Konflik Relasi

Sebagai ciptaan yang dicipta menurut gambar rupa Allah, seharusnya manusia memiliki karakteristik Allah secara terbatas. Iman kristiani mengakui Allah sebagai Allah Tritunggal,
yaitu 3 Pribadi Allah yang berkelindan (perichoresis) dalam keesaan esensi tunggal Allah. Dengan demikian, berelasi merupakan aktifitas alami natur manusia. Relasi harmonis, akan menolong manusia untuk mampu melakukan karya berskala raksasa dengan baik. Itu sebabnya, Allah menciptakan seorang pria dan seorang wanita yang diberkatiNya dalam kesatuan pernikahan, agar beranak-cucu memenuhi dan menaklukkan bumi.
Manusia yang hanya memiliki 2 buah tangan, hanya dapat merengkuh area lingkaran kecil dengan kedua tangannya tersebut. Bila manusia saling bergandeng tangan membentuk lingkaran, maka luas cakupannya akan berlipat ganda. Makin banyak manusia yang berpartisipasi, makin luas lingkar area cakupannya. Demikianlah ilustrasi besaran kesanggupan manusia berkarya, bila bekerjasama dengan manusia lainnya.
Nabi Musa dicatat di Alkitab sebagai pemimpin pembebas umat Israel dari tanah perbudakan Mesir. Dari awal, keberadaan Musa sudah diwarnai dengan kisah spektakuler, yang menggetarkan hati. Bayangkan, umat Israel yang waktu itu ditindas sebagai budak di Mesir, terancam pula dengan pemusnahan bayi laki-laki saat baru dilahirkan. Orang Mesir takut dengan pesatnya pertambahan umat Israel yang kala itu tinggal di Mesir, yaitu sejak Yusuf bin Yakub, bin Ishak, bin Abraham, berkuasa sebagai tangan kanan Firaun, raja Mesir. Ketakutan ini mendorong keluarnya dekrit Firaun pengganti, yang tidak mengenal Yusuf, untuk menenggelamkan segala anak laki-laki umat Israel ke dalam sungai Nil. Tentu saja, Musa tidak lepas dari ancaman penenggelaman itu.
Setelah orangtua Musa tidak mungkin lagi untuk menyembunyikan keberadaan bayi Musa, mereka memutuskan untuk melarung bayi Musa, yang kala itu berumur 3 bulan, ke sungai Nil. Pengakuan iman kristiani atas providensia Tuhan, yaitu pemeliharaan, ko-operasi, dan kedaulatan kuasa memerintahNya, memposisikan umat kristiani untuk menolak paham tentang kebetulan. Jadi, saat bayi Musa diselamatkan dari sungai Nil, bahkan dipungut anak oleh puteri Firaun, bukan merupakan suatu kebetulan, melainkan merupakan karya providensia Tuhan. Bahkan, Tuhan mendemokan kuasaNya dengan membuat suatu ironi, dimana puteri Firaun menyelamatkan Musa dari sungai Nil, padahal ayahnya, sang Firaun, memerintahkan peneggelaman anak lelaki umat Israel ke sungai Nil.
Saat itu, Miryam, kakak perempuan Musa, seolah berjasa atas selamatnya Musa, serta dipungutnya Musa menjadi anak puteri Firaun. Menariknya, saat itu, Alkitab secara gamblang tidak mencatat nama kakak perempuan Musa tersebut. Seolah mau menunjukkan, bahwa peran Miryam tidak signifikan. Sedangkan secara manusiawi, tidak mengherankan bila Miryam mungkin menyimpan dalam hatinya akan jasanya saat itu, atas selamatnya Musa dari ancaman kematian. Nama Miryam baru muncul saat memimpin para wanita umat Israel yang mengikutinya, untuk melantunkan pujian bagi kemuliaan Tuhan (Kel. 15:20-21). Pujian Miryam, sebagai nabiah, dilantunkan untuk menggambarkan tindakan mahakuasa Tuhan, setelah Tuhan menenggelamkan Firaun beserta segenap pasukannya di Laut Merah, teluk di sebelah barat Jazirah Arab, yang memisahkan benua Asia dengan Afrika. Ironi bukan, Firaun mau meneggelamkan, malah ditenggelamkan.
Sayangnya, Miryam gagal paham, dan memandang terlalu tinggi akan dirinya. Kesempatan meninggikan diri sendiri, diperoleh Miryam saat Musa menikahi seorang perempuan Kush, yaitu warga Etiopia kuno. Hal itu dipandang oleh Miryam sebagai kelemahan Musa. Bukankah Kush merupakan putra sulung Ham, dan saudara dari Kanaan? Bukankah keturunan Ham kelak melenceng sedemikian jauh dari jalan Tuhan? Musa sebagai keturunan Sem, yang merupakan kakek moyang Abraham, bapak orang beriman, seharusnya tidak menikah dengan keturunan sesat itu dong!
Alasan di atas, dijadikan Miryam untuk menarik Harun berpihak kepadanya, melawan Musa. Bukan itu saja, Miryam juga memprovokasi Harun melalui kuasa jabatan sebagai nabi penyampai firman Tuhan. Dengan demikian, dua hal itu dipakai Miryam untuk mendelegitimasi kepemimpinan Musa. Sebagai kakak tertua, Miryam bernafsu untuk merebut tapuk kepemimpinan Musa, adik kandungnya seayah dan seibu. Apalagi bila mengingat dirinya berjasa besar atas keselamatan Musa dari ancaman kematian, saat Musa baru berumur 3 bulan. Pantas dong, kalau dirinya yang menjadi pemimpin. Begitulah kira-kira kecamuk pikiran dan isi hati Miryam, yang didorong oleh obsesinya menjadi pemimpin, sehingga melakukan pemberontakan kepada Musa. Terjadilah konflik relasi yang mengkisruhkan.
Lanjut ke halaman 3
