
Bankrupt
Photo by Timur Weber on Pexels.com
Pandemi covid-19 yang masih terus berlangsung hingga kini, makin menambah luas cakupan korbannya. Kini bukan hanya individu perorangan, maupun berbagai badan usaha yang gulung tikar. Ada negara yang bangkrut karena gagal bayar maupun gagal memenuhi kebutuhan dasar rakyatnya. Negara pertama yang bangkrut baru-baru ini adalah negara Srilangka, dan ada banyak negara lain yang diperkirakan bakal menyusul mengalami kebangkutan.
Memang bukan hanya pandemi covid-19 sebagai penyebabnya. Ada juga perang Rusia-Ukraina yang menyebabkan krisis pangan dan energi, mengingat keduanya merupakan negara penting penghasil dan pengekspor kedua komoditas tersebut. Kombinasi masalah tersebut membuat banyak negara terancam resesi, bahkan kebangkrutan, bila dibiarkan berkelanjutan tanpa solusi.
Kalau mau jujur sih, sebenarnya masalah tersebut, itukan merupakan masalah eksternal, masalah luar. Seperti tubuh manusia, daya tahan tubuh merupakan faktor utama penangkal penyakit. Kita tidak dapat meniadakan keberadaan bibit penyakit yang bertebaran di sekeliling kita. Masakan kita lalu boleh lepas tangan dalam hal menjaga dan meningkatkan daya tahan tubuh kita sendiri? Pandemic covid-19 dan perang Rusia-Ukraina yang menimbulkan ancaman krisis pangan dan energi, tidak dapat serta merta menjadi kambinghitam bagi kebangkrutan negara lain. Bukankah ada juga negara-negara yang masih berada dalam kategori aman dari kebangkrutan, walaupun tetap harus waspada dan bijak mengelola negaranya?
Daripada menjadikan masalah eksternal sebagai kambinghitam, lebih logis menganalisa masalah internal yang sebenarnya dapat dikelola untuk menangkal ancaman kebangkrutan tersebut. Kasus yang dicatat dalam Alkitab sebagai kitab suci umat kristiani, khususnya bagian kitab Kejadian pasal 3, menjadi bahan kajian kali ini secara kristiani. Dapat dikatakan, narasi bagian kitab tersebut merupakan kisah tragis bangkrutnya umat manusia secara fatal.
Awal Kebangkrutan manusia
Bangkrut sendiri, dapat dipahami sebagai kerugian besar yang dialami, baik oleh individu, badan usaha, maupun negara, hingga jatuh miskin dan habis harta bendanya, dan oleh karenanya, tidak lagi dapat menjalankan usahanya. Sebenarnya, bukan hanya aspek materi, aspek moral maupun spiritual juga dapat terkait dengan keadaan bangkrut. Hal ini mengingat manusia merupakan makhluk kesatuan psikosomatis, yang memiliki elemen jasmani maupun jiwani/rohani. Penyempitan pada aspek materi saja, akan menggagalkan analisa menyeluruh.
Berikutnya akan dikaji narasi kitab Kejadian pasal 3 dalam hal kebangkrutan manusia, sebagai berikut:
A. Faktor eksternal:

Adanya batasan otoritas manusia, yaitu satu larangan bagi manusia untuk tidak memakan buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat (Kej. 2:17).
Pohon tersebut merupakan salah satu dari 2 pohon yang terletak di tengah taman Eden (Kej. 2:9). Batasan inilah yang kelak dipakai oleh ular untuk memprovokasi Hawa (dan juga Adam), agar melanggarnya (Kej. 3:1-5).
Sebenarnya, manusia punya otoritas terhadap ular, yang tersirat melalui pemberian nama oleh manusia kepada makhluk hidup ciptaan Tuhan lainnya (Kej. 2:19). Bukankah nama anak itu juga pemberian orangtuanya? Dengan demikian, orangtua berotoritas atas anaknya, walau tentu saja bukan dalam semangat kesewenangan. Bahkan, otoritas manusia atas ular, sudah sejak awal penciptaan ditegaskan Tuhan kepada manusia (Kej. 1:28).
Sayangnya, manusia dibutakan oleh masalah internal dirinya sendiri. Gagal kelola diri secara sehat inilah yang menyebabkan manusia gagal kuasai tantangan eksternalnya. Dengan demikian, kita akan telaah lebih dalam akan masalah faktor internal tersebut.
Apa sajakah faktor internalnya?
Lanjut ke halaman 2
