Reformasi Favoritisme

Favouritism

Pendahuluan

Istilah favoritisme tidaklah asing bagi kebanyakan orang di banyak bidang kehidupan di manapun. Secara umum istilah ini menunjukkan adanya sikap pilih kasih, biasanya dari pihak yang berotoritas, kepada seseorang ataupun sesuatu di antara sekian pihak yang berada di bawah otoritasnya. Tentu saja pengunjukan pilih kasih ini bersifat parsial, hanya diterima oleh pihak tertentu dan tidak bagi semua pihak. Bagi pihak penerimanya, dapat memperoleh berbagai keuntungan istimewa yang dapat membangkitkan rasa iri bagi pihak lainnya. Perlakuan ini umumnya dipandang sebagai ketidak-adilan.

Manusia dipahami sebagai gambar rupa Allah, mencitrakan diri Allah, Sang Pencipta, dalam berbagai aspek pada derajat tertentu. John Calvin sebagai teolog kristiani terkemuka telah menegaskan bahwa manusia tidak dapat mengenal Tuhan tanpa mengenal diri manusia sendiri, begitu pun sebaliknya. Bila demikian, apakah dapat dikatakan bahwa kecenderungan memiliki dan melakukan pilih kasih pada diri manusia itu bersifat alami dan mencitrakan diri Tuhan. Singkat kata, “apakah Tuhan itu pilih kasih?

Menguji (aspek) Relasi

Photo by Mikhail Nilov on Pexels.com

Aspek penting yang dapat dicermati dalam hal favoritisme adalah aspek relasi. Sebelum mengulasnya dalam kaitannya dengan Tuhan, lebih logis meninjaunya dari sisi manusia terlebih dulu. Penegasan John Calvin tentang dwisisi-tunggal (twofold) pengenalan diri Allah dan manusia, tidak terlepas dari pemahamannya tentang keberadaan ciptaan di hadapan hadirat Tuhan (coram Deo).

Tidak sedetikpun dan tidak setitikpun keberadaan ciptaan, termasuk manusia, dapat berada di luar hadirat Tuhan. Selayaknyalah keberadaan manusia difokuskan dalam kaitan relasinya dengan Tuhan, sehingga segala laku-pikir-rasa manusia dipertanggungkan jawab sepenuhnya kepada Tuhan.

Berdasarkan narasi dalam Alkitab sebagai wahyu/penyataan Tuhan yang dituliskan bagi manusia, St. Agustinus menggolongkan keberadaan manusia di hadapan hadirat Tuhan dalam 4 kategori, yaitu:

  1. Posse non peccare, posse peccare (mungkin tak berdosa, mungkin berdosa)
  2. Non posse non peccare (tak mungkin tak berdosa)
  3. Posse peccare, posse non peccare (mungkin berdosa, mungkin tak berdosa)
  4. Non posse peccare (tak mungkin berdosa)

Kategori 1) menggambarkan Adam dan Hawa sebagai ciptaan sebelum jatuh dalam dosa di Taman Eden. Kategori 2) menggambarkan manusia keturunan Adam dan Hawa setelah peristiwa Taman Eden, sebelum menerima anugerah penebusan-Nya. Kategori 3) menggambarkan keberadaan manusia yang menerima anugerah penebusan-Nya namun masih hidup di dunia. Kategori 4) menggambarkan umat manusia tebusan dalam keberadaan “Langit dan Bumi Baru” kelak (lihat Theo/anthropocentric (Free) Will – Laman 2 – faithfulONE Ministry).

Kategori 2) dan 3) merupakan kategori yang relevan bagi keberadaan manusia saat kini. Kondisi ciptaan yang awalnya sungguh sangat baik di hadapan-Nya, telah terdistorsi dan terpolusi sedemikian dahsyat di hadapan-Nya. Hal ini merusakkan seluruh aspek keberadaan ciptaan, sehingga bakal punah secara total bila tidak ditopang oleh anugerah umum Tuhan yang maha baik dan maha kuasa. Walau demikian, natur kekudusan dan keadilan Tuhan tidaklah meniadakan kerusakan natur ciptaan sebagai dampak logis keberdosaan manusia, sang penatalayan ciptaan.

Arah laku-pikir-rasa manusia yang tadinya berfokuskan Tuhan, telah berganti menjadi berfokuskan manusia. Kesukaan manusia yang telah cemar dan rusak dari kemuliaan Tuhan (Rm. 3:23) menjadi gairah utama pendorong arah laku-pikir-rasa dirinya. Gairah nafsu kedagingan manusia telah menjadi penguasa atas kesukaan manusia, yang dikemas dengan berbagai topeng keluhuran diri (lihat Jerat Pencitraan – faithfulONE Ministry).

Kondisi ini bahkan acapkali tidak sepenuhnya disadari oleh manusia karena telah mengalami distorsi kepribadian ideal sebagai citra Allah, sebagaimana yang diulas dalam berbagai teori psikologi kepribadian (lihat “RI~VAL~RY” – faithfulONE Ministry). Belum lagi sistem didik sejak anak, juga telah terdistorsi sehingga tidak lagi menghasilkan luaran yang lengkap sebagaimana rancang awal Tuhan (lihat Ninja Warrior – faithfulONE Ministry).

Photo by cottonbro on Pexels.com

Sebenarnya mungkin saja alami bila seseorang lebih disukai daripada orang-orang lainnya, salah satunya karena pribadi yang bersangkutan berkategorikan layak disayang (loveable), cakap karya dan karsa secara profesional. Sayangnya mungkin saja ada praktek pilih kasih yang terlarang, yang didasari oleh latar belakang gender, usia, penampilan fisik, lincah carmuk (‘cari muka’), ataupun khususnya ‘sara’ (suku, agama, ras) dalam konteks relasi profesional di dunia karier.

Salah satu bentuk pilih kasih yang seolah legal di dunia karier, walau tidak adil, adalah praktek nepotisme (‘perkawanan’). Latar belakang limpah karut marut ini makin membuat mustahil terbangun relasi ideal antar manusia.

Pembenahannya tidak lagi dapat mengandalkan sistem bentukan manusia maupun oleh pelaku manusia yang telah kehilangan kemuliaan Tuhan. Perlu Tuhan sendiri yang turun tangan dengan mendemokan kasih dan keadilan-Nya (lihat “Pemeran Pengganti” – faithfulONE Ministry). Natur kemahakudusan Tuhan (Im. 19:2; 1 Ptr. 1:16) dan keadilan-Nya (Mzm. 11:7, 19:10, dll), menutup kemungkinan salah pilih kasih dalam laku-pikir-rasa-Nya. Bahkan umat yang dikasihi-Nya bakal didisiplinkan dengan lebih tegas (Ams. 3:11-12; Ibr. 12:5-6), tidak diperlakukan sebagai anak manja (Ibr. 12:8), agar terlatih dalam kekudusan (Ibr. 12:10).

Ulasan di atas dapat lebih dipahami lewat contoh kasus yang dapat diambil dari 3 pribadi yang tercatat sebagai raja Kerajaan Israel kuno, yaitu Saul, Daud, Salomo.

  1. Raja Saul: merupakan raja pertama yang dipilih (1 Sam. 9:15-17), namun kemudian ditinggalkan Tuhan (1 Sam. 16:14) karena Saul telah lebih dulu meninggalkan Tuhan (1 Sam. 15:10-11,19,23). Saul yang sebenarnya tidak layak menjadi raja seperti yang diakuinya sendiri (1 Sam. 9:21; 15:17), namun dijadikan raja seturut keinginan bangsa Israel waktu itu (1 Sam. 8:19-22). Penampilan fisik nampaknya menjadi standar pemilihan seperti bangsa-bangsa lainnya, dan Saul memenuhinya (1 Sam. 9:2), sehingga tersirat bahwa Saul bukan dipilih berdasarkan standar Tuhan.
  2. Raja Daud: merupakan pengganti Saul yang dipilih Tuhan berdasarkan standar-Nya (1 Sam. 16:7). Dapat dikatakan bahwa Daud merupakan raja kesayangan Tuhan sehingga dijanjikan-Nya keluarga dan kerajaan serta tahta Daud akan kokoh selamanya di hadirat-Nya (2 Sam. 7:16). Tidak berarti Daud bebas dari pendisiplinan Tuhan saat melakukan kesalahan, bahkan pendisiplinan-Nya begitu ketat dialami Daud dalam kasus sensus rakyat Israel (2 Sam 24) maupun khususnya kasus Batsyeba (2 Sam. 11). Berbeda dengan Saul yang membenarkan dirinya saat ditegur atas kesalahannya, Daud mengakui dan menyesali kesalahannya serta rela menerima hukuman pendisiplinan Tuhan.
  3. Raja Salomo: merupakan penerus Daud dan raja terakhir Kerajaan Israel kuno. Sebagaimana Saul yang mengawali jabatan raja dengan kerendahan hati, Salomo mengakui ketidak-layakannya saat awal berkuasa, dalam mimpinya berjumpa dengan Tuhan di Gibeon sehingga diberkati dengan limpah oleh-Nya (1 Raj. 3). Sayangnya berkat tersebut sempat membuat Salomo hidup secara hedonis sebagaimana dituangkan dalam tulisannya berupa Kitab Pengkhotbah. Walaupun di hari tuanya Salomo tersadar dan menutup tulisannya dengan nasehat untuk hidup takut akan Tuhan (Pkh. 12:13-14), namun Salomo tetap menanggung pendisiplinan Tuhan lewat dibangkitkan-Nya lawan-lawan Salomo (1 Raj. 11:14,23,26). Bahkan jerat para isterinya yang tidak seiman, telah menjebloskan Salomo dalam dosa penyembahan berhala yang menjijikkan Tuhan. Pendisiplinan Tuhan berujung pada pecahnya Kerajaan Israel Raya dengan sisa kepingan kecil Kerajaan Yehuda bagi keturunannya. Inipun karena Tuhan menepati janji-Nya kepada Daud.

Dengan demikian dwisisi-tunggal pengenalan Tuhan dan diri sendiri yang dimaksudkan John Calvin, berlandaskan pada relasi Tuhan dengan manusia, sehingga selayaknya manusia berelasi dengan Tuhan dan sesamanya berdasarkan relasi tersebut. Relasi yang dimaksud tergambar dalam nats berikut:

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.”  [Yoh. 3:16-18; TB LAI]

Nats di atas menunjukkan karya proaktif nyata dari Tuhan sebagai pihak yang berotoritas bagi pihak lain yang ada di bawah otoritas-Nya. Kasih dan keadilan Tuhan telah diwujudkan terlebih dulu lewat pengorbanan-Nya sehingga membuka pintu relasi bagi umat-Nya (Ef. 2:18; Yoh. 14:6). Respon umat secara personal, walau merupakan misteri anugerah ilahi (Ef. 2:8-9), menuntun pada muara yang berbeda. Pengorbanan yang telah terlebih dulu dilakukan Tuhan, meneguhkan ketiadaan favoritisme semaunya yang tidak adil. Tanpa menjadikan relasi Tuhan dengan manusia sebagai penguji relasi, maka salah sasar favoritisme menjadi kenyataan umum yang tidak adil di dunia.

Penutup

Favoritisme tidak terhindarkan dalam relasi, baik itu relasi Tuhan dengan manusia maupun relasi manusia dengan sesama dan dengan makhluk/benda ciptaan lainnya. Penyebab yang mendorong terjadinya favoritisme ini yang perlu ditelaah secara sadar dan jujur. Kesukaan pribadi yang telah tercemar dan terdistorsi dari kemuliaan Tuhan, tidaklah boleh menjadi penyebabnya. Kesalahan ini mendatangkan pilih kasih yang tidak adil dan merusakkan nuansa relasi sehat dalam lingkup terkait.

Relasi Tuhan dengan manusia yang mendemokan kasih dan keadilan-Nya, selayaknya menjadi dasar penguji relasi lainnya. Relasi tersebut perlu terus menerus dimohonkan anugerahnya dan dilatih peneladanannya. Reformasi pemahaman yang benar akan menolong terjadinya reformasi praktek favoritisme yang keliru. Semoga Tuhan beranugerah memampukan manusia mereformasinya.

Terpujilah Tuhan yang maha kasih dan maha adil.

avatar setiadotone

Oleh setiadotone

Buah pertama kristiani dari keluarga konfusianis. Berkarier di berbagai perusahaan 'sekuler' lalu terpanggil sebagai pendidik di universitas (kristen) 'umum.' Berupaya mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan wawasan dunia kristiani terapan, agar membangun profesional kristiani.

Tinggalkan komentar