
Pendahuluan

Hari ini kita memasuki tanggal 1 April, yang oleh sebagian orang dirayakan sebagai April Mop (April Fools’ Day). Asal mula perayaan April Mop sendiri tidak dapat dipastikan hingga kini. Pada tanggal itu diperbolehkan untuk membuat tipu-menipu untuk geguyon (prank) kepada orang lain tanpa dianggap bersalah.
Bahkan beberapa negara di Eropa dan Amerika menerbitkan berita palsu (fake news) yang sensasional dan menghebohkan. Jelaslah korbannya akan dipermalukan karena termakan tipuan yang disajikan. Celakalah bila kemudian berita yang disajikan ternyata merupakan berita benar yang lalu diabaikan karena dianggap sebagai lelucon bohongan. Salah satu tragedinya terjadi pada tanggal 1 April 1946, di mana gempa bumi yang disertai tsunami telah menelan korban jiwa 165 orang di Hawai dan Alaska karena banyak orang tidak percaya atas berita akan timbul tsunami di tanggal tersebut.
Kelakuan tipu menipu ini sebenarnya terjadi sejak jaman kuno, diawali dengan peristiwa di Taman Eden (lihat “COUP” – faithfulONE Ministry) dan terus terjadi sampai saat ini, bahkan nampaknya hingga akhir jaman. Salah satu kasus “penipuan” yang happening (“sedang heboh”) belakangan ini di indonesia adalah kasus investasi opsi biner dan robot trading yang bekerja daring secara otomatis. Teknologi canggih yang melatari model investasi ini menyebabkan kasusnya menjadi tidak sederhana. Perlu benar-benar dipelajari dan dimengerti dengan memadai sebelum memutuskan untuk ikut berinvestasi ke dalamnya. Tulisan ini tidak bermaksud untuk membedahnya dari sisi teknologinya, melainkan dari sisi manusia pelakunya, terutama pihak calon investornya. Wawasan yang akan dipergunakan adalah wawasan dunia kristiani, yang dapat diuji secara rasional.
Logika dan Keinginan Manusia
Investasi bertujuan menaikkan nilai dana yang didedikasikan untuk jangka waktu tertentu, agar pemiliknya memperoleh keuntungan yang diharapkan di akhir masa investasinya. Patut diingat akan adanya kemungkinan turunnya nilai investasi yang dimiliki oleh karena berbagai faktor yang terjadi, misalnya oleh tekanan inflasi yang umum terjadi di negara manapun. Tidak semua orang memiliki waktu dan keahlian tertentu untuk mengelola dananya agar menguntungkan kelak, sehingga umumnya dana itu dipercayakan pengelolaannya pada pihak-pihak yang dinilai berkompeten dan dapat dipercayai pada bidang itu.
Besarnya kemungkinan penyelewengan investasi, menyebabkan penting adanya pihak otoritas yang mengatur dan mengawasi legalitas investasi yang ditawarkan. Investor selaku penanam investasi sendiri tetap bertanggung jawab untuk memahami resiko investasinya, tidak membuta terpikat semata oleh besarnya imbal hasil yang ditawarkan. Kompetensi dan kredibilitas pihak pengelola, wajib menjadi pertimbangan utama di samping jelasnya aturan main yang legal bagi jenis investasi tersebut.
Pesatnya perkembangan teknologi telah melahirkan tawaran investasi canggih, misalnya opsi biner dan robot trading otomatis secara daring. Sayangnya regulasi tidak selalu seiring pesatnya dengan perkembangan teknologi, bahkan seringkali tertinggal. Piranti lunak yang dibutuhkan dalam operasi investasi daring, seringkali bersifat ekslusif dan hanya dapat diakses oleh pemiliknya yang berperan sebagai perantara investasi. Apabila regulasi dari otoritas keuangan yang sah itu belum ada, maka faktor kepercayaan menjadi sangat krusial dalam relasi investor dengan perantara investasinya.
Kenal orangnya belum tentu kenal hatinya. Prinsip iman kristiani menegaskan sifat amat licik dari hati, yang bahkan dapat mengelabui pemiliknya sendiri.
“Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya? Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya.” [Yer. 17:9-10; TB LAI]
Dengan demikian, alasan kenal dengan orang yang menawarkan investasi tertentu itu sama sekali tidaklah memadai, apalagi bila regulasinya belum ada.

Mungkin saja orang yang bersangkutan akan mendemokan gaya hidup “sultan” (crazy rich) di berbagai platform medsos guna meningkatkan nilai jual dirinya. Fenomena pamer kesuksesan materi ini, yang dikenal sebagai flexing, sebenarnya patut disikapi dengan menaikkan antena kewaspadaan.
Orang yang benar-benar sukses materi, para multi milyuner, tidak pernah pamsos layaknya OKB (orang kaya baru) di berbagai medsos.
Pandemi covid-19 yang telah cukup lama berlangsung, bahkan belum jelas kapan akan berakhirnya, memang telah menerpakan masalah ekonomi bagi banyak kalangan. Kesulitan ekonomi yang mendera dengan ketidak-pastian jangka waktu berakhirnya, seolah memunculkan oasis penyegaran saat ada tawaran investasi dengan kerja minimal (slogan 4D: duduk diam dapat duit) namun mendapat imbal hasil yang sangat menggiurkan. Dukungan teknologi canggihnya pun tidak perlu diragukan lagi, karena sepenuhnya dikerjakan oleh robot pintar. Apalagi disajikan bukti nyata keberhasilannya lewat fenomena flexing yang bombastis.
Logika sehat manusia selayaknya tergelitik dengan sajian “fakta” tersebut. Masalah kesulitan ekonomi akibat pandemi covid-19 yang mengunci kelancaran aktifitas usaha, benar-benar merupakan fakta di seluruh dunia. Wajarlah bila dikeluhkan sulitnya meraih keuntungan memadai dari usaha bisnis yang dijalankan. Memang ada usaha bisnis yang melejit karena mampu mengelola disrupsi dengan tepat, namun tetap butuh waktu dan upaya lanjut untuk proses pematangannya. Natur ciptaan yang terbatas oleh berbagai dimensi, tidak dapat meniadakan faktor proses bagi keberadaannya, walaupun telah akrabnya instanisasi dalam kehidupan manusia jaman kini. Munculnya tawaran investasi dengan imbal hasil spektakuler secara instan, jelas perlu disikapi secara amat hati-hati.


Pihak-pihak yang terjeblos dengan tawaran demikian, yang kemudian terbukti sebagai investasi bodong, pasti bukan individu-individu yang tidak berakal. Banyak di antaranya yang merupakan orang-orang terdidik dengan kemampuan logika yang baik. Ada faktor lain yang nampaknya terabaikan, yaitu keinginan (baca: “nafsu”) yang membutakan logikanya, sehingga menyeretnya dalam kesusahan.
“Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan.” [1 Tim. 6:9; TB LAI]
Jerat keinginan menjadi crazy rich ini juga melanda umat kristiani, yang sebenarnya kenal dengan peringatan firman Tuhan tersebut. Kesusahan yang dialaminya tidak dapat dikatakan sebagai cobaan hidup, apalagi mengaitkannya dengan otoritas Tuhan yang mengijinkan terjadinya masalah itu baginya.
“Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: “Pencobaan ini datang dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun. Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya.” [Yak. 1:13-14; TB LAI]
Apabila berbagai narasi “kejatuhan” dalam Alkitab dipahami dengan benar, maka Tuhan bahkan telah memberi peringatan terlebih dulu sebelum umat-Nya terjerat dosa kesalahannya, agar tidak jatuh. Beberapa contohnya sebagai berikut:
- Kejatuhan paling awal: Adam telah diperingatkan untuk tidak memakan buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat dengan konsekuensi pelanggarannya (Kej. 2:16-17). Adam juga telah dilatih mempraktekkan otoritasnya dengan memberi nama makhluk lain (Kej. 2:19), sesuai dengan ketetapan Tuhan akan tugas dan posisi otoritasnya (Kej. 1:28).
- Pembunuhan pertama manusia: Kain telah diperingatkan akan intaian dosa yang hendak mencengkeramnya, dan cara mengatasinya (Kej. 4:7).
- Dosa seksual Daud yang berlanjut ke pembunuhan dan pembohongan publik: identitas Batsyeba telah jelas disampaikan kepada Daud sebelumnya (2 Sam. 11:3). Batsyeba telah bersuami dan suaminya itu bahkan salah satu pahlawan Daud yang telah berjasa kepadanya (2 Sam. 23:39). Ayah Batsyeba sendiri juga merupakan salah satu pahlawan Daud pula (2 Sam. 23:34), sekaligus putera dari penasehat Daud (2 Sam. 15:12).
- Penyangkalan Petrus: sebagai salah satu murid inti, bahkan “pemimpin” para murid Yesus, Petrus demikian PD akan kesetiaannya kepada Sang Guru. Yesus telah memperingatkan penyangkalan Petrus sebagai kontra pernyataannya tersebut (Mat. 26:33-34).
Investasi bodong bukan hal baru di Indonesia dan sudah tercatat memakan korban penipuannya. Salah satu ciri paling utama dari investasi bodong tersebut adalah iming-iming imbal hasil yang spektakuler dalam jangka waktu yang relatif cepat, dengan upaya kerja dan resiko yang minim. Kaedah tersebut jelas bertolak belakang dengan kaedah umum yang logis. Bahkan Tuhan telah menetapkan cara kerja berproses, melalui tahap mengusahakan (work) dan memelihara (keep), sebagai bagian natur manusia (Kej. 2:15). Hasil dari cara kerja itupun menjadi makin minim sebagai dampak pemberontakan manusia kepada Tuhan (Kej. 3:17-19), sehingga berkat Tuhan tertutup oleh dosa manusia (Yes, 59:1-2).
Penutup
Berinvestasi tentu saja merupakan hal baik yang sah dilakukan bila memang ada dana lebih yang dapat dialokasikan di luar dana untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Ada banyak tujuan positif, selain meraih keuntungan, untuk penggunaan di masa depan. Tetap ada faktor resiko dalam berinvestasi, mengingat tidak ada yang bebas dari perubahan di dunia ini. Natur keberubahan sebagai natur alami ciptaan, patut dipertimbangkan dampak resikonya secara bijak. Logika manusia yang terus berproses dalam pembelajaran berkelanjutan, tetap harus dipergunakan secara bertanggung jawab.
Kecanggihan jenis investasi tertentu yang didukung oleh teknologi terkini, bukan merupakan jaminan keminiman resikonya. Tawaran imbal hasilnya tetap perlu dikaji secara logis sesuai dengan kaedah umum yang berlaku. Keterpikatan hati atas iming-iming imbal hasil yang tidak logis, jadi penggerak utama yang membutakan kapasitas logika sehat manusia.
Ada ciri-ciri yang menandai kebodongannya, di antaranya hasil spektakuler secara instan dengan upaya minim. Sebenarnya ciri-ciri ini relatif sama dalam modus penipuan sejak jaman kuno di Taman Eden, yang dipakai oleh ular (Iblis) saat menipu Hawa dan Adam. Dapat dikatakan ciri-ciri tersebut bertolak belakang dengan ketentuan proses kerja manusia yang ditetapkan Tuhan, yang sesuai dengan natur alami ciptaan.
Iming-iming yang ditawarkan juga berlaku secara umum untuk semua hal yang memikat hati manusia, misalnya “tiga -ta” (har-ta, tah-ta, wani-ta). Menjaga hati (inner self) sebagai pusat keberadaan diri manusia menjadi sangat krusial, sambil tetap menjauh daripada si Jahat.
“Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” [Ams. 4:23; TB LAI]
“Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.” [1 Ptr. 5:8; TB LAI]
Semoga Tuhan menolong. Terpujilah Tuhan.
