Menyintas Krisis

Photo by Tara Winstead on Pexels.com

Pendahuluan

Berawal dari pandemi covid-19 yang tak terduga dan penanggulangannya belum sepenuhnya tuntas, dunia dilanda krisis lanjut berupa perubahan ekstrim iklim, serta krisis geopolitik berupa perang Rusia-Ukraina yang mungkin dapat meluas menjadi perang antara “blok Timur-Barat.” Kombinasi ketiganya memunculkan ancaman krisis ekonomi-keuangan dunia, berupa stagflasi yang merupakan kombinasi perlambatan ekonomi yang akan berdampakkan ancaman pemutusan hubungan kerja massal, dan melambungnya biaya hidup yang disebabkan oleh kenaikan suku bunga kredit, harga-harga pangan dan energi. Globalisasi yang sudah menjadi realitas, menyebabkan tidak ada satu negara pun yang bebas dari ancaman tersebut, dan membuat dunia seolah akan memasuki periode gelap gulita.

Bagaimana kita bersiaga menghadapi ancaman tersebut? Refleksi ini coba melihat krisis yang pernah dinarasikan dalam Alkitab dan memetik hikmahnya, agar lebih siap menyintas krisis di depan mata.

Tribijak

Paling tidak, ada tiga kebijakan yang dapat menolong menyintasi krisis.

  • Bijak olah berkat.

Mungkin saja ada masa kelancaran, bahkan kelimpahan rejeki dalam perjalanan hidup seseorang. Periodenya sedemikian lama, seolah tidak mungkin akan mengalami masa kesulitan. Hidup hedonis menjadi lumrah mewarnai gaya hidup kesehariannya. Apalagi bila pondasi keluarganya secara turun temurun demikian kuat dalam kekayaan keuangan, makin tak terpikirkan adanya kemungkinan alami kebangkrutan dalam hidupnya. Wawasan demikian, merupakan jerat yang dapat mencelakakan siapa pun penganutnya, karena kekayaan duniawi bukanlah merupakan kepastian yang tidak bakal berubah. Sejarah mencatat cukup banyak dinasti yang kaya raya, mengalami kebangkrutan fatal, lalu musnah.

“Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati.”   [1 Tim. 6:17; TB LAI].

Photo by Jeremy Bishop on Pexels.com

Butuh kerendahan hati untuk menerima realitas kedaulatan Tuhan dalam hidup manusia. Yusuf, si anak emas, diproses sedemian rupa dalam hidupnya, hingga sepenuhnya mengakui kedaulatan Tuhan tersebut. Hal ini dicatat dalam Alkitab, demikian:

Berkatalah Firaun kepada Yusuf: “Aku telah bermimpi, dan seorangpun tidak ada yang dapat mengartikannya, tetapi telah kudengar tentang engkau: hanya dengan mendengar mimpi saja engkau dapat mengartikannya.” Yusuf menyahut Firaun: “Bukan sekali-kali aku, melainkan Allah juga yang akan memberitakan kesejahteraan kepada tuanku Firaun.” [Kej. 41:15-16; TB LAI].

Pengakuan akan kedaulatan Tuhan, menolong sikap terbuka pada prinsip kebijaksanaan Tuhan, yaitu kelimpahan berkat Tuhan harus dikelola secara cerdas dan bijaksana (Kej. 41:33). Menabung di masa kelimpahan berkat, merupakan kebijaksanaan mendasar, agar mampu menyintas kala krisis melanda.

  • Bijak olah investasi.

Di masa kini, tabungan dipahami sebagai investasi. Ada berbagai model investasi yang ditawarkan. Tiap model investasi, mengandung resiko tertentu. Prinsip “resiko akan sebanding keuntungan” yang diterima secara umum, seolah menjadi standar pemilihan investasi. Bagi sekelompok orang tertentu, resiko besar yang menjanjikan imbal hasil besar, lebih menarik dari pada resiko kecil dengan imbal hasil kecil. Namun tentunya akan lebih memikat bila ada model investasi dengan resiko minim, yang menawarkan imbal hasil besar dalam jangka waktu singkat.

Modus investasi yang dikenal sebagai skema ponzi, sangat tergantung pada banyaknya investor baru di bawah investor sponsor yang bersangkutan. Berbeda dengan transaksi bisnis yang mentransaksikan produk fisik yang nyata, modus investasi ini hanya mentransaksikan ide “nyantai, cuan” seperti modus yang ditawarkan Iblis kepada Adam-Hawa di taman eden (Kej. 3:4-5). Ada kalanya, tabungan yang dimiliki itu sangat terbatas nilainya, sedangkan ancaman krisisnya begitu menakutkan. Bahkan, sangat mungkin bila benda yang cukup bernilai, yang dimilikinya pun sangat sedikit. Kondisi itu sangat rawan terhadap godaan investasi bodong tersebut.

Photo by THu00c1I NHu00c0N on Pexels.com

Butuh keterbukaan dan ketaatan iman pada kebijaksanaan Tuhan semesta alam. Tanpa memiliki kehidupan yang takut akan Tuhan, mustahil orang akan mengikuti prinsip kerja Tuhan yang mungkin seolah tidak cukup menjamin kehidupannya. Prinsip providensia Tuhan, menekankan pemeliharaan Tuhan dikaruniakan melalui partisipasi ciptaan dalam upaya pemenuhan kebutuhan hidupnya, seturut dengan prinsip kekudusan-Nya. Oleh karena itu, bekerja secara halal berlandaskan takut akan Tuhan, merupakan sarana saluran berkat Tuhan yang pasti mencukupi.

Narasi pemungutan roti manna menunjukkan prinsip kerja sesuai kebijaksanaan Tuhan (Kel. 16:4-5). Narasi pelipat-gandaan minyak sebotol kecil milik seorang janda miskin (2 Raj. 4:1-7) melengkapi prinsip kerja dengan prinsip pengolahan harta benda yang dimiliki. Prinsip “apa yang dimiliki” ini juga dapat diterapkan pada pengetahuan dasar akan produk investasi yang diminatinya. Investor harus memiliki pengetahuan dasar tersebut, bukan hanya semata karena mengenal pengelola atau pun sponsor investasinya.

Memang, sesuai natur manusia, pengetahuan tersebut dapat diraih melalui suatu proses pembelajaran, namun hal itu tidak mengurangi kewajiban investor untuk mempelajari investasinya. Providensia Tuhan menjamin bahwa kerja dan investasinya, pasti mencukupi kebutuhan hidup. Keinginan meraup kekayaan secara nyantai, menyalahi prinsip providensia Tuhan.

“Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan.”  [1 Tim. 6:9; TB LAI].

Tentu saja, tidak dijanjikan bahwa apa yang dimiliki tersebut tidak akan berkurang, bahkan tersirat kemungkinan akan habis terpakai. Jadi, bijak investasi harus disertai dengan bijak penggunaan, yaitu digunakan secukupnya setiap hari.

“Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya” [Luk. 11:3; TB LAI].

  • Bijak olah gaya hidup.

Abraham Maslow telah coba menyusun tahapan kebutuhan manusia. Mulai kebutuhan fisik sebagai yang paling dasar, hingga pengaktualisasian diri sebagai kebutuhan puncak manusia. Dunia yang mengagungkan pencitraan diri, melencengkan cara nilai kebutuhan dasar. Materialisme yang marak diagungkan dalam wawasan duniawi, membungkus kebutuhan dasar dengan bungkus hedonisme. Kombinasi duo isme itu, menjadikan gaya hidup berlebihan sebagai pengganti spirit kecukupan.

Mungkin akan ada sanggahan bahwa materialisme dan hedonisme ini penyumbang penting penggerak ekonomi dunia. Tanpa kedua isme itu, perekonomian yang didorong oleh besarnya kebutuhan rumah tangga akan mandek, akan menimbulkan stagflasi. Bukankah dunia yang terancam dengan stagflasi saat ini, terutama didorong oleh menurunnya pengeluaran rumah tangga sebagai dampak trikrisis? Argumentasi demikian terkesan merupakan simplifikasi kompleksitas masalah yang dihadapi dunia. Refleksi ini lebih menekankan tentang kesiapan menghadapi krisis secara realistis.

Photo by cottonbro on Pexels.com

Anekdot “hidup untuk makan” menunjukkan semangat hedonisme yang memutarbalikkan prinsip “makan untuk hidup.” Sebenarnya, pemutarbalikan telah dilakukan Iblis saat menjebloskan Adam-Hawa ke dalam dosa. Dampaknya dirasakan hingga kini, yang mendistorsi, bahkan membuat firman Tuhan seolah usang dan tidak relevan lagi.

Manusia tidak lagi puas dengan kecukupan. Kenikmatan jasmaniah menjadi standar kepuasan yang seolah alami. Raja Salomo, yang dianugerahi hikmat, pengertian, kekayaan, dan kemuliaan secara limpah, juga pernah menjalani hidup super hedonis yang abai pada firman Tuhan (kitab Pengkhotbah). Namun akhirnya raja Salomo sadar bahwa kepuasan hanya dapat dinikmati lewat takut akan Tuhan dan berpegang pada firman-Nya, sebab akan menuntun pada kelegaan saat dihadapkan dengan pengadilan Tuhan (Pkh. 12:13-14).

Sikap takut akan Tuhan, menuntun untuk meneladani prinsip hidup Yesus Kristus yang bebas dari kemelekatan pada kepemilikan material (Mat. 8:20). Dengan demikian, manusia diharapkan mampu untuk fokus pada perkara-perkara surgawi, tidak terkungkung kekuatiran akan masalah duniawi.

“Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” [Mat. 6:31,33; TB LAI].

Nabi Elia menjadi contoh pelaku teks Alkitab di atas, dengan mendahulukan dan mentaati firman Tuhan (1 Raj. 17). Kisah nabi Elia ini menyiratkan akan adanya perubahan gaya hidup Elia, yang hidup secara bijak dalam memakai sumber daya penopang hidupnya. Walau tidak dinarasikan secara detail, masuk akal bila nabi Elia pada dasarnya telah terlatih untuk hidup sederhana. Yohanes Pembaptis yang digambarkan berpakaian seperti nabi Elia, dicatat memakan belalang dan madu hutan. Dengan demikian ada perubahan gaya hidup nabi Elia saat paceklik dahsyat terjadi waktu itu selama 3 ½ tahun, yaitu menjadi lebih sederhana.

Penutup

Photo by Lara Jameson on Pexels.com

Realitas kehidupan di dunia ini yang dapat memunculkan periode gelap gulita, perlu disikapi dengan melatih gaya hidup sederhana. Bukan lagi waktunya untuk terus berpesta pora. Krisis demi krisis yang memicu tingginya ketidak-pastian, membuat hidup tidak lagi dapat diperlakukan secara normal. Perlu serius mempersiapkan diri untuk menjalaninya secara marathon.

Pihak pemerintah NKRI yang menyadari realitas ini, telah terus menerus memperingatkannya kepada masyarakat Indonesia. Peringatan ini tentunya tidak boleh diabaikan. Jangan sampai kesejahteraan bangsa dan negara yang telah diperjuangkan, berubah arah menjadi negara gagal. Upaya pemerintah ini tentu saja perlu didukung sepenuhnya oleh segenap lapisan masyarakat yang mencintai NKRI. Akhirnya, sebagai masyarakat yang mengakui adanya Tuhan segenap semesta yang berdaulat, ora et labora menjadi logis untuk dilakukan. Semoga Tuhan semesta alam memberkati. Terpujilah Tuhan!

avatar setiadotone

Oleh setiadotone

Buah pertama kristiani dari keluarga konfusianis. Berkarier di berbagai perusahaan 'sekuler' lalu terpanggil sebagai pendidik di universitas (kristen) 'umum.' Berupaya mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan wawasan dunia kristiani terapan, agar membangun profesional kristiani.

Tinggalkan komentar