- Kambinghitam.

Di atas telah digambarkan mengenai proses dan dampak kejatuhan yang berujung pada kebangkrutan manusia. Bukan hanya kehilangan kenikmatan berkat kerja dan hasil kerjanya, Adam dan Hawa juga terusir dari taman Eden yang semula menjadi tempat tinggalnya. Tidak berhenti sampai di sana, berkat relasi harmonis antar manusia juga menjadi hilang. Sebelum hukuman dijatuhkan, manusia bahkan telah saling lempar tanggungjawab dan menunjuk pihak lain sebagai kambinghitam atas pelanggaran yang dilakukannya (Kej. 3:12-13).
Kegagalan manusia mentaati satu-satunya larangan Tuhan, menjadi wujud nyata permusuhan manusia dengan Tuhan. Dengan demikian bibit permusuhan menyebar dan jadi pandemi penyakit fatal bagi semua model relasi. Relasi manusia dengan ciptaan yang rusak seperti diulas pada poin 2 di atas, juga merusak relasi antar manusia. Bukan hanya relasi suami dengan isterinya yang rusak, bahkan kehamilan hingga proses melahirkan, telah menjadi derita bagi sang ibu, seolah menyiratkan permusuhan dari sang bayi kepada ibunya (Kej. 3:16).
Adam dan Hawa yang semula berotoritas atas alam dan makhluk hidup ciptaan lainnya, bahkan Hawa yang semula berotoritas atas anak yang dikandungnya, menghadapi perlawanan dari subordinasinya. Hal ini patut dialami oleh manusia sebagai pihak subordinasi yang melawan Tuhan penciptanya. Permusuhan itu hanya memeteraikan perubahan sikap manusia yang memilih untuk menjadikan pihak lain sebagai kambinghitam atas kesalahannya, sehingga menjadikan manusia sebagai homo homini lupus (manusia jadi serigala bagi sesamanya) ketimbang sebagai homo homini socius (manusia jadi sobat sesamanya).
Demikianlah keadaan manusia yang telah mengalami bangkrut moral dan spiritual. Keadaan ini membuat manusia mudah untuk mengorbankan pihak lain demi keuntungan dirinya sendiri, sehingga pihak-pihak yang dipercaya menjadi pimpinan juga terjerat dalam sikap yang serupa. Bukan lagi mismanajemen yang menggambarkan manajemen yang buruk, namun mungkin lebih cocok dikatakan sebagai nasty-management, yang mengandung makna kekejian yang menjijikkan, bagi para pihak yang melakukan berbagai kejahatan yang membangkrutkan secara tak bertanggungjawab.
Penutup
Dalam kehidupan manusia, selalu ada beragam faktor eksternal yang di luar kendali manusia. Di samping sebagai peluang, faktor eksternal tersebut juga dapat menjadi tantangan. Refleksi yang berdasarkan wawasan kristiani ini mengakui, bahwa faktor internal bahkan merupakan faktor utama bagi ancaman kebangkrutan. Memperlakukan manusia sebagai kesatuan psikosomatik, akan lebih memudahkan penguatan faktor internal dalam mengatasi ancaman nyata kebangkrutan.
Manusia yang telah bangkrut total sejak tragedi kejatuhan di taman Eden, tidak mampu lepas dari ancaman itu. Syukur kepada Tuhan yang telah dan terus beranugerah menopang keberadaan manusia sesuai dengan natur-Nya yang mahamulia, dengan menganugerahkan penyelamat yang berkorban bagi manusia. Semoga manusia boleh lepas dari kebangkrutan esensial, dengan merespon secara bertanggungjawab atas anugerah kasih Tuhan. Terpujilah Tuhan yang mahakasih dan mahamulia.
