Profesi pengacara merupakan salah satu profesi yang diakui di Indonesia. Tentu saja tidak sembarang orang dapat menjalani profesi itu. Ada ketentuan yang mengikatnya, paling tidak orang itu haruslah ahli hukum yang telah meraih pendidikan ilmu hukum secara memadai. Tugas utamanya itu, memberikan pendampingan hukum bagi kliennya selama proses hukum, agar hak klien itu terpenuhi. Jelaslah kalau pengacara harus seorang profesional yang kompeten dalam pengetahuan dan keterampilan hukum.
Saya sendiri bukanlah pengacara seperti ulasan sederhana di atas. Saya termasuk kelompok pengacara dalam kategori plesetan-nya. Itu lho…, pengangguran banyak acara. Memasuki usia pensiun, praktis tidak ada tugas resmi yang wajib saya selesaikan. Hal ini membuat saya limpah waktu, walau tetap jumlahnya 24 jam sehari, tidak bertambah ataupun berkurang. Nah…, ini menjadi kesempatan baik bagi saya untuk melakukan refleksi pribadi. Tulisan ini merupakan hasil dari refleksi itu, yang tentunya tidak terlepas dari keberadaan saya sebagai umat kristiani berwawasan kristiani.
Sebagai pengangguran banyak acara, ternyata saya tidak bebas sepenuhnya dari aktifitas rutin harian. Malah ada aktifitas lain yang dulu tidak saya lakukan, kini sepertinya jadi aktifitas rutin.

Salah satunya, melakukan bersih-bersih rumah. Kasihan dong, kalau semuanya dilimpahkan pada istri untuk mengerjakannya.
Untungnya, sekarang sudah banyak alat rumahtangga canggih yang cukup meringankan aktifitas bersih-bersih rumah itu.
Sekarang tidak perlu lagi mencuci pakaian menggunakan tangan, sudah ada mesin cuci otomatis, yang cuma butuh sedikit usaha menyiapkannya sebelum mesin itu mencuci sendiri. Setelah itu, tinggal jemur, beres dah. Bahkan mesin cuci yang canggih dapat mengeringkan hampir 100%, tinggal sedikit diangin-angin, trus bisa langsung disimpan deh.
Begitu juga dengan mencuci perabot makan, sudah ada mesin cuci piring. Soal menyapu dan me-ngepel lantai, sudah ada mesin robot yang rajin mengerjakannya sesuai pengaturan awalnya. Gak ribet lagi, bukan? Asisten rumahtangga jaman now, juga akan ogah bila ditugaskan mengerjakan bersih-bersih rumah secara manual.
Sisi positif dari keberadaan alat-alat bantu canggih itu, sangat meringankan orang dalam melakukan bersih-bersih rumahnya. Efisiensi waktunya, juga membuka kesempatan untuk melakukan berbagai aktifitas dalam waktu yang hampir bersamaan. Orang tinggal merancang aktifitasnya secara efektif, sehingga runutan aktifitasnya bisa memenuhi kebutuhannya secara optimal.
Sisi negatifnya, orang akan makin tergantung pada keberadaan dan penggunaan alat-alat itu. Kerusakan mesin cuci kami yang pernah saya alami, sempat meresahkan hati kami, karena sempat terjadi penumpukan pakaian kotor yang tidak tercuci. Memang bisa saja pakaian kotor itu dicucikan ke jasa laundri yang ada, asal tidak kuatir bercampur dengan pakaian orang lain saat dicucinya.
Nah…., realitas keberadaan alat bantu rumahtangga itulah yang melatar-belakangi refleksi ini. Di satu sisi, realitas itu sejalan dengan upaya manusia melaksanakan mandat budaya. Di sisi lain, realitas itu juga menyiratkan sisi gelap manusia yang ogah ribet. Manusia cenderung cari jalan gampang, cepat, enak, cuan banyak. Kecenderungan ini yang membuka celah bagi “musuh manusia” untuk mencelakakan manusia.

Raja Salomo dicatat dalam Alkitab sebagai manusia yang dikaruniai hikmat, pengertian, dan akal yang amat besar oleh Tuhan.
Dengan demikian, Salomo lebih bijaksana dari siapa pun di jamannya, sehingga namanya sangat tersohor.
Ketersohorannya memancing banyak orang dan penguasa, untuk meminta arahan Salomo bagi pemecahan masalah mereka. Keunggulan hikmat Salomo ini menyebabkan raja-raja saat itu, rela memberikan upeti sebagai simbol takluk kepada Salomo. Kebesaran Salomo ini dicatat dalam kitab 1 Raja-raja pasal 4.
Kesediaan raja-raja untuk takluk kepada Salomo yang adiluhung, memunculkan aksi pernikahan politis sebagai upaya memperoleh jaminan perlindungan Salomo dan kerajaannya yang amat berjaya saat itu. Bagi Salomo sendiri, nampaknya pernikahan politis itu menjadi jalan gampang, cepat, enak, cuan banyak.
Bayangkan, tanpa adanya resiko pertumpahan darah dari seorangpun prajurit dalam peperangan, tanpa adanya resiko dukacita dari orangtua yang kematian anaknya akibat perang, tanpa adanya resiko habisnya dana cadangan devisa kerajaan karena membiayai perang, tanpa adanya resiko pengeluaran besar bagi rekonstruksi akibat perang, tanpa butuh waktu lama untuk meluaskan pengaruh kekuasaan hegemoni kerajaannya, serta terjaminnya pasokan kebutuhan rakyat dengan tak berbiaya lewat upeti raja-raja lain, bukankah suatu kebodohan besar bila menolak tawaran pernikahan politis tersebut?
Gak masuk akal lah, bila raja agung yang tersohor adiluhung oleh hikmat kebijaksanaan yang amat sangat luas pengetahuannya itu, gagal paham atas hitung-hitungan ekonomis demikian. Salomo, sebagai anak Raja Daud yang meneruskan tahta Daud tersebut, tentu saja tidak gagal memahami dan meraih keuntungan politik-ekonomi-sosial di balik pernikahan politis tersebut. Jadilah raja Salomo beristrikan banyak wanita asing, dengan resiko pengabaian hukum Tuhan.
Adapun raja Salomo mencintai banyak perempuan asing. Di samping anak Firaun ia mencintai perempuan-perempuan Moab, Amon, Edom, Sidon dan Het, padahal tentang bangsa-bangsa itu TUHAN telah berfirman kepada orang Israel: “Janganlah kamu bergaul dengan mereka dan mereka pun janganlah bergaul dengan kamu, sebab sesungguhnya mereka akan mencondongkan hatimu kepada allah-allah mereka.” Hati Salomo telah terpaut kepada mereka dengan cinta. [1 Raj. 11:1-2; TB LAI]
Pertimbangan keuntungan aspek poleksos semata, yang mengabaikan aspek hukum, berpotensikan resiko menggelapkan beda antara apa yang baik dan yang jahat. Padahal, pengertian untuk memutuskan hukum lewat membedakan antara yang baik dan yang jahat, itulah semangat dasar yang melandasi permintaan karunia hikmat oleh Salomo kepada Tuhan, dalam mimpinya.
“Maka berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang faham menimbang perkara untuk menghakimi umat-Mu dengan dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat, sebab siapakah yang sanggup menghakimi umat-Mu yang sangat besar ini?” [1 Raj. 3:9; TB LAI]
Mungkin ada yang protes nih…, masa sih gak boleh jatuh cinta pada perempuan selain yang se-ras. Itu merupakan peraturan yang rasial dong! Apalagi, cinta itu kan hak asasi manusia yang harus dihormati. Kok Tuhan itu rasial dan pelanggar HAM sih! Eitt…, tunggu dulu…! Ingat dong, Salomo menerima karunia Tuhan itu dalam kesatuan dengan klausul “syarat dan ketentuan berlaku,” sebagaimana diperingatkan Tuhan kepada Salomo saat pentahbisan Bait Suci yang dibangun Salomo (1 Raj. 9:1-9).
Raja Salomo telah terjerat tipu daya “musuh manusia” yang demikian halus dan tersamar, lewat melanggar hukum Tuhan yang seharusnya menjadi konstitusi dasar, serta jiwa bagi penyelenggaraan pemerintahannya. Salomo telah salah hitung dengan mengutamakan keuntungan poleksos, yang seharusnya tunduk pada konstitusi. Konsekuensi yang timbul sangatlah merugikan bagi kerajaan Israel, yaitu terkoyak menjadi kerajaan kecil yang tak penting lagi di mata raja-raja lain.
Jalan gampang, cepat, enak, dan cuan banyak, merupakan jalan maut yang ditipukan “lawan manusia” untuk membinasakan manusia, melalui sifatnya yang melawan prinsip hukum Tuhan. Terus bekerja melalui proses “mengusahakan dan memelihara,” merupakan prinsip hukum Tuhan bagi makhluk ciptaan sejak awal, saat Adam ditempatkan di taman Eden. Jadi, jalan ogah ribet itu, berakhirkan malapetaka.
| Ada jalan yang disangka lurus, tetapi ujungnya menuju maut. [Ams. 16:25; TB LAI] | Ada jalan yang kelihatannya lurus. Tapi akhirnya jalan itu menuju maut. [Ams. 16:25; BIMK LAI] |
Rasanya, ada yang patut diperhatikan tentang raja Salomo yang dicatat dalam kitab 1 Raja-raja. Di awal pemerintahannya, Salomo mengakui keberadaannya sebagai orang muda yang belum berpengalaman. Salomo merendahkan dirinya di hadapan Tuhan sehingga menerima berkat Tuhan yang kelak akan membuatnya menjadi adiluhung. Sayangnya, Salomo tidak konsisten dengan kerendahan hatinya. Setelah kondang, Salomo lebih mengandalkan keluasan pengetahuan dan hikmatnya yang dikaruniakan Tuhan kepadanya. Salomo tenggelam dalam kehidupan hedonis, dan mengabaikan hukum Tuhan. Akibatnya Salomo dihukum Tuhan di akhir-akhir hidupnya.

Berbeda dengan raja Salomo, Yesus Kristus yang disebut sebagai “Anak Daud” maupun sebagai “Adam kedua,” tidak mengambil jalan ogah ribet, melainkan siap menapaki “jalan salib” sebagai bagian dari proses memenuhi segenap kehendak Allah.
Sepanjang hidup-Nya, Yesus Kristus terus bekerja sesuai dengan hukum Tuhan. Yesus Kristus terus mengusahakan dan memelihara misi penebusan-Nya, lewat serangkaian kesulitan dan penderitaan hidup yang dimaksudkan untuk menggagalkan misi-Nya.
Gambaran diri Yesus Kristus yang dicatat dalam surat Filipi pasal 2, menegaskan kebedaan diri Yesus Kristus dari Salomo. Keberadaan Yesus Kristus “diawali” dengan keberadaan yang maha mulia, namun mengosongkan diri-Nya sendiri menjadi manusia yang adalah hamba Tuhan. Keberadaan yang rendah ini dihidupi secara konsisten oleh-Nya dengan mentaati hukum Tuhan hingga akhir hidup-Nya. Akibatnya Yesus Kristus dipermuliakan Tuhan dan disembah oleh segenap makhluk.
Sejak keberadaan Yesus dalam kandungan bunda Maria yang menghadapi gunjingan atas kehamilannya, hingga pergumulan doa Yesus di taman Getsemani, kehendak Tuhan diperlakukan Yesus sebagai hukum Tuhan. Segala alternatif jalan ogah ribet yang ditawarkan kepada Yesus, telah ditolak Yesus, karena paham akan jerat pengabaian hukum Tuhan di balik jalan itu. Hal itu nampak dari jawaban Yesus saat dicobai Iblis di padang gurun, atau saat menegor Petrus waktu Petrus mencoba menghalangi proses jalan derita Yesus menuju salib. Catatan perjalanan hidup-Nya di kitab-kitab Injil, pun menyiratkan realitas tersebut.

Mewaspadai dan menolak tipu daya Iblis yang menawarkan jalan ogah ribet, bukanlah perkara mudah. Bahkan tokoh adiluhung tiada tara sekelas raja Salomo, juga gagal menangkal jerat Iblis tersebut.
Syukur ada Yesus Kristus yang berhasil mematahkan segenap tipu daya Iblis, dan menolak jalan yang ditawarkan Iblis tersebut. Bila raja Salomo menggunakan kekuasaannya untuk mengambil jalan ogah ribet yang gampang, cepat, enak, dan cuan banyak, berupa pernikahan politis yang nyaman baginya, maka Yesus Kristus, Raja di atas segala raja, menanggalkan kemaha-kuasaan-Nya dan mengambil jalan salib yang tunduk pada hukum, yaitu hukum kasih dan hukum keadilan, untuk menyelamatkan umat-Nya.
Semoga Yesus Kristus menolong kita semua untuk berani dan berteguh menapaki jalan Tuhan walaupun penuh onak duri, dan meninggalkan jalan ogah ribet yang melanggar hukum Tuhan.
Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa. Dalam pergumulan kamu melawan dosa kamu belum sampai mencucurkan darah. [Ibr. 12:3-4; TB LAI]
Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan keluar, sehingga kamu dapat menanggungnya. [1 Kor. 10:13; TB LAI]

Koreksi: bukan REsiko tetapi RIsiko.
Terima kasih pak utk bacaan bermutu ini
SukaSuka
Terima kasih atas koreksinya 👍
Selamat menghayati peristiwa Jumat Agung 🙏
SukaSuka