KISRUH [chaos]

Photo by Ahmed akacha on Pexels.com

Pendahuluan

Damai Tapi Gersang, itulah judul lagu karya Adjie Bandy, yang meraih Outstanding Song Award, saat dilantunkan di ajang World Pop Song Festival (WPSF), Budokan Hall, Tokyo, Jepang, tahun 1977. Lirik lagu ini mengandung makna yang cukup sulit dicerna kaum awam, karena bernuansa puitis. Bila lagu itu diterima sebagai luapan isi hati pengarangnya, mungkin dapat dipakai sebagai gambaran kehidupan rumah-tangganya yang terancam perceraian. Relasi kasih suami-istri, digempur oleh badai rumit masalah rumah-tangga yang meluluh-lantakkan keharmonisannya. Cukup tragis bukan?

Apa yang dialami oleh Adjie Bandy, menggambarkan cukup rawannya relasi antar manusia, bahkan dengan orang terdekatnya sekalipun. Jangan-jangan, malah relasi orang dekat itulah, yang rawan perpecahan? Bukankah disarankan untuk tidak meletakkan telur-telur dalam satu wadah yang sama, agar terhindar dari kemungkinan ada telur yang pecah karena saling bentur? Bila demikian, apakah manusia sebaiknya menyepi saja, agar tidak ada konflik yang berpotensi memecah-belahkan? Tulisan ini coba merefleksikannya berdasarkan wawasan kristiani.

Lanjut ke halaman 2

avatar setiadotone

Oleh setiadotone

Buah pertama kristiani dari keluarga konfusianis. Berkarier di berbagai perusahaan 'sekuler' lalu terpanggil sebagai pendidik di universitas (kristen) 'umum.' Berupaya mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan wawasan dunia kristiani terapan, agar membangun profesional kristiani.

Tinggalkan komentar