Pendahuluan



Setelah gonjang ganjing pandemi covid-19 yang bertahap mereda, krisis finansial ditengarai mulai mengintai dan siap menebarkan ancamannya. Krisis ini dipicu oleh konflik geopolitik antara kekuatan kubu Barat dengan kubu Timur. Perang Rusia-Ukraina yang tak kunjung damai hingga kini, menjadi penyebab penting akan ancaman krisis finansial tersebut. Ditambah dengan perang dagang berbagai jenis produk dagang antar berbagai negara, semisal produk ‘chips’ untuk produk berteknologi tinggi, atau pun berbagai produk hasil tambang dan perkebunan.
Belum lagi adanya dampak tersisa dari kebijakan pengetatan aktifitas manusia selama pandemi, yang sangat melambatkan bergulirnya roda ekonomi secara global. Kondisi ini menjadikan tahun tahun ke depan merupakan masa penuh gejolak ketidakpastian yang kompleks, diistilahkan sebagai masa VUCA (Volatility, Unpredictability, Complexity, and Ambiquity). Jadilah bayang-bayang resesi dunia, menjadi momok menakutkan bagi banyak orang. Lalu, bagaimana kita bersiap diri menghadapinya? Tulisan ini akan coba merefleksikannya berdasarkan wawasan kristiani.
Berjalan di atas air
Sebagai ciptaan yang diciptakan menurut gambar rupa Sang Pencipta, manusia dikaruniai dengan berbagai kapasitas ulung. Hal ini selaras dengan amanat yang diembankan kepada manusia, yaitu untuk menatalayani dan menaklukkan bumi beserta segala makhluk hidup lain di dalamnya. Pencipta yang maha adil dan maha benar, tidak pernah tak memberkati dengan cukup, sesuai dengan tugas yang diberi-Nya. Bahkan berkat-Nya selalu diberikannya dulu, sebelum penyampaian tugas tersebut.
Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” [Kej. 1:28; TB LAI]
Perjalanan hidup manusia yang berproses ke depan, membentuk keunikan diri yang tidak terlepas dari pengaruh dan pengalamannya berinteraksi dengan makhluk hidup lain di lingkungannya. Itu sebabnya, tidak pernah ada seorangpun manusia yang sama persis dengan orang lain. Kita boleh belajar dari pesan di balik cerita hidup tokoh-tokoh yang dikisahkan, misalnya dalam Alkitab, namun pastilah kita tidak akan pernah sama persis dengan tokoh tersebut.
Salah satu tokoh dalam Alkitab yang akan diangkat dalam refleksi ini adalah Simon Petrus. Boleh dikatakan, Petrus ini merupakan tipe orang yang cepat tindak, namun tidak dapat dikatakan sembrono dalam tindakannya. Dalam banyak kisah, dituliskan bahwa Petrus tidak abai logika umum, misalnya membawa pedang saat menyertai perjalanan Yesus dalam masa-masa genting. Petrus juga nampaknya merupakan orang yang terbuka untuk diajar (teachable), yang mau untuk melompati batas zona nyamannya.
Ia (Yesus) melihat dua perahu di tepi pantai. Nelayan-nelayannya telah turun dan sedang membasuh jalanya. Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia supaya menolak perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu. Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.” Simon menjawab: “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.” Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak. [Luk. 5:2-6; TB LAI]
Sebagai seorang nelayan, nampaknya Petrus cukup lumayan dalam taraf hidupnya. Petrus bukanlah seorang buruh upahan semata, karena tertulis di atas bahwa Petrus memiliki perahu nelayannya sendiri. Masuk di akal bila dikatakan bahwa Petrus cukup mengenali cuaca dan kondisi perairan danau Genesaret, yang disebut juga sebagai danau Galilea, tempat kerjanya sehari-hari sebagai nelayan.
Petrus bersama para murid Yesus lainnya, juga pernah mengalami dahsyatnya badai taufan yang menerpa danau Galilea, yang nyaris menenggelamkan perahu yang mereka tumpangi bersama saat itu (Mat. 8:23-27). Kisah itu bahkan dicatat dalam ketiga kitab injil sinoptik (Matius, Markus, dan Lukas), yang menuliskan demo kuasa Yesus atas badai topan. Hal itu berbanding terbalik dengan para murid-Nya yang ketakutan di bawah kuasa badai topan.
Berbeda dengan kisah kuasa Yesus yang meredakan badai taufan di atas, ada satu kisah lain yang hanya dicatat dalam kitab injil Matius (Mat. 14:28-31). Bagian tersebut merupakan varian dari kisah lain yang mengisahkan Yesus berjalan di atas air, saat ada badai taufan melanda danau Galilea tersebut.

Pada varian kisah berjalan di atas air, tidaklah bijak bila mengadili Petrus itu minim iman. Para murid Yesus lainnya, tidak ada seorangpun yang berani mengikuti Yesus berjalan di atas air. Selain karena kemungkinan realitas kepribadian Petrus yang cepat tindak, jangan-jangan murid-murid lainnya malah sedang dicengkeram rasa takut pada dahsyatnya badai topan saat itu. Dengan demikian, ada aspek-aspek positif dalam diri Petrus yang tergambar pada narasi kisah itu.
Perlu diingat bahwa iman itu merupakan suatu anugerah, yang dikaruniakan Roh Kudus kepada manusia (1 Kor. 12:9). Sehingga tidak ada seorangpun yang boleh membanggakan imannya, apalagi dibandingkan dengan orang lain. Nomena iman itu melampaui kapasitas manusia yang secara alami bersifat inderawi, sehingga kapasitas manusia bersifat fenomena.
Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. [Ibr. 11:1; TB LAI]
Petrus tidak sembarangan bertindak, ia meminta ijin dulu kepada Yesus, bahkan menyebutkan secara spesifik tindakan yang akan dilakukannya. Begitu ijin tersebut diberikan, Petrus tidak segan-segan beraksi melakukannya. Dengan demikian, iman Petrus saat itu bukanlah iman kosong semata.
Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati. Hai manusia yang bebal, maukah engkau mengakui sekarang, bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong? [Yak. 2:17,20; TB LAI]
Bila saat itu Petrus akhirnya gagal mempertahankan praktek imannya, hal itu dicatat disebabkan oleh distraksi bahaya yang dirasakan langsung oleh kapasitas inderawinya. Memang benar bahwa Petrus cukup akrab dengan kondisi munculnya angin topan di lingkungan yang merupakan tempat kerja sehari-harinya tersebut.
Namun Petrus juga cukup kenal dengan realitas bahaya yang dapat ditimbulkan oleh angin topan tersebut. Sangat mungkin apabila Petrus juga pernah menyaksikan tenggelamnya perahu nelayan yang dihantam badai topan di danau Galilea itu. Bukan suatu kisah kosong pula, bila dikatakan bahwa Petrus juga pernah mengalami langsung akan bahaya nyaris tenggelam saat dilanda angin topan danau Galilea, seperti kisah yang dicatat dalam ketiga injil sinoptik di atas.
Pengalaman nyata dalam perjalanan hidup seseorang, apalagi yang menakutkan, dapat sangat membekas dalam benak orang tersebut. Tidak ada orang yang secara alami tidak takut mati. Kematian bukanlah suatu kondisi yang awalnya ada dalam rancang cipta Sang Pencipta bagi manusia. Kematian merupakan dampak logis dari pilihan manusia yang memilih untuk lepas dari otoritas kedaulatan Sang Pencipta. Padahal, hidup itu hanya ada dalam diri Sang Pencipta, yang adalah terang bagi manusia.
| Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya. [Yoh. 1:4-5; TB LAI] | Dan inilah berita, yang telah kami dengar dari Dia, dan yang kami sampaikan kepada kamu: Allah adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan. [1 Yoh. 1:5; TB LAI] |
Keterpisahan yang mematikan dengan Sang Pencipta inilah, yang menjadi batu sandungan utama bagi manusia untuk dapat dan mau mempercayai Sang Pencipta. Bahkan keterpisahan dengan Sang Pencipta yang mahakudus akibat ketercemaran manusia, yang berdampak kepastian kematian manusia, membuat manusia takut untuk datang mendekat kepada Sang Penciptanya tersebut. Dengan demikian, ketakutan merupakan hambatan utama bagi iman seseorang. Logislah bila dikatakan bahwa iman itu merupakan suatu karunia, bukan kapasitas milik manusia itu sendiri asalnya.
Hasrat untuk menguasai sesuatu, termasuk menguasai keadaan, dapat menjadi suatu kontradiksi bagi manusia. Di satu sisi, manusia diberi mandat untuk menguasai bumi beserta segenap makhluk hidup lain di dalamnya. Penguasaan tersebut bersifat positif dan membangun saat selaras dengan kehendak kedaulatan Pencipta yang mempercayakan hal itu. Di lain sisi, nafsu arogansi manusia untuk menguasai dunia dan isinya bagi kedaulatan manusia sendiri, menjadikan hasrat untuk menguasai tersebut bersifat negatif dan merusak. Sisi inilah yang terus menghantui manusia. Bukan menjadi berkat, melainkan takut.
Itulah sebabnya, manusia diselimuti rasa takut bila merasa tidak lagi dapat menguasai keadaan. Kondisi VUCA yang salah satunya berwujud bahaya resesi, menyebabkan manusia tidak lagi mampu memprekdiksi bobot tantangan ke depan dengan baik. Hal ini memperkecil kesanggupan manusia untuk mengontrol keadaan, sehingga manusia seolah lepas kuasa atas masa depannya. Hal ini menakutkan bagi manusia. Ketakutan ini berlanjut pada melemahnya iman sebagai dampaknya.
Petrus yang tidak malu-malu berteriak minta tolong saat tenggelam karena takut pada badai topan yang dirasakannya, mendapat pertolongan yang tepat karena meminta tolong kepada Pribadi yang tepat. Fenomena yang dialami, dapat mempengaruhi pertimbangan logis, sehingga dapat memunculkan reaksi negatif seperti rasa bimbang akan keselamatannya. Demikian pula dengan kita saat ini, yang dibombardir dengan prediksi ancaman resesi, akankah kita berteguh ataukah kita jadi bimbang?
Penutup

Saat duduk pada satu kursi, seseorang dapat bersikap was-was sehingga duduknya tidak rileks, atau duduk rileks karena yakin kursi itu sanggup menopang bobot tubuhnya dengan baik. Iman dapat digambarkan seperti sikap duduk rileks tersebut. Jadi, iman tergantung pada minimal dua aspek. Pertama, pada apa atau siapa yang menjadi sandarannya. Kedua, pada bagaimana atau seberapa besar keyakinan penyandar pada sandarannya itu.
Tidak berlebihan bila “pengenalan” pada sandaran tersebut menjadi krusial. Pengalaman bersama sandaran tersebut menjadi proses penting bagi pengenalan itu. Tentu saja, pengenalan yang jujur dan benar akan diri sendiri, juga menjadi aspek penting lainnya. Bila seseorang mengingkari bobot berlebih dirinya terhadap kapasitas topang sandarannya, celakalah yang didapatnya.
Meyakini kedaulatan penuh Pencipta atas ciptaan-Nya, melogiskan pemilihan Pencipta sebagai sandaran hidup sehari-hari. Dunia mengakui akan adanya ketidakpastian apapun selain perubahan. Bila perubahan dicanangkan sebagai sesuatu yang pasti terjadi di dunia ini, seharusnya manusia lebih siap berhadapan dengan perubahan, bukan? Bila hanya perubahan itulah yang pasti di dunia ini, maka elemen ketidakpastian itu seharusnya memiliki cakupan yang sangat luas dalam hidup manusia, bukan? Ternyata, manusia pada dasarnya lebih nyaman dengan ketidakberubahan (status quo).
Mengacu pada wawasan kristiani, Pencipta diyakini sebagai keberadaan yang melampaui batasan waktu dan tempat, sehingga tidak berubah (immutable) dalam kesempurnaan keberadaan-Nya. Relasi awal manusia dengan Pencipta, yang digambarkan sungguh sangat baik, menanamkan kebutuhan terdalam manusia akan ketidakberubahan. Itulah sebabnya tanpa sadar manusia lebih nyaman dengan status quo.
Di lain pihak, natur ciptaan yang pasti berada dalam batasan ruang dan waktu, yang juga merupakan dimensi ciptaan, memastikan natur ciptaan berproses maju ke depan. Kondisi ini memastikan adanya perubahan sebagai bagian yang alami. Kedua aspek ini merupakan paradoks bagi manusia.
Manusia mau tak mau harus siap menghadapi realitas perubahan yang dapat memunculkan kondisi tak pasti dan tak terduga. Ketidakberubahan Pencipta, memastikan topangan dan penyertaan-Nya secara berkelanjutan bagi ciptaan-Nya untuk terus mampu bergerak ke depan. Jadi, bersandar kepada Pencipta dalam menjalani realitas ketidakpastian proses perubahan yang tak terhindarkan, menjadi satu-satunya kelogisan pilihan sehat manusia.
Sebagai ciptaan yang berproses, dinamika keteguhan pilihan tersebut bukanlah merupakan hal yang perlu dikuatirkan. Jatuh bangun merupakan hal yang wajar, asalkan terus progresif makin teguh bersandarkan kepada Sang Pencipta, bukan beralih pada lainnya. Bidang kehidupan yang akrab sekalipun, tidak patut menjadikan kita abai bersandar pada Pencipta, sang sandaran tunggal sejati tersebut. Keabaian itu akan mudah mendistraksi fokus seseorang dalam menghadapi kondisi yang sedang terjadi, sehingga dapat menenggelamkan dirinya. Kemungkinan resesi yang siap menenggelamkan kita, hanya dapat kita hadapi dengan terus beriman dan fokus kepada Pencipta yang berdaulat atas segala sesuatu.
Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku. [Flp. 4:13; TB LAI]
Bisa saja, Pencipta mengijinkan terjadinya masa-masa kekurangan bagi individu-individu maupun bagi bangsa-bangsa tertentu. Hikmat-Nya yang jauh melampaui kapasitas fenomena manusia, menjadikan tidaklah logis bila manusia menghakimi hikmat kebijakan Sang Pencipta. Kondisi kekurangan yang secara alami tidak nyaman bagi manusia yang mengalaminya, janganlah meredupkan, apalagi menghilangkan, iman kita kepada Pencipta yang mahabaik dan mahakasih tersebut.
Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku. [Hab. 3:17-18; TB LAI]
Marilah kita bersama-sama, terus melatih iman percaya kita kepada Sang Pencipta, yang berkelanjutan dalam memberkati, menopang, dan memerintah segenap ciptaan-Nya, sesuai dengan keagungan sempurna hikmat bijaksana-Nya yang tak terukur dan tak berubah. Terpujilah Dia!
