BANGKRUT

  • Menghalalkan Cara Haram.
Photo by Erik Mclean on Pexels.com

“Ada banyak jalan menuju ke Roma,” demikianlah bunyi salah satu pepatah di Indonesia. Pepatah tersebut menstimulasi seseorang untuk pantang menyerah, berani mencoba cara lain bila cara sebelumnya tidak sukses mencapai tujuan. Bila poin 1 di atas, menyiratkan pentingnya tujuan yang benar, maka poin 2 ini, akan meninjau pentingnya cara yang benar. Tidak semua jalan itu menuju ke Roma, bahkan ada jalan yang bakal menyesatkan dan mencelakakan.

Ada jalan yang disangka lurus, tetapi ujungnya menuju maut.  [Ams. 16:25; TB LAI].

Jalan lurus satu-satunya yang aman dan tepat hanyalah jalan Tuhan, yang tersirat dalam ketetapan dan peraturan-Nya, dan yang sejalan dengan tuntunan Roh Kudus (Yoh. 14:26).

Sebagai pencipta, Tuhan tahu persis natur manusia ciptaan-Nya. Sebagai ciptaan, manusia pasti berada dalam berbagai batasan dimensi ciptaan. Narasi penciptaan menyatakan ciptaan berada dalam dimensi ruang dan dimensi waktu, dalam suatu proses berkelanjutan (Kej. 1:1-2:4a). Natur manusia yang demikian, mengkondisikan manusia berkarya melalui suatu proses berkelanjutan. Sejak awal, Tuhan telah menegaskan proses tersebut melalui prinsip mengusahakan (work) dan memelihara (keep), saat menugaskan pengelolaan taman Eden kepada Adam dan Hawa (Kej. 2:15).

Prinsip ini juga berlaku bagi perkembangan pengetahuan manusia. Sebagai ciptaan menurut gambar rupa Tuhan, manusia telah dianugerahi kapasitas bibit pengetahuan (innate knowledge), sehingga manusia bisa tahu akan Tuhan walau awalnya sangat redup. Melalui proses “belajar” sebagai wujud aktifitas mengusahakan, manusia mengembangkan pengetahuan terdahulu miliknya yang dipelihara dalam akal budinya, sehingga meraih pengembangan pengetahuan lanjut (acquired knowledge). Kenal Tuhan, berarti kenal hukum-hukum-Nya, termasuk hukum moral Tuhan tentang yang baik dan yang jahat. Dengan demikian, manusia harus berproses melalui berelasi dengan Tuhan, agar makin tahu tentang apa yang baik dan apa yang jahat, lewat pancaran natur Tuhan yang mahakudus. Cara instan yang diterapkan Adam dan Hawa lewat memakan buah pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat, yang dilarang Tuhan, merupakan jalan pintas yang disangka lurus, padahal berujungkan maut.

Prinsip proses mengusahakan dan memelihara ini berlaku bagi semua proses aktifitas manusia, yang tak bebas dimensi ruang dan waktu ciptaan. Hasil kerja berupa kekayaan materi, juga tidak lepas dari proses alami itu. Kecenderungan manusia yang diperbudak kuasa dosa, enggan menjalani proses itu. Korupsi sebagai jalan pintas instan dalam meraih kekayaan materi, memikat hati untuk dijalani. Wawasan duniawi yang menonjolkan aspek materi dan menihilkan aspek non-materi, menguasai dan mewarnai spirit pemisahan dualistik, sehingga aspek moral, apalagi spiritual, ternihilkan.

Praktek cara instan yang haram, yang dilakukan Adam dan Hawa di taman Eden, menjadi cara umum dalam menghalalkan cara haram yang sepenuhnya berlawanan dengan hukum moral Tuhan. Seperti Adam dan Hawa yang gagal memanajemen tatanan ciptaan di taman Eden secara sehat, korupsi merusak manajemen sehat yang selayaknya dilakukan, sehingga menimbulkan kerugian besar yang mengarah pada terjadinya kebangkrutan.

Harus diakui, kerja keras secara patut hukum, tidak selalu membuahkan hasil memadai. Bisa saja, hasil kerja itu mengecewakan. Keadaan ini harus disadari sebagai dampak ketercemaran dan kerusakan ciptaan yang semula sungguh amat baik, sejak dosa menginfeksi manusia dan segenap ciptaan lain. Alam yang sejatinya menjadi penopang hidup manusia, menjadi terkutuk dan menjadi lawan manusia.

Lalu firman-Nya kepada manusia itu: “Karena engkau mendengarkan perkataan isterimu dan memakan dari buah pohon, yang telah Kuperintahkan kepadamu: Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu: semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu; dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan akan kembali menjadi debu.  [Kej. 3:17-19; TB LAI].

Apa poin terakhirnya?

Lanjut ke halaman 4

avatar setiadotone

Oleh setiadotone

Buah pertama kristiani dari keluarga konfusianis. Berkarier di berbagai perusahaan 'sekuler' lalu terpanggil sebagai pendidik di universitas (kristen) 'umum.' Berupaya mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan wawasan dunia kristiani terapan, agar membangun profesional kristiani.

Tinggalkan komentar