
Masyarakat modern kini lebih sering diingatkan akan pentingnya menjaga kesehatan tubuh. Salah satu faktor penting menjaganya adalah gerak badan, mengingat makin banyak aktifitas hidup modern yang minim gerak. Memang sih, alat bantu berteknologi telah menolong memudahkan kerja yang dulunya butuh banyak aktifitas fisik. Hal ini memosisikan orang untuk menjadi mager. Sayangnya, mager ternyata memberi dampak negatif bagi kebugaran tubuh jasmani. Bahkan dapat menjadi salah satu pemicu percepatan penuaan dini karena pola hidup tak seimbang.
Banyak konten medsos kini yang menekankan pentingnya jalan kaki. Bahkan ada jumlah langkah minimal yang katanya perlu untuk dilakukan setiap hari. Ada banyak alat bantu yang diciptakan untuk pengukurannya. Mulai dari yang gratis seperti aplikasi di ponsel, sampai yang cukup mahal harganya, berupa model arloji yang menyajikan beragam fungsi monitor sekaligus secara praktis.
Saya sendiri pun turut tergerak untuk berjalan kaki di pagi hari. Apalagi sebagai pensiunan yang banyak waktu luangnya. Tentunya makin sadar untuk menjaga kebugaran fisik agar tidak makin cepat loyo. Akal sehat juga mendorong untuk mengisi kelimpahan waktu luang secara positif. Ya…, paling tidak, mengurangi kemungkinan untuk cepat berpenyakit degeneratif yang bakal menyusahkan orang lain.

Ternyata jalan pagi seputaran tempat tinggal, cukup memberi penyegaran. Sebelumnya, lingkungan tempat tinggal tidak pernah dikenali karena bersegera pergi kerja maupun pulang kerja. Aktifitas jalan pagi membuka peluang untuk mengenal lingkungan.
Mulai dari menikmati model rumah tetangga, hingga bertegur sapa, minimal saling lontar senyuman, dengan tetangga yang ada. Bahkan beberapa tetangga yang juga berjalan pagi, mulai dikenali wajah dan tempat tingggalnya. Terbuka peluang untuk bertegur sapa dan berkenalan lebih lanjut.
Bukan hanya manfaat sosial, jalan pagi juga membuka peluang meraih manfaat spiritual. Jalan pagi juga dapat dijadikan sarana bermeditatif. Refleksi kali ini terinspirasi dari langkah-langkah kaki saat jalan pagi.
Memiliki sepasang kaki yang sehat, tentunya membuat aktifitas berjalan kaki lebih nikmat dibandingkan bila hanya memiliki satu kaki sehat saja. Untuk dapat maju ke depan, masing-masing kaki harus melangkah bergantian. Bila kedua kaki itu saling berebut melangkah, jadinya melompat kan ya…. Atau bila hanya sisi kaki tertentu saja yang maju ke depan tanpa memberi kesempatan sisi kaki lainnya untuk melangkah ke depan, kemungkinannya orang yang punya kaki itu bakal nyungsep.
Dalam perjalanan hidup, sepertinya tidak ada manusia normal yang sepenuh hidupnya hanya sendiri saja. Tidak ada manusia yang dapat hidup tanpa manusia lain. Bayi yang baru lahir, pasti mati bila dibiarkan sendiri saja. Mungkin dapat terjadi suatu mujizat Tuhan, misal melalui pemeliharaan hewan sejenis kera seperti kisah dongeng Tarzan. Tapi secara realitas, tidak pernah terjadi peristiwa itu.
Alkitab mencatat hanya ada satu peristiwa keberadaan seorang manusia yang sendiri saja, tanpa ada manusia lainnya. Adam sebagai manusia pertama yang diciptakan Tuhan, awalnya sempat hidup tanpa ada seorang pun manusia lainnya. Keberadaan awal Adam demikian, dicatat sebagai abnormal bahkan oleh Tuhan sendiri, yang lalu menciptakan seorang Hawa dari dan bagi seorang Adam.
| TUHAN Allah berfirman, “Tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan baginya penolong yang sepadan dengan dia.” [Kej. 2:18] | TUHAN Allah membentuk rusuk yang diambil-Nya dari manusia itu menjadi seorang perempuan, lalu membawa dia kepada manusia itu. [Kej. 2:22] |
Kebutuhan relasional sosial demikian, merupakan keniscayaan bagi keberadaan manusia. Hal ini merupakan kebutuhan logis karena sesuai dengan ketetapan Tuhan saat menciptakan manusia. Alkitab mencatat bahwa manusia diciptakan Tuhan menurut gambar dan rupa-Nya.
Berfirmanlah Allah, “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara, atas ternak dan seluruh bumi, serta atas segala binatang yang melata di bumi.” Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. [Kej. 1:26-27; LAI TB2]
Keberadaan Allah Pencipta, diimani oleh umat kristiani sebagai keberadaan Allah Trinitas. Hanya ada satu Allah dengan tiga Pribadi yang berbeda, namun masing-masing Pribadi tersebut merupakan Allah sepenuhnya. Satu esensi Allah dengan tiga Pribadi, yaitu pribadi Allah Bapa, pribadi Allah Putera, dan pribadi Allah Roh Kudus. Tentu saja ini merupakan keunikan iman kristiani yang tidak dimiliki oleh keyakinan agama lainnya.
Sebagai ciptaan yang diciptakan menurut gambar Allah Pencipta yang demikian, wajarlah bila hakekat manusia secara alami, pastinya berkebutuhan relasional sosial. Manusia butuh manusia lain yang saling tolong secara sepadan agar mampu eksis secara alami.
Layaknya jalan kaki, relasional sosial antar manusia sepantasnya saling iring maju bergantian. Saat yang satu menapak maju, yang lain menopang di tempat dan posisi yang tepat. Setelah menapak di posisi depan, gantian rekan satunya menapak maju dengan ditopang oleh dirinya yang telah maju terlebih dulu. Prinsip inilah yang menjamin keberhasilan mencapai tujuan bersama. Keberhasilan satu pihak merupakan keberhasilan bersama, keterpelecokan satu pihak merupakan kesakitan bersama.
Sebab, sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan semua anggota tubuh itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus. Jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita. Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya. [1 Kor. 12:12, 26-27; LAI TB2]
Prinsip di atas seharusnya menjadi prinsip tunggal yang dipegang dan dilaksanakan oleh semua pihak. Realitas yang wajar itu, sayangnya kini telah menjadi harapan ideal yang hampir mustahil diwujudkan. Keharmonisan antar rekan sepadan yang saling tolong, telah dirusak oleh racun mematikan egoisitas.
Dari mana datangnya perkelahian dan pertengkaran di antara kamu? Bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang saling berjuang di dalam tubuhmu? Kamu mengingini sesuatu, tetapi tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh. Kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi. Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa. Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu. [Yak. 4:1-3; LAI TB2]
Nampaknya hanya kasihlah yang dapat menjadi obat penangkalnya. Ulasan rasul Paulus tentang kasih dalam suratnya kepada jemaat di Korintus, menggambarkan natur kasih yang bersifat non egois.
Kasih itu sabar; kasih itu baik hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menahan segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. [1 Kor. 13:4-7; LAI TB2]
Kasih menjadi sangat signifikan sebagai atribut manusia, karena TUHAN Allah yang menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya, menyatakan bahwa Dirinya adalah kasih (1 Yoh. 4:8). Gambaran tentang sifat kasih yang disampaikan oleh rasul Paulus di atas, menyiratkan akan perlunya obyek kasih. Hal ini menolong kita untuk memahami mengapa TUHAN Allah menjadikan Hawa, seorang perempuan, sebagai penolong yang sepadan bagi Adam, seorang laki-laki.
Dengan demikian, tersirat bahwa kasih yang sifatnya murni seperti gambaran di atas, orisinalnya dimaksudkan sebagai kasih antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan yang menjadi satu daging dengan dirinya dalam ikatan kesatuan suami-istri (Kej. 2:24). Tentu saja, tidak tertutup kemungkinan bahwa gambaran sifat kasih di surat 1 Korintus itu, juga dapat terjadi dalam relasi bebas gender antar sesama manusia.
Patut digarisbawahi dan diingat bahwa orisinalitas sifat kasih yang demikian, terjadi dalam konteks relasi manusia pertama. Belum ada setitikpun cemaran dosa pada manusia serta dunianya. Saat itu baru ada seorang Adam dan seorang Hawa, yang dipersatukan Tuhan dalam relasi keluarga sebagai suami-istri. Kesatuan daging antara Adam dengan Hawa, tidak dapat dilepaskan dari tugas yang diembankan TUHAN Allah kepada manusia untuk beranak cucu (Kej. 1:28).
Tugas tersebut hanya mungkin sukses dilaksanakan dalam kesatuan daging antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan. Dasar kesatuan tersebut bukanlah nafsu manusia, melainkan kasih, yang tersirat dalam pernyataan penerimaan Hawa oleh Adam (Kej. 2:23). Dengan demikian, aspek keluarga menjadi elemen utama bagi semua anggota keluarga berikutnya, yaitu semua anak cucu, untuk dapat memiliki dan mengembangkan natur kasih yang tergambar di surat 1 Korintus tersebut.
Celakanya, rancang bangun TUHAN Allah bagi manusia ciptaan-Nya tersebut, menjadi rusak berantakan oleh egoisitas manusia. Narasi Alkitab akan tragedi kejatuhan manusia dalam dosa, telah gamblang dicatat dalam kitab Kejadian pasal 3. Demikianlah, egoisitas manusia telah merusakkan natur kasih original tersebut.
Tentu saja kerusakan itu tidak berefek sedikitpun kepada diri Tuhan. Tuhan yang adalah kasih, tetap tidak berubah sebagai kasih. Peristiwa inkarnasi Allah Putera menjadi manusia seutuhnya dengan tanpa kehilangan sedikitpun natur ke-Allah-an-Nya, mengawali karya penebusan Allah yang membebaskan umat-Nya dari cengkeraman kuasa dosa (Flp. 2:5b-8). Karya penebusan itu merupakan wujud kasih Tuhan kepada manusia.
Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan supaya dunia diselamatkan melalui Dia. Siapa yang percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum. Siapa yang tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah. [Yoh. 3:16-18; LAI TB2]
Demikianlah, kasih original tersebut kemudian berkembang dalam cakupan relasi bebas gender. Kemustahilan manusia untuk mendasarkan kasih bebas egoisitas dalam relasi perekanan dengan sesamanya, telah dipatahkan oleh karya penebusan Kristus Tuhan. Bukankah bagi Allah tidak ada yang mustahil (Luk. 1:37). Pintu pemulihan yang telah dibukakan Tuhan, harus direspon secara bertanggungjawab oleh manusia.
Salah satu poin penting yang harus diingat dan dipegang adalah kenyataan bahwa kesatuan (oneness) tidak berarti kesamaan (sameness). Bahkan kebedaan dalam kesatuan, malah merupakan kelumrahan yang alami.
Tangan kiri manusia memiliki berbagai kesamaan sekaligus kebedaan dengan tangan kanan manusia. Justru kebedaan dan kesamaan tersebut menjadikan kedua sisi tangan manusia dapat tertangkup secara pas satu dengan lainnya. Posisi kaki kiri dengan kaki kanan manusia dapat sejajar, namun tetap ada jarak antara kaki kiri dengan kaki kanan, agar manusia dapat berdiri teguh.
Suami-istri yang diberkati dalam satu daging pun, mustahil untuk sama persis satu dengan lainnya. Masing-masing tetap sebagai satu pribadi unik yang memiliki kebedaan dengan lainnya. Memaksakan agar rekan hidup, termasuk rekan kerja, agar menjadi sama dengan kita, merupakan penolakan atas keberadaan satu Allah yang ber-Pribadi tiga. Dampaknya jelas berupa kekacaubalauan (chaos).
Semoga karya penebusan Kristus menolong siapapun yang percaya kepada-Nya, untuk mampu menerima serta memperlakukan rekan hidup ataupun rekan kerjanya, selayaknya langkah harmonis sepasang kaki saat jalan pagi. Salam sehat jasmani dan rohani dalam kasih Tuhan. Tuhan Yesus Kristus memberkati kita semua. Amin.
