
Pendahuluan

Sepak Bola merupakan olahraga yang kini dapat dikatakan paling popular di dunia. Penyintanya lintas generasi, lintas budaya, lintas negara. Bahkan banyak di antara penyintanya sudah dapat dikatakan sebagai penggila sepak bola.
Mereka rela melakukan apa saja untuk dapat menyaksikan dan mendukung permainan tim kecintaannya. Pandemi covid-19 sempat meredam keriuhan tampilan para penggila bola ini karena tiadanya pertandingan antar tim yang diijinkan terjadi. Meredanya pandemi mulai memunculkan berbagai turnamen pertandingan bola yang bakal mengundang berbagai aksi gila dari para pendukung fanatiknya masing-masing. Akan sangat menyedihkan bila ada tim bubar karena deraan berbagai sebab yang tak tertanggulangi secara tepat.

Membangun tim sepak bola yang handal tentunya bukan pekerjaan mudah. Ada banyak hal yang perlu dipersiapkan secara cermat. Para pemainnya, baik amatir maupun profesional, perlu diasah terlebih dulu agar mampu memunculkan keterampilan terbaiknya secara individu dan tentunya terutama sebagai bagian kesatuan tim.
Aspek kesatuan tim bahkan selayaknya menjadi fokus utama capaian dalam proses pembentukan tim handal. Pentingnya kesatuan tim juga berlaku bagi tim apapun dalam kehidupan ini. Ada beberapa prinsip penting yang selaras prinsip iman kristiani dalam membangun dan memelihara tim.
Membangun Kesatuan

Istilah team building sudah tidak asing bagi banyak orang. Istilah tersebut menekankan pembangunan relasi melekat antar pribadi (interpersonal) agar efektif bekerja sama meraih tujuan bersama. Aspek kebersamaan ini paling tidak harus muncul dan disepakati maknanya dalam wawasan imajinasi tiap elemen personalianya. Tidak mungkin membangun kesatuan tim bila visi misi sebagai tujuan bersama diterjemahkan secara parsial oleh elemen-elemen yang ada.
Memang ada beragam peran, namun tidak boleh ada gagal paham visi misi bersama. Signifikansi visi misi membuat definisi maupun maknanya haruslah lugas dan jernih jelas (cristal clear) agar tidak menimbulkan gagap tafsir. Tidak perlu menggunakan bahasa aristokratis yang sarat bunga bahasa. Makin sederhana pembahasaannya, makin memungkinkan untuk terpahami secara tepat oleh semua elemen personalianya. Inipun masih perlu proses digaungkan terus menerus guna mengikis dan menajamkan tafsir imajinasinya oleh tiap elemen individualnya.

Signifikansi visi misi ini bahkan jauh lebih utama dibandingkan kebisaan personal. Boleh saja ada individu yang mumpuni kemampuan personalnya, namun tanpa pemahaman visi misi tim yang tepat, individu ini malah dapat menjadi batu sandungan bagi keberhasilan tim. Kebenaran ini harus menjadi tolok ukur utama menimbang kesertaan tiap individu sebagai calon anggota tim.
Pepatah “nila setitik merusak susu sebelanga” bukan jargon kosong yang layak abai. Terlalu besar harga yang kelak harus dibayar bila silau dengan kemampuan individu semata. Bukan berarti individu bersangkutan itu tidak layak, namun tidak cocok bagi tim sehingga harus rela diabaikan oleh penanggung jawab keanggotaan.
Keberagaman kepribadian dan kebisaan individual memang diperlukan guna kelengkapan aneka peran yang harus ada dalam tim. Tidak ada pribadi super yang maha bisa selain Tuhan.
“Sebab kepada yang seorang Roh memberikan karunia untuk berkata-kata dengan hikmat, dan kepada yang lain Roh yang sama memberikan karunia berkata-kata dengan pengetahuan. Kepada yang seorang Roh yang sama memberikan iman, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menyembuhkan. Kepada yang seorang Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mujizat, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat, dan kepada yang lain lagi Ia memberikan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh. Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu.” [1 Kor. 12:8-10; TB LAI]
Keberagaman ini dapat menjadi kekuatan sekaligus tantangan yang bila tidak dikelola dengan baik dapat menjadi kelemahan tim. Kesepahaman dan kesepakatan visi misi tim menjadi signifikan bagi pondasi kesatuan tim. Semua personal tim harus dibangun sedemikian hingga sepaham dan sepakat memegang dan melandaskan visi misi tim sebagai fokus aktifitas dan arah capaiannya. Konsistensi komitmen pimpinan tertinggi, biasanya pemilik tim, atas visi misi tim, menjadi aspek terpenting yang tidak dapat ditawar karena keberadaan tim pasti akan diuji.
Menguji Kesatuan
Tiap individu itu unik, dibangun secara unik lewat keunikan genetik (nature) maupun pengalaman hidup (nurture). Menemukan individu tepat lalu tepat menempatkannya dalam satu tim merupakan awal langkah penting dalam membangun tim impian.

Dunia yang tidak ideal memperhadapkan realita ketidak-idealan tersebut sebagai tantangan sehingga butuh proses asah lanjut bagi tim bentukan itu. Sifat dasar manusiawi yang enggan “sakit” dapat menjadi alat asah dalam membangun kesatuan tim.
Psikologi mengenal teori Sigmund Freud akan keberadaan tri-elemen id-ego-superego dalam struktur jiwa manusia.
Id merupakan elemen primitif yang impulsif dalam struktur jiwa manusia, haus akan pemuasan kesenangan diri dan “tersembunyi” (unconscious) dalam struktur jiwa pemiliknya.
Ego merupakan bagian Id yang menjembatani Id dengan realita sosial, baik secara prasadar (preconscious) maupun secara sadar (conscious).
Superego merupakan elemen moral dalam struktur jiwa yang menimbang nilai sosial “benar-salah” sesuai didikan yang telah diterimanya. Kadang pertimbangan superego dikenali pemiliknya walaupun acapkali lebih bersifat bawah sadar (unconscious).
Tri-elemen ini mewarnai kepribadian jiwani pemiliknya, yang bahkan dapat kurang disadarinya. Desain aktifitas team building harus membuka pintu pengenalan tri-elemen ini di samping meneguhkan prinsip “sangkal diri” bagi keutamaan kesatuan tim.
“hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.” [Flp. 2:2b-4; TB LAI]

Kunci keberhasilan aktifitas team building ini terletak pada kerendahan hati sebagaimana telah diteladankan oleh Yesus Kristus (Flp. 2:5-8).
Tanpa kerendahan hati mustahil berhasil membangun kesatuan tim walaupun tetap tak terhindarkan bisa muncul gesekan dalam relasi antar personal tim. Pemimpin haruslah “kuat” pribadi dan kepemimpinannya hingga dapat dijadikan sebagai tolok ukur (kompas) bagi semua anggota tim. Layaknya kepala (yang hanya satu) dan semua anggota tubuh (yang hanya satu), demikianlah selayaknya relasi Pemimpin dengan para anggota timnya.
“Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendaki-Nya.” [1 Kor. 12:11; TB LAI]
“Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus.” [1 Kor. 12:12; TB LAI]
Selain ujian internal, tim akan menghadapi ujian eksternal. Sebagai organisme sosial, tim tidak eksis sendirian. Akan selalu ada pihak-pihak lain yang dijumpai dalam pengalaman interaksi sosialnya. Keberagaman yang niscaya, memastikan perbedaan wawasan maupun visi misi antar pihak. Pihak-pihak itu dapat menyenangkan maupun tidak menyenangkan, pihak “kawan” maupun pihak “lawan.” Bahkan dapat pula perjumpaan itu dalam sikon “persaingan” di mana hanya ada “satu pemenang.”

Bisa juga tim akan menghadapi persimpangan jalan yang sulit dipilih arah lanjutnya, khususnya saat terjadi disrupsi jaman. Konsistensi komitmen atas visi misi tim akan menghadapi ujian serius yang mungkin bahkan melampaui kuasa pemimpin dan segenap kru tim untuk mengatasinya. Hal ini dapat menimbulkan godaan kompromi yang bisa menggoyahkan keberadaan tim. Oleh karenanya, pantang untuk mengkompromikan visi misi, atau siap menanggung resiko jerat “tim gagal.”
Penutup
Sebagai makhluk sosial, manusia pasti berinteraksi dengan sesama manusia lainnya. Interaksinya bahkan sangat mungkin dalam wadah satu tim. Ke-satu-an menjadi aspek penting yang harus selalu diutamakan dan diperjuangkan oleh segenap personal tim bagi eksistensinya. Visi misi tim merupakan pondasi logis sebagai sarana pemersatunya, yang pantang untuk dikompromikan.
Realita keterbatasan kuasa dan kemampuan manusia, menegaskan kebutuhan manusia untuk punya andalan pasti dalam menghadapi tantangan eksistensi. Tuhan yang adalah Pencipta merupakan satu-satunya andalan logis tersebut. Slogan “Ora et Labora” merupakan petuah bijak yang awet jaman.
“Setiap tempat yang akan diinjak oleh telapak kakimu Kuberikan kepada kamu, seperti yang telah Kujanjikan kepada Musa. Hanya, kuatkan dan teguhkanlah hatimu dengan sungguh-sungguh, bertindaklah hati-hati sesuai dengan seluruh hukum yang telah diperintahkan kepadamu oleh hamba-Ku Musa; janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, supaya engkau beruntung, ke manapun engkau pergi.” [Yos. 1:3,7; TB LAI]
Sebagaimana “pesan” Tuhan kepada pengganti Musa, biarlah pesan tersebut juga menjadi perhatian bagi semua “pemimpin,” baik yang memimpin orang lain maupun yang memimpin dirinya sendiri saja.
Soli Deo Gloria
