‘Durian Runtuh’

Photo by HONG SON on Pexels.com

Pendahuluan

Durian termasuk salah satu buah tropis eksotis yang disukai oleh banyak orang. Tentu saja, tetap ada orang-orang yang tidak menyukainya. Salah satu alasannya adalah aromanya yang cukup menyengat hidung, khususnya bagi mereka yang lahir dan besar di wilayah empat musim. Durian sendiri berasal dari wilayah Asia Tenggara, dengan cukup banyak ragam variannya. Secara umum, buahnya berbobot 1,5 kg bahkan dapat mencapai bobot 5 kg. Bobot yang cukup berat ini dapat menimbulkan cedera berat bahkan kematian, bagi orang yang kejatuhan durian di kepalanya. Jadi, kebun durian dapat menjadi area yang berbahaya di kala musim durian.

Di samping bahayanya, musim durian ditunggu para pencinta durian untuk dapat menikmati durian matang pohon. Mungkin karena bobotnya, durian matang itu akan jatuh sendiri dari pohonnya. Durian runtuh inilah yang paling enak rasa buahnya. Tak mengherankan, bila kemudian frasa ‘dapat durian runtuh’ dialamatkan bagi orang yang ‘ketiban rejeki nomplok.’ Sukacita mendapat rejeki itu perlu disikapi secara bijak. Bisa-bisa, ada kemungkinan tergelincir bila terbuai secara membuta. Berikutnya akan disajikan contoh kasus yang dinarasikan dalam Alkitab.

Kelola ‘Durian Runtuh

Photo by Alesia Kozik on Pexels.com

Tokoh Musa merupakan salah satu tokoh penting dalam Alkitab. Kisah hidupnya dinarasikan penuh dengan lika-liku dramatis, yang pastinya berdampak pada pembentukan kepribadiannya.

Bermula sebagai anak kaum budak, melambung jadi pangeran pungut, terjerembab sebagai kriminal pelarian, melompat sebagai pemimpin pembebas, berakhir sebagai pribadi tertolak namun dikasihi Tuhan. Ada momen-momen hidupnya dapat ‘durian runtuh’ yang jauh melampaui ekspektasi manusia mana pun. Di lain pihak, periode sebagai kriminal pelarian yang tak memiliki apapun, merupakan momen pembentukan kepribadian Musa, yang menjadikannya sebagai orang yang panjang sabar.

“Adapun Musa ialah seorang yang sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia yang di atas muka bumi.” [Bil. 12:3; TB LAI]

Kepribadian ini menjadikan Musa mampu mengelola umat Israel kuno yang demikian bebal dan tak tahu diri, sambil mengelola berbagai kemampuan superalami yang dikaruniakan Tuhan kepadanya. Musa menggunakan kemampuan superalami tersebut sebagai alat untuk melakukan kehendak Tuhan, dengan tetap berfokuskan prinsip bahwa segala kemuliaan hanya bagi Tuhan.

Photo by Matthias Zomer on Pexels.com

Namun sebagai manusia biasa, Musa pun dapat mengalami kelelahan mental oleh kesinambungan sikap tak tahu diri umat Israel kuno yang dipimpinnya. Ada satu momen di mana Musa mengalami kedukaan oleh kematian Maryam, kakak perempuannya.

Ditengah kedukaannya, Musa (dan Harun) menghadapi keroyokan dakwaan menyudutkan yang salah sasaran dari umat Israel yang dipimpinnya. Kejadian itu membuat Musa habis sabar, dan tergelincir dalam tindakan yang mencemarkan kekudusan Tuhan (Bil. 20:1-13).

Tidak kebetulan bila narasi ketergelinciran Musa itu disajikan dengan penutup narasi kematian Harun, kakak lelakinya.  Harun telah mendampingi Musa sejak proses pembebasan hingga perjalanan menuju tanah perjanjian. Cara penyajian demikian, mengingatkan akan model penyajian sandwich (roti lapis). Layaknya roti lapis, bagian isi tengah merupakan bagian yang paling penting. Dengan demikian, pesan kegagalan Musa mengelola secara tepat anugerah Tuhan yang bagai ‘durian runtuh’ itu, merupakan inti pesan utama dari bagian narasi tersebut.

Perlu diwaspadai bahwa rasa berduka ataupun emosi negatif apapun, dapat menanarkan sadar diri sehingga tidak dapat jernih mengelola anugerah Tuhan dengan sikap dan cara yang diperkenan-Nya. Namun, tidak ada alasan apapun yang dapat dipakai sebagai pembenaran salah kelola anugerah ‘durian runtuh’ tersebut.

Memang mujizat masih terjadi saat itu, namun Musa yang menjadi sarana perwujudan mujizat itu, harus membayar harga mahal atas kegagalannya mengelola anugerah Tuhan baginya tersebut. Hanya oleh kelimpahan kasih Tuhan, Musa tetap dapat terpenuhi obsesinya untuk melihat ‘tanah perjanjian’ dengan cara yang berbeda, namun dengan kepuasan pandang yang bisa lebih baik (Ul. 34:4).

Selain Musa, ada tokoh lain dalam Alkitab yang dapat menjadi contoh kasus pengelolaan ‘durian runtuh’ yang harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian. Raja Salomo yang merupakan salah satu raja terpopuler sepanjang masa di dunia, mengalami periode kelam di akhir pemerintahannya. Raja Salomo gagal secara tepat mengelola ‘durian runtuh’ yang didapatnya, sehingga tidak menikmati kedamaian di hari tuanya. Ada berbagai lawan yang muncul mengancam kedamaiannya.

Photo by cottonbro studio on Pexels.com

Salah satu lawannya adalah mantan pegawainya sendiri, yaitu Yerobeam bin Nebat, seorang yatim. Yerobeam bin Nebat mendapat ‘durian runtuh’ berupa penyerahan lebih dari 80% umat Israel kuno untuk diperintahnya. Dari seorang rakyat biasa, mendadak menjadi seorang raja (1 Raj. 11:26-37).

Memang Yerobeam bin Nebat memiliki kecakapan kerja, namun menjadi raja, itu tetap saja bagai menerima durian runtuh baginya. Sayangnya, sekali lagi terjadi salah kelola atas ‘durian runtuh’ ini.

Apa yang menjadi penyebab dicabutnya kuasa bagi raja Salomo untuk meneruskan pemerintahan kepada anaknya, ternyata dilakukan pula oleh Yerobeam bin Nebat. Bahkan tersirat bahwa Yerobeam bin Nebat melanggar batas lebih jauh daripada Salomo (1 Raj. 12:28-33). Celakanya, Yerobeam bin Nebat tidak mau bertobat walaupun telah diperingatkan oleh utusan Tuhan, bahkan makin menggila dalam melanggar batas, sehingga segenap keluarganya dibasmi dan dipunahkan dari muka bumi.

Berbeda dengan tokoh-tokoh di atas, dinarasikan tentang Yohanes Pembaptis yang sadar diri dan menyikapi ‘durian runtuh’ yang diterimanya secara tepat.

“Saya membaptis kamu dengan air untuk menyatakan bahwa kamu sudah bertobat dari dosa-dosamu; tetapi yang akan datang sesudah saya, akan membaptis kamu dengan Roh Allah dan api. Ia lebih besar daripada saya. Untuk membawa sepatu-Nya pun saya tidak layak.” [Mat. 3:11; BIMK LAI]“Pada waktu itu Yesus pergi dari Galilea ke Sungai Yordan. Di sana Ia datang pada Yohanes dan minta dibaptis. Tetapi Yohanes mencoba menolak permintaan-Nya itu. Yohanes berkata, “Sayalah yang seharusnya dibaptis oleh Bapak. Sekarang malah Bapak yang datang kepada saya.” [Mat.3:13-14; BIMK LAI]

Yohanes Pembaptis tidak dibutakan dengan kepopuleran dirinya, karena memiliki wawasan tepat yang dipegang dan dihidupinya secara teguh.

“Kamu sendiri sudah mendengar saya berkata, ‘Saya bukan Raja Penyelamat. Saya diutus mendahului Dia.’ Dialah yang harus makin penting, dan saya makin kurang penting.” [Yoh. 3:28,30; BIMK LAI]

Penutup

Kejatuhan durian runtuh memang mengasikkan bagi pencinta durian, bila tidak menimpa kepalanya. Salah posisi dapat membahayakan, bahkan dapat merengut nyawa. Durian matang pohon yang lalu jatuh dari pohonnya, seolah menyiratkan bahwa ‘rejeki nomplok’ itu berasal dari atas, dan dapat mencelakakan bila salah posisi. Apa yang dinarasikan sebagai ‘durian runtuh’ bagi Salomo muda, dapat menjadi petunjuk akan ragam ‘durian runtuh’ bagi manusia di sepanjang jaman (1 Raj. 3:12-14). Jadi, hati yang penuh hikmat dan pengertian, kekayaan maupun kemuliaan, umur panjang, dapat dikatakan sebagai ragam ‘durian runtuh’ yang berasal dari Tuhan. Semua ragam ‘durian runtuh’ itu harus dikelola dengan sikap dan cara yang diperkenan Tuhan.

Tidak semua orang bisa mendapatkan ‘durian runtuh.’ Harus diakui, hanya orang-orang dengan kualitas diri tertentu yang bisa mendapatkannya. Biasanya, kualitas unggul positif seseorang itulah yang akan makin memperbesar kemungkinan dirinya mendapatkan ‘durian runtuh.’ Prinsip “kuantitas sejalan dengan kualitas” seharusnya tidak perlu mengecilkan hati siapa pun, karena ada keadilan besaran tuntutan pertanggungan jawab.

“setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut.” [Luk. 12:48b; TB LAI]

Masing-masing pribadi, pasti akan mendapatkan jatah ‘durian runtuh’ sesuai dengan kapasitas dirinya.

“Kepada setiap pelayan itu ia memberi menurut kesanggupan masing-masing.” [Mat. 25:15a; BIMK LAI]

Setiap pribadi bertanggungjawab mengelola dan mengembangkan apa yang telah diterimanya secara tepat. Dengan demikian, seharusnya kemampuan dan upaya diri seseorang tidak boleh menanarkan dirinya, sehingga membuatnya melanggar batas karena salah wawasan. Sadar diri perlu terus diupayakan agar tidak tergoda melencengkan pengelolaan ‘durian runtuh’ yang diterima dari atas.

“Saudara-saudara yang kukasihi, janganlah sesat! Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; …” [Yak. 1:16-17a; TB LAI]

Semoga Tuhan Allah, Pencipta segala terang di langit, menolong kita semua untuk memiliki wawasan dan kesadaran diri yang tepat. Semoga pertolongan-Nya memampukan kita semua mengelola ‘durian runtuh’ yang kita terima, dengan sikap dan cara yang diperkenan-Nya. Terpujilah nama-Nya.

avatar setiadotone

Oleh setiadotone

Buah pertama kristiani dari keluarga konfusianis. Berkarier di berbagai perusahaan 'sekuler' lalu terpanggil sebagai pendidik di universitas (kristen) 'umum.' Berupaya mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan wawasan dunia kristiani terapan, agar membangun profesional kristiani.

Tinggalkan komentar