Baku Bahu

Photo by RODNAE Productions on Pexels.com

Pendahuluan

Terpaan badai pandemi covid-19 yang tak kunjung tuntas, memicu ancaman krisis keuangan. Dunia juga dihadapkan pada ancaman krisis pangan dan energi, karena perang Rusia-Ukraina menutup ekspor gandum Ukraina, maupun penyaluran gas alam Rusia. Belum lagi adanya krisis iklim yang mendatangkan panas ekstrim, sehingga rawan memicu kebakaran serta gagal panen. Diikuti ancaman musim dingin yang segera datang, ditengah kelangkaan gas pemanas ruang. Negara-negara di Eropa khususnya, paling merasakan dampak negatifnya. Globalisasi membuat derita krisis keuangan, pangan, dan energi, juga melanda negara-negara di luar benua eropa. Kondisi yang belum jelas kapan tuntasnya ini, makin menguatkan ketidakpastian yang menyulitkan perencanaan hidup ke depannya.

Menyadari realitas ini, mendorong perlu dan pentingnya kehati-hatian dalam perencanaan kelola sehat dalam menapaki kehidupan, baik bagi pribadi, hingga lingkup negara. Sebagai makhluk sosial, tidak ada seorang manusia pun yang dapat menyintasi krisis ini sendirian, butuh baku bahu dengan sesamanya manusia. Langkah penting pertama, tentunya adalah kesehatian menyadari dan mengakui realitas ancaman tersebut, dilanjutkan baku bahu menghadapi dan mengatasinya. Sayangnya, tidak semudah itu membangun kesehatian, akan ada saja pihak-pihak yang mendendangkan irama berbeda, karena memiliki agenda tersembunyi yang hanya akan menguntungkan dirinya semata.

Narasi kitab Nehemia dalam Alkitab, akan menjadi contoh kasus yang disoroti terkait dengan topik dalam artikel ini, berlandaskan wawasan kristiani. Semoga refleksi ini dapat menjadi berkat yang mendatangkan kemanfaatan bagi masyarakat umum, serta mendatangkan syukur bagi kemuliaan nama Tuhan Yang Maha Kuasa.

Studi Kasus dan Relevansinya

Kitab Nehemia berlatarkan periode saat bangsa Israel kuno kembali dari pembuangan di Babel. Kerajaan Israel kuno, mengalami kekalahan telak saat perang melawan Kerajaan Babilonia. Dampaknya, orang Israel ditawan besar-besaran dan dibuang ke Babel, yang memaksa mereka mengikuti budaya Babel dan meninggalkan budaya leluhurnya. Setelah pembuangan selama sekitar 70 tahun, akhirnya, di era Kerajaan Media-Persia yang menaklukkan Kerajaan Babilonia, bangsa Israel dapat kembali ke tanah asalnya. Tentu saja, tanah Yehuda yang sempat terbengkalai tersebut, menyisakan puing-puing kehidupan, baik berupa bangunan fisik, maupun sosial budaya masyarakat tertinggalnya yang nelangsa. Tidak ada lagi kondisi normal, hanya tersisa kondisi abnormal.

Latar belakang ini relevan dengan kondisi kini. Badai pandemi covid-19 yang sempat meluluh-lantakkan bidang ekonomi-sosial di berbagai negara, memang mulai mereda. Kebudayaan dunia pra-pandemi, dapat dikatakan mengalami kekalahan. Pandemi covid-19 memunculkan keadaan yang disebut sebagai new normal. Aktifitas ekonomi sosial, tidak lagi bertahan dengan bentuk lama, bahkan yang konvensional telah mengalami pukulan mematikan. Jejak kekalahannya nampak pada banyaknya pihak-pihak yang bangkrut karenanya. Bangkit kembali dari kebangkrutan bukanlah perkara mudah. Perlu upaya luar biasa dan berkelanjutan untuk memulainya kembali secara bertahap.

Studi kasus kitab Nehemia, juga menegaskan pentingnya mengenali permasalahan sesungguhnya secara tepat, agar dapat dirancang berbagai kebijakan yang tepat daya dan tepat guna. Nehemia menggali pokok masalah bangsanya, melalui sumber-sumber terpercaya yang langsung menghadapi permasalahan nyata di lapangan (1:2). Bahkan Nehemia lalu melakukan sidak tersembunyi melalui cara blusukan langsung ke lapangan (2:11-15). Sebelumnya, Nehemia juga menggalang dukungan penguasa lainnya melalui komunikasi personalnya. Kepiawaian komunikasi Nehemia, juga diterapkannya kepada para pemangku kepentingan lainnya, sehingga membangun kesehatian dalam mewujudkan perbaikan untuk kesejahteraan bersama (2:18).

Demikian pula permasalahan saat ini. Model konvensional era sebelum pandemi telah menjadi sisa-sisa puing, digantikan model berbasiskan teknologi internet dan teknologi modern lainnya. Bisnis model jejaring internet dan temu virtual, telah menjadi model baru yang menenggelamkan model sebelum pandemi. Bentuk ini bahkan juga menerpa aktifitas kerohanian, seperti ibadah gerejawi. Namun sayangnya, tidak semua pihak, khususnya pihak usaha kecil, termasuk gereja-gereja kecil, dapat segera beralih mengikuti model new normal ini. Keterbatasan sumber dana maupun daya manusianya, menjadi hambatan yang tidak terpikulkan bila sendirian. Perlu dukungan pihak lain yang lebih kuat untuk memberdayakan pihak yang lebih lemah.

Pemerintah Indonesia, khususnya Presiden Indonesia, telah banyak melakukan komunikasi intensif dengan berbagai pimpinan dunia dan pimpinan lembaga-lembaga penting dunia. Juga tentunya aktif mengkomunikasikan perkembangan dunia dan keadaan bangsa Indonesia dengan jajaran para menteri dan pimpinan badan negara lainnya. Penyampaian kepada masyarakat Indonesia akan keadaan abnormal saat ini, juga terus digaungkan agar jelas.

Pada dasarnya, baku bahu semua pihak, menjadi syarat penting. Pihak penguasa, dapat berperan melahirkan kebijakan yang paling sesuai dengan kondisi bangsanya. Misalnya dalam mengatasi bahaya krisis pangan, Pemerintah Indonesia mengupayakan pengembangan bahan pangan tradisional seperti sorgum, jagung, dan sagu, yang sebelumnya sempat terabaikan. Juga mencoba mengatasi krisis energi dengan mengupayakan program percepatan pengembangan penggunaan mobil listrik di Indonesia, sebagai optimalisasi kekayaan kandungan nikel di Indonesia, yang penting bagi pembuatan baterai listrik untuk mobil. Tidak lupa, mengupayakan pengadaan bahan baku minyak murah dari negara-negara yang out of the box, agar dapat mengadakan bahan bakar kendaraan dengan harga terjangkau. Dengan demikian, bahaya inflasi sebagai dampak aneka krisis tersebut, dapat ditekan seminim mungkin. Terjadilah antithesis wawasan pikir dan laku.

Walaupun logika sehat selayaknya mendukung gagasan perbaikan, nyatanya akan selalu ada pihak-pihak yang menolaknya. Pihak-pihak yang bakal merasa dirugikan dengan perbaikan yang akan dilakukan, biasanya akan melakukan perlawanan. Bila perlawanan itu dilakukan secara terbuka, lebih mudah mengatasinya. Namun acapkali pihak-pihak penentang melakukan politik bertopeng, seperti yang dilakukan oleh Sanbalat, Tobia, dan Gesyem, dalam studi kasus kitab Nehemia (2:10). Pihak-pihak lawan melakukan perang psikologis politis dengan menghina pribadi pemimpin dan karyanya (2:19). Bahkan upaya perlawanan ditingkatkan dengan rencana melakukan kerusuhan dan penyerangan, setelah progres perbaikan yang dilakukan bangsa Israel makin memperlihatkan hasil positifnya (4:7-8). Nehemia menyadari keseriusan dampak perusakan bila rencana jahat lawan sukses, sehingga menempatkan sistem kerja yang kelancarannya dikaitkan dengan keselamatan keluarga (4:13-14). Bila kerja perbaikan gagal dilaksanakan, maka keselamatan keluarga juga turut terancam oleh kekejian pihak lawan.

Nyatalah, antithesis wawasan pikir dan laku, juga tidak selalu berjalan mulus. Pelaksanaan kebijakan harus melibatkan semua pihak yang tepat, secara bersehati. Namun, akan selalu muncul pihak-pihak berseberangan yang tidak menyukai perbaikan keadaan. Teknologi internet yang terbukti dapat meningkatkan efisiensi dan efektifitas komunikasi dan kerja, diselewengkan menjadi sarana politik hitam. Upaya pendiskreditan pemerintahan NKRI pun dilakukan melalui fitnah dan hinaan, khususnya kepada presiden yang merupakan kepala negara, melalui berbagai platform media sosial. Mengenali, lalu tegas menolak kesertaan pihak pendompleng, merupakan keberanian tersendiri yang sungguh patut diapresiasi.

Photo by Pixabay on Pexels.com

Kesiapan berbagai pihak, baik itu kesehatian para menteri dengan jajaran instansinya dalam mewujudkan kebijakan pemerintah, maupun jajaran petugas keamanan dalam mengamankan negara dari ancaman kerusuhan, menjadi krusial bagi keberhasilan kebijakan program perbaikan. Masyarakat perlu mendukung kebijakan pemerintah dalam memperjuangkan perbaikan kehidupan bangsa dan negara Indonesia, dan tidak terkecoh dengan siasat busuk pihak-pihak yang tidak menghendaki adanya perbaikan tersebut. Kegagalan perbaikan kehidupan yang dikerjakan, akan juga berdampak pada keselamatan keluarga. Hal ini menegaskan akan pentingnya kesehatian baku bahu.

Penutup

Kisah Nehemia menyiratkan pentingnya bergantung kepada Tuhan. Kepribadian pemimpin yang takut akan Tuhan, sebagaimana tergambar dalam pribadi Nehemia, juga merupakan aspek penting yang tidak dapat disepelekan. Keseriusan perhatian bagi kesejahteraan bangsa, dan kesediaan bayar harga untuk mewujudkannya, seperti yang dinarasikan ada pada diri Nehemia (1:4; 2:5), juga menjadi prasyarat penting bagi calon pemimpin bangsa. Doa Nehemia di awal perjalanan kerja perbaikan kondisi Israel setelah kembali dari pembuangan Israel di Babel, mengandung pengakuan keberdosaan diri, keluarga, dan bangsanya, terhadap Tuhan yang maha besar (2:6-7). Pengakuan ini, melandasi kebergantungan Nehemia pada anugerah Tuhan semata, sekaligus menyiratkan pribadi yang rendah hati. Dengan demikian, Nehemia menyaksikan bahwa keberhasilannya bukanlah merupakan kepandaian dirinya.

Kualitas pribadi pemimpin dapat dilihat dari rekam jejak kariernya. Memilih pemimpin yang tepat, merupakan langkah awal penting yang tidak dapat disepelekan. Realitas keterbatasan manusia, mendukung pentingnya memilih pemimpin yang takut akan Tuhan, yang bergantung kepada Tuhan. Patut diingat bahwa perbaikan selalu membutuhkan kerja nyata, dan dalam proses yang memakan periode waktu tertentu, bukan instan. Walaupun setiap orang secara alami menginginkan perbaikan segera terjadi, tidaklah logis menuntut perbaikan kondisi secara seketika. Itupun perlu dilakukan secara baku bahu oleh segenap pihak yang berkepentingan, dengan bersehati. Jadi, berlaku prinsip bekerja dan berdoa (4:9), sebagaimana didengungkan dalam slogan ora et labora. Semoga Tuhan memberkati kerja perbaikan kondisi Indonesia paska pandemi ini. Terpujilah Tuhan Yang Maha Besar.

avatar setiadotone

Oleh setiadotone

Buah pertama kristiani dari keluarga konfusianis. Berkarier di berbagai perusahaan 'sekuler' lalu terpanggil sebagai pendidik di universitas (kristen) 'umum.' Berupaya mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan wawasan dunia kristiani terapan, agar membangun profesional kristiani.

Tinggalkan komentar