Pendahuluan
Waktu terus berjalan ke depan, kadang terasa cepat, kadang terasa lambat. Apapun yang dirasakan, tidak ada yang dapat menghentikan laju waktu tersebut. Demikianlah usia biologis semua orang pasti bertambah. Akan ada waktunya bagi semua orang untuk melambat secara fisik. Mungkin juga bisa disebabkan bukan oleh alasan pelambatan fisik, namun pastilah karena “batas waktunya” telah tiba. Kewajaran ini selayaknya diolah secara bijak lewat kesiapan “lepas” dan “beri” kepada pelanjut.
Acapkali apa yang wajar malah diperlakukan tidak wajar, sehingga enggan melepas dan memberikan apa yang digenggamnya kepada pelanjut. Memang “tahta” dan “harta” di dunia materialistis ini acap diperlakukan sebagai atribut diri yang menyatu. Tanpa atribut “-ta” tersebut maka citra diri, bahkan eksistensi diri, seoleh tiada. Tidak heran bila kemudian segala upaya dikerahkan untuk dapat tetap menggenggamnya. Sebenarnya bagaimana prinsip “suksesi kepemimpinan” ala wawasan kristiani?

Contoh Kasus “Suksesi”
Alkitab yang merupakan firman Tuhan yang tertulis, menyajikan berbagai narasi kehidupan yang layak dipetik prinsip-prinsip di baliknya. Ada beberapa contoh kasus yang relevan dengan topik tulisan ini.
Kasus 1: Suksesi Nabi Musa
Nabi Musa merupakan salah satu nabi besar bangsa Yahudi, bahkan mungkin dipandang sebagai yang terbesar (Ul. 34:10-12). Kisah heroik Musa terhadap Firaun, serta Pentateukh (5 kitab bagian awal Alkitab) yang diwariskannya, menjadikan kepemimpinan Musa menarik untuk dikaji.

Prinsip penting pertama yang menjadi dasar tak berubah adalah “pemilihan Tuhan” yang mencakup personil dan waktu. Musa sempat melarikan diri dari Firaun setelah gagal total menjadikan diri sebagai pimpinan umat Israel lewat upayanya sendiri (Kel. 2:11-15). Pada waktu dan jalan Tuhan, Musa dipilih Tuhan untuk mewakili-Nya menjadi “pembebas” dan “pemimpin” umat Israel (Kel. 3:10). Prinsip pemilihan Tuhan juga berlaku bagi calon pengganti Musa kelak (Bil. 27:16-18).

Prinsip penting kedua adalah adanya “proses persiapan” sebelumnya. Musa dipersiapkan melalui jalan unik sedemikian hingga dibekali dengan pelatihan kepemimpinan kelas bangsawan sebagai anak angkat puteri Firaun (Kel. 2:10). Selanjutnya Musa dilatih ketekunan, ketelatenan, dan tanggung jawab penggembalaan atas domba orang lain (Kel. 3:1) sebelum menggembalakan umat milik Tuhan (Kel. 3:10).
Bahkan penggantinya, Hosea bin Nun yang kemudian dinamai Yosua oleh Musa (Bil. 13:16), telah dipersiapkan sejak usia muda melalui proses sebagai abdi Musa (Bil. 11:28). Proses pembekalan itu penting untuk transfer visi misi yang benar agar tidak salah pemahaman (Bil. 11:28-29).

Prinsip penting berikutnya adalah “penyertaan Tuhan” (Kel. 3:12), sehingga sukses kepemimpinan bukanlah oleh kemampuan personal manusianya, melainkan oleh Tuhan yang menjadi pemimpin sejatinya. Penyertaan Tuhan inilah yang memastikan anugerah-Nya bagi keberhasilan perjalanan yang harus ditempuh (Kel. 33:15-16).

Terakhir, harus tunduk pada “penetapan waktu dan jalan Tuhan” (Ul. 34:1-4,7). Otoritas kedaulatan Tuhan sungguh-sungguh tidak pada tempatnya untuk dipertanyakan, bila menyangkut diri pribadi. Sikap mempercayakan diri sepenuhnya pada keputusan Tuhan menjadi cara tunggal untuk mencegah kejatuhan dan penderitaan masa depan, sebagaimana pada kasus Hizkia raja Yehuda (2 Raj. 20).
Kasus 2: Suksesi Raja Saul
Saul merupakan raja pertama dari Kerajaan Israel kuno, yang menandai perubahan sistem teokrasi (kepemimpinan imam sebagai wakil Tuhan) menjadi monarki (kepemimpinan raja dalam kerajaan). Transisi selalu menarik untuk dikaji sebagai pembelajaran, karena menyingkapkan hal-hal baru.
Walaupun ada pergantian sistem kepemimpinan, namun prinsip “pemilihan Tuhan” sebagai prinsip pertama tidaklah berubah. Saul yang tidak pernah berpikir bakal menjadi raja (1 Sam. 9:21), dipilih Tuhan untuk menjadi pemimpin umat-Nya (1 Sam. 9:15-17). Sayangnya sejak awal sudah disiratkan bahwa pemilihan Saul itu berdasarkan kriteria manusia tentang figur seorang raja (1 Sam. 8:5,19-20). Saul berasal dari keluarga kaya dan memiliki penampilan fisik yang menawan (1 Sam. 9:1-2).
Kriteria manusiawi yang telah ditetapkan rakyat pemilihnya, mengaburkan signifikansi kedalaman “proses persiapan” sebagai prinsip kedua. Saul tidak menjalaninya secara memadai, bahkan dapat dikatakan prosesnya instan. Hal ini berdampak gagal paham Saul atas visi misi kepemimpinan kristiani yang perlu senantiasa mengarahkan dan menundukkan hati pada Tuhan. Keberhasilannya di periode awal kepemimpinannya telah membuat Saul menonjolkan pertimbangannya sendiri daripada perintah Tuhan (1 Sam. 13:11-13).
Celakanya Saul tidak melakukan introspeksi diri dengan benar, sehingga makin tenggelam dalam penonjolan pertimbangannya sendiri yang bertentangan dengan kebijakan Tuhan (1 Sam. 15). Hal ini berdampak pada kehilangan “penyertaan Tuhan” yang membuat Saul makin terpuruk dan diganggu roh jahat (1 Sam. 16:14).
Saul menolak kedaulatan Tuhan yang berotoritas menetapkan Daud sebagai penggantinya, dan Saul merencanakan Yonatan anaknya sebagai penerusnya, seperti kebiasaan raja bangsa-bangsa lainnya. Namun tidak ada yang dapat melawan “penetapan waktu dan jalan Tuhan” sehingga akhirnya Saul dan Yonatan beserta 2 orang saudaranya mati kalah perang di pegunungan Gilboa (1 Sam. 31).
Kasus 3: Suksesi Yesus Kristus
Bagi umat kristiani, Yesus dari Nazaret sebagai Kristus, merupakan tokoh sentral bagi hidup mereka. Wajarlah bila proses suksesi kepemimpinan-Nya layak digali dan dipahami dengan benar.
Rasul Petrus saat di Serambi Salomo, Yerusalem, setelah menyembuhkan orang yang lumpuh sejak lahirnya, menegaskan prinsip “pemilihan Tuhan” atas diri Yesus Kristus, Sang Mesias.
“…, dan mengutus Yesus, yang dari semula diuntukkan bagimu sebagai Kristus.” [KPR 3:20b; TB LAI]
Selaras dengan natur Tuhan yang kekal, melampaui batasan dimensi waktu dan kapasitas imajinasi maupun pikir manusia, frasa “dari semula” dapat dipandang bernuansa kekekalan, sebelum dimensi waktu itu ada. Hal ini ditegaskan Rasul Yohanes dalam injil yang ditulisnya, saat mengungkapkan keberadaan Yesus Kristus sebagai manusia inkarnasi Allah Putera, Sang Firman (Yoh. 1:1,15,29-30).
Sebagai Mesias, Yesus Kristus harus menjalani “proses persiapan” sebagai prinsip kedua. Penderitaan demi penderitaan harus dijalani oleh Yesus, bahkan sejak dalam kandungan Maria, ibu-Nya. Beban batin Maria yang mengandung sebelum bersuami (Luk. 1:34), bahkan sempat hampir diceraikan oleh Yusuf tunangannya (Mat. 1:18-19), mengawalinya. Perjalanan melelahkan saat usia kehamilan jelang melahirkan karena perintah sensus dari Kaisar Agustus, yang menimbulkan nuansa peak season, jadi penyebab tiadanya tempat “layak” bagi kelahiran bayi Yesus. Perintah pembantaian bayi berusia 2 tahun ke bawah di Betlehem dan sekitarnya oleh Herodes Agung, orang Edom yang diangkat menjadi raja Yudea oleh Kaisar Agustus, memaksa Yusuf dan Maria membawa bayi Yesus mengungsi ke Mesir. Bahkan Yesus harus mengalami pencobaan Iblis di padang gurun sebelum melakukan pelayanan-Nya.
Bersyukur bahwa Yesus tidak mengalaminya sendirian, ada “penyertaan Tuhan” berupa Roh Kudus sejak inkarnasi-Nya menjadi manusia (Luk. 1:35). Peristiwa baptisan Yesus oleh Yohanes Pembaptis di sungai Yordan, secara gamblang mendemokan penyertaan tersebut lewat narasi turunnya Roh Allah berwujud seperti burung merpati ke atas Yesus (Mat. 3:16). Hal ini menguatkan Yesus menjalani pelayanan-Nya yang penuh goncangan “derita” yang sulit dipikul oleh manusia manapun. Patut diingat bahwa inkarnasi menyebabkan Yesus itu sepenuhnya manusia, walau tetap sepenuhnya Allah pula, sesuai dengan pengakuan iman Rasul Paulus yang menjadi bagian dari firman tertulis (Flp. 2:5-8).
Puncak derita boleh dikatakan sebagai apa yang dikenal dengan istilah “jalan salib”(via dolorosa). Berawal dari pergumulan doa Yesus di Getsemani di Bukit Zaitun, diiringi dengan keluarnya keringat-Nya seperti titik-titik darah yang menggambarkan kondisi sangat ketakutan (Luk. 22:44), via dolorosa Yesus mencapai puncaknya di kayu salib di Bukit Golgota. Walau Yesus sempat memohon dalam doa-Nya sebanyak tiga kali untuk tidak perlu menjalaninya, Yesus menundukkan diri pada “penetapan waktu dan jalan Tuhan.” Ketaatan-Nya inilah yang membuahkan pemuliaan Yesus Kristus sebagai Tuhan, bagi kemuliaan Allah (Flp. 2:8-11). Roh Kudus, Roh Allah yang menyertai Yesus Kristus sejak inkarnasi-Nya, menjadi pelanjut yang bebas keterbatasan fisik. Kuasa Roh Kudus ini yang memimpin dan menjadi penyebab keberhasilan para murid melaksanakan Amanat Agung dari Yesus Kristus.
Penutup
Dari bedah kasus di atas, terlihat jelas bahwa wawasan kristiani menekankan kedaulatan otoritas absolut Tuhan dalam keberadaan pemimpin (Dan. 2:20-21). Walaupun demikian, wawasan kristiani juga mengakui adanya kedaulatan terbatas manusia dalam mengolah dan wujudkan kehendaknya. Keberadaan kedaulatan absolut Tuhan dan kehendak relatif bebas manusia ini merupakan fakta yang bersifat paradoks sekaligus misteri bagi batas kapasitas paham manusia. Posisi aman yang sebaiknya diambil manusia adalah memberdayakan kehendaknya untuk mentaati kehendak Tuhan.
Sebagai makhluk ciptaan, menjalani proses merupakan suatu hal yang alami. Ada beberapa prinsip iman kristiani yang perlu dipegang dalam menjalaninya. Prinsip ini berlaku bagi semua aspek kehidupan manusia, termasuk kepemimpinan dan suksesinya. Penolakan prinsip-prinsip tersebut, termasuk pembenaran logika manusiawi dalam menolaknya, tidak akan meniadakannya, melainkan hanya akan memberi dampak buruk bagi penolaknya (1 Sam. 15:20-23). Jadi silakan ambil pilihan secara bijak, sebagaimana yang telah dilakukan Yesus Kristus sebagai teladan bagi umat-Nya.
“Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” [Mat. 26:39; TB LAI]
“Lalu Ia pergi untuk kedua kalinya dan berdoa, kata-Nya: “Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!” [Mat. 26:42; TB LAI]
Segala puji hormat hanya bagi TUHAN
