BANGKRUT

B. Faktor internal:

Dari ilustrasi di atas, tampak bahwa faktor internal jauh lebih signifikan atas kebangkrutan manusia. Berdasarkan narasi kitab Kej. 3, paling tidak ada 3 poin terkait masalah internal tersebut, yaitu:

  • Obsesi egohedonistik.
Sergeant Sparrow Brew Co. by Nebojsa Matkovic is licensed under CC-BY-NC-ND 4.0

Godaan manusia sebenarnya semuanya berakar pada keinginan hatinya sendiri. Yakobus, saudara Yesus Kristus (Gal. 1:19; Mrk. 6:3), telah menuliskan dalam suratnya sebagai berikut:

Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: “Pencobaan ini datang dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat. Dan Ia sendiri tidak mencobai siapa pun Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya.  [Yak. 1:13-14; TB LAI].

Sesungguhnya, kapasitas keinginan manusia bukanlah sesuatu yang bersifat jahat. Kapasitas keinginan itupun, merupakan salah satu berkat Tuhan bagi manusia, bahkan bersifat bebas asli walau terbatas (genuine relative free will). Kapasitas keinginan bebas ini merupakan salah satu kapasitas asasi manusia, yang tidak pernah ditiadakan oleh Tuhan. Natur Tuhan yang sungguh mahabaik, mahakudus, dan takberubah, tidak pernah sedikitpun berintensi jahat kepada ciptaanNya, khususnya manusia yang diciptakan menurut gambar rupa-Nya (Kej. 1:26-27). Natur Tuhan yang demikian itu, juga memastikan bahwa kapasitas keinginan manusia yang dianugerahkan Tuhan kepadanya, merupakan hal yang baik dan tidak perlu ditiadakan.

Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran.  [Yak. 1:17; TB LAI].

Masalahnya terletak pada penggunaan kapasitas tersebut. Bila penggunaannya untuk tujuan baik, yang sesuai dengan tujuan manusia itu diciptakan, yaitu untuk memuliakan Tuhan dan untuk menikmati-Nya selamanya (berdasarkan katekismus Westminster, pertanyaan pertama), maka hal itu baik adanya. Namun, bila penggunaannya untuk memuaskan nafsu egois manusia sendiri, yang karena kenajisan natur keberdosaan manusia, maka hal itu pastilah berlawanan dengan natur Tuhan dan mendatangkan murka Tuhan yang mendukakan hati-Nya.

Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata, maka menyesallah TUHAN, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya.  [Kej. 6:5-6; TB LAI].

Hawa, dan juga Adam yang saat peristiwa itu bersama-sama dengan Hawa, memilih secara bebas untuk memuaskan hatinya dalam mendapatkan pengertian seperti Tuhan, dengan melanggar larangan Tuhan tersebut (Kej. 3:5-6). Ketertarikan Hawa atas buah pohon tersebut, tersirat dalam dialognya dengan Ular. Hawa merujuk buah larangan tersebut sebagai tidak boleh dimakan ataupun diraba (Kej. 3:3), yang menyiratkan keinginan Hawa untuk mengeksplor buah larangan tersebut, yang seharusnya dijauhinya.

Hawa menunjuk pohon terlarang tersebut pada pohon yang ada di tengah taman Eden. Padahal di tengah taman Eden, juga ada pohon kehidupan yang bebas dimakan buahnya, yang mendukung keberlanjutan hidup sebagaimana namanya. Jangan-jangan, terbersit ketidakpuasan dalam hati Hawa, seolah hidup tidak cukup bermakna, bila tidak berkuasa menentukan sendiri, hal apa yang baik dan apa yang jahat. Keinginan tersembunyi ini, seolah menjadi obsesi Hawa yang diwarnai nafsu memuaskan egonya sendiri. Begitu mendapat sedikit pengungkit pembenaran dari luar, obsesi ini langsung melompat ke luar, berupa tindakan mengambil lalu memakan buah larangan tersebut, sehingga berdosa kepada Tuhan yang telah memberkatinya secara limpah. Tindakan ini menjadi awal bagi tragedi umat manusia.

Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah…  [Rm. 3:23; TB LAI].

Dunia yang telah digiring dan dicengkeram oleh spirit materialistik kini, sangat mengagungkan dan mengingini kekayaan materi baginya. Keinginan menggebu atas kekayaan, ternyata menjadi jerat yang mendatangkan banyak derita. Hal ini dituliskan oleh Rasul Paulus dalam suratnya kepada Timotius, anak rohani didikannya, yakni dalam surat 1 Tim. 6:9.

Kelimpahan materi tidaklah ditentang oleh Tuhan, bahkan Tuhan menjanjikan kelimpahan materi sebagai salah satu janji berkat-Nya bagi Salomo (1 Raj. 3:13). Obsesi manusia atas kekayaan yang menjadikan materi sebagai tujuan hidupnya, itulah yang ditentang oleh Tuhan, yang menghendaki agar manusia hidup menurut jalan, ketetapan, dan peraturan-Nya (1 Raj. 9:4-9). Salomo yang sempat hidup secara egohedonistik, sebagaimana yang dinyatakannya dalam kitab Pengkhotbah yang ditulisnya, menutup kitabnya sebagai berikut:

Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang. Karena Allah akan membawa setiap perbuatan ke pengadilan yang berlaku atas segala sesuatu yang tersembunyi, entah itu baik, entah itu jahat.  [Pkh. 12:13-14; TB LAI].

Apakah poin berikutnya?

Lanjut ke halaman 3

avatar setiadotone

Oleh setiadotone

Buah pertama kristiani dari keluarga konfusianis. Berkarier di berbagai perusahaan 'sekuler' lalu terpanggil sebagai pendidik di universitas (kristen) 'umum.' Berupaya mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan wawasan dunia kristiani terapan, agar membangun profesional kristiani.

Tinggalkan komentar