Rekam Jejak

Ilustrasi diatas, menunjukkan bahwa sebenarnya akar permasalahan terletak pada ketidak-puasan, pada keinginan hati yang dibalut oleh keiri-hatian. Oleh sebab itu, mewaspadai hati sendiri merupakan langkah penting dalam menjalani kehidupan (Ams. 4:23). Signifikansinya menjadi makin jelas, bila diakui akan natur kelicikan hati yang berdosa (Yer. 17:9), yang tidak pernah menginginkan kebaikan (Kej. 6:5).
Selain itu, sebagai makhluk yang berproses dalam dimensi ruang-waktu, manusia menapaki jalan lurus ke depan, dalam perjalanan hidupnya. Oleh sebab itu, rekam jejak menjadi penanda yang tidak boleh diabaikan, saat mencoba memahami karakter seseorang.
Rekam jejak Musa memperlihatkan akan kerendahan hati Musa, setelah digembleng Tuhan lewat kasus penolakan orang Israel untuk didamaikan Musa, saat ditegur Musa atas perbuatan salahnya kepada sesama orang Israel. Bayangkan, seorang budak jajahan melawan seorang pangeran penguasa. Apalagi sehari sebelumnya, Musa membela orang Israel yang dianiaya orang Mesir, dengan membunuh orang Mesir yang menganiaya itu. Bukankah ini merupakan tindakan membalas susu dengan air tuba? Peristiwa ini membuat Musa menjadi seorang pelarian yang kehilangan segalanya.
Saat diutus Tuhan untuk menjadi pemimpin yang membebaskan umat Israel dari perbudakan Mesir, Musa bahkan menolak dan tidak berambisi menjadi pemimpin. Setelah berhasil memimpin umat Israel keluar dari perbudakan Mesir, Musa pun tidak segan mengikuti saran mertuanya untuk berbagi kuasa dengan mendelegasikan kewenangan penanganan perkara orang Israel kepada berbagai orang Israel yang cakap. Dengan demikian menyiratkan bahwa Musa mengakui akan keterbatasan dirinya. Hal ini dikuatkan dengan berbagai peristiwa pengangkatan pejabat-pejabat penting dalam system organisasi umat Israel, seturut dengan perintah Tuhan kepada Musa.
Puncaknya, saat peristiwa penyembahan patung anak lembu emas oleh umat Israel, yang memurkakan Tuhan sehingga membuat Tuhan hendak membinasakan mereka, dan menjadikan Musa beserta keturunannya sebagai pengganti penerima janji berkat Tuhan. Musa menolak, bahkan memohonkan ampunan bagi umat Israel tersebut, dan tetap meminta Tuhan terus memimpin sendiri perjalanan umat Israel. Tidaklah berlebihan bila kemudian dicatat di Bil. 12:3, bahwa Musa merupakan seorang yang sangat lembut hatinya melebihi siapapun.
Musa tidak melakukan pembelaan dirinya sendiri, dan menyerahkan pembelaan dirinya kepada Tuhan atas dakwaan dan pemberontakan Miryam dan Harun. Tuhan membeberkan pembelaan-Nya dengan menunjukkan perlakuan istimewa Tuhan kepada Musa, yang beda bila dibandingkan kepada Miryam dan Harun. Dengan demikian, ada perbedaan kualitas antara kedua pihak yang berkonflik tersebut. Musa memiliki kualitas yang jauh lebih agung dibandingkan dengan Miryam dan Harun. Bahkan permohonan ampunan bagi Miryam oleh Musa kepada Tuhan, menunjukkan kualitas diri Musa yang patut diteladani.
Lanjut ke halaman 4
