Right Path

Tapakan Tepat

(Right Path)

Pendahuluan

Penerapan protokol kesehatan semasa pandemi covid-19 yang tak kunjung usai telah mengkondisikan gaya hidup normal baru yang cukup membatasi ruang gerak aktifitas fisik. Tatap muka yang dulunya seolah merupakan cara wajar bergaul, kini mulai digeser dengan cara gaul virtual. Banyak orang yang mengalami gagap sosial yang menggerahkan diri karena merasa seolah terpenjara, terkungkung oleh batasan protokol kesehatan bagi aktifitas temu fisik. Tidak dapat dipungkiri, digitalisasi aktifitas telah membobol batasan fisik sehingga kini gerak interaksi dengan sesama manusia dapat dilakukan lintas negara secara cepat dan ekonomis. Mungkin kekangan batasan temu fisik memang merupakan harga yang harus dibayar bagi fleksibilitas dan efisiensi temu virtual tersebut.

Kenyataan tersebut telah merubah cara manusia melaksanakan aktifitas hidupnya dalam banyak aspek kehidupan. Mulai dari aktifitas belanja kebutuhan sehari-hari, pendidikan, hiburan, acara makan di luar rumah, hingga melaksanakan tugas kerja kantor, kini banyak dilakukan dengan model digital. Bisnis yang masih bersikukuh dengan cara konvensional mulai berguguran, dan digantikan dengan bisnis baru yang mengoptimalkan dukungan teknologi digital. Mungkin kelak manusia tidak lagi perlu memenuhi kebutuhannya dengan melakukannya sendiri, seperti mengemudi kendaraan, karena kelak akan banyak jasa layanan yang memanfaatkan teknologi pintar oleh berbagai penyedia jasa (provider). Dengan demikian manusia mungkin tidak perlu lagi membeli kendaraan atau berbagai perangkat rumah lainnya, cukup satu alat komunikasi pintar yang terhubung dengan berbagai penyedia jasa itu.

Sekilas nampak seolah manusia akan makin diuntungkan dengan berbagai kemudahan tersebut. Bila demikian, mari bersama bersukacita menyambut datangnya era teknologi pintar tersebut. Benarkah?

Bijak Menapak

Photo by Julian Jagtenberg on Pexels.com

Umat kristiani mengimani bahwa manusia merupakan ciptaan teristimewa dari TUHAN Sang Pencipta. Manusia diciptakan menurut gambar rupa TUHAN, dengan tugas khusus sebagai penatalayan ciptaan-Nya.

TUHAN telah memberkati manusia dengan otoritas kuasa atas segala makhluk hidup di dunia ciptaan-Nya, sehingga ada kewenangan memadai bagi keberhasilan pelaksanaan tugas yang diberikan.

TUHAN juga telah memberikan wadah awal yang cukup bagi manusia untuk mengembangkan potensi dirinya, yaitu Taman Eden. Petunjuk cara mengembangkan potensi tersebut juga telah diberikan.

TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara (ESV: to work and keep) taman itu[Kej. 2:15; TB LAI]

Tindakan “mengusahakan dan memelihara” menyiratkan suatu proses yang dilakukan berkelanjutan. Hal ini sesuai dengan natur ciptaan yang bergerak ke depan secara terus menerus. Manusia sebagai ciptaan juga tidak bebas dari natur berproses dalam batas dimensi ruang-waktu itu. Sayangnya natur berproses tersebut tidak disukai oleh manusia. Manusia lebih terpikat dengan cara instan, yang bukan merupakan cara alami bagi manusia.

“tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.”  [Kej. 3:5; TB LAI]

TUHAN sebagai pencipta, pasti tahu dengan tepat natur alami ciptaan-Nya, termasuk natur alami manusia, yang tidak mungkin bebas proses. TUHAN bahkan berkenan mendampingi manusia dalam proses meningkatkan potensi otoritas dirinya.

“Lalu TUHAN Allah membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara. Dibawa-Nyalah semuanya kepada manusia itu untuk melihat, bagaimana ia menamainya; dan seperti nama yang diberikan manusia itu kepada tiap-tiap makhluk yang hidup, demikianlah nanti nama makhluk itu.”  [Kej. 2:19; TB LAI]

Manusia terjerat oleh keinginannya sendiri, sehingga tidak lagi berpikir kritis menghadapi klaim ular yang merupakan manifestasi Iblis, walaupun klaim tersebut mengandung sesat pikir (lihat “COUP” – Laman 2 – faithfulONE Ministry).

“Apabila seseorang dicobai, janganlah ia berkata:”Pencobaan ini datang dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapa pun. Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya.”  [Yak. 1:13-14; TB LAI]

“Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminya pun memakannya.”  [Kej. 3:6; TB LAI]

Photo by Anastasia Shuraeva on Pexels.com

Cara instan untuk merealisasikan keinginan hatinya, telah menjerumuskan manusia untuk berpaut dan bergantung pada ciptaan, bukan lagi beriman dan taat kepada TUHAN, pencipta segala sesuatu yang sungguh amat baik (Kej. 1:31). Buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, yang merupakan salah satu dari ciptaan TUHAN, telah menjadi andalan manusia untuk meraih pengetahuan kebajikan secara instan.

Wawasan (worldview) ciptaan lain yang seharusnya berada di bawah otoritas kuasa manusia (Kej. 1:28), telah dipilihnya sebagai kebenaran yang menggantikan kebenaran wawasan TUHAN.

“Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia:”Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.”  [Kej. 2:16-17; TB LAI]

“Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: “Sekali-kali kamu tidak akan mati,”  [Kej. 3:4; TB LAI]

Cara instan yang ditawarkan Iblis untuk melintas batas alami, didukung dengan keinginan hati manusia untuk meraih keberadaan tanpa batas, telah menjerumuskan manusia karena salah menapak. Begitu manusia memilih untuk memuaskan arogansi tak logisnya dengan menolak tunduk pada kebijakan penciptanya, berdampak manusia harus memikul konsekuensi mematikan yang telah diperingatkan oleh Pencipta kepada manusia.

“Ada jalan yang disangka lurus, tetapi ujungnya menuju maut.” 

[Ams. 16:25; TB LAI]

Saat mencermati narasi tragedi kebodohan manusia yang berdampak pada kebinasaan umat manusia, terlihat bahwa kegagalan manusia untuk memegang titah TUHAN secara tepat, menjadi pembuka jalan bagi Iblis untuk memperdaya manusia dengan menghembuskan kontra wawasan sesatnya.

“Lalu TUHAN Allah menumbuhkan berbagai-bagai pohon dari bumi, yang menarik dan yang baik untuk dimakan buahnya; dan pohon kehidupan di tengah-tengah taman itu, serta pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. …, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, …”  [Kej. 2:9, 17a; TB LAI]

“Lalu sahut perempuan itu kepada ular itu: “Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan, tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati.”  [Kej. 3:2-3; TB LAI]

TUHAN yang sempurna secara absolut, tidak pernah merubah keputusan-Nya saat menjadikan manusia menurut gambar rupa-Nya dan menugaskannya sebagai penatalayan atas ciptaan-Nya. Dengan demikian manusia masih berkemampuan untuk mengembangkan dan menggunakan pengetahuan intelektual dan pertimbangan moralnya, walaupun bertumpu pada alam semesta. Tetap ada jejak kemuliaan TUHAN dalam alam semesta ciptaan-Nya yang dapat dipahami akal budi manusia. Manusia masih tetap ditugaskan untuk menaklukkan alam semesta dengan mengembangkan akal budinya, sesuai dengan cara kerja yang telah ditetapkan TUHAN, yaitu proses work and keep. Kebaikan TUHAN yang nerupakan natur-Nya, tetap mengalirkan berkat yang menopang ciptaan-Nya, sebagai bentuk dari karya providensia-Nya (lihat Allah 8 – Ketetapan Allah: Providensia – YouTube).

Penutup

Photo by Brett Sayles on Pexels.com

Sejarah telah mencatat serangkaian revolusi industri. Tidak ada yang dapat menghambat, apalagi menolak gerak tersebut. Dari gerak revolusi industri tersebut, dapat disimpulkan bahwa dunia bergerak maju ke depan.

Hal ini merupakan realita yang diimani oleh umat kristiani berdasarkan wahyu TUHAN yang telah menyingkapkan rancangan-Nya dalam kelengkapan kesatuan Alkitab. Tentu saja masih sangat banyak misteri TUHAN yang tidak disingkapkan-Nya, namun apa yang telah disingkapkan itu cukup untuk membangun iman kristiani secara turun temurun.

“Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini, tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya.”  [Yoh. 20:30-31; TB LAI]

“Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai selama-lamanya, supaya kita melakukan segala perkataan hukum Taurat ini.”  [Ul. 29:29; TB LAI]

Kemajuan teknologi yang mendukung otomasi jaringan pintar saat ini, merupakan realita yang sesuai dengan gerak maju tersebut. Tidak ada yang dapat meniadakan ataupun menghambatnya. Pilihan yang dapat diambil hanyalah bagaimana menggunakan teknologi tersebut dengan bijak, sesuai dengan prinsip kehendak hati TUHAN dalam wahyu-Nya. Tindakan dan sikap yang terlalu bersandar pada teknologi akan membuka peluang bagi Iblis untuk menjerat dan membinasakan manusia. Ada batasan yang perlu diterima dan tidak diterobos, saat mengembangkan dan menggunakan teknologi.

Model ibadah maupun kerja secara daring memang dapat menambah efisiensi aktifitas, namun tetap harus disadari akan keberadaan manusia sebagai makhluk individu sekaligus makhluk sosial, sebagai gambar rupa TUHAN yang menyatakan diri-Nya sebagai Allah Tritunggal (lihat Allah 5 – Allah Tritunggal – YouTube). Keunikan keberadaan manusia yang demikian ini harus terus dioptimalkan, sehingga segala bentuk pengembangan dan penggunaan teknologi di segala aspek hidup manusia harus terus mengakomodasi keunikan ini. Memisahkan iman yang sehat dengan sisi kehidupan manusia lainnya, misalnya sisi profesional kerja, merupakan bentuk penolakan akan keberadaan Allah Tritunggal.

Photo by Michelangelo Buonarroti on Pexels.com

Mengembangkan dan menggunakan robot android pintar sebagai pramusaji, pramuwisma, bahkan sebagai pramurawat masih memungkinkan. Namun menjadikannya sebagai isteri jelaslah merupakan pemberontakan kepada TUHAN yang telah menetapkan aspek kesepadanan sebagai standar-Nya (Kej. 2:18). Demikian pula menggunakannya sebagai pengkhotbah firman juga merupakan “terobosan kebablasan” karena firman TUHAN tidak boleh ditafsirkan sebagai olah pikir semata (1 Ptr. 1:20).

“Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”  [Kol. 3:23; TB LAI]

Mungkin robot android pintar itu masih dapat digunakan sebagai penceramah keilmuan, karena merupakan ajang dialog olah pikir.

Integrasi iman dengan ilmu merupakan langkah awal penting dalam membangun wawasan yang sesuai dengan isi hati TUHAN.

Semoga TUHAN berkenan memberkatinya. Terpujilah TUHAN.

avatar setiadotone

Oleh setiadotone

Buah pertama kristiani dari keluarga konfusianis. Berkarier di berbagai perusahaan 'sekuler' lalu terpanggil sebagai pendidik di universitas (kristen) 'umum.' Berupaya mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan wawasan dunia kristiani terapan, agar membangun profesional kristiani.

Tinggalkan komentar