Rumah Nyaman

Homey Home

Sejarah seseorang berawal dari “rumah” dan nuansanya menjadi pewarna kepribadiannya. Perubahan warna para penghuninya menjadi salah satu pembentuk keunikan tiap orang. Tidak ada “warna” yang sama persis di setiap detiknya, bukan. Pandemi covid-19 telah membentuk budaya baru yang harus dialami oleh semua orang. Tempat yang semula merupakan rumah tinggal, telah diberdayakan sebagai tempat banyak fungsi. Kantor, sekolah, bahkan tempat ibadah, telah berpindah dan di bawa masuk ke dalam rumah. Terbayang keriuhannya bukan… Akankah profesionalisme masih mewarnainya, atau sudah berganti warna menjadi “neopro” yang masih berproses menggapai bentuknya?

Revolusi “nyaman”

Pandemi covid-19 yang dihadapi masyarakat dunia secara global saat ini, telah mengoyak tatanan lama dan memunculkan tatanan baru (new normal). Sebenarnya sudah ada tanda awal perubahan yang muncul sebagai revolusi industri 4.0 berupa otomatisasi pintar digital, yang merupakan peningkatan komputerisasi digital di era revolusi industri 3.0 sebelumnya. Pandemi covid-19 hanya mempercepat globalisasi cakupannya, sehingga dunia dikondisikan untuk -mau tidak mau- menghidupinya. Tidak ada waktu lagi untuk terus terlena dengan tatanan lama bila ingin bertahan menghadapi terpaan laju perubahan yang tak tertahankan.

Bila mengacu pada sejarah revolusi industri, terlihat adanya percepatan periode lompatan tatanan barunya. Revolusi i1.0 muncul sekitar tahun 1750, digantikan revolusi i2.0 di sekitar tahun 1870, lalu disusul revolusi i3.0 di sekitar tahun 1950, dan dilanjutkan oleh revolusi i4.0 di awal abad 21 yang nyaris tidak jelas batas peralihannya, namun seolah makin meleburkan batas dimensi ruang-waktu melalui teknologi “sama waktu” (real time) lewat aksi “tutul” (klik) di mana saja, asalkan ada jaringan internetnya yang memadai.

Photo by Rachel Claire on Pexels.com

Kemampuan teknologi lintas batas tersebut di satu sisi meniadakan batas di dunia virtual, namun di sisi lain berpotensi membangun tembok batas tebal yang menjauhkan relasi antar individu di dunia nyata. Alam nyata makin kurang berdampak karena aktivitas alam virtual makin akrab bagi banyak orang. Hal ini membuka lebar pintu masuk bagi “dusta” yang dipercaya sebagai kebenaran nyata. Beberapa tantangan relasi tersebut dapat berupa hoaks yang kian marak kini.

Peluang pencitraan semu juga makin besar, misalnya tampil rapih ala pas foto (tampil setengah badan) di pertemuan-pertemuan virtual dengan mendandan (making up) latar belakang tampilan memakai gambar foto menarik, bahkan menampilkan foto belaka sebagai penanda “kehadirannya” secara virtual, dan sebagainya.

Berbagai kemudahan terasakan lewat penggunaan teknologi tutul IoT (Internet on Thing) tersebut, misal aktivitas jual beli sudah sangat umum dilakukan secara virtual. Orang tidak perlu lagi pergi jauh-jauh untuk mencari dan membeli produk kebutuhannya, demikian pula penjual tidak perlu lagi menyewa atau pun membeli tempat untuk menjajakan jualannya. Semuanya cukup dilakukan secara virtual yang dapat langsung disahkan transaksinya, tinggal merealisasikan pengiriman-penerimaannya untuk menutup transaksi tersebut.

Photo by cottonbro on Pexels.com

Kemudahan yang memanjakan penggunanya makin membuat pengguna terikat dengan perangkat genggam pintar yang makin multi guna. Dengan demikian waktu yang dialokasikan bagi penggunaan perangkat tersebut akan makin menyita alokasi waktu lainnya, misal kebersamaan dengan sesama anggota keluarga lainnya. Alienasi antar sesama anggota keluarga makin kuat cengkeramannya. Revolusi industri 4.0 telah memberi kenyamanan dan keterasingan.

Manajemen Keluarga

Photo by Emma Bauso on Pexels.com

Keluarga yang diawali dengan bersatunya sepasang insan beda gender dalam pernikahan, sesuai hukum negara-negara penolak “pernikahan sejenis,” umumnya berharap diramaikan dengan anak-anak yang menjadi keturunannya. Prinsip pernikahan kristiani adalah pasangan sepadan di mana seiman merupakan bagian kesepadanan, satu “adam” dengan satu “hawa” yang dipersatukan oleh Tuhan sebagai berkat-Nya hingga maut memisahkan keduanya, “meninggalkan” orang tuanya.

Budaya dunia boleh, bahkan pasti terus berubah, namun prinsip di atas tidak bakal berubah. Tuhan yang menetapkan prinsip tersebut adalah Tuhan yang tidak berubah (Ayb. 23:13; Mal. 3:6), melampaui segala batasan dunia ciptaan, termasuk situasi kondisi di segala waktu-tempat yang secara alami membatasi ciptaan. Demikian pula firman-Nya tidak berubah sehingga layaklah untuk menjadikannya sebagai dasar penuntun hidup (Mzm. 119:105). Yesus Kristus, Firman yang berinkarnasi jadi manusia, adalah Kepala segala sesuatu (Ef. 1:10). Umat kristiani yang telah ditebus Kristus terlebih lagi wajib menjadikan Kristus, Sang Firman Hidup, sebagai kepalanya, termasuk dalam tatanan keluarga.

Photo by Tima Miroshnichenko on Pexels.com

Suami/ayah sebagai pihak yang ditunjuk mewakili Tuhan sebagai kepala keluarga tentunya juga wajib tunduk pada Kristus. Secara manajemen, suami/ayah mengelola keluarganya dalam “takut” akan Tuhan sehingga relasi keluarga yang dibangun harus bernafaskan prinsip-prinsip firman Tuhan. Sejak awal, di jaman nabi Musa, telah ditegaskan bahwa suami/ayah diberi kepercayaan dan tanggung jawab sebagai kepala keluarga yang menjadi contoh teladan bagi isteri dan anak-anak mereka, khususnya dalam relasi dan ketaatan kepada Tuhan (Ul. 6:4-9).

Hal ini sangat berbeda dengan pimpinan/kepala perusahaan yang menonjolkan pameo “boss tidak bisa salah,” sehingga mudah terjerat dalam relasi kesewenangan. Boss perusahaan bebas memberi perintah tanpa perlu menjadi contoh keteladanan. Memahami dan melakukan model manajemen keluarga kristiani akan menolong semua anggota keluarga untuk tidak berlaku semaunya, melainkan berlaku saling menghormati secara pantas satu dengan yang lain. Salah satu tantangan yang umum dalam pelaksanaannya adalah dengan menjaga ucapan, baik nada maupun kata.

Sejak “kejatuhan” di Taman Eden, manusia cenderung untuk tidak mau disalahkan. Perkataan yang keras dan kasar menjadi bagian dari perlindungan diri dari disalahkan, sekaligus “pamer kuasa.” Apa yang tidak berkenan di hati dapat menyulut amarah sehingga memicu lontaran lava kemarahan yang membumi hanguskan pendengarnya, suatu kejahatan di mata Tuhan.

“Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan.”

[Mzm. 37:8; TB LAI]

Gagal memahami siapa sebagai pemangku kuasa sejati, menjadi penyebab utama kegagalan mengendalikan kata. Memang “lidah tak bertulang” sehingga penjagaan atas lidah menjadi sangat krusial serta menantang (Yak. 3:5b-8). Persoalannya tidak selesai, karena sebenarnya perkataan yang keluar lewat lidah itu hanyalah luapan dari hati pembicaranya.

Oleh sebab itu, kewaspadaan diri untuk menjaga hati sendiri menjadi awal penting untuk mencegah kerusakan relasi yang melahirkan banyak derita dalam hidup manusia.

“Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang.” 

[Mat. 15:18; TB LAI]

“Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.”

[Ams. 4:23; TB LAI]

Mewaspadai hati tidak terlepas dari menjaga pikiran, karena apa yang dipikir dan apa yang dirasa memiliki pengaruh yang saling timbal balik satu dengan lainnya.

“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” 

[Flp. 4:8; TB LAI]

Memang selalu mungkin ada perbedaan pendapat, namun cara berargumentasinya perlu dijaga.

“Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat,”

[1 Ptr. 3:15; TB LAI]

Walaupun nampak sederhana, namun harus diakui tidaklah mudah mempraktekkannya. Buah pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat, yang dilarang itu, namun menjadi pilihan andalan manusia, merusak sistem penilaian yang dianut manusia. Manusia terdorong untuk selalu memandang dirinya benar dan pihak lain yang salah, dan menjadi mabuk oleh hawa nafsunya sendiri.

Karya inkarnasi hingga kematian di kayu salib, mendemokan kerendahan hati Yesus Kristus yang layak diteladani (Flp. 2:5-8). Harus diakui, tindakan ini membutuhkan anugerah Roh dan perjuangan seumur hidup manusia melalui penyangkalan diri dan memikul salibnya pribadi setiap hari (Luk. 9:23). Keberhasilan melaksanakannya menunjukkan kepiawaian profesional yang mendasar. Di dalam kasih-Nya, Kristus telah menyediakan keluarga sebagai “taman berlatih” yang patut disyukuri.

Penutup

Paket anugerah Tuhan tidak pernah tidak lengkap, namun juga tidak pernah gampangan. Manusia selalu diberi kesempatan untuk ikut serta meraih dan mengoptimalkan anugerah-Nya tersebut. Dunia yang diijinkan untuk selalu berubah sesuai natur alami ciptaan, memang terus bergerak maju dengan segala perkembangannya. Tidak dapat dipungkiri ada banyak kemudahan bagi hidup manusia sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan manusia. Manusia tidak boleh hanya mau menerima apa yang nyaman baginya dan menolak apa yang tidak enak baginya (Ayb. 2:10). Bagaimana pun tidak nyamannya keadaan yang dihadapi manusia, tidak pernah melampaui daya tangkal manusia.

“Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan keluar, sehingga kamu dapat menanggungnya.”  [1 Kor. 10:13; TB LAI]

Pandemi covid-19 yang mempercepat era Normal Baru memang membutuhkan sikap penyesuaian hidup oleh manusia, seperti perluasan fungsi rumah menjadi lebih dari sekedar tempat tinggal. Demikian pula kegiatan rutin sebelumnya juga perlu penyesuaian, dengan cara daring yang menjadi lebih banyak daripada cara luring. Hal ini sebenarnya juga mendatangkan banyak kemudahan bagi manusia, asalkan prinsip yang ada dalam firman Tuhan tetap dipegang dan dilakukan.

Bangunan rumah (house) boleh saja berubah menjadi multi fungsi, namun situasi rumah (home) tidak boleh diubah. Semua pihak yang menjadi anggota keluarga di rumah tersebut harus terus berjuang mengupayakan rumahnya menjadi rumah nyaman (homey home) bagi semua penghuninya. Tuhan telah mengaruniakan firman dan Roh untuk manusia yang percaya dan taat menghidupi firman-Nya secara profesional. Dengan demikian, rumah nyaman di era Normal Baru ini bukanlah impian kosong belaka. Selamat bersama-sama memperjuangkan homey home beserta Tuhan yang maha kasih.

Photo by August de Richelieu on Pexels.com
avatar setiadotone

Oleh setiadotone

Buah pertama kristiani dari keluarga konfusianis. Berkarier di berbagai perusahaan 'sekuler' lalu terpanggil sebagai pendidik di universitas (kristen) 'umum.' Berupaya mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan wawasan dunia kristiani terapan, agar membangun profesional kristiani.

Tinggalkan komentar