
Salah satu strategi menghambat tim lain, khususnya tim unggulan, agar gagal memenangkan lomba dalam Amazing Race adalah meng-“hukum”-nya dengan perintah “putar balik” (detour). Perintah ini jelas akan menyebabkan tim yang terkena itu harus “bekerja” lebih banyak sehingga membutuhkan waktu lebih banyak untuk menyelesaikan perlombaan sesi hari yang bersangkutan. Bila kemudian tim bersangkutan tiba terakhir di titik perhentian, tim itu akan menghadapi kemungkinan tereliminasi dan tidak dapat melanjutkan lomba. Celakanya, hukuman yang diterimanya hanya karena “kesalahan” tiba lebih belakangan daripada tim lain yang memberikan perintah detour kepadanya. Kesannya jadi agak sewenang-wenang bukan. Ah…, tapi hal ini kan diperbolehkan dalam “permainan” ini. Nikmati saja lah….
Sebenarnya jebakan detour telah terjadi sejak jaman purba, saat Iblis dalam rupa ular menjebak Hawa (dan Adam) dengan jebakan detour. Larangan Tuhan bagi manusia untuk memakan buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat dengan konsekuensi kebinasaan manusia saat manusia melanggarnya, dipelintir sedemikian hingga seolah merupakan jalan pintas aman dalam meraih pengetahuan. Hawa yang tidak mati setelah makan buah itu, mungkin menjadi dasar legitimasi Adam untuk ikut makan buah larangan tersebut. Sayangnya Adam nanar dengan penekanan akan aspek “pasti” mati, bukan aspek “langsung” mati bila melanggar larangan itu, sehingga keduanya terjeblos dalam jebakan Iblis.
“Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.” [Kej. 2:16-17; TB LAI]
Mandat Budaya yang menyertai penciptaan manusia untuk dilaksanakan oleh manusia, terpaksa harus mengalami detour. Masalah kepastian kebinasaan manusia sebagai bentuk hukuman atas pelanggaran larangan Sang Pencipta kepada manusia ciptaan-Nya tersebut, harus diselesaikan terlebih dulu. Allah Putera, Sang Firman, harus berinkarnasi menjadi manusia sepenuhnya dengan tanpa meniadakan ke-Allah-an-Nya sedikitpun, agar dapat “mati terkutuk” guna menanggung hukuman tersebut.
“Jawab malaikat itu kepadanya: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.” [Luk. 1:35; TB LAI]
“…, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.” [Mat. 1:20b-21; TB LAI]
Detour itu memunculkan tugas baru berupa Mandat Injil yang seringkali lebih dikenal sebagai Amanat Agung karena diberikan oleh Yesus Kristus kepada para murid-Nya sebelum kenaikan-Nya ke sorga. Penekanan berlebih pada Mandat Injil yang sebenarnya merupakan tugas tambahan akibat jebakan detour yang dialami manusia, malah mengaburkan tugas awal berupa Mandat Budaya yang tidak pernah dibatalkan oleh Tuhan, Sang Pencipta, kepada manusia ciptaan-Nya. Mandat Budaya ini wajib dikerjakan oleh umat percaya yang telah ditebus Yesus Kristus, dengan metode “mengusahakan” dan “memelihara” sebagaimana metode kerja Adam di taman Eden sebelum “Kejatuhan.” Apabila cermat memperhatikan isi “Amanat Agung” tersebut, jelas ada 2 elemen tugas yang saling berkelindan tak terpisahkan. Yang satu harus dikerjakan, dan yang lain harus dilaksanakan.
“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,” [Mat. 28:19; TB LAI]
“dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu.” [Mat. 28:20a; TB LAI]
Dengan demikian, disertai oleh Allah Roh Kudus sebagai meterai kepemilikan Tuhan atas umat-Nya, akan memampukan umat percaya melaksanakan Mandat Budaya hingga terjadinya “langit dan bumi baru” sebagai puncak pemulihan ciptaan yang memancarkan kepenuhan kemuliaan Tuhan (Why, 21).
Penutup
Menonton tayangan acara Amazing Race memang mengasikkan. Ada berbagai keseruan yang dapat dinikmati penontonnya. Apalagi besarnya hadiah uang yang dijanjikan bagi pemenangnya, telah memacu para peserta untuk sungguh-sungguh berjuang semaksimalnya dalam memecahkan semua tantangan yang diberikan dan bersegera mencapai titik temu. Kepiawaian semua kru produksi acara tersebut dalam mengemasnya, menjadikan tayangan tersebut sungguh nyaman ditonton.
Sambil menikmati tayangan Amazing Race tersebut, ada baiknya sedikit merenung pelajaran hidup yang dapat dipetik darinya. Realita kehidupan di dunia yang seolah menempatkan tiap individu dalam perlombaan hidupnya masing-masing, selayaknya dijalani dengan sikap positip sesuai jati diri sebagai gambar rupa Tuhan. Kemenangan yang dipahami dunia, tidak layak dikejar bila harus menggadaikan jati diri tersebut.
“Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” [Mat. 16:26; TB LAI]
“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah,” [Rm. 3:23; TB LAI]
“Sebab upah dosa ialah maut;” [Rm. 6:23a; TB LAI]
Detour yang telah diselesaikan Tuhan Yesus Kristus, menghadirkan Amazing Grace bagi manusia yang percaya kepada-Nya. Terpujilah Tuhan karena hikmat dan kasih-Nya yang tak terukur bagi dunia.
“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” [Yoh. 3:16; TB LAI]
