penting dalam memenuhi kebutuhan pangan. Semoga kita tidak memilih pangan berdasarkan hasutan mematikan si pendusta.
Kamu berasal dari bapakmu, Iblis, dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapakmu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta. Ia berkata dari diri sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa pendusta. [Yoh. 8:44; LAI TB2]
Jadi akhirnya, biarlah kita boleh memilih gaya hidup dengan semangat praktis seperti nasehat berikut:
Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima warisan yang akan menjadi upahmu. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya. Siapa saja yang berbuat salah akan menanggung kesalahannya itu, karena Tuhan tidak memandang muka. [Kol. 3:23-25; LAI TB2]
Selamat Beda Selera!
