Manajemen Proyek

Photo by fauxels on Pexels.com

Pendahuluan

Photo by Charles Parker on Pexels.com

Infrastruktur merupakan salah satu sarana penting dalam menunjang aktifitas masyarakat daerah tertentu. Kegunaannya cukup diakui bagi peningkatan kemajuan masyarakat daerah tersebut. Bahkan, berbagai bangunan dengan kegunaan tertentu, dapat dibanggakan sebagai semacam ikon yang menggambarkan kemakmuran  masyarakatnya. Oleh karenanya, dari sejak jaman purba hingga kini, banyak dibangun berbagai bangunan megah yang dapat dijadikan ikon kebanggaan masyarakatnya.

Semakin megah bangunannya, semakin penting elemen manajemen proyeknya, sehingga semakin utama peran manusianya. Acapkali, kegagalan ataupun kesuksesan penyelesaian proyek bangunan, lebih disebabkan oleh faktor manusianya.

Artikel ini coba meninjau narasi pembangunan 2 proyek bergengsi di jaman kuno. Alkitab mencatat adanya proyek Menara Babel dan Bait Suci Salomo, yang masing-masing merupakan proyek prestisius di jamannya. Tinjauan akan dilandaskan pada wawasan dunia kristiani, namun pada dasarnya, prinsip yang terkandung di dalamnya merupakan prinsip umum yang berlaku di segala jaman. Semoga dapat bermanfaat dalam meminimalkan terjadinya proyek-proyek mangkrak.

Pengetahuan dan Kehendak Manusia

Iman kristiani, berdasarkan teks narasi Alkitab, mensyukuri keberadaan manusia sebagai ciptaan yang diciptakan menurut gambar rupa Tuhan. Pengakuan ini mengandung paradoks kesatuan 2 sisi. Satu sisi menyiratkan keistimewaan manusia yang mencitrakan Sang Pencipta, dengan kelengkapan kapasitas kemampuan diri yang unggul dibandingkan ciptaan lainnya.

Photo by Pixabay on Pexels.com

Sisi lain menyiratkan natur ciptaan yang membuat manusia serupa dengan ciptaan lainnya, terbatas dalam berbagai batasan dimensi ciptaan yang ditetapkan Sang Pencipta bagi ciptaan-Nya.

Salah satu kapasitas istimewa yang dimiliki manusia adalah kemampuan berpengetahuan. Manusia dikaruniai akal budi untuk dapat menimba dan mengembangkan pengetahuan intelektual dan moralnya. Sebagai citra Tuhan, tentunya kapasitas ini jauh melampaui kapasitas mahluk ciptaan lainnya. Namun sebagai ciptaan, manusia harus mengembangkannya melalui proses pembelajaran di dalam perjalanan hidupnya. Proses ini merupakan proses mengusahakan dan memelihara (Kej. 2:15), serupa proses tesis-antitesis-sintesis yang dikenal secara umum saat ini.

Pengetahuan intelektual dan moral ini, sangat berperan dalam menggerakkan aksi manusia. Namun, ada satu kapasitas lain yang juga penting perannya, yaitu kehendak manusia. Semua mahluk hidup, dilengkapi Tuhan dengan kapasitas kehendak ini, walau manusia memilikinya dengan derajat yang lebih kompleks. Ilmu psikologi telah menyumbangkan pemikiran adanya pengaruh lingkungan atas pembentukan kepribadian seseorang, yang akan mewarnai keunikan kehendak bebasnya. Kitab Amsal telah menegaskannya pada teks pasal 27 ayat 17, yang berbunyi “Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya.”

Photo by Pixabay on Pexels.com

Realitas ini selaras dengan keberadaan manusia sebagai mahluk sosial, yang tidak teringkarkan dengan keberadaan Sang Pencipta sebagai Allah Tritunggal, satu esensi Allah dengan 3 pribadi Allah yang berbeda, keberadaan keAllahan yang bersifat sosial sekaligus personal.

Kesamaan sekaligus kebedaan manusia dengan Tuhan ini, merupakan misteri yang tidak dapat sepenuhnya dipahami oleh keterbatasan kapasitas manusia, terhadap ketak-terbatasan diri Tuhan.

Dengan demikian, dapat diterima bahwa pengetahuan rekayasa rancang bangun manusia juga mengalami proses perkembangan. Bahkan rekayasa material bangunan juga ikut berkembang sejalan dengan perkembangan pengetahuan manusia itu. Alam telah menyediakan berbagai material dasar, dan manusia merekayasanya menjadi berbagai material bangunan yang lebih efektif dan efisien, guna menunjang rancang bangun suatu bangunan yang lebih kompleks dan artistik futuristik.

Proses tumbuh kembang sifat sosial serta pengetahuan manusia ini, memang dibutuhkan untuk memampukan manusia melaksanakan mandatnya Tuhan. Bahkan Tuhan sendiri telah terlebih dulu memberkati kapasitas pengetahuan dan sifat sosial manusia ini, sebelum menugaskan manusia dalam mandat yang dikenal sebagai mandat budaya (Kej. 1:28).

Sayangnya, terjadi suatu peristiwa yang berdampakkan disrupsi total bagi pelaksanaan mandat budaya tersebut. Ada pemutar-balikan tatanan wawasan, dari teosentris menjadi antroposentris. Hanya karena natur maha agung Tuhan yang terus menopang ciptaan-Nya, masih ada kemampuan baik manusia yang berguna bagi pelaksanaan mandat budaya tersebut. Bukan itu saja, sesuai dengan natur kasih dan keadilan-Nya yang tak terukur, Tuhan bahkan bertindak membayar harga tebusan sedemikian rupa, agar manusia dimungkinkan, kembali memiliki tatanan wawasan teosentris, saat melaksanakan mandat budaya tersebut.

Menara Babel dan Bait Suci Salomo

Photo by Kzeniia Bezz <> Joel Wilson on Pexels.com

Alkitab menarasikan keberadaan Nimrod sebagai penguasa pertama di bumi (Kej. 10:8-9), setelah peristiwa air bah di jaman Nuh. Keperkasaan Nimrod telah mengundang banyak orang untuk bernaung di bawahnya. Kesatuan banyak orang ini merupakan modal awal dalam menaklukkan bumi. Salah satu prestasi yang dicatat adalah keberhasilan mereka memproduksi “batu bata” dan “aspal” yang dipakai sebagai material bangunan. Efektifitas dan efisiensi kedua material bangunan itu nampaknya cukup tinggi, sehingga seolah membuka peluang untuk mendirikan bangunan yang menjulang maha tinggi.

Rekayasa rancang bangun teknik sipil saat ini, tidak asing dengan adanya beban “gaya tarik,” di samping “gaya tekan” yang harus dipikul oleh struktur bangunan. Biasanya material besi dipakai untuk memikul gaya tarik tersebut. Material beton yang seperti batu, untuk memikul gaya tekannya. Makin tinggi suatu bangunan, gaya tekan dan gaya tarik yang harus dipikulkan akan semakin besar.

Bangunan Menara Babel yang menggunakan “batu bata” yang direkatkan satu sama lainnya memakai “aspal,” mungkin mampu memikul beban gaya tekan dan gaya tarik dengan besaran tertentu. Namun bila bangunan itu diteruskan dengan ketinggian yang makin menjulang, maka mungkin material yang dipakai tidak lagi mampu untuk memikul beban gayanya. Dengan demikian bangunan itu akan terancam rubuh.

Tidak ada data yang cukup untuk menganalisa sisi rekayasa teknik sipilnya. Oleh karenanya, di samping kemungkinan di atas, lebih baik menganalisa faktor manajemen proyek beserta aspek manusianya. Untuk lebih memperjelasnya, analisa akan dilakukan dengan cara membandingkan manajemen proyek dari pembangunan Menara Babel dengan pembangunan Bait Suci Salomo.

  • Tujuan pembangunan.

Menara Babel dibangun dengan tujuan untuk keagungan nama bangsa Babel di seluruh dunia. Melalui kemenjulangan bangunan Menara Babel, maka semarak nama bangsa Babel akan diteguhkan sebagai bangsa super adidaya. Ikon bangunan tersebut diharapkan akan menggentarkan hati bangsa lainnya, membuat semua bangsa lain takut dan tunduk kepada bangsa Babel. Dengan demikian, bangsa Babel tidak akan menghadapi ancaman dicerai-beraikan oleh musuh manapun juga. Jelaslah, wawasan yang melandasinya adalah wawasan antroposentris, menempatkan manusia sebagai pusat semesta.

Sebaliknya, Bait Suci Salomo berawal dari kerinduan Raja Daud untuk mempersembahkan tempat yang layak, yang melebihi semarak istananya, bagi tabut perjanjian, sebagai lambang kehadiran Tuhan semesta alam (2 Sam. 7:1-2). Niat baik Daud itupun harus tunduk pada keputusan Tuhan yang menolak Daud sebagai pembangunnya. Tuhan yang menetapkan Salomo, putera Daud, sebagai pembangunnya sehingga Tuhan-lah yang menjadi pusat dari proyek bait suci tersebut. Ketaatan Daud dan Salomo atas ketetapan Tuhan tersebut, menegaskan bahwa wawasan teosentris-lah yang menjadi landasannya.

  • Buah wawasan.

    Proyek Menara Babel yang berlandaskan pada wawasan antroposentris, menyiratkan adanya ketidak-harmonisan relasi antar manusianya. Berawal dari tragedi keberdosaan manusia di Taman Eden (Kej. 3), manusia cenderung haus kekuasaan dan menjadi lawan bagi sesamanya (homo homini lupus). Natur manusia menjadi tidak bertanggung-jawab, melontarkan kesalahan dirinya kepada pihak lainnya. Kesatuan manusia yang tergambar dalam kesatuan suami-istri (Kej. 2:24), menjadi absurd. Komunikasi sehati menjadi mustahil. Semua orang berlomba untuk mengutamakan kepentingannya sendiri, sekalipun secara terselubung.

    Alkitab memang menarasikan bahwa Tuhan-lah yang mengacaubalaukan bahasa orang-orang Babel saat itu. Namun, hal ini tidak bertentangan dengan realitas keberdosaan manusia yang memustahilkan keharmonisan komunikasi antar manusia. Paradoks ini dipahami dalam kacamata iman kristiani, bahwa Tuhan sebagai penyebab pertama, mewujudkan peristiwa-peristiwa nyata di dunia melalui mahluk ciptaan sebagai pelaku penyebab kedua. Akhirnya, pembangunan Menara Babel menjadi gagal dan mangkrak, bahkan penduduknya lalu tercerai-berai ke mana-mana.

    Sebaliknya, proyek Bait Suci Salomo yang dikerjakan dengan landasan wawasan teosentris, mencatat adanya kerjasama harmonis dari banyak pihak dalam merealisasikannya hingga tuntas (1 Taw. 28-29). Peran Daud sebagai pemimpin tertinggi saat itu, untuk sekuat tenaga berpartisipasi dalam proses pembangunan Bait Suci, menjadi contoh teladan bagi rakyatnya. Daud tidak hanya sekadar berpidato olah kata-kata indah, melainkan membuktikannya melalui tindakan nyatanya. Daud rela memberikan kesempatan anaknya untuk memperoleh kemasyuran, bukan ngotot meraih kemasyuran namanya sendiri. Daud melakukannya bersemangatkan ketaatan pada kehendak Tuhan. Hal itu jelas berdampak pada kesatuan hati segenap lapisan masyarakat di kerajaannya, sebagai keberadaan mahluk sosial (homo homini socius), untuk baku bahu menuntaskan proyek pembangunan Bait Suci tersebut.

    • Sadar posisi.

    Wawasan antroposentris yang menggeser posisi Tuhan Sang Pencipta sebagai pusat segenap semesta, merupakan tindakan nyata pemberontakan manusia. Manusia menolak posisinya sebagai ciptaan yang sewajarnya tunduk dan memuliakan penciptanya. Pemberontakan itu telah menjungkirbalikkan tatanan Tuhan yang sungguh sangat baik, sehingga hanya menyisakan kekacauan (chaos). Jadi, dapat dipahami bila proyek pembangunan Menara Babel menjadi berantakan dan mangkrak.

    Wawasan teosentris yang menempatkan Tuhan Sang Pencipta sebagai pusat segenap ciptaan, telah menolong Daud dan lalu Salomo, beserta segenap lapisan masyarakatnya, untuk tidak terjebak jerat memuliakan diri sendiri. Kondisi ini memungkinkan suksesnya pembangunan tuntas Bait Suci di jaman Raja Salomo, yang disertai dengan pengakuan bahwa keberhasilan tersebut sepenuhnya merupakan karya anugerah Tuhan. Sadar diri tersebut tentunya diperkenan oleh Tuhan, sehingga berkat Tuhan, dilimpahkan-Nya bagi Salomo (2 Taw. 1).

    Penutup

    Wawasan antroposentris memiliki esensi yang bertolakbelakang dengan wawasan teosentris. Firman Tuhan telah menyuratkan sikap Tuhan atas kedua wawasan tersebut, yaitu:

    “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!” [Yer. 17:5; TB LAI]“Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!” [Yer. 17:7; TB LAI]

    Manusia mungkin saja menyembunyikan wawasan yang dianutnya, dan berupaya tampil sebagai pribadi yang layak diikuti dan dihormati. Namun pasti akan ada saatnya topeng pencitraan diri yang tidak otentik tersebut, akan dibukakan oleh Tuhan, salah satunya lewat pekerjaannya yang mangkrak. Orang lain dapat dimanipulasi oleh penampilan semu, Tuhan tidak mungkin dibohongi.

    “Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya? Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya.” [Yer. 17:9-10; TB LAI]

    Narasi Alkitab yang menjadi sumber pengajaran dan didikan yang baik, selayaknyalah prinsip-prinsipnya menjadi penuntun hidup, agar manusia diperlengkapi untuk melakukan perbuatan baik dan benar (2 Tim. 3:16-17). Biarlah buah karya manusia, diselesaikan hanya bagi kemuliaan nama Tuhan semata. Terpujilah TUHAN!

    avatar setiadotone

    Oleh setiadotone

    Buah pertama kristiani dari keluarga konfusianis. Berkarier di berbagai perusahaan 'sekuler' lalu terpanggil sebagai pendidik di universitas (kristen) 'umum.' Berupaya mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan wawasan dunia kristiani terapan, agar membangun profesional kristiani.

    Tinggalkan komentar