Jerat Pencitraan

Imaging Trap

Abstract: Manusia punya kebisaan dan kebiasaan unik untuk mencitrakan sesuatu. Ada anak-anak tertentu yang bahkan memiliki ingatan tajam akurat atas detail citra suatu objek walau hanya sekilas pandang (eidetic –/aɪˈdɛtɪk/– memory). Kemampuan ini menolong manusia untuk berimajinasi. Bila kemampuan ini dikembangkan secara benar, akan mendatangkan banyak kemanfaatan bagi umat manusia. Distorsi nilai telah mencemari kemampuan positif ini. Dunia mengatributkan aspek material bagi nilai citra objek, sehingga “harga” objek tergantung dari “nilai” materialnya. Bagai virus ganas yang terus meluas infeksi mematikannya, harus dikenali penyebabnya secara tepat dan dihentikan lewat langkah penyembuhan yang tepat daya (efektif) dan tepat guna (efisien). Tidaklah mengejutkan bila dikatakan salah kaprah pencitraan ini berawal dari tragedi di Taman Eden, dan terus berlanjut ke masa depan. Pengungkapan fakta ini akan disajikan dalam refleksi sederhana ini.

Pendahuluan

Fenomena fisik yang dapat diamati secara inderawi manusia, berperan penting dalam membangun pemahaman manusia akan “dunia” ini. Keberadaan manusia yang juga paling mudah diamati aspek fisiknya, makin meneguhkan pentingnya fenomena fisik tersebut. Kenyataan ini mendorong lahirnya materialisme sebagai salah satu cara pandang akan dunia ini, yang akrab dalam benak banyak orang. Secara sederhana, materialisme hanya mengakui materi sebagai satu-satunya keberadaan yang nyata dan segala sesuatu merupakan perwujudan dari aktivitas materi belaka. Materi sendiri dapat dipahami sebagai “bahan, benda, segala sesuatu yang tampak” sehingga merupakan alam kebendaan.

Kaum materialis yang memegang paham materialisme, bukan hanya mementingkan kebendaan (misal harta, uang) semata, melainkan juga mengagungkan manusia sebagai nara sumber dan resolusi dari pencapaian ilmu pengetahuan, peletakan hukum, dan penentu akhlak. Pementingan kebendaan dan pengagungan manusia sebagai satu-satunya nilai nyata, menyebabkan segala sesuatu dinilai harganya berdasarkan nilai ekonomi yang ditetapkan oleh manusia sendiri. Penilaian ini jelas banyak mereduksi totalitas realita dunia yang kompleks, misalnya kompleksitas perasaan dan pertimbangan manusia atas peristiwa kehidupan yang dialaminya.

Gambaran hirarki tahap kebutuhan manusia yang dicetuskan oleh Abraham Maslow (lihat “COUP” – faithfulONE Ministry) dapat menjurus pada keutamaan kebendaan dalam motivasi aktivitas manusia. Kebutuhan fisik seperti makanan, minuman, pakaian, udara, tempat tinggal, dan sejenisnya, memang merupakan kebutuhan mendasar bagi manusia. Sejak di taman Eden, TUHAN telah mengetahui dan telah menyediakannya bagi manusia (Kej. 2:9-17).

Terlihat bahwa paling tidak ada 2 sisi yang dapat menjadi pilihan fokus motivasi manusia. Satu sisi adalah kebutuhan itu sendiri, sisi lainnya adalah Sang Pemenuh kebutuhan tersebut. Fokus pada kebutuhan semata akan menjurus pada alam kebendaan dan menyingkirkan pemeliharaan TUHAN. Distorsi ini bahkan juga telah merebak pada aktivitas bidang kerohanian yang dinilai kelayakannya bukan lagi pada pelaksanaan “panggilan-Nya” dengan setia. Aspek nilai keekonomiannya menjadi perhitungan utama, demikian pula dengan keberhasilannya. Berbagai prinsip relasi TUHAN-manusia menurut wahyu-Nya jadi tersisihkan.

Citra dan Pencitraan

A. Citra diri manusia

Umat kristiani mengimani bahwa manusia adalah ciptaan menurut gambar rupa TUHAN, berdasarkan wahyu-Nya yang tertulis dalam Alkitab (lihat Komunikasi Kekinian – Laman 2 – faithfulONE Ministry).

Photo by cottonbro on Pexels.com

Dengan demikian manusia selayaknya mencitrakan keberadaan diri TUHAN walaupun secara relatif dan tidak sempurna. Seperti cermin yang baru bernilai bila dapat mencitrakan dengan jernih akan penggunanya, nilai manusia terletak pada aspek ontologis (“keberadaan”) dan fungsionalnya sebagai pencitra diri TUHAN. Makin jernih citra tersebut, makin bernilai diri manusia dalam relasinya dengan TUHAN dan ciptaan-Nya. Jadi atribut kebendaan sama sekali bukanlah tolok ukur nilai diri manusia.

Narasi pada kitab Kejadian pasal 2 telah menyiratkan tanda-tanda manusia sebagai citra TUHAN, yaitu:

a) Mengandung nafas TUHAN (Kej. 2:7) sehingga manusia yang “hidup” merupakan kesatuan elemen fisik (materi) dan elemen non fisik (imateri). Kesatuan psikosomatis yang tidak dapat lepas relasi dengan TUHAN, sang penghembus nafas hidup (Roh), itulah yang mewujud diri manusia yang hidup. Tanpa keberadaan Roh, manusia tidak lagi hidup dalam penilaian TUHAN, dan Roh inilah yang menjadikan manusia mencitrakan TUHAN.

“Ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.”  [Kej. 2:7; TB LAI]

Raja Daud yang memahami prinsip tersebut, sangat memohon agar TUHAN tidak mengambil Roh dari dirinya (Mzm. 51:11). Kehidupan tanpa damai sejahtera yang dialami raja Saul setelah Roh meninggalkannya (1 Sam. 16:14), menjadi kesaksian langsung bagi Daud (1 Sam. 16:23). Bahkan Yesus pun mematahkan tipuan Iblis yang menekankan aspek fisik melalui naskah yang dicatat pada era Musa di Perjanjian Lama, bahwa aspek non fisik malah lebih utama bagi hidup manusia.

“Tetapi Yesus menjawab: “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.”  [Mat. 4:4; TB LAI]

Jadi Ia merendahkan hatimu, membiarkan engkau lapar dan memberi engkau makan manna, yang tidak kaukenal dan juga tidak dikenal oleh nenek moyangmu, untuk membuat engkau mengerti, bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan TUHAN.”  [Ul. 8:3; TB LAI]

b) Aktif bekerja dalam proses berkelanjutan berupa “mengusahakan dan memelihara” (Kej. 2:15). Bekerja sejatinya merupakan berkat TUHAN bagi manusia. Yesus sendiri, sebagai inkarnasi Allah Putra, menegaskan bahwa TUHAN tidak pernah berhenti bekerja (Yoh. 5:17). Bila TUHAN berhenti bekerja, maka segenap semesta ciptaan-Nya tidak dapat eksis lagi.

“Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan.”  [Ibr. 1:3a; TB LAI]

Dunia yang menghargai kerja dengan nilai kebendaan (misal uang, fasilitas jabatan, dsb), telah mengaburkan keutamaan kerja sebagai manifestasi citra TUHAN.

c) Berhikmat dalam menerapkan otoritas, sehingga mampu menempatkan orang yang tepat di posisi dan tugas yang tepat. Pemberian nama pada sesuatu atau seseorang, menyiratkan otoritas pemberi nama sebagai pihak yang lebih berkuasa daripada yang diberi nama. Saat Adam menamai makhluk hidup ciptaan TUHAN, tersirat adanya hikmat di balik otoritas pemberian nama tersebut, karena TUHAN sendiri sepakat dengan nama yang diberikan Adam tersebut.

“Lalu TUHAN Allah membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara. Dibawa-Nyalah semuanya kepada manusia untuk melihat, bagaimana ia menamainya; dan seperti nama yang diberikan manusia itu kepada tiap-tiap makhluk yang hidup, demikianlah nanti nama makhluk itu.”  [Kej. 2:19; TB LAI]

Otoritas manusia tersebut melekat pada dirinya sebagai konsekuensi logis ketetapan dan karya penciptaan TUHAN yang mencipta manusia seturut gambar rupaNya.

“Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”  [Kej. 1:26; TB LAI]

Jelaslah bahwa otoritas tersebut dimaksudkan bukan untuk meninggikan diri manusia sendiri. Kebebalan manusia yang bernafsu meninggikan dirinya sendiri seperti TUHAN, menjadi awal tragedi yang memutar-balikkan dan merusakkan penggunaan otoritas tersebut. Manusia kini tidak lagi mampu menempatkan orang yang tepat di posisi yang tepat. Faktor kekerabatan (nepotisme) yang mementingkan “keuntungan” diri sendiri menjadi dasar pertimbangannya.

d) Kesatuan atas keragaman yang sepadan. Baik kesatuan maupun keragaman bukanlah merupakan 2 kutub berbeda yang berlawanan, melainkan menunjukkan keindahan citra diri Allah Tritunggal yang esa atas 3 Pribadi yang berbeda. Layaknya keragaman dalam kesatuan tubuh manusia yang tunggal, ada banyak karya indah yang lahir dari paradoks tersebut. Pria dan wanita yang beda gender namun sepadan dalam keberadaannya sebagai gambar TUHAN, dipersatukan dalam wadah keluarga (suami-istri) melalui karya agung TUHAN (Kej. 2:22-24).

Mandat budaya yang dipercayakan TUHAN kepada manusia, tidak akan dapat dilaksanakan tanpa melalui kerja sama antar manusia. Tidak ada seorang pun manusia yang bisa semua dan tidak ada seorang pun manusia yang semuanya tidak bisa. Keadilan dan hikmat TUHAN pasti menjamin adanya karunia talenta bagi siapa pun. Keragaman talenta dimaksudkan bagi keindahan kerja sama yang harmonis untuk mencapai kebaikan bagi semua.

“ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh. Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama.”  [1 Kor. 12:4, 7; TB LAI]

Manusia normal tentunya tidak mengabaikan, apalagi mencederai salah satu bagian tubuhnya sendiri, karena tidak ada satu pun bagian tubuh yang tidak berguna, seperti diilustrasikan dalam surat 1 Kor. 12:14-26. Prinsip sederhana ini telah didistorsi oleh nilai kebendaan yang diagungkan dunia kini.

Keragaman tidak lagi melahirkan syukur, melainkan berubah menjadi beban budaya yang menyuburkan kesewenangan dan melahirkan banyak duka. Dampak tragis ini bahkan juga merambah area rumah tangga, meremukkan keharmonisan relasi sepadan suami-istri. Memang ada beda tugas dan tanggung jawab yang layak direspon dengan hormat yang memadai, namun tidak pernah dirancang TUHAN sebagai pembenaran pencemoohan bawahan oleh petinggi.

B. Pencitraan diri manusia

Sistem kebendaan yang diagungkan manusia, telah meluluhkan tatanan harmonis yang dirancang TUHAN bagi ciptaan-Nya.

Photo by Jonathan Borba on Pexels.com

Ketidak-mampuan manusia memahami dan menilai secara total, telah memunculkan cacat cela ketimpangan ironis dalam sistem dunia.Manusia tidak lagi memandang dan mementingkan nomena, melainkan lebih terpikat dengan fenomena. Diri manusia kini lebih disoroti lewat berbagai atribut yang dilekatkan pada dirinya. Padahal atribut-atribut tersebut dapat dilepas pasangkan kapan pun dengan tanpa merubah nomena diri sejati manusia tersebut.

Ilustrasi “tragedi Taman Eden” menegaskan kegagalan manusia untuk menerima keberadaannya sebagai “cermin” yang mencitrakan diri TUHAN. Manusia enggan menjadikan TUHAN sebagai pusat semesta, melainkan damba menjadikan manusia sebagai pusatnya. Hal ini mendorong manusia salah pilih (lihat Theo/anthropocentric (Free) Will – Laman 2 – faithfulONE Ministry).

Photo by Mikhail Nilov on Pexels.com

Manusia menjadikan kebendaan (buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat) sebagai pijakan penilaian, bahkan sebagai landasan hukum, pengetahuan, dan penentu akhlak. Manusia berlomba mengejar peraihan berbagai atribut kebendaan untuk meningkatkan nilai dirinya menurut ukuran dunia yang korup dan terpelintir. Karut marut demikian memunculkan berbagai oknum pelakon aksi pencitraan bertopeng tebal yang gagap dengan citra dirinya.

Akal budi manusia juga telah mengalami keterpelintiran memprihatinkan, sehingga gagal paham akan esensi segala sesuatu. Apa yang penting menjadi tersisihkan, yang tidak penting malah jadi dambaan yang mengaduk kekuatiran bila tidak memilikinya. Inilah tragedi kekuatiran yang sia-sia.

“Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon. Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?”  [Mat. 6:24-25; TB LAI]

Manusia yang semula berkesempatan mencitrakan kemuliaan TUHAN dalam keberadaan dirinya, telah kehilangan kemuliaan tersebut (Rm. 3:23). Jelas hal ini, diakui mau pun tidak, menggalaukan hati manusia.

Photo by Kamaji Ogino on Pexels.com

Manusia lalu mencoba meraih kemuliaan dengan melekatkan berbagai atribut kebendaan, suatu upaya pencitraan yang absurd (sia-sia), persis seperti yang dilakukan Adam dan Hawa dengan menyematkan daun pohon ara untuk menutupi ketercemarannya yang memalukan (Kej. 3:7).

Penutup

Diakui mau pun tidak, manusia tidak memiliki kemuliaan pada dirinya sendiri. Sebagai ciptaan, apa yang dimiliki manusia sepenuhnya berasal dari pemberian TUHAN, Sang Pencipta. Upaya manusia untuk membuat kemuliaan bagi dan oleh dirinya sendiri, merupakan ironi tragis pengingkaran fakta yang absurd. TUHAN yang telah menetapkan dan menjadikan manusia menurut citra diri-Nya, telah menganugerahkan kemuliaan citra diri yang luar biasa bagi manusia. Tidak ada ciptaan lain, termasuk malaikat sekali pun, yang memperoleh anugerah seagung anugerah tersebut. Fakta ini dibuktikan dengan penyataan TUHAN terkait dengan karya belas kasihan-Nya.

“Sebab sesungguhnya, bukan malaikat-malaikat yang Ia kasihani, tetapi keturunan Abraham yang Ia kasihani. Itulah sebabnya, maka dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudara-Nya, supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa.”  [Ibr. 2:16-17; TB LAI]

Menggantikan TUHAN dengan manusia sebagai pusat keberadaan diri manusia, merupakan salah pilih besar yang tragis. Kemerosotan citra diri ini diteguhkan dengan menjadikan alam kebendaan sebagai keutamaan tunggal peletak hukum, akhlak, dan pencapaian pengetahuan, yang sebenarnya hanyalah bayang-bayang dari esensi sejati dalam penyataan diri TUHAN. Kemahabesaran TUHAN menjadikan adanya harapan pemulihan citra diri sejati menggantikan pencitraan semu yang sangat tak memadai.

Photo by Larissa Farber on Pexels.com

Ilustrasi pengenaan pakaian dari kulit binatang yang dibuat TUHAN bagi Adam dan Hawa di taman Eden, yang menggantikan sematan daun pohon ara buatan manusia (Kej. 3:21), berkait erat dengan kabar baik pertama bagi manusia yang telah kehilangan kemuliaan-Nya (Kej. 3:15). Yesus Kristus, sang inkarnasi Allah Putra, menggenapinya agar pemulihan citra sejati manusia jadi dimungkinkan.

Semoga manusia meresponinya dengan beriman kepada-Nya agar citranya dipulihkan, tanpa perlu sibuk membangun dan mengejar pencitraan diri yang semu. Termuliakanlah Allah Tritunggal.

avatar setiadotone

Oleh setiadotone

Buah pertama kristiani dari keluarga konfusianis. Berkarier di berbagai perusahaan 'sekuler' lalu terpanggil sebagai pendidik di universitas (kristen) 'umum.' Berupaya mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan wawasan dunia kristiani terapan, agar membangun profesional kristiani.

Tinggalkan komentar